
"Bagus," spontan Ghozi melompat girang karena terlalu senang.
"Kok bagus Ghozi?" tanya Tari saat melihat reaksi Ghozi yang langsung melompat kegirangan.
"Tidak ada, aku pergi." Ghozi langsung melangkah pergi meninggalkan Tari yang terlihat masih bingung dengan apa yang di lakukan oleh Ghozi, sedang Ghozi melangkah dengan rasa malu.
Tari melangkah melanjutkan niatnya mengambil lembar ujian di kantor yang akan di bagikan pada santri untuk di kerjakan.
Sedang di belahan dunia yang lain terlihat sepasang kekasih yang masih asyik bergelut di balik selimut meski matahari sudah menyongskng tinggi menyinari bumi.
"Eummhhh," lenguh Salma saat merasakan sesuatu yang terasa berat menimpa perutnya.
Perlahan mata Salma terbuka, matahari yang mulai meninggi menampakkan cahayanya lewat sela-sela gorden, setelah sholat subuh keduanya kembali bergulat meski hanya satu ronde tapi cukup membuat tidur keduanya nyenyak hingga hari mulai siang.
Salma menghirup udara dalam kemudian perlahan menghembuskannya, merasakan rasa lelah setelah semalaman bergulat di tambah setelah sholat subuh tadi, Kafa benar-benar membuat Salma tepar tak berdaya, seolah tak pernah lelah Kafa terus-terusan membuat Salma beenyanyi, suara-suara merdu nan indah terdengar di penjuru kamar memberi tanda jika Keduanya tengah menikmati indahnya surga dunia.
Melihat Kafa yang masih lelap dalam tidurnya, Salma turun dari kasur secara perlahan, dia tidak ingin mengganggu ataupun membangunkan Kafa yang terlelap, Salma tidak ingin Kafa kembali berulah ataupun meminta jatah padanya.
"Mas Kafa ternyata sangat ganas, astaga, kenapa tubuhku jadi banyak merah-merahnya gini? untung saja aku pakai hijab kalau tidak aku pasti bakal malu jika ada yang melihatnya," gumam Salma sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Kenapa Sayang? bukankah karyaku ini terlihat begitu indah dan sangat menarik untuk di pandang?" ujar Kafa yang baru saja datang dan langsung memeluk tubuh Salma yang tengah terekspos.
Salma yang memakai baju tipis seperti saringan tahu yang di berikan oleh Kafa semalam merasa terkejut dengan apa yang di lakukan Kafa, dia tiba-tiba datang tanpa suara dan lanhsung memeluk tubuh Salma yang sedang terekspose di depan kaca.
__ADS_1
"Astaga, Mas Kafa ngapain ke sini? kenapa tiba-tiba datang dan langsung meluk kayak gini," protes Salma yang kini memberontak ingin lepas dari pelukan Kafa.
"Jangan protes Sayang! apa yang kau lihat itu hasil karya aku yang paling indah dan khusus bisa ku berikan padamu," ujar Kafa dengan penuh rasa bangga dia mengusap karya indahnya yang ada di bahu semalam dengan lembut.
"Terserahlah Mas, tapi saat ini aku lelah dan ingin mandi," keluh Salma dengan harapan Kafa mau melepaskan dirinya dan tidak meminta jatah lagi pagi ini.
"Pagi ini aku akan melepaskanmu, ada meeting dadakan yang harus aku hadiri. Jadi aku hanya punya sedikit waktu untuk menemanimu," ujar Kafa yang cukup membuat Salma lega.
"Syukurlah," lirih Salma merasa lega setelah mendengar apa yang di katakan Kafa.
"Jangan senang dulu Sayang! kamu harus ikut bersamaku, dan aku akan memberimu waktu sepuluh menit untuk bersiap-siap setelah ini," ujar Kafa dengan senyum licik yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kenapa aku harus ikut, Mas? yang meeting kan kamu, kenapa aku yang di suruh ikut?" Salma terlihat enggan untuk pergi bersama dengan Kafa, semua rasa enggan itu muncul bukan tanpa sebab, Salma merasa sangat lelah dan ingin rasanya dia beristirahat melepas rasa lelah bercampur dengan sedikit rasa sakit yang kini dia rasakan.
