
Mobil melaju menyusuri jalanan yang terlihat sedikit padat. Terlihat jelas sebuah senyum yang tampak di wajahnya, sudah lebih dari dua bulan Ghozi tak pulang ke rumahnya demi belajar mengelolah pesantren dengan baik dan benar.
"Loh katanya kita mau ke rumahmu, kenapa jadi ke pesantren?" tanya Salma heran saat mobil yang di kemudikan Ghozi berhenti tepat di sebuah rumah yang berada di dalam pesantren.
"Ini rumahku Salma," satu jawaban yang sukses membuat Salma juga Tari yang sejak tadi diam langsung menoleh ke arahnya.
"Rumah kamu," lirih Tari tapi masih mampu di dengan oleh Ghozi dan Salma.
"Iya, sebenarnya orang tuaku juga punya pesantren, tapi tak sebesar pesantren Ummi dan Abah," jujur Ghozi.
"Jika kamu punya pesantren, kenapa kamu jadi santri sekaligus haddam di rumah Ummi?" kebiasaan Tari mulai muncul, mengatakan apapun yang ada di benaknya tanpa filter.
Mendengar pertanyaan Tari yang sering sekali dia dengar juga dari orang lain membuat Ghozi tersenyum, dia tak pernah malu ataupun sakit hati saat harus mengakui jika dirinya tengah belajar di pesantren Ummi.
"Aku sedang menuntut ilmu Tari, pesantren Abah dan Ummi sangatlah besar, santrinya patuh-patuh apalagi para tetangga yang hidup di samping keduanya begitu menghormati dan menghargainya, itu tanda jika Ummi dan Abah sudah berhasil menjadi pemimpin dan panutan, aku berada di sana untuk mempelajari ilmu itu darinya, lagi pula sejak SMP aku dan Kafa putera mereka bersahabat dan kami sering bersama, terkadang aku yang menginap di rumah Kafa begitupun sebaliknya," Ghozi menjelaskan panjang lebar pada Tari dan Salma yang masih berada di dalam mobil memperhatikan ekspresi serius wajah Ghozi.
"Wahh kamu hebat juga ya, tidak sombong meski sama-sama putera seorang Kiyai," Tari mengungkapkan kekagumannya.
"Untuk apa sombong? kita sama-sama manusia, apa yang bisa aku sombongkan? semua yang ku punya hanya titipan," jawaban yang benar-benar membuat Tari semakin kagum dengan Ghozi.
"Kamu memang hebat Ghozi," sahut Salma.
"Sudahlah, jangan terlalu memujiku! nanti aku bisa besar kepala dan kau tahu, kalau kepalaku besar susah untuk di angkat," ujar Ghozi.
"Ayo turun," sambung Ghozi sambil turun dari mobil. Salma dan Tari hanya mengikuti langkah Ghozi dari belakang.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Umik," ucap Ghozi sambil membuka pintu rumah yang ada di depan mobil, rumah yang cukup besar tapi terlihat begitu sederhana dan nyaman.
"Waalaikum salam, Ghozi, masuklah!" sahut seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Ummi berjalan mendekat ke arah Ghozi.
"Umik sudah lama menunggumu, kenapa kamu tidak pulang bulan kemarin?" sambung Umik.
"Maaf, Umik, kemarin Ghozi sedang menyiapkan ujian semester untuk para santri, jadi gak sempat pulang." Jawab Ghozi sambil mencium punggung tangan Umik.
"Assalamualaikum," ujar Salma dan Tari hampir bersamaan, keduanya baru saja masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam, rupanya ada tamu, siapa mereka Ghozi?" tanya Umik yang merasa heran melihay kedua gadis yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Salma dan Tari adalah gadis pertama yang Ghozi ajak ke rumahnya, sejak dulu Ghozi tak pernah membawa gadis ke rumahnya, bahkan Ghozi tak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun.
"Mereka Salma dan Tari, kami baru saja pulang dari pasar di suruh Ummi berbelanja," jelas Ghozi.
"Masuklah, Nak!" pinta Umik dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Salma dan Tari berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Umik yang mengajak keduanya ke ruang makan.
"Kalian pasti lelah, makanlah dulu! setelah itu kita ngobrol dan beristirahat sejenak," ucap Umik yang kini membukakan tudung saji di atas meja, ayam bakar dan tempe goreng lengkap dengan sambelnya sudah terhidang di atas meja, ada juga lalapan kacang panjang, kemang dan mentimun yang membuat menu ayam bakar semakin lengkap.
"Umi, seharuanya tidak perlu repot-repot seperti ini, kami sudah sarapan kok," sahut Salma yang merasa sungkan dengan sikap yang di tunjukkan Umik.
"Sudahlah! jangan merasa sungkan! kalian saat ini menjadi tamu di rumah Umik, jadi sudah kewajiban Umik memberikan yang terbaik untuk kalian, jadi nikmati hidangannya!" ujar Umik dengan senyum ramah penuh ketenangan yang tergambar jelas di wajahnya.
__ADS_1
Keduanya tersenyum membalas ucapan Umik Ghozi kemudian mulai makan bersama. Sejak pertama kali datang Salma dan Tari tak melihat Ayah dari Ghozi, membuat keduanya penasaran.
"Maaf Umik, apa saya boleh tanya?" tanya Tari yang selalu tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan sesuatu yang mengusik hatinya.
"Silahkan, Nak! tanya saja, Umik akan menjawab pertanyaanmu dengan senang hati." Sahut Umik dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Umik, sejak tadi aku tidak melihat Ayahnya Ghozi? memangnya ke mana ya?" tanya Tari.
Salma yang mendengar pertanyaan Tari langsung menyenggol tangannya sebagai bentuk pemberitahuan jika Salma kurang menyukai pertanyaan Tari. Sedang Umik yang di tanya justru tersenyum manis ke arah Tari dan Ghozi hanya diam melanjutkan makan, dia terlihat cuek dan asyik menikmati ayam bakar yang kini tinggal setengah.
"Abinya Ghozi sedang ada di luar kota, beliau sedang ada undangan dakwah di sana," jawab Umik dengan senyum yang masih terlihat.
"Oh," sahut Tari, dia kembali meneruskan makan dengan lahapnya, makanan yang di sediakan Umik memang lezat dan Tari begitu menyukainya.
"Umik, masakannya enak banget, apa Umik masak sendiri?" Tari kembali bertanya dengan polosnya.
"Apa kamu menyukainya?" bukannya menjawab Umik malah balik bertanya.
"Iya Umik, saya sangat menyukainya, ini ayam bakar paling enak yang Tari makan," jawab Tari masih dengan ekspresi polos, Salma yang melihat sikap Tari hanya bisa menggelengkan kepala, dia tak heran dengan sikap Tari karena dia memang seperti itu.
"Itu ayam bakar spesial dan Umik sendiri yang memasaknya, kapan-kapan kamu bisa belajar memasak dengan Umik, jika kita punya kesempatan," ucap Umik membuat senyum Tari melebar.
"Benarkah?" sahut Tari dengan mata berbinar, dan Umik tersenyum lembut ke arah Tari sambil mengangguk sebagai jawaban.
"Semoga saja kesempatan itu segera datang," ujar Tari.
__ADS_1
Ghozi hanya diam dan sesekali melirik interaksi Tari dan Umiknya, dia merasa heran dengan sang Umik yang biasanya sangat susah akrab dengan orang, tapi saat ini dia terlihat akrab dengan Tari, sedang Salma yang berhasil mencuri hatinya lebih banyak diam tanpa banyak berkomentar.