Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Berangkat Ke Kota


__ADS_3

Setiap detik waktu yang berjalan terasa begitu berharga, kini tiba saatnya Salma dan Kafa pergi ke kota sesuai dengan apa yang di rencanakan.


"Apa semua barang sudah siap?" tanya Kafa.


Saat ini Salma dan Kafa sedang menata barang yang akan di bawa termasuk rempeyek yang Ummi buat khusus untuk Kafa.


"Sudah," jawab Salma.


Jujur saja meninggalkan tanah kelahiran untuk pergi ke kota bukanlah hal yang mudah, apa lagi kota yang di tuju merupakan kota besar dan kita belom pernah ke sana sebelumnya, jelas ada banyak kekhawatiran yang di rasakan oleh Salma, begitu pula dengan Kafa, tapi Kafa bukan khawatir karena Salma belum pernah ke kota, dia hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada diri Salma karena kesalahannya, tapi keselamatan pesantren dan isinya juga hal penting yang harus Kafa fikirkan.


"Ummi, Kafa berangkat dulu." Pamit Kafa.


"Abah, Kafa berangkat." Sambung Kafa yang kini mencium punggung tangan Abah.


"Hati-hati, Nak! Ummi titip Salma," jawab Ummi


"Ummimu benar, berhati-hatilah!" sahut Abah.


"Baik Ummi, Abah," sanggup Kafa.


"Ummi, Abah, Salma juga pamit berangkat dulu. Minta. do'anya," kali ini giliran Salma yang berpamitan.


"Do'a Ummi dan Abah selalu ada untukmu, Nak," sahut Ummi langsung memeluk erat Salma yang sudah dia anggap sebagai puterinya sendiri.


"Kami berangkat assalamualaikum," sekali lagi Salma berpamitan dan mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi meninggalkan pesantren dan tanah kelahiran menuju kota.


"Waalaikum salam," ada rasa sedih yang bercampur bahagia sedang berkecambuk dalam diri Ummi, dia bahagia karena sekarang Salma sudah sah menjadi istri puteranya.


'Semoga kalian selalu bahagia dan mendapat kabar gembira setelah kembali nanti,' batin Ummi menatap nanar ke arah mobil Kafa yang sedang melaju menjauh dari pesantren.


Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung, ini pertama kalinya Salma pergi jauh dengan seorang laki-laki, meskipun laki-laki itu sudah sah menjadi suaminya. Tapi Salma masih merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Tidurlah jika kamu lelah!" titah Kafa saat melihat Salma duduk mematung di sampingnya.


"Aku tidak lelah," jawab Salma singkat tanpa menoleh ke arah Kafa.


Kafa hanya diam mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, Salma memang berkata tidak lelah, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan hal lain.


Tanpa banyak bertanya ataupun berkata, Kafa langsung mencari tempat persinggahan, kebetulan tidak jauh dari tempatnya terdapat restauran yang cukup terkenal karena makanannya yang enak juga merakyat.


"Loh kok berhenti di sini?" spontan Salma saat mobil yang di kendarai Kafa berhenti di depan restauran.


"Turun!" titah Kafa seraya keluar dari dalam mobil kemudian menelfon seseorang yang entah siapa?


"Ikut aku!" Kafa kembali memberi perintah yang langsung di turuti oleh Salma, keduanya berjalan masuk ke dalam restauran dan betapa terkejutnya Salma saat melihat Ghozi menyambut kedatangannya.


"Loh kok ada Ghozi di sini?" lirih Salma yang masih bisa di dengar oleh Kafa dan Ghozi tentunya.


Kafa hanya melirik sekilas ke arah Salma kemudian kembali fokus menatap ke depan hingga dia bertemu dengan Ghozi.


Kafa hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban kemudian berjalan mengikuti langkah Ghozi dengan Salma yang masih setia mengekor di belakangnya.


"Silahkan Masuk!" ucap Ghozi membukakan pintu sebuah ruangan yang terlihat ruangan khusus karena tak ada satu tamu pun yang masuk ke dalam hanya ada Kafa dan Salma juga Ghozi di sana.


