
Setelah berpamitan pada Sasa yang sebenarnya tadi terlihat tidak mau di tinggal, sekarang Tari berjalan menuju gubuk yang ada di tepi sawah tepat di belakang pesantren. Jantung Tari berdebar lebih kencang mengingat dirinya yang akan bertemu dengan Ghozi, seorang laki-laki yang berhasil mencuri hatinya dan menerobos masuk ke dalam hati Tari, menjadi raja di sana.
"Ghozi," lirih Tari saat melihat Ghozi sedang duduk di gubuk menatap lurus ke depan melihat pemandangan sawah yang membentang di hadapannya, sungguh saat ini Ghozi terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya, entah efek dari rasa rindu yang menerobos masuk ke dalam hati Tari tanpa permisi atau karena Ghozi memang tampan dari lahir.
"Ada apa Ghozi?" tanya Tari sesaat setelah Tari sudah sampai di samping Ghozi.
"Ini untukmu." Ghozi memberikan satu kantong plastik ke arah Tari yang kini duduk di sampingnya.
"Apa ini?" tanya Tari seraya mengangkat tangan yang membawa kantong plastik yang di berikan padanya.
"Itu brownis khusus untuk gadis manis sepertimu," ujar Ghozi dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Pagi-pagi sudah ngegombal, bisa tidak jangan ngegombal," ujar Tari dengan ekspresi wajah jengah.
"Khem," dehem Ghozi mengumpulkan segala keberanian yang dia miliki agar bisa mengatakan apa yang sedang dia rasakan.
"Tari!" lirih Ghozi menoleh ke arah Tari yang sedang duduk menatap lurus ke depan.
"Ada apa?" sahut Tari yang kini sedang membuka kantong plastik yang di berikan oleh Ghozi.
"Apa saat ini hatimu sudah ada yang menempati?" tanya Ghozi.
"Sudah, kenapa?" jawab Tari singkat.
Tari menjawab pertanyaan Ghozi dengan ekspresi biasa saja sangat berbeda dengan reaksi yang di berikan oleh Ghozi.
"Siapa?" spontan Ghozi menatap tajam ke arah Tari.
"Seseorang yang menyuruhku menunggunya tapi tak pernah memberi kepastian sampai saat ini," jawaban yang sangat menusuk tajam ke dalam hati.
"Apa kamu masih menunggunya sampai saat ini?" tanya Ghozi.
"Entahlah, sepertinya kesabaranku untuk menunggu sudah hampir habis, mungkin aku akan pergi dan mencari pelabuhan hati yang lain jika dia masih tetap diam tanpa kepastian," ujar Tari yang sukses membuat Ghozi kelimpungan.
Sungguh Tari sangat pintar merangkai kata yang cukup membuat Ghozi kebakaran karenanya.
"Bersabarlah! dia yang kau tunggu sebentar lagi akan memberi kepastian dan segera menjadikanmu kekasih halal yang akan menemaninya sampai takdir yang memisahkannya," Ghozi mencoba meyakinkan Tari agar dia tetap menunggunya tanpa ada keraguan atau rasa lelah.
"Semoga saja apa yang kamu katakan memang benar, karena jika tidak aku tidak akan pernah percaya lagi padanya dan aku bisa memastikan kalau aku akan pergi dan tidak akan pernah bisa kembali," Tari terdengar begitu tegas dan terkesan mengancam, Tari sudah tak bisa mentoleransi apa yang Ghozi lakukan, menunggu tanpa kepastian bukan hal yang ingin terus Tari lakukan, karena itulah Tari berusaha keras untuk tegas agar Ghozi semakin tegas.
Ghozi terdiam dia tak lagi bisa berkata apa-apa, meski sebenarnya jauh dari dalam hatinya Ghozi ingin sekali mengatakan kalau dia ingin meminang Tari, tapi Ghozi masih menunggu hasil dari orang suruhannya yang mencari asal usul Tari.
"Terima kasih sudah di belikan kue seenak ini, kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi, aku permisi." Pamit Tari yang merasa jika Ghozi tak akan bicara apapun lagi.
