Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Ganti Baju Atau Luluran?


__ADS_3

Setelah menjawab ucapan Salma, Kafa langsung berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti baju yang sudah kotor. Sepuluh menit lebih Kafa berada di kamar mandi, Salma yanf menunggu Kafa cukup heran dengan apa yang di lakukan Kafa, sepuluh menit bukanlah waktu yang singkat, apalagi bagi seorang Kafa yang notabennya seorang laki-laki.


"Buset ni orang ganti baju apa luluran di dalem?" ujar Tari saat menunggu Kafa yang tidak kunjung muncul keluar dari dalam kamar mandi.


"Hussttt, jangan ngomong macam-macam! entar orangnya denger kamu yang bakal repot," sahut Salma.


"Upssss, kelepasan," sahut Tari sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Sudahlah, kamu memang selalu kelepasan dalam segala hal," ujar Salma memutar bola mata malas melihat tingkah Tari yang selalu saja keceplosan dan tidak bisa menjaga mulutnya.


"Eh ini ponsel dan dompet siapa?" tanya Tari saat mata tajamnya tidak sengaja melihat sebuah ponsel dan dompet yang tergeletak cantik di nakas tepat di sebelah dia duduk.


"Itu punya Mas Kafa," jawab Salma singkat.


"Wah, calon suamimu itu sangat teledor ternyata," ucap Tari sambil menggelengkan kepala menatap ke arah Salma.


"Teledor bagaimana Tari?" tanya Salma dengan ekspresi penuh rasa penasaran setelah mendengar ucapan Tari.


"Bagaimana bisa dia menaruh ponsel dan dompet sembarangan seperti ini? sedangkan kamarnya masih kita tempati," Tari mengatakan alasan dirinya yang menilai Kafa teledor.


"Dia bukan teledor Tari, tapi Mas Kafa itu percaya sama kita, dia peecaya kalau kita gak bakal nyuri ataupun ngambil barang dia," bela Salma yang cukup membuat Tari heran, pasalnya ini pertama kalinya Tari mendengar Salma membela Kafa.


"Sejak kapan kamu mulai membela Mas Kafa? atau jangan-jangan kamu mulai menyukainya?" tebak Tari.


"Hust, kamu jangan sembarangan bicara Tari! siapa juga yang mulai suka? aku cuma ngomong sesuai fakta aja," elak Salma.


"Iya juga gak apa-apa Salma, Mas Kafa kan calon suamimu, jadi akan lebih bagus kalau kamu suka padanya," tutur Tari.


"Sudahlah, jangan bahas masalah nikah!" Salma terlihat pusing dan kurang suka saat mendengar rencana pernikahan yang tinggal menunggu hari itu.

__ADS_1


"Kenapa gak boleh bahas masalah nikah? bukankah sebentar lagi kamu akan menikah?" tanya Tari yang kini terlihat antusias sekaligus penasaran dengan alasan Salma yang terkesan kurang menyukai rencana pernikahan yang tinggal menunggu hari itu.


"Aku tahu, tapi aku sedang malas untuk membahasnya, jadi tolong diamlah," pinta Salma seraya memejamkan mata menikmati segala rasa bimbang yang entah sejak kapan merasuk dalam jiwanya.


Tari hanya bisa diam setelah mendengar jawaban Salma, mau bagaimana juga apapun yang di katakan Salma sudah menjadi keputusannya dan Tari tidak bisa mengatakan apapun tentang itu.


"Khem," suara deheman Kafa terdengar mengalihkan pandangan Salma dan Tari yang serius berbincang.


"Mas Kafa," lirih kedua nya setelah melihat kedatangan Kafa.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan bersama Salma, dan aku minta waktu untuk berbicara hanya berdua dengannya," Kafa mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Baiklah kalau begitu aku keluar dulu." Sahut Tari yang tidak ingin menggangu Kafa dan Salma.


"Kamu mau ke mana, Tari?" tanya Kafa saat melihat Tari berdiri hendak pergi meninggalkan keduanya.


"Aku mau keluar dari kamar Mas Kafa. Bukankah kalian butuh waktu untuk berbicara hanya berdua saja?" jawab Tari merasa heran dengan pertanyaan yang seharusnya tidak di utarakan oleh Kafa.


