Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Adek Salma


__ADS_3

Dunia ini terkadang tak selalu memihak pada kebenaran, ada kalanya kebohongan itu menang untuk menguji kesabaran setiap insan, apa dia mampu melawati semua ujian yng di berikan atau mereka menyerah dengan keadaan.


Matahari yang sejak tadi bersembunyi di balik awan hitam kini perlahan mulai menunjukkan sinarnya, perlahan tapi pasti cahaya terang mulai terlihat membawa kehangatan bagi penghuni bumi.


"Mbok Sumik!" panggil Salma, dia baru saja turun dari lantai atas tepatnya baru keluar dari kamar.


"Iya, Neng ada apa?" sahut Mbok Salma.


"Mbok masak jam berapa?" tanya Salma yang belum mengerti dengan kebiasaan yang ada di rumah ini.


"Biasanya Mnok sudah mulai masak Neng, sebentar lagi Mbok akan masak setelah sholat asar," jawab Mbok Sumik.


"Baiklah, Mbok sholat saja dulu! biar Salma nyiapin bahan yang mau di masak." Ucap Salma.


"Tidak usah Neng, biar Mbok siapkan sendiri, Neng Salma istirahat saja di kamar!" Mbok Sumik merasa segan jika Salma membantunya menyiapkan bahan atau membantunya memasak.


"Aku ingin bantu Mbok Sumik, lagi pula aku sudah biasa membantu Ummi memasak di pesantren, Mas Kafa juga memintaku memasakan jamur crispy untuknya." Ujar Salma dengan senyum yang terlihat begitu menenangkan.


"Kalau begitu Mbok sholat dulu ya Neng. Nanti Mbok nyusul Neng Salma ke dapur." Pamit Mbok Sumik yang tak lagi bisa menolak bantuan Salma karena permintaan Kafa yang menginginkan Salma yang memasak untuknya.


"Mbok tenang saja! sholat yang khusu' biar aku yang mengurus dapur." Pamit Salma melenggang pergi ke dapur.


Salma menyiapkan segala keperluan untuk memasak jamur crispy dan soto ayam seperti permintaan Kafa dan Ghozi, dengan hati penuh rasa gembira Salma mulai mengolah bahan yang sudah di siapkan di bantu Mbok Sumik yang baru saja datang setelah sholat.


"Permisi!!! honey!!!" suara Intan yang cukup menggelegar terdengar di telinga penghuni rumah yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka.


"Mbok, seperti nya di depan ada tamu," ucap Salma saat dia samar-samar mendengar teriakan seorang gadis di luar rumah.


"Sebentar, Mbok akan periksa siapa tamunya." Pamit Mbok Sumik berjalan cepat menuju ruang tamu karena teriakan dan suara bel rumah terdengar berkali-kali.


Salma hanya tersenyum manis sambil mengangguk menanggapi ucapan Mbok Sumik.


"Honey!!" suara Intan semakin terdengar jelas menggelegar meski orangnya masih berada di luar rumah.


"Astaghfirullah, ini suara Intan, bisa gawat kalau Neng Salma sampai tahu jika yang datang itu Intan," lirih Mbok Sumik yangkini berbalik arah menuju ruang keluarga di mana Ghozi dan Kafa berada.


"Mas Kafa!" kini suara Mbok Sumik ikut bersaing dengan suara Intan yang masih terdengar memanggil Kafa.


"Ada apa Mbok?" tanya Kafa yang langsung berdiri melihat Mbok Sumik berjalan cepat setengah berlari ke arahnya.


"Itu Mas Kafa, di luar ada Neng Intan," jawab Mbok Sumik dengan nafas sedikit ngos-ngosan karena lelah setelah berjalan cepat menghampiri Kafa dan Ghozi.

__ADS_1


"Sudah cepat temui dia sebelum Salma tahu!" sahut Ghozi seraya menyikut pelan lengan Kafa yang berada tepat di sampingnya.


