
"Dek, Dek buka pintunya!" suara Ardhi terdengar begitu khawatir nya diluar pintu toilet. Ada Melati muntah-muntah di dalam sana. Sebelum Ardhi menyusul wanita itu, pintu kamar mandi sudah dikunci Melati. Dia tidak tahu, kalau Ardhi mengikutinya.
Melati tidak bisa menyahuti panggilan Ardhi lagi. Desakan material muntah dari perutnya memaksa keluar. Rasanya begitu menyakitkan. Setiap mencium aroma makanan dia akan muntah. Apalagi saat ini Melati sedang setres.
Asam lambungnya menaik.
"Dek, Melati." Ardhi sungguh bingung harus membuat panggilan apa pada istrinya itu.
"Dek, kamu baik-baik saja kan? buka pintunya. Mas akan membantumu." Ardhi sangat suka dipanggil Mas. Dulu saat menjalin hubungan dengan Embun. Dia juga pinginnya dipanggil Mas.
"Iya, aku baik-baik saja tuan." Suara Melati terdengar lemah dari dalam. Ardhi jadi tidak senang, karena Melati memanggilnya dengan sebutan tuan. Terdengar seperti meledek.
Padahal saat ini posisinya Melati lah Nyonya besar. Ardhi kaya seperti sekarang berkat pak Zainuddin.
"Oohh... iya syukurlah. Mas tunggu di luar ya?" Ucapnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding lorong kamar toilet itu dengan tidak percaya dirinya.
Lima menit kemudian.
Klik...
Melati keluar dari toilet itu, dengan wajah yang pucat pasi. Bentuk hijabnya masih bagus. Tapi, hijabnya yang menutupi bagian dadanya sudah basah.
Ardhi tersenyum pada Melati, yang nampak canggung dan ketakutan itu. Melati tidak membalas senyum tipisnya Ardhi. Dia lagi gak mood, rasa mual dan mulut yang asam masih terasa.
Wanita itu pun langsung melangkah. Ardhi yang hendak menuntunnya, mengurung kan niatnya. Bahasa tubuh istrinya itu sedang tidak pingin disentuh. Akhirnya Ardhi hanya bisa mengekori Melati, ke arah kamarnya.
Sesampy di kamar mereka. Melati langsung memegang pintu kamar itu, dia tidak ingin Ardhi masuk ke kamar itu.
__ADS_1
"Tuan, saya ingin istirahat dengan tenang dan nyaman." Ucap Melati lemah dan langsung menunduk. Semoga Ardhi bisa mengerti akan maunya. Dia sedang tidak ingin berdekatan dengan pria itu.
"Adek harus makan dulu, baru istirahat. Mas ambilkan makanan untukmu. Pintunya jangan dikunci ya?" rawut wajah penuh kekhawatiran jelas terlihat di tatapan matanya Ardhi. Dia benar-benar mengkhawatirkan istri dan jabang bayinya.
Melati menggeleng lemah. Sungguh berduaan dengan Ardhi membuat Melati tidak nyaman.
"Baiklah, Mas gak akan ganggu kamu. Tapi, kamu harus makan, terus minum obatnya. Mas akan panggil kan pelayan untuk membantu kamu di sini."
"Jangan, aku tidak mau ada orang lain di kamar ini. Aku ingin sendiri tuan." Jawab Melati lemah.
"Kalau aku panggil kan Ibu, bagaimana?" Melati mengangkat wajahnya, menatap sendu Ardhi.
"Mas khawatir denganmu dan anak kita. Kamu harus makan ya?"
Deg
"Iya." Jawabnya, wanita itupun kembali menunduk. Dia tidak boleh membantah perkataan dan perintah suaminya. Apalagi yang diperintah suaminya itu, untuk kebaikannya.
"Baiklah, Mas akan minta pada Ibu untuk mengambilkan makanan untuk adek." Ardhi meninggalkan tempat itu dengan perasaan senang.
Melati menatap punggung suaminya itu dengan perasaan tak karuan. Masih berat rasanya bersikap baik pada suaminya itu. Rasanya sangat canggung dan menakutkan.
Setelah kepergian Ardhi. Melati menutup pintu kamarnya. Dia pun langsung membaringkan tubuh lemasnya di atas ranjang. Dan menghela napas panjang. Tangannya bergerak mengelus pelan perut datarnya. Dia teringat dengan ucapan Ardhi. Yang mengatakan ada anak mereka di dalam tubuhnya.
"Ya Allah, apakah semua ibu hamil mengalami morning sicknes?" Melati bermonolog, masih mengusap-usap perutnya dengan lembut.
"Ini bukan morning sicknes lagi Ya Allah. Tapi Morning sicknes mix Night sicknes." Ucap wanita itu lemah. Melati teringat penjelasan Ibu Bidan tadi pagi. Katanya dia mengalami Hiperemesis gravidarum. Yaitu istilah medis untuk morning sickness yang parah. Kondisi ini biasanya mengikuti garis waktu yang mirip dengan mual di pagi hari. Namun, sering dimulai lebih awal pada kehamilan, antara minggu ke 4 dan 5, dan berlangsung lebih lama.
__ADS_1
Saat memikirkan tentang kehamilannya yang mengalami morning sicknes parah. Pintu kamar nya dibuka. Melati langsung bangkit. Duduk bersila di atas spring bed empuk itu.
Ternyata yang datang ke kamarnya adalah Ibu Khadijah. Ardhi sang suami benar-benar tidak datang lagi ke kamarnya. Melati merasa legah, orang yang ingin dihindarinya itu. Ternyata tahu diri juga.
"Mangan jolo Hita da borukku." Ibu Khadijah, meletakkan nampan di atas meja yang ada di dekat jendela. ( Makan dulu kita ya putriku.)
Melati menatap ke arah makanan yang dibawa oleh ibu asuhnya itu. Ada nasi dua piring, Soup daging yang asapnya nampak mengepul. Ikan Mas Arsik, ayam goreng Kalasan dan tumis kangkung. Menunya Indonesia banget.
Melati turun dari tempat tidur nya. Menyamperin sang Ibu yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Wanita itu pun duduk di kursi sebelah kanan meja tempat makanan di hidang.
"On makanan kesukaan mu. Tabo inang, madunng umak coba nakkin sedikit." Ibu Khadijah langsung menyuapkan kuah sup yang dirasanya tidak panas itu ke mulutnya Melati. (Ini makanan kesukaan mu. Enak putriku, sudah ibu coba tadi sedikit.)
"Mak, AU sajoma, nakkon disuapi." Melati langsung meraih sendok dari tangan ibu Khadijah. Mulai memