Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Dugaan Hamil


__ADS_3

"Salma, apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Ummi sesaat setelah dia sampai di kamar Salma.


Salma yang lemas hanya bisa tersenyum, jangankan berdiri menyambut sang Ummi, berucap saja rasanya sangat sulit, Salma merasa tak bertenaga, apa yang dia makan semalam sudah habis tak tersisa terbuang di dalam kamar mandi.


"Tari!" panggil Ummi.


"Iya, ada apa Ummi?" sahut Tari sedikit berlari mendekat ke arah Ummi, tadi dia sedang berdiri di ambang pintu sedang memperhatikan keadaan Salma yang tergolek lemas tak berdaya.


"Tolong buatkan wedang jahe! dan minta Kafa membuatkan bubur beras dan telor setengah matang!" titah Ummi.


"Baik, Ummi," sahut Tari berjalan keluar dari kamar menuju dapur sesuai dengan permintaan sang Ummi.


"Eh, mas Kafa," sapa Tari saat melihat Kafa berjalan melewati dirinya.


"Iya, ada apa?" sahut Kafa menoleh ke arah Tari.


"Kata Ummi, Mas Kafa di suruh memasak bubur beras sama telor setengah matang!" Tari mengatakan apa yang di perintahkan oleh Ummi.


"Untuk apa bubur dan telor setengah matang?" tanya Kafa merasa aneh dengan permintaan Ummi.


"Aku juga di suruh buat wedang jahe, katanya di suruh buat untuk Neng Salma," jelas Tari.


"kamu kembali ke kamar saja! temani Ummi dan Salma, biar aku yang memasak semuanya," ujar Kafa yang cukup membuat Tari terkejut, dalam hati Tari hanya bisa menatap penuh heran sikap Kafa yang benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.


'Semoga saja aku bisa mendapatkan suami seperti Mas Kafa, meski awalnya bersikap kurang baik, setidaknya saat ini sikap dia benar-benar bisa membuat semua wanita di dunia ini iri padanya.' batin Tari sambil meninggalkan Kafa yang kini berbalik menuju dapur mengurungkan niat yang awalnya ingin menyusul Ummi dan Tari ke kamar.


"Loh, kamu kok cepet banget baliknya, wedang jahenya mana?" tanya Ummi yang saat ini sedang duduk tepat di samping Salma sambil memegang tangannya.


"Tadi aku di suruh balik sama Mas Kafa, katanya dia yang mau membuatkan wedang jahe sekalian dengan bubur beras dan telor setengah matang yang Ummi pesan," jawab Tari.


"Bubur untuk siapa Ummi,?" tanya Salma merasa aneh dengan pesanan Ummi yang meminta bubur dan telor setengah matang.


"Untukmu," jawab Ummi santai.

__ADS_1


"Salma tidak sakit Ummi, jadi kenapa mesti makan bubur?" tanya Salma dengan dahi yang mengkerut karena merasa bingung dengan apa yang Ummi lakukan.


"Kamu akan menyukainya nanti, lebih baik sekarang kamu istirahat!" Ummi tak menjekaskan apapun dia hanya meminta Salma untuk beristirahat.


"Setelah ini Ummi akan pergi ke stasiun bersama Ghozi, Tari! tolong jaga Salma!" pinta Ummi.


"Baik, Ummi," jawab Tari yang kini berpindah posisi menggantikan posisi Ummi yang duduk di kursi tepat di samping Salma yang tengah berbaring.


Ada banyak pertanyaan yang kini sedang bersarang di benak Salma, tapi tubuhnya yang lemas membuat Salma tak bisa berbuat apa-apa selain diam di atas tempat tidur.


"Apa kamu hamil Neng Salma?" tanya Tari dengan suara lirih sampai terkesan berbisik saking pelannya.


"Hamil, kata siapa?" sahut Salma yang terlihat terkejut dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Tari, Salma yang tak merasa dan tak tahu jika dirinya hamil atau tidak hanya bisa bertanya.


"Itu hanya dugaanku saja, entah benar atau tidak aku tidak tahu, karena yang harusnya tahu lebih dulu itu kamu," ujar Tari.


