
Keduanya makan dengan pemuh rasa syukur dan terlihat jelas jika makanan yang mereka makan terlihat enak karena isi dari piring mereka hampir habis tak tersisa.
Kafa yang hampir menghabiskan makanannya kini mulai merasa haus dan tanpa di duga Kafa meminum minuman bekas Salma minum, apa yang di lakukan Kafa cukup membuat Salma terkejut karenanya, bagaimana bisa Kafa meminum minuman yang telah di minum oleh Salma, bukankah itu berarti mereka telah berciuman secara tidak langsung.
"Mas Kafa tidak salah minum?" Salma tak lagi bisa menahan diri ubtuk tidak bertanya dengan kejadian yang baru saja dia lihat.
"Kenapa? apa yang salah?" bukannya menjawab Kafa malah balik bertanya.
"Minuman itu sudah aku minum, kenapa Mas Kafa minum dari situ?" Salma menjelaskan alasan dia bertanya.
"Apa kamu keberatan? atau kamu tidak suka jika minuman ini aku minum?" Kafa masih saja terlihat enggan untuk menjawab; dia lebih memilih untuk kembali mengajukan pertanyaan dari pada menjawab pertanyaan Salma.
"Bukan begitu, aku hanya~" Salma tak bisa menjelaskan secara detail alasan dia bertanya seperti itu, akhirnya Salma memilih diam tidak melanjutkan ucapannya lagi.
"Hanya apa?" sarkas Kafa dengan tatapan tajam mengarah ke Salma.
"Ti~tidak apa-apa," jawab Salma gugup karena sedikit takut dengan tatapan tajam yang di tujukan ke arah Salma.
"Lanjutkan saja makannya! jangan banyak bertanya!" ujar Kafa kembali menyantap nasi goreng yang memang terasa begitu lezat.
Salma tak lagi berani untuk bertanya meski dalam benaknya masih ada banyak pertanyaan, bagi Salma saat ini dia harus segera menghabiskan makanan yang ada di hadapannya, kemudian kembali melanjutkan makan dan menghabiskan semua makanan yang ada di hadapan nya.
"Aku sudah selesai, kamu lanjutkan saja kegiatanmu!" ujar Kafa berdiri kemudian melenggang pergi meninggalkan Salma yang masih duduk di tempatnya.
__ADS_1
Sungguh apa yang di lakukan Kafa kali ini cukup membuat Salma tertegun, minum dari gelas bekas Salma minum adalah hal yang pertama kali baru di lihat oleh Salma, Kafa juga berbicara dengan nada sedikit lembut meski tadi dia sempat memberi tatapan tajam, tapu setidaknya nada bicara Kafa masih enak di dengar.
Salma telah selesai makan dan kini merapikan semua sisa bekas makan yang ada di atas meja kemudian berjalan menuju dapur untuk melanjutkan memasaknya agar semua menu matang tepat waktu. Sedangkan Kafa kembali ke Aula putri untuk melihat apakah semua perlengkapan untuk acara telah siap atau belum.
Semua perlengkapan telah siap, tinggal menunggu waktu acara saja, Kafa bisa bernafas lega dan kini dia hanya perlu bersiap untuk menyambut para peserta saja.
Acara berlangsung dengan lancar tanpa hambatan, semua selesai sesuai dengan keinginan, kini giliran para tamu dan peserta menikmati makanan yang sudah di siapkan, sungguh Salma sangatlah sibuk karenanya, setelah semua matang kini Salma menata setiap makanan di tempat yang sudah di siapkan, tidak jauh dari tempat itu terlihat dengan jelas seorang gadis dengan paras yang sangat cantik sedang mengobrol dan terlihat begitu akrab dengan Kafa.
Awalnya Salma tidak begitu memperdulikannya hingga akhirnya rasa penasaran Salma tidak lagi bisa di bendung, dengan langkah pasti dan perlahan Salma berjalan menuju jarak aman tapi masih bisa mendengar apa yang di obrolkan oleh keduanya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, kamu terlihat jauh berbeda dari sebelumnya," ujar sang gadis.
