
"Bener juga, aku sampai lupa kalau punya tamu bulanan,"sahut Salma dengan pipi yang menggembung karena merasa dirinya sia-sia ke pantai saat sang tamu bulanan datang.
"Sudah jangan sedih! kita masih bisa menikmati ombak di tepi pantai tanpa harus berenang," ujar Kafa mencoba membesarkan hati Salma yang terlihat murung.
Salma tak lagi menjawab ucapan Kafa, dia lebih memilih berdiri dan meraih jemari Kafa mengajaknya pergi dari restauran.
"Tunggu Sayang!" tahan Kafa.
"Tunggu apa lagi Mas? aku ingin segera pergi ke pantai." Jawab Salma.
"Bukankah tadi kamu meminta lobster untuk di bawa pulang?" ujar Kafa.
"Memangnya Mas sudah memesankannya?" tanya Salma, dia tahu dengan pasti kalau Kafa sama sekali tidak beranjak dari kursinya, bahkan dia tidak memesan apapun sejak tadi.
"Ghozi sudah memesankannya tadi," jawab Kafa.
"Kapan? kenapa dia tidak bilang?" ujar Salma.
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun padanya, dia jauh lebih mengerti dari pada yang lain," ujar Kafa membanggakan Ghozi yang memang menyandang santri sekaligus terbaik dalam hidup dan pesantren Kafa selama ini.
Salma hanya mengangguk mendengar penjelasan Kafa, semuanya terdengar begitu luar biasa di mata Salma, Ghozi memang laki-laki yang baik, dan Salma berharap dia akan mendapatkan gadis yang baik pula.
Kafa berjalan menuju kasir dan mengambil satu porsi lobster yang sudah di bungkus rapi.
"Apa Ghozi juga yang membayar semuanya?" tanya Salma merasa aneh dengan sikap Kafa yang hanya mengambil pesanan tanpa membayarnya.
"Tenang saja, aku sudah mentransfer uangnya lewat aplikasi tadi, jadi Ghozi tidak akan rugi karenanya," jawab Kafa yang kini merubah posisi tangannya.
Saat ini Kafa yang menggenggam tangan Salma, keduanya berjalan beriringan menuju pantai dengan satu porsi lobster di tangannya.
"Mbok Sumik sama puteranya ke mana ya Mas? sejak turun dari mobil tadi aku tidak melihatnya?" tanya Salma saat dia baru sadar jika dirinya sama sekali tak melihat Mbok Sumik sejak tadi.
"Mereka sedang menikmati suasana pantai, dan liburan yang aku berikan, jadi kamu tenang saja," jawab Kafa.
Salma kembali fokus menatap ombak yang sudah terlihat dari kejauhan, suara deburan menenangkan hati dan ombak yang bergantian menyapa pantai memberikan sensasi sendiri bagi siapapun yang ada di dekatnya.
"Mas, aku takut," ucap Salma saat dia sudah berdiri di tepi pantai dengan ombak yang mulai menyapa.
"Tenang, ada aku di sampingmu, lebih baik kamu pegangan yang erat saja!" titah Kafa yang berdiri tepat di depan Salma dengan jarak yang cukup dekat.
Salma semakin erat memegang pinggang Kafa dengan kedua tangan yang memegang baju Kafa yang menempel indah di pinggangnya dengan erat.
__ADS_1
"Mas Kafa," panggil Salma yang langsung memeluk Kafa merasakan dorongan kuat dari ombak yang menyapa dirinya, sungguh Salmamerasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan, dulu Salma pernah merasakan deburan ombak yang saat ini dia rasakan, tapi itu dulu saat sang ayah masih hidup.
"Kenapa kamu malah menangis Sayang?" tanya Kafa merasa aneh dengan Salma yang tadi terlihat bahagia kini malah menangis mengeluarkan air mata.
"Aku jadi ingat ayahku saat menikmati ombak ini Mas," jawab Salma degan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.
