Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Perjalanan Ke pantai


__ADS_3

Jantung Salma berdebar begitu kencang, dia merasa takut jika harus berhadapan dengan Kafa, Salma kesiangan dan itu bukan kehendak dirinya.


"Aku harus cepat," lirih Salma secepat mungkin menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan.


Salma langsung berjalan dengan cepat menuruni tangga mencari keberadaan Kafa.


"Maaf," ucap Salma sesaat setelah sampai di ruang tamu, dia melihat Kafa dan yang lainnya sudah siap berangkat.


"Maaf, aku kesiangan," ucap Salma setelah sampai di ruang tamu.


"Tidak apa-apa, santai saja," kali ini Ghozi yang menjawab pertanyaan Salma.


"Kalau semua sudah siap, kita langsung berangkat!" ajak Kafa tanpa basa basi, Kafa langsung meraih jemari Salma mengajaknya melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang ternyata sudah siap.


"Apa dia anaknya Mbok Sumik?" tanya Salma saat pertama kali masuk ke dalam mobil.


"Iya, ayo masuk!" Kafa memerintahkan Salma untuk duduk di jok bagian belakang sendiri di ikuti dirinya.

__ADS_1


"Loh, kenapa Mas Kafa ikut masuk dan duduk di sini?" tanya Salma merasa aneh dengan sikap Kafa yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Terus aku harus duduk di mana?" Kafa balik bertanya.


"Bukankah seharusnya Mas Kafa duduk di depan bersama Ghozi?" Salma mengatakan apa yang mengganjal dalam hatinya.


"Kalau aku duduk di sana kamu duduk di sini sama siapa? puteranya Mbok Sumik?" ujar Kafa.


"Bukan begitu, aku cuma bingung aja, bukankah kemarin Mas Kafa sendiri yang bilang mau gantian nyetir dengan Ghozi, tapi sekarang Mas Kafa berada di jok belakang, terus yang nyetir siapa?" Salma kembali mengungkapkan rasa penasarannya.


Berbeda dengan Salma yang merasa tak enak hati, Kafa terlihat lebih santai dan acuh taacuh dengan apa yang di bicarakan oleh Salma.


"Jangan berisik! aku mau istirahat," pesan Kafa yang langsung merebahkan diri di jok belakang dengan kepala yang bersandar di pangkuan Salma.


'Ternyata dia punya rencana yang sungguh membuatku repot, ini yang si namakan ada udang di balik batu,' batin Salma.


Salma hanya bisa membatin melihat tingkah Kafa yang seenaknya sendiri, Kafa termasuk tipe orang yang susah di tebak, karena itulah Salma tak bisa menentukan sikap saat berada di dekat Kafa.

__ADS_1


"Neng Salma mau makan buah? atau mau minum?" tawar Mbok Sumik yang tadi mendapat tugas memperhatikan Salma selama bepergian agar Salma merasa nyaman dan tidak kekurangan satu apapun.


"Apa ada Mbok?" sahut Salma, dia merasa tidak menyiapkan apapun untuk di perjalanan.


"Tentu saja, Mbok sudah menyiapkan banyak hal untuk Neng Salma." Jawab Mbok Sumik seraya membuka plastik besar yang tadi dia bawa, dan ternyata Mbok Sumik membawa banyak makanan untuk Neng Salma.


"Ini buah dan minumnya Neng," Mbok Sumik yang tabu jika Kafa sedang tertidur pulas menyodorkan buah dan air ke hadapan Salma agar dia bisa mengambilnya dengan mudah tanpa harus berdiri.


"Terima kasih Mbok," ucap Salma setelah mengambil satu kotak buah dan satu botol minuman yang di berikan Mbok Sumik.


"Iya, Neng, kalau butuh apa-apa Neng Salma tidak perlu sungkan, langsung bilang aja ke Mbok Sumik!" pesan Mbok Sumik.


"Baik, Mbok," jawab Salma dengan senyum yang merekah dibibirnya.


Salma mulai menikmati satu kotak buah yang berisi macam-macam buah yang siap di makan, dan semua isinya adalah buah kesukaan Salma, karena itulah Salma memakan buah-buahan yang di berikan Mbok Sumik dengan hati yang tulus itu dengan lahap hingga habis tak tersisa.


Perjalanan menuju pantai cukup memakan waktu yang lama, Salma yang awalnya biasa saja kini ikut tertidur bergabung bersama Kafa sang suami, menjelajah ke dunia mimpi yang akan terasa indah karena dia yang di cinta ada di dekatnya. Sungguh indah kisah asmara pengantin baru yang cintanya baru merekah penuh kebahagiaan, dan inilah kebahagiaan pembawa berkah nan pahala.

__ADS_1


__ADS_2