"Apa aku tidak akan mengganggu waktu kalian jika aku tetap ada di sini?" Tari merasa ragu untuk menuruti perintah Kafa.


"Kami masih belum sah menjadi sepasang suami istri, maka tidak pantas jika kami hanya berdua di dalam kamar ini, meski kami tidak melakukan apapun, tapi perbuatan seperti itu tidak baik untuk di lakukan," Kafa menjelaskan alasan dia melarang Tari keluar dari kamar.


"Bener juga ya," lirih Tari.


"Sudahlah, kamu duduk di kursi dekat jendela saja Tari! temani kami!" Salma yang sejak tadi diam memperhatikan keduanya kini mulai bersuara dan mengutarakan pendapatnya.


"Baiklah, aku akan duduk diam di kursi itu dan kalaian jangan hiraukan keberadaanku! mengobrollah sesuka hati kalian!" ujar Tari kemudian melangkah mendekat ke arah jendela dan duduk di kursi yang tepat berada di samping jendela.


Kafa yang melihat Tari mematung memiliki ide agar Tari tidak lagi duduk mematung tapi lebih rileks, Kafa berdiri berjalan menuju lemari dan mengambil earphone yang tersimpan rapi di dalam lemari kemudian memberikannya pada Tari.

__ADS_1


"Ambil dan pakailah ini!" titah Kafa yang cukup membuat Tari terkejut, tadi doa sedang melamun memperhatikan para santri yang sedang beraktifitas dari tempatnya duduk, hingga Kafa datang tanpa aba-aba menyodorkan earphone lengkap dengan mp3 ke arah Tari.


"Wah, Mas Kafa pengertian sekali, terima kasih," sahut Tari seraya mengambil alih earphone dan Mp3 yang ada di tangan Kafa.


"Hm," jawaban singkat yang kurang di suka oleh siapapun termasuk Tari.


Tanpa memperdulikan hal lain lagi setelah mengambil earphone dan Mp3, Tari langsung memasangnya di telinga kemudian mulai memutar lagu yang entah lagu apa di dalamnya.


"Lumayan juga," lirih Tari saat mendengar lagu yang ada di dalamnya,


Melihat Tari yang terlihat menikmati lagu dari MP3 yang di berikan olehnya membuat Kafa memutuskan untuk berjalan kembali menyusul Salma dan mulai membicarakan apa yang tadi ingin dia bicarakan.


"Mas Kafa mau bicara apa?" tanya Salma sesaat setelah Kafa duduk di sampingnya.


"Aku ingin kamu ikut andil dalam pernikahan kita nanti, jadi pilihlah gaun yang menurutmu bagus dan kamu juga bisa memilih dekor pesta seperti apa yang kamu inginkan," Kafa mengutarakan apa yang ingin dia katakan.


"Kalau aku terserah Mas Kafa dan Ummi saja," jawab Salma.


"Jangan memasrahkan segalanya padaku dan Ummi!" sahut Kafa.


"Kenapa tidak boleh? bukankah akan lebih bagus jika aku pasrahkan pada Ummi dan Kafa, tidak akan ribet," tutur Salma.


"Jika kamu tidak mau ikut andil memberi pilihan untuk pernikahan ini, itu berarti kamu tidak suka atau terpaksa menjalani pernikahan ini," ujar Kafa pada Salma yang cukup membuat Salma bingung.


"Baiklah, aku akan memilih," ucap Salma setuju dengan apa yang Kafa katakan.


"Bagus, pilihlah!" Kafa menyodorkan ponsel yang sejak tadi di pegang oleh Kafa.


"Masya allah, semuanya terlihat indah dan bagus, aku sampai bingung mau pilih yang mana," spontan Salma sesaat setelah membuka galeri yang tadi di tunjukkan oleh Kafa.

__ADS_1


"Pilih saja yang kamu sukai dan jangan lihat harganya!" pesan Kafa.


Dan Salma baru sadar jika gambar yang terlihat juga tertera harga sewanya yang cukup membuat mata Salma melotot karena kaget.


__ADS_2