"Jangan bersedih Sayang! nanti aku akan memintakan do'a untuk ayahmu agar dia semakin tenang di alam sana," Kafa mencoba menenangkan Salma yang tiba-tiba menangis.
"Terima kasih," ucap Salma penuh rasa syukur yang terlihat jelas di wajahnya.
"Terima kasih untuk semua hal yang sudah Mas Kafa berikan, aku bahagia memiliki pasangan seperti dirimu Mas," kini Salma menyadari betapa beruntungnya dirinya memiliki Kafa sebagai kekasih sekaligus suaminya.
"Harusnya aku yang berterima kasih padamu Salma, terima kasih karena kamu sudah mau jadi istriku yang soliha, dan terima kasih atas malam terindah yang sudah kamu berikan, kamu sudah menjaganya dengan baik dan memberikan mahkota Paling berharga itu untukku, aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung mendapatkanmu sebagai istriku," Kafa juga mengungkapkan apa yang dia rasakan, Kafa tidak ingin lagi bersikap buruk pada Salma yang sudah memberikan hal paling berharga yang dia miliki untuknya.
"Mas, kenapa bahas itu lagi?" ujar Salma menunduk menyembunyikan rasa malu yang kini terlihat jelas di wajahnya dengan pipi yang mulai merona.
"Kenapa aku tidak boleh membahasnya Sayang? padahal yang aku bahas adalah hal paling indah dan bersejarah dalam hidup kita," ucap Kafa seraya menaikturunkan alisnya dengan kedua tangan yang mulai menggenggam erat kedua jemari Salma seolah tak ingin lepas darinya.
"Mas awas! ombaknya datang," ujar Salma yang tak ingin terus membahas hal intim yang tak seharusnya di bicarakan di tempat umum seperti saat ini. Dan Kafayang mengerti jika Salma saat ini tidak ingin membicarakan hal itu tersenyum kemudian kembali bermain ombak bersama Salma sang penguasa hati sekaligus istrinya.
Memang benarapa yang di katakan orang zaman dulu jika cinta itu akan tumbuh karena terbiasa, bukan hanya itu, cinta itu akan semakin kuat saat keduanya sudah meneguk manisnya madu di malam yang indah dan bersejarah.
Salma dan Kafa terlihat begitu romantis, saling berpegangan melawan ombak yang datang tanpa mereka sadari jika ada sepasang mata yang menatap curiga seraya mengambil gambar keduanya dengan kamera canggih yang dia pegang.
Sedang di sisi lain Ghozi juga ikut memperhatikan apa yang di lakukan Salma dan Kafa saat ini, senyum bahagia tidak pernah luntur dari bibir Ghozi, meski dalam hatinya masih adasetitik cinta bekas dulu, tapi rasa bahagia melihat kebahagiaan Salma dan Kafa mampu menghilangkan rasa cinta yang ada dalam hatinya, sebuah rasa yang akan menjadi bumerang jika Ghozi terus memupuk dan mengikutinya.
"Semoga kalian tetap bahagia seperti sekarang sampai nanti, dan aku akan mencari cintaku sendiri setelah ini, meski aku tidak tahu siapa? tapi yang aku yakini dia pasti yang terbaik untukk," gumam Ghozi sambil terus melihat ke arah keduanya dengan senyum yang mengembang.
"Mas Kafa!" panggil Mbok Sumik yang sejak tadi mencari keberadaan Kafa.
"Iya, ada apa Mbok?" sahut Kafa.
"Kita pulang jam berapa Mas Kafa?" tanya Mbok Sumik.
"Kok tanya pulang, apa Mbok Sumik mau pulang?" sahut Salma.
"Mbok takut kesorean di jalan Neng, Mbok belum nyiapin makanan untuk nanti malam," Mbok Sumik menjelaskan alasan dia menanyakan kepulangan keduanya.