Sebuah ruangan yang mirip dengan ruang tamu, sofa yang biasa di letakkan di ruang tamu dengan lemari es di sudut ruangan tak lupa satu televisi cukup besar juga terpajang di sana.


"Kenapa kita masuk ke ruangan ini Mas Kafa? kenapa tidak di luar bergabung dengan yang lain?" tanya Salma yang merasa begitu penasaran dengan Kafa dan Ghozi yang langsung masuk ke dalam ruangan seperti restauran mereka yang punya.


"Istirahatlah! aku tahu kamu lelah, jadi kamu bisa istirahat di sini, kamu mau tidur atau kamu mau makan?" bukannya menjawab pertanyaan Salma, Kafa langsung meminta Salma istirahat agar dia tak lagi lelah.


"Aku belum terlalu lelah saat ini, tapi aku sedikit lapar," jawab Salma sambil menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya agar dia tidak terlalu malu.


Tanpa menjawab pertanyaan Salma, Ghozi berjalan mendekat ke arah pintu keluar sambil memanggil seseorang kemudian kembali lagi ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Aku sudah pesankan menu kesukaan Mas Kafa, dan aku harap Salma juga menyukai menu itu," sahut Ghozi.


"Terima kasih, Ghozi," ucap Salma.


"Kamu memang paling mengerti, thanks," Kafa juga tak mau kalah mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah di lakukan Ghozi, sejak dulu Ghozi tak pernah berubah, dia selalu saja menghormati dan sangat ramah pada Kafa, sesuai dengan apa yang telah dia pelajari di pesantren. Ghozi bersikap seperti sekarang karena Kafa putera dari Abah yang tak lain gurunya sendiri, maka dari itu Ghozi bersikap sangat baik pad Kafa meski mereka bersahabat tapi Ghozi masih mengerti batas-batasan antara dirinya dan Kafa.


Tok ... tok ... tok ....


"Permisi, Tuan," suara lembut seorang pelayan terdengar dari balik pintu.


"Masuklah!" sahut Ghozi dengan nada tegas.


Salma masih diam memperhatikan setiap hal yang terjadi saat ini, dalam benaknya ada banyak pertanyaan tentang siapa Ghozi sebenarnya, selain pemilik pesantren yang Salma tahu waktu itu, Salma juga penasaran dengan sikap pegawai restauran yang terlihat sangat menghormati Ghozi dan yang paling membuat Salma penasaran adalah ruangan yang saat ini mereka tempati saat ini.


Sang pelayan masuk ke dalam ruangan dengan berbagai menu yang ada di atas meja troli.


"Silahkan di nikmati Tuan!" ujar sang pelayan dengan nada lembut penuh keramahan.


"Terima kasih," cicit Salma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Mendengar keramahan dari sang pelayan tidak mempengaruhi Ghozi dan Kafa yangsaat ini justru terlihat berwibawa dan tegas, melihat kedua laki-laki di hadapannya membuat Salma semakin penasaran.


"Silahkan di nikmati hidangannya, aku pergi dulu." Pamit Ghozi melangkah pergi meninggalkan keduanya.


Keduanya makan dengan suasana yang begitu tenang tanpa ada yang mengganggu, meski rasanya begitu canggung tapi Salma yang lapar tk lagi memperdulikan apa yang terjadi yang dia tahu saat ini Salma bisa menikmati makanan yang sangat lezat.


"Mas Kafa," lirih Salma setelah menghabiskan satu porsi makanan yang ada di atas meja.


"Hm," jawab Kafa singkat.


"Makanan di sini terasa sangat lezat, apa Mas Kafa tahusiapa pemiliknya?" tanyaSalma langsung pada intinya.

__ADS_1


"Tahu, kenapa kamu tanya pemilik restauran ?" jawab Kafa singkat, sungguh jawaban Kafa membuat Salma gemas karenang.


__ADS_2