
"Bik, kami pulang dulu. Jaga rumah baik-baik!" pesan Kafa sebelum keluar dari rumah dan pergi menuju pesantren di mana Ummi sudah menunggunya.
Jika Kafa sudah berangkat menuju pesantren maka jauh berbeda dengan Ummi yang kini heboh sendiri menyambut putera semata wayangnya yang akan datang.
"Mbak yang tidak sekolah umum, bisa bantu Ummi membersihkan kamar dan halaman." Pinta Ummi memberi pengumuman melewati seksi kebersihan.
"Baik, Ummi," jawab Sang santri yang di tunjuk untuk menyampaikan perintah Ummi pada santri lain.
Di pesantren memang tak semua santri bersekolah umum, ada beberapa santri yang menjadi santri salaf, hanya sekolah diniah di sore hari.
"Mbak, satu lagi panggilkan Salma ke sini!" Ummi kembali memberi perintah sebelum sang santri pergi.
"Baik, Ummi," sebagai seorang santri yang taat dia hanya bisa mengikuti apapun yang di perintahkan Ummi sang guru.
Setelah menyampaikan apa yang ingin di sampaikan, Ummi kembali berjalan masuk ke dalam rumah menuju dapur menyelesaikan masakannya, menata beberapa toples rempeyek yang sudah dia buat di meja makan.
"Assalamualaikum, Ummi manggil Salma?" tanya Salma dwngan ekspresi bingung melihat sang Ummi sedang ribut sendiri dwngan beberapa bahan masakan yang ada di depannya.
"Iya, Salma bisa bantu Ummi memasak semua makanan ini?" Ummi balik bertanya sambil menunjukkan beberapa bahan masakan yang ada di depannya.
"Memangnya Ummi mau masak apa?" Salma yang bingungpun akhirnya ikut bertanya.
"Ummi mau masak ayam krispi, sama pecel," jawab Ummi.
Ayam crispy dan sayur yang di siram bumbu pecel di makan bersama rempeyek adalah makanan favorit Kafa saat dulu berada di rumah. Dia bisa makan dengan lahapnya saat Ummi memasak menu itu di meja.
"Jika cuma pecel sama ayam crispy, Salma bisa memasaknya untuk Ummi." Jelas Salma.
Mendengar penjelasan Salma membuat Ummi tersenyum senang, pasalnya dia masih harus memeriksa santri yang membersihkan kamar Kafa dan melihat apakah halaman rumah juga sudah di bersihkan. Tak lupa juga Ummi ingin mengecek seluruh isi rumah apakah sudah bersih dan rapi atau belum? agara saat Kafa pulang semua terlihat sempurna.
"Alhamdulillah, jika kamu bisa memasak semuanya, Ummi serahkan semua masakan ini padamu!" ujar Ummi tersenyum penuh kebahagiaan bercampur kelegaan.
"Loh, memangnya Ummi mau ke mana?" tanya Salma yang bingung melihat sikap Ummi yang saat ini jauh berbeda.
__ADS_1
"Ummi mau memeriksa keadaan rumah dulu. Kamu selesaikan saja masaknya!" jawab Ummi.
"Baiklah, Ummi tudak perlu khawatir! Salma pasti akan menyelesaikan masakan ini," Salma tersenyum lembut ke arah Ummi sembari melanjutkan pekerjaannya memasak. Sedang Ummi yang melihat Salma memasak langsung pergi memeriksa seluruh rumah.
~
Perjalanan menuju rumah Ummi memang membutuhkan waktu cukup lama, tapi kali ini berbeda dengan tadi saat Ghozi yang menyetir.
"Kafa, aku masih belum menikah, jika kamu menyetir secepat ini bisa mati perjaka aku," celetuk Ghozi dengan ekspresi sedikit ngeri melihat cara Kafa mengemudikan mobil di sampingnya.
Sejak awal sebenarnya Ghozi tak mengizinkan Kafa menyetir mobil yang tadi dia bawa karena Ghozi sangat tahu bagaimana cara Kafa mengendarai mobil.
"Kamu tenang saja, kita gak bakal.mati sekarang, kecepatan segini bukan apa-apa," sahut Kafa santai.