Melihat Ghozi yang hanya diam membuat Tari berfikir jika Ghozi sama sekali tidak punya keseriusan untuk menjalin hubungan lebih serius dengan dirinya, hal itu menimbulkan rasa ragu bercampur kecewa yang teramat dalam di hati Tari.
Dengan langkah berat Tari melangkah meninggalkan Ghozi yang masih menunduk tanpa kata.
'Maaf Mas Ghozi, penantianku cukup sampai di sini, aku tidak mungkin terus menunggumu dengan ketidak pastian, usiaku semakin tua dan aku tidak punya banyak waktu untuk terus diam menunggumu di sini,' batin Tari melangkah menjauh dari Ghozi kembali masuk ke dalam pesantren.
Sesang Ghozi yang merasa langkah Tari sudah jauh mulai mendongakkan kepala melihat sang pujaan hati berjalan menjauh meninggalkan dirinya yang masih dilema dalam satu pilihan yang cukup sulit.
Sungguh pertemuan yang telah lama di nanti oleh Tari tak sesuai dengan apa yang di bayangkan, Tari yang selama ini berharap bisa bertemu dengan Ghozi dan menjalin hubungan yang lebih serius ternyata masih saja tak ada perubahan, Ghozi masih sama seperti dulu.
__ADS_1
"Mbak Tari bawa apa?" tanya Sasa yabg baru saja melihat Tari masuk dari gerbang belakang pesantren.
"Mbak Tari punya brownis, apa kamu suka brownis?" sahut Tari seraya menunjukkan brownis yang berada di dalam kotak yang sekarang ada di tangan Tari.
"Tentu saja, siapa yang bisa menolak brownis? makanan manis yang paling enak," ujar Sasa.
"Kalau begitu kita makan sama-sama." Ajak Tari meraih tangan mungil Sasa dan mengajaknya berjalan menuju halaman belakang di mana dulu Tari serong menghabiskan waktu luang bersama dengan Salma.
Tari mulai membuka kotak brownis yang tadi dia bawa dan berniat menyodorkannya pada Sasa.
"Tunggu dulu Mbak!" cegah Sasa.
"Kenapa Sasa?" tanya Tari bingung dengan sikap Sasa yang tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya.
"Kalau makan brownis itu harus ada minumnya, jika tidak maka kita akan tersedak karenanya, Mbak Tari tunggu sini dulu! biar Sasa yang ambilkan minumnya." cegah Sasa yang kini berlari meninggalkan Tari menuju kamar berniat untuk mengambil air minum.
"Dari mana cerita nya makan brownis tanpa ada air minum bisa membuat orang tersedak?" fikir Tari penuh dengan pertanyaan aneh dengan sikap Sasa yang terkesan lucu itu.
Cukup lama Sasa pergi mengambil air dan Tari sudah merasa bosan menunggunya, tapi tak lama setelah kepergian Sasa, dia datang dengan satu botol besar berisi air putih yang hampir saja penuh.
"Astaghfirullah, Sasa, kenapa banyak sekali airnya? harusnya kamu cukup bawa air secukupnya saja tidak perlu sebanyak ini," ujar Tari yang langsung berdiri berjalan sedikit berlari ke arah Sasa yang kerepotan membawa air dalam botol yang berukuran cukup besar itu.
"Aku takut kurang jika nanti bawa yang kecil, bukankah Mbak Tari juga butuh minum nanti," jawab Sasa dengan begitu polosnya dia berucap.
Mata yang penuh kebahagiaan, terlihat jelas di wajah Sasa, selama berada di pesantren Sasa memang jarang sekali menemukan makanan seenak itu, tak ada brownis bertabur keju di pesantren yang ada hanya roti biasa yang memiliki harga seribu atau dua ribu perak saja, Sasa yang berasal dari keluarga mampu mungkin merasa rindu dengan makanan yang biasa mereka makan setiap harinya.
