DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tidur bareng


__ADS_3

Tara terbangun, karena panggilan alam. Dia menoleh ke sebelah kirinya, memandangi wajah cantiknya Embun, yang kini tangan kiri istrinya itu, telah melingkarkan di perutnya. Sedangkan wajah Embun nampak lucu terjepit diketiaknya, gimana tidak lucu, istrinya itu tertidur dengan mulut menganga. Coba mereka lagi akur dan sedang di rumah. Mungkin Tara akan memasukkan garam kasar ke mulut istrinya yang terbuka itu.


Embun benar-benar tidak bisa diam saat tidur, selalu memeluk apa yang bisa dijangkaunya. Padahal wanita itu, sudah meniatkan dirinya agar tidak lasak saat tidur.


Melihat polosnya Embun saat tidur. Bibirnya Tara melengkung ke atas, sehingga tercipta senyuman manis nan hangat, karena gaya tidur Embun yang lucu. Dengan penuh perasaan dan kelembutan Tara memindahkan tangan Embun yang membelit pinggangnya. Kemudian dia mencuri satu kecupan di bibir istrinya yang terbuka itu.


Mumpung lagi tertidur si empunya bibir. Gak apa-apa kali ya dikecup. Tara membathin, kemudian pria itu menyelimuti Embun. Dia pun masuk ke kamar mandi.


Ternyata sudah dapat waktu sholat shubuh. Tara pun melaksanakan rukun Islam kedua itu. Walau tangannya masih diperban, dia melakukan wudhu sesuai syariat. Tentu tangannya yang terluka, hanya diusapnya tepat di atas perban.


Setelah sholat shubuh, Dia melirik istrinya, yang masih tidur nyenyak. Merasa tidak tega membangunkannya. Karena, dia yakin, Embun pasti kelelahan karena insiden semalam.


Setelah sholat shubuh, Tara menghubungi Pak Budi, supir pribadinya.

__ADS_1


"Pak Budi, tolong carikan tukang pijat sekarang." Titah Tara dalam panggilan telpon. Dia merasa punggungnya semakin sakit. Sepertinya harus ditangani dengan serius.


Setelah mendapat jawaban dari Pak Budi. Tara kembali mengotak-atik ponsel pintarnya. Kembali menghubungi anak buahnya terkait insiden penculikan Embun.


Setelah panggilan terhubung, Tara pun memberi perintah. "Jangan kasih ampun, bukti sudah kuat. Urus semuanya secepat mungkin. Hari ini dia harus ditahan." Titah Tara dingin. Kalau sudah nada bicara Tara seperti itu, maka itu artinya pria itu sudah sangat marah. Tidak ada ampun, untuk orang yang mencoba mengusik Embun. Wanita yang sangat dicintainya. Melebihi dirinya sendiri.


Tara menarik napas dalam, dia mendekati Embun yang masih tertidur pulas. Dengan gerakan perlahan pria itu naik ke atas ranjang. Duduk bersila, sembari menatap lamat-lamat, wajah Embun yang teduh itu.


Ingin rasanya dia membelai lembut wajah istrinya itu. Meresapi halusnya pipi putihnya Embun. Tapi, dia takut untuk melakukannya. Dia tidak mau Embun marah-marah di pagi hari. Sudah cukup dia mencuri satu kecupan di bibir istrinya tadi.


Wanita itu terbangun, membuka kedua mata indahnya dengan terseyum. Karena saat dia membuka mata, wajah tampan suaminya itu lah yang pertama dilihatnya.


"Selamat pagi Dek!" ujar Tara menghentikan aksinya membelai puncak kepala istrinya itu.

__ADS_1


"Selamat pagi suamiku," ucap Embun manja, kemudian wanita itu, menutup mulutnya dengan jemarinya. Merasa malu, karena keceplosan memanggil Tara dengan sapaan suami.


Tara tersenyum, tidak mau membahas Embun yang keceplosan.


"Bangun dek, waktu sholat shubuh sudah mau lewat." Ujar Tara, masih memperhatikan lekat Embun yang nampak malas untuk bangkit.


Tara merasa sedih, moment ini menurutnya begitu mengharukan. Disaat akan ada perpisahan, disaat itu juga, moment romantis seolah tercipta dan mengalir begitu saja. Tara merasa sangat berat untuk melepaskan istrinya itu.


"Iya Bang. Akhirnya, aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Sudah dua bulan, aku tidak bisa tidur nyenyak." Ucapnya polos, masih menguap dan enggan beranjak dari tempat tidur.


"Eehmmm... tahu gak kenapa Adek bisa tidur nyenyak?" tanya Tara. Embun bergidik bahu.


"Itu, karena kita tidur bareng." Ucap Tara, tersenyum mesum. Embun menimpuk lengannya Tara. Pria itupun pura-pura kesakitan. Guna mencari perhatian Istrinya itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2