Salma terdiam memikirkan kapan dia terakhir datang bulan, mungkin saat ini dia hanya telat tiga Minggu, belum genap satu bulan, mungkinkah dia hamil? atau hanya masuk angin biasa.


"Siapa yang mau periksa ke dokter?" tanya Kafa yang tanpa mendengar percakapan Salma dan Tari.


Mendengar Kafa datang, Tari langsung berdiri seolah mempersilahkan Kafa mendekat dan mm menggantikan posisi Tari untuk duduk di kursi yang tadi di duduki Tari.


"Tariengira aku hamil Mas," jelas Salma.


"Apa? hamil, benarkah?" sahut Kafa dengan ekspresi wajah penuh rasa gembira.


Siapa yang tidak senang mendengar kehamilan sang istri? semua orang pasti akan merasa sangat senang karenanya.


"Itu masih perkiraan Mas, belum pasti," Salma mencoba meluruskan apa yang dia katakan tadi, dia tidak ingin Kafa salah faham, jika memang hamil Salma akan merasa senang dan bersyukur, tapi jika tidak dia tidak ingin Kafa kecewa karenanya.


"Bagaimana kalau kita periksakan sekarang?" tawar Kafa.


"Aku masih merasa lemas, lagi pula hari ini Abah akan pulang Mas, aku ingin menyambutnya," Salma yang merasa lemas ingin beristirahat sekaligus ingin melihat kedatangan Abah.

__ADS_1


"Baiklah, besok kita akan ke dokter kandungan, sekarang kamu makan dulu bubur dan telornya!" titah Kafa sambil mengambil satu mangkuk bubur dengan toping telor setengah matang yang ada di atasnya.


"Khem, Neng Salma, Mas Kafa, aku permisi dulu." Pamit Tari berjalan keluar dari kamar keduanya saat merasa jika kedua sejoli itu tengah mengabaikan kehadirannya.


Salma hanya tersenyum karena dia sangat mengerti jika apa yang di lakukan Tari karena Kafa sudah ada di kamar untuk menggantikannya.


Kafa mulai menyuapi satu persatu suapan masuk ke dalam mulut Salma, dia yang awalnya merasa aneh dengan menu yang di minta oleh Ummi kini mulai hilang, rasa lezat mendominasi mulutnya.


Dan benar saja, satu mangkok penuh ludes tak tersisa, dan satu gelas wedang jahe juga habis, Salma yang merasa kenyang kembali merebahkan diri berniat kembali tidur agar badannya semakin kuat dan sehat saat bangun nanti, sedang Kafa berpamitan pergi ke pondok putera untuk mengecek keadaan di sana.


"Ummi!" panggil Ghozi saat melihat Ummi duduk sambil memperhatikan ponsel yang ada di tangannya.


"Iya, kenapa Ghozi?" sahut Ummi seraya mematikan layar ponselnya saat melihat wajah serius Ghozi menatap ke arah Ummi.


"Abah pulang jam berapa Ummi?" tanya Ghozi.


"Mungkin tiga jam lagi, baru saja Abah ngabari Ummi jika di jalan sedang ada pohon tumbang, jadi perjalanan pulang tertunda satu atau dua jam lagi," jawab Ummi.


"Kamu kenapa? apa ada masalah?" tanya Ummi menatap penuh rasa penasaran ke arah Ghozi yang saat ini terlihat begitu gelisah dan bimbang.


"Tidak ada Ummi, hanya saja ..." Ghozi tak meneruskan ucapannya, dia terlihat semakin bimbang dan ragu untuk berucap.


"Hanya kenapa, Nak?" Ummi semakin penasaran dan dia terus memaksa Ghozi untuk menceritakan segalanya.


"Ummi, sebenarnya aku ingin menghitbah seseorang, tapi aku masih bingung Ummi," ungkap Ghozi.


"Bingung kenapa? niat baik itu jangan di tunda! apa lagi di buat bingung," ujar Ummi.


Melihat Ghozi yang diam tanpa bicara membuat Ummi angkat bicara, " Memangnya siapa gadis yang mau kamu khitbah, Nak?" Ummi kembali bertanya.


Ghozi masih diam seribu bahasa hingga suaranya terdengar kembali.


"Tari, Ummi," jawab Ghozi dengan begitu mantapnya.

__ADS_1


__ADS_2