"Mbok tenang saja, nanti kita makan di jalan, jafi Mbok Sumik gak peelu masak lagi di rumah," ujar Kafa yang membuat Mbok Sumik merasa lega, hari ini Kafa benar-benar memberikan liburan full seharian penuh pada Mbok Sumik.
"Mbok Sumik sudah makan?" tanya Salma.
__ADS_1
"Sudah Neng, tadi sebelum pergi Mas Kafa sempat ngasih uang jajan untuk Mbok dan Arif," jawab Mbok Sumik dengan senyum yang terlihat mengembang di wajahnya.
"Terus sekarang Arifnya mana Neng?" tanya Salma yang tak melihat Arif sejak turun dari mobil tadi.
"Arif sedang menikmati ombak di ujung sana, Mbok mau nyusul Arif dulu. Permisi." Mbok Sumik yang mengerti kalau Kafa kurang suka jika Salma bertanya tentang Arif atau pun duduk bersamanya.
"Baiklah, dua jam lagi kita berkumpul di mobil. Jadi Mbok harus kembali ke mobil setelah dua jam." Pesan Kafa sebelum Mbok Sumik benar-benar pergi.
"Baik, Mas Kafa," jawab Mbok Sumik yang langsubg melangkahkan kaki menjauh pergi eninggalkan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu agar bisa menghabiskan waktu hanya berdua.
"Dua jam itu sangat lama Mas Kafa, kita mau ke mana lagi untuk menghabiskan waktu dua jam?" tanya Salma yang merasa jika waktu dua jam yang Kafakatakan pada Mbok Sumik cukup lama.
"Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sini, sekarang ikut aku!" Kafa telah memiliki banyak rencana untuk menghabiskan harinya bersama dengan Salma di pantai.
"Kita mau ke mana Mas?" tanya Salma yang bingung dengan sikap Kafa, dia tidak menjelaskan ke mana mereka akan pergi tapi langsung menggenggam jemari Salma dan membimbingnya agar mengikuti langkah Kafa berjalan menyusuripantai.
"Kita akan berbelanja sambil melihat ada makanan apa saja di sini," jaqab Kafa.
Kafa berjalan ke sisi pantai yang lain, di mana ada banyak pedagang yang menjual berbagai macam barang dan makanan.
"Kamu suka?" tanya Kafa saat melihat Salma memperhatikan satu bingkai foto yang di hias dengan kerang yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
"Apa boleh?" jawab Salma seraya menunjukkan wajah penuh harap yang terlihat jelas di mata Salma.
"Tentu saja boleh, kamu mau beli berapa?" tawar Kafa.
"Satu saja cukup Mas," Salma kembali menjawab sambil memilih motif yang menurutnya paling lucu.
"Apa ada lagi yang kamu inginkan?" Kafa kembali menawarkan sesuatu pada Salma.
Salma yang di beri tawaran kembali memilih barang yang menarik hatinya, hingga dia menemukan sepasang merpati yang terbuat dari kerang.
"Mas!" Salama mencoba mengalihkan perhatian Kafa yang sejak tadi mengamati beberapa benda yang di jual.
"Iya, kenapa?" sahut Kafa mengalihkan pandangannya ke arah Salma yang sedang memegang dua buah patung merpati berukuran kecil dan di hiasi kerang di sekujur tubuhnya.
"Merpatinya lucu ya, aku ingin membelinya." Ujar Salma.
Kafa tak lagi menjawab ucapan Salma, dia langsung mengambil alih kedua merpati itu dari tangan Salma, kemudian berjalan masuk ke dalam tokoh untuk membayarnya.
"Terima kasih Mas," ucap Salma dengan senyum penuh kebahagiaan yang terlihat di wajahnya setelah Kafa memberikan satu kantong kresek berwarna hitam ke arahnya.
__ADS_1
"Apapun yang kau minta akan aku berikan selagi aku mampu, bahagiamu bahagiaku juga Sayang," ujar Kafa yang sukses membuat Salma tersipu karenanya.