Sasa makan dengan lahapnya hingga dia lupa jika di pesantren itu tidak ada brownis yang dia makan.
"Hm, enak banget Mbak," jawab Sasa dengan mulut yang penuh dengan kue.
"Apa kamu tahu brownis ini dari siapa Sasa?" tanya Tari.
Sasa hanya menggelengkan kepala sambil terus menikmati sepotong demi sepotong brownis yang tadi di bawakan oleh Tari.
"Brownis ini dari Ghozi, dia membelikannya khusus untuk Sasa," ucapan Tari cukup membuat Sasa terkejut, dia langsung diam menatap penuh keterkejutan ke arah Tari yang duduk di sampingnya.
"Rasanya tidak enak, aku tidak suka," ucap Sasa meletakkan satu potong brownis yang baru saja dia ambil di dalam kotak yang ada di depannya.
"Kenapas di kembalikan? tadi Sasa bilang rasanya enak sekali, sekarang kok di kembalikan?" tanya Tari dengan senyum yang mengembang di bibirnya, Tari merasa sikap Sasa begitu lucu, rasanya ingin sekali tertawa melihat sikap Sasa, tapi Tari masihmenahannya, dia harus bisa menghilangkan rasa benci Sasa pada Ghozi, entah mengapa Tari kurang menyukai sikap Sasa yang membenci Ghozi tanpa sebab.
"Tadi enak sekarang sudah tidak enak lagi," jawab Sasa dengan wajah yang kini berubah seratus delapan puluh derajat, tadinya Sasa begitu bersemangat dan bahagia dengan mata yang berbinari karenanya.
"Kenala Mbak Tari tidak bilang kalau brownis itu dari Mas Ghozi?" sambung Sasa bertanya dengan nada menyindir.
"Sasa tidak tanya, bagaimana Mbak Tari bisa menjawabnya," ujar Tari santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Harusnya Mbak Tari yang cerita lebih dulu!" ujar Sasa.
"Loh bukannya Mbak Tari susah bercerita ya barusan," ujar Tari yang masih saja terlihat biasa saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Iya, Mbak Tari cerita setelah Sasa sudah makan banyak," sahut Sasa yang terlihat masih cemberut.
"Yang penting Mbak Tari sudah menceritakannya padamu Sasa," Tari masih saja berlagak seperti orang yang tak punya salah, sedang Sasa masih terlihat cemberut karena merasa sudah di bohongi oleh Tari.
__ADS_1
"Lain kali aku tidak akan makan makanan yang Mbak Tari bawa," Sasa mulai merajuk.
"Sasa, dengarkan Mbak Tari baik-baik!" Tari memegang kedua pindak milik Sasa dan mulai menatap lekat ke arahnya, seolah memberitahu Sasa akan sesuatu yang penting untuk dia ketahui.
Sasa mendongak balik menatap mata Tari yang kini menatapnya dengan lekat.
"Sasa, tidak semua orang itu jahat, dan tidak semua orang juga punya niat jahat," Tari terus menatap lekat ke arah mata Sasa, seolah mengatakan jika Sasa harus mendengarkan setiap ucapan Tari dan menurutinya.
"Mas Ghozi itu orang baik, dia tidak pernah berniat jahat pada Sasa ataupun orang lain, dia juga perhatian pada Sasa, buktinya Sasa di beliin brownis sama Mas Ghozi, apa sekarang Sasa masih mau membeci orang yang peduli pada Sasa?" tanya Tari mencoba mengubah cara fikir Sasa yang masih saja membenci Ghozi.
Sasa terdiam mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Tari, apa yang di katakan Tari memang benar dan tidak ada yang salah, hal itu membuat Sasa bimbang dan ragu untuk membenci Ghozi.
"Aku hanya takut Mas Ghozi merebut Mbak Tari dariku," jujur Sasa.
"Merebut bagaimana maksud Sasa?" tanya Tari yang mulai merasa penasaran dengan sikap Sasa yang sebenarnya manis pada orang , kini tiba-tiba berubah menjadi ketus.