Mobil terus melaju dengan cepatnya hingga sampai di halaman pesantren lebih cepat dari waktu yang di perlukan sebenarnya.
"Alhamdulillah, sampai juga, naik mobil sama kamu bikin sport jantung Kafa," ujar Ghozi yang langsung turun dan duduk bersandar pada pilar yang ada di teras sedang sang pelaku hanya tersenyum lucu menatap ke arah Ghozi yang terlihat sedikit mabuk.
"Sudah, jangan jadi banci! baru di ajak ngebut sedikit sudah mabuk gitu," ucap Kafa santai.
"Kafa! puteraku!" panggil Ummi dengan nada sedikit berteriak saking senangnya.
"Assalamualaikum, Ummi," sahut Kafa yang langsung mendapat pelukan hangat dari Ummi, bukan pelukan hangat lagi tapi pelukan rindu yang sangat erat membuat Kafa sedikit sesak karenanya.
"Ummi di jawab dulu salamnya, baru peluk Kafa," seru Kafa mencari alasan agar Ummi segera melepas pelukannya karena rasa sesak yang sudah semakin menyiksa.
"Waalaikum salam, maaf Ummi hanya terlalu bahagia sampai tak mendengar kamu mengucapkan salam, ya allah, Nak, kamu kok semakin kurus?" ujar Ummi memperhatikan Kafa yangs sedikit lebih kurus dari dulu sebelum pergi.
"Kafa, tidak kurus Ummi, hanya berat badan Kafa yang sedikit menurun, mungkin karena Kafa terlalu sering bergadang," jawab Ummi.
"Untuk apa bergadang jika merugikan dirimu sendiri? lain kali jangan bergadang lagi!" Ummi menepuk pelan bahu Kafa.
"Abah ke mana Ummi?" tanya Kafa yang tak melihat sang Abah sejak pertama dia datang.
__ADS_1
"Abahmu ada acara pengajian di luar kota dan besok akan pulang, astaghfirullah," jelas Ummi sambil beristighfar setelah mengingat jika dirinya belum memberi kabar pada suaminya.
"Kenapa, Ummi? apa ada yang terlupa?" tanya Kafa bingung mendengar sang Ummi beristighfar.
"Ummi lupa memberi kabar pada Abahmu," jawab Ummi.
"Oh, aku kira kenapa? Ummi memberi kabarnya nanti saja, Kafa lelah berdiri di sini apa tidak lebih baik kita masuk?" ujar Kafa yang merasa lelah karena Ummi tak kunjung mengajaknya masuk tapi malah terus mengobrol di teras eumah.
"Astaghfirullah, Ummi keasyikan ngobrol jadi lupa," ucap Ummi.
"Ayo masuk!" ajak Ummi melangkah masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia mengingat sesuatu.
"Tunggu!" cegah Ummi sambil menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Ummi?" spontan Kafa yang bingung melihat sikap Sang Ummi.
"Ghozi!" panggil Ummi.
"Iya, Ummi," sahut Ghozi menghentikan kegiatannya mengelap mobil.
"Masuklah! kita makan dulu." Ajak Ummi.
"Sebentar, Ummi, Ghozi selesaikan dulu nyucinya setelah itu Ghozi nyusul." Jawab Ghozi yang sangat mengerti jika sang Ummi tidak akan langsung makan san ke dapur melainkan akan berceloteh dahulu sampai benar-benar puas.
"Baiklah, nanti kalau sudah selesai langsung ke ruang makan ya!" titah Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Ghpzi dengan senyum yang mengembang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ummi.
Ummi kembali berjalan dengan tangan yang terus menggandeng lengan Kafa, sungguh tak ada yang bisa menandingi kebahagiaan Ummi saat ini.
"Ummi, Kafa haus mau ke dapur dulu." Pamit Kafa.
"Minumlah dulu! biar Ummi yang merapikan bajumu di kamar." Jawab Ummi.
__ADS_1
Kafa melangkah dengan pasti menuju dapur di mana Salma masih saja sibuk menyelesaikan satu menu makanan yang di minta oleh Ummi.
"Tunggu! kamu siapa? kenapa berani minum di sini?" sergah Salma saat melihat Kafa sengan santainya mengambil gelas dan minum di tempat khusus untuk Ummi dan Abah minum.