"Aku tetaplah sama Zia, hanya saja keadaan yang membedakannya," jawab Kafa dengan nada lembut dan senyum ramah yang tampak jelas di wajahnya.
"Apa kamu tidak ingin bertemu dan berkumpul lagi dengan teman-teman kita?" tanya Zia.
"Sebenarnya aku ingin, tapi aku kesulitan mencari waktu yang tepat untuk ikut berkumpul dengan kalian." Jawab Kafa.
"Bella saja masih setia kumpul sama kita, bahkan dia sering main ke rumah untuk sekedar melepas kejenuhan," tutur Zia.
'Deg'
Jantung Salma seakan berhenti berdetak saat Zia menyebut nama Bella dan dia yakini jika Bella yang di maksud oleh Zia adalah Bella mantan calon istri Kafa yang sukses membuatnya berubah seperti sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak peduli tentang dia," ujar Kafa yang terdengar masih menyimpan dendam pada Bella.
"Sudahlah! jangan terus membencinya seperti itu, bukankah Bella sudah minta maaf, lagi pula waktu itu dia terpaksa melakukannya karena desakan mantan pacarnya," penuturan Zia cukup membuat Salma terkejut, ternyata Bella sudah minta maaf pada Kafa.
"Aku tidak membencinya, aku hanya benci pada kebodohanku sendiri yang begitu percaya padanya," jujur Kafa.
'Isshh ternyata Mas Kafa pernah jadi bodoh hanya karena cinta,' Salna hanya bisa berkomentar dari dalam hati seraya berpura-pura menata makanan yang ada di depannya meski sebenarnya makanan itu sudah rapi.
"Kamu tidak bodoh, kamu hanya terbawa oleh hati yang sudah terlanjur memilihnya sebagai penguasa di dalam hatimu." Zia terlihat memberi pencerahan pada Kafa.
"Apapun itu, yang aku tahu saat ini, aku tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya," ujar Kafa.
Sebenarnya Kafa tidak sekejam itu pada seorang gadis, selain memberi tes kepada Salma, Kafa sedang mengobati trauma yang dia rasakan waktu dia bersama dengan Bella, rasa sakit dan pengalaman hidup mengajarkan Kafa untuk tidak mudah percaya pada siapapun, termasuk Salma. Karena hal itulah yang membuat Kafa sering bersikap kurang baik pada Salma.
"Jangan karena perbuatan Bella kamu jadi tidak percaya lagi pada wanita, kamu juga harus tahu jila tidak semua gadis ataupun wanita memiliki sifat yang sama dengan Bella, dan kamu harus tahu jika di luar sana masih ada banyak gasis baik dan tulus," Zia kembali mengingatkan Kafa agar dia tidak menjadikan masa lalu sebagai patokan hidupnya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Kafa, terlihat jelas jika saat ini Kafa sedang mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin membahas Bella lagi.
"Kebiasaan kamu Kafa, selalu saja mengalihkan pembicaraan saat kamu merasa malas untuk membahasnya," ujar Zia seolsh sangat mengerti dengan kebiasaan Kafa.
Mendengar ucapan Zia, Kafa hanya tersenyum menanggapinya kemudian mengajak Zia berjalan tepat ke arah di mana Salma berada, sedang Salma yang memunggungi Kafa bertanya-tanya, pasalnya suara Kafa tudak lagi terdengar dan hal itu membuat Salma penasaran, perlahan dia berbalik dan menoleh ke belakang melihat ke arah di mana tadi Kafa berada, tapi nihil, kini Kafa tidak lagi berada di tempatnya.
"Lah kok kosong? orangnya ke mana?" lirih Salma.
__ADS_1
"Cari siapa?" suara yang begitu familiar di telinganya kini terdengar jelas dari belakang punggung Salma, dan hal itu sukses membuat jantung Salma berdetak kencang karena terkejut.