"Dia sudah tahu tentang Intan, aku sudah mengatakan segalanya termasuk masalah yang sedang aku alami saat ini," ucap Kafa acuh.


"Kami serius?" tanya Ghozi dengan ekspresi terkejut yang nampak jelas di wajahnya.


"Tidak ada untungnya aku berbohong padamu Ghozi," ujar Kafa berdiri melenggang pergi meninggalkan Ghozi dan Mbok Sumik yang saling pandang dan heran, dengan sikap yang di tunjukkan oleh Kafa barusan.


"Aku jadi semakin penasaran dengan kisah Kafa." Lirih Kafa dengan senyum yang tiba-tiba muncul di bibirnya.


"Sudahlah Mas Ghozi, jangan suka kepo dengan urusan orang! nanti kena karma dan urusan Mas Ghozi di kepoin orang baru tahu rasa," ujar Mbok Sumik yang langsung melangkah pergi meninggalkan Ghozi yang cukup terkejut dengan ucapan Mbok Sumik yang biasanya hanya diam bagai patung saat Ghozi dan Kafa sedang ada masalah.


"Tumben Mbok Sumik komentar," Ghozi kembali bersuara dengan suara lirih setelah Mbok Sumik benar-benar pergi.


Jika Ghozi merasa bingung dengan reaksi yang di berikan oleh Mbok Sumik maka berbeda dengan Intan yang semakin seenaknya sendiri.


'Ceklek'


Kafa membuka pintu ruang tamu dengan gerakan malas, dia merasa sangat malas untuk menghadapi Intan, baginya Intan saat ini hanyalah benalu dalam rumah tangganya.


"Ngapai lagi kamu ke sini?" tanya Kafa malas.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Intan, aku sudah berapa kali mengatakan padamu kalau aku ingin kita sudahi hubungan terlarang ini," Kafa kembali menegaskan apa yang telah dia katakan dulu.


"Hubungan terlarang bagaimana maksudmu Kafa?" sahut Intan dengan wajah penuh emosi dan berapi-api Intan bertanya tentang hubungan terlarang yang di maksud oleh Kafa.


"Hubungan tanpa ikatan suci itu terlarang namanya Intan, bagaimanapun juga kamu dan aku tidak memiliki hubungan darah ataupun terikat tali suci pernikahan, maka dari itu aku ingin kita akhiri saja hubungan ini!" Kafa menjelaskan apa yang menjadi alasannya memutuskan hubungan dirinya dan Intan.


"Tapi aku masih mencintaimu dan aku tidak ingin kita putus Kafa, hubungan ini atas persetujuan dua belah pihak, aku dan kamu maka hubungan ini akan berakhir juga atas persetujuan dua belah pihak, kamu tidak busa memutuskan hubungan ini hanya dengan satu putusan, kamu juga harus meminta persetujuanku Kafa!" Intan masih saja bersikeras dengan pendapat yang menurutnya benar.


"Bagaimana aku bisa membuatmu setuju untuk berpisah Intan? aku benar-benar tak ingin melanjutkan hubungan ini," menyerah sudah, sifat keras kepala yang di miliki Intan tak akan pernah bisa dia lawan, Kafa memilih untuk mengalah dan mencoba mengambil hatinya agar bisa membuat Intan setuju.


"Beri aku alasan yang pasti kenapa kamu ingin hubungan ini berakhir!" pinta Intan yang cukup membuat Kafa bingung.


Saat ini masihsangat tidak mungkin untuk mengatakan semua kebenarannya karen keselamatan Salma akan jadi taruhannya, tapi jika tidak di katakan bagaimana Intan bisa setuju.


"Ada apa ini?" tanya Salma yang sejak tadi sebenarnya penasaran dengan keributan yang terjadi di tuang tamu, tapi Mbok Sumik yang tidak ingin memperkeruh keadaan lebih memilih melarang Salma mendekat, tapi Salma tetaplah Salma, rasa penasaran yang muncul karena suara gaduh dari ruang tamu cukup membuat Salma tergugah untuk segera mendekat dan mencari tahu.