"Aku ingin Mbak Tari menjadi Mamaku, jika Mas Ghozi berhasil merebut Mbak Tari itu artinya Mbak Tari tidak bisa jadi Mama Sasa, dan Sasa tidak ingin hal itu terjadi," Sasa mulai mengatakan apa yang dia rasakan dan dia fikirkan
"Sasa dengarkan Mbak Tari!" lagi-lagi Tari berusaha membuat Sasa mengerti dengan apa yang memang seharusnya dia mengerti.
"Takdir seseorang itu sudah di tulis jauh sebelum orang itu di lahirkan, di lauhul maghfuz tempat tulisan takdir kita, bagaimana kita akan menjalani hidup dan seperti apa akhirnya nanti, semuanya sudah ada di sana, sebagai seorang hamba yang beriman dan bertaqwa, kita tidak boleh menyalahi takdir ataupun menyalahi takdir itu," tutur Tari dengan penuh kelembutan, berharap Sasa mengerti dengan apa yang terjadi.
"Bukankah takdir itu bisa di ubah ya Mbak?" tanya Sasa yang sedikit mengerti tentang takdir.
"Tentu saja takdir bisa di ubah, tapi tidak semua takdir bisa di ubah Sayang," jawab Tari dengan senyum manis yang cukup membuat Sasa tenang saat melihatnya.
"Maksud Mbak Tari bagaimana?" tanya Sasa yang terlihat tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Tari.
"Takdir yang tidak bisa di ubah itu ada empat Sasa, yang pertama kematian dan kelahiran, yang ke dua jodoh, ke tiga bencana dan yang ke empat hari kiamat, ke empat takdir itu tidak bisa di ubah karena allah sudah menuliskannya di lauhul mahfudz, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik untuk masa depan." Tari menjelaskan takdir yang tidak bisa di ubah.
Sasa terdiam mencerna apa yang di jelaskan oleh Tari, Sasa mencoba memahami apa yang di jelaskan oleh Tari, meski dirinya masih kecil tapi Sasa cukup tahu mana yang baik dan man yang buruk, bagaimana tuhan memberi takdir untuk seseorang.
"Apa Sasa sudah mengerti dengan penjelasan Mbak?" tanya Tari yang melihat Sasa hanya diam menatap lurus ke arahnya.
"Aku sedikit mengerti Mbak, apa itu artinya aku tidak bisa memaksa Mbak Tari untuk jadi Mamaku?" tebak Sasa.
"Tepat sekali," jawab Tari tersenyum menanggapi ucapan Sasa yang memang cerdas, dia sangat pintar dalam memahami setiap hal yang di jelaskan padanya.
"Tapi aku ingin Mbak Tari jadi Mamaku," rengek Sasa.
"Punya keinginan boleh, tapi jangan terlalu memaksa keinginan itu Sasa! tidak baik," Tari mengingatkn Sasa agar dia tidak terllu memaksakan keinginannya.
Sasa hanya mengangguk tanda jika dirinya mengerti dengan apa yang di jelaskn oleh Tari.
"Terus sekarang bagaimana? apa Sasa masih membenci Mas Ghozi?" Tari memastikan apa yang dia jelaskan sudah bisa di mengerti oleh Sasa atau belum.
"Aku akan mencoba menghilangkan rasa benci ini Mbak, semoga saja bisa cepat hilangnya," ujar Sasa dengn senyum yang mengembang di wajahnya.
Sasa yang sudah mendengar penjelasan Tari dan mulai mengerti dengan penjelasannya langsung menyahut brownis yang tadi di taruh di kotak dan kembali memakannya.
"Loh kok di makan lagi? katanya tidak enak?" tanya Tari dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Tidak jadi, rasanya enak dan aku ingin memakannya lagi, katanya Mbak Tari gak boleh benci Mas Ghozi, jadi aku ingin memakannya sekarang." Jawab Sasa tanpa rasa malu dia kembali memakan brownis yang tadi di taruh dan memakannya dengan lahapnya.
__ADS_1