"Kamu istriku, jadi kamu harus ikut aku sekarang. Khusus untuk saat ini kamu harus ikut dan aku tidak terima penolakan darimu," sahut Salma yang kini malah memasang wajah jengah karena sifat pemaksa Kafa kembali muncul dan di saat yang sangat tidak tepat.
"Aku akan mandi di kamar sebelah. Aku tidak mau sekamar denganmu Mas," sahut Salma yang langsung bersiap hendak keluar dari kamar mandi.
"Jangan bergerak Salma! aku yang akan mandi di kamar sebelah, mandilah di sini!" Kafa memilih mengalah dari pada harus membiarkan Salma berjalan keluar kamar dengan baju dinas malamnya.
Salma tersenyum melihat reaksi yang di berikan oleh Kafa, ternyata Kafa yang pemaksa juga mudah di luluhkan hanya dengan sebuah ancaman kecil yang di lakukan oleh Salma.
Pagi yang sangat berbeda dari pada pagi-pagi sebelum Salma menikah, semua terasa begitu menyebalkan tapi menyenangkan.
__ADS_1
"Sayang!" panggil Kafa yang kini sedang berada di ruang ganti baju yang ada di kamarnya.
"Iya, ada apa Mas?" sahut Salma, meski sudah berkali-kali Kafa meminta Salma untuk memanggilnya Sayang, tapi Salma tetap saja memanggil Mas dan hal itu tak lagi bisa di ubah karena Salma memang belum terbiasa untuk memanggilnya Sayang.
"Tolong ambilkan tas kerjaku yang ada di dalam lemari dan tolong siapkan sepatu kerjaku yang aku simpan di samping lemari!" pinta Kafa yang kini lebih sering mengatakan tolong jika sedang menyuruh orang lain.
"Siap," sahut Salma yang langsung berdiri melaksanakan apa yang Kafa minta.
Salma yang tidak bisa menolak ajakan Kafa memilih untuk menuruti apa yang di minta olehnya.
Dengan sedikit rasa keterpaksaan Salma bersiap dan mengganti baju yang pantas untuk di pakai, meski tanpa memakai make up Salma terlihat begitu cantik alami, pipinya yang putih di tambah dengan bibir yang berwarna pink membuat wajah Salma terlihat cantik sempurna.
"Isshh, aku paling tidak suka dengan satu ini," ujar Kafa sambil melihat ke arah Salma yang berdiri di hadapannya.
"Tidak suka kenapa, Mas? memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Salma merasa aneh dengan apa yang dia lakukan.
"Kenapa kamu begitu cantik Sayang, padahal aku sudah melarangmu berdandan, tapi kamu tetap saja terlihat secantik itu," jawab Kafa yang cukup membuat Salma malu, entah kenapa pagi ini dia merasa malu bercampur senang saat mendapat pujian yang tidak secara langsung di ucapkan oleh Kafa.
"Aku tidak memakai apapun sesuai dengan apa yang Mas Kafa inginkan, jika Mas Kafa masih merasa aku cantik dan ingin melarangku keluar dari rumah untuk saat ini, maka aku akan menerimanya dengan penuh rasa senang," ujar Salma dengan senyum bahagia yang terlihat jelas di wajahnya.
"Enak saja, aku akan tetap mengajakmu keluar sesuai dengan rencana, jangan mencari alasan ataupun kesempatan untuk tidak ikut dengan ku hanya karena ucapanku tadi," ujar Kafa dengan ekspresi tidak senangnya.
"Ishhh, aku kira Mas Kafa akan melarangku pergi setelah mengatakan hal itu," sahut Salma dengan wajah cemberut dia berucap.
__ADS_1
"Keputusanku tetap bulat, kamu harus ikut denganku, TITIK." Ujar Kafa tanpa bisa di tentang lagi.
Salma hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan Kafa yang tak terbantahkan, bagi Salma saat ini dia hanya bisa mengikuti apa yang Kafa mau tanpa niat untuk menolak atau mendebatnya, karena kedua hal itu akan percuma jika di lakukan, Kafa akan tetap pada pendiriannya, dia akan mengajak Salma bersamanya.