Intan dan Kafa langsung menoleh ke asal suara di mana Sala berdiri.


"Hay Adek!" sapa Intan dengan penuh keramahan.

__ADS_1


"Oh, eh hay!" sahut Salma kikuk.


"Maaf ya Adek, Kakak udah bikin keributan di rumah Kakakmu," ujar Intan sok akrab.


"Kafa, kenapa kamu tidak kenalkan aku pada Adikmu?" tanya Intan menatap ke arah Salma penuh antusias.


Intan memang tidak tahu dengan pasti Kafa itu anak tunggal ataupun tidak, Intan beranggapan jika Salma itu adik dari Kafa, entah adik kandung atau adik sepupu atau adik yang lain, yang Intan tahu cuma satu, Kafa tidak akan pernah membiarkan orang luar menginap bersamanya di rumah.


"Adik," gumam Salma bingung dengan apa yang sedang terjadi, Intan benar-benar salah sangka tentang siapa Salma sebenarnya.


"Kenapa? apa aku salah ngomong?" tanya Intan bingung saat melihat Salma dan Kafa saling pandang seperti seseorang yang kebingungan.


Sejenak Salma terpaku bingung menatap ke arah Kafa dan Intan secara bergantian hingga dia memiliki ide yang tiba-tiba. muncul di kepalanya, ide yang mungkin bisa dia gunakan karena setelah di perhatikan Intan bukanlah gadis yang jahat seperti yang di ceritakan Kafa, mungkin jika Salma bisa mengambil hatinya dan bisa membuat Intan mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mungkin Intan tidak akan semarah ini dan Intan pastiakan bersikap baik dan menerima keputusan Kafa untukmenngakhiti hubungan yang memang harus di akhiri.


"Tidak kok Mbak, aku hanya kaget saja saat melihat seorang gadis masuk ke rumah Mas Kafa," jawab Salma seraya memberi kode dengan kedipan mata dan isyarat tangan yang menandakan Kafa harus diam tanpa komentar.


"Mbak? kenapa kamu panggil aku Mbak?" tanya Intan aneh, selama ini yang dia tahu istilah Mbak hanya di gunakan saat dirinya berada di tokoh atau Mall dan sedang berbicara dengan pelayan tokoh.


"Mbak itu artinya Kakak, itu bahasa yang di pakai di desaku," jelas Salma yang melihat kebingungan tersirat di wajah Intan.


"Aku baru tahu," sahut Intan.


"Oh ya, perkenalkan, namaku Intan, aku kekasih Kakakmu Kafa," Intan kembali memperkenalkan diri.


"Mantan," sela Kafa yang terlihat tidak suka melihat Intan sok akrab bahkan kembali berkenalan dengan Intan.


"Aku masih belum setuju Kafa, jadi kita masih tetap pacaran," ucapan Intan dan Kafa hanya memutar bola mata malas menanggapi ucapan Salma.


"Terserah," jawab Kafa acuh.


"Oh ya, kita belum kenalan secara resmi, nama kamu siapa Adek?" tanya Intan .


"Aku Salma," jawab Salma seraya meraih uluran tangan Intan.


Ukuran badan Salma yang tudak terlalu tinggi di tambah wajah imut yang di miliki Salma sukses membuat Intan terkecoh, Intan beranggapan jika Salma itu adik dari Kafa.


Melihat tingkah dan mendengar panggilan Intan pada Salma sebenarnya membuat Kafa ingin tertawa karenanya, tapi jika Kafa sampai melakukannya, maka Intan akan curiga dan mulai mencari tahu siapa Salma yang sebenarnya.


"Apa Mbak Intan mau ikut memberi Mbok di dapur?" tawar Salma.


"Aku belum pernah masak sebelumnya Salma dan aku juga belum pernah masuk ke dalam dapur, biasanya asisten rumah tanggaku yang akan menyiapkan segalanya untukku," tutur Intan dengan ekspresi wajah memelas yang terlihat jelas di wajah Intan.

__ADS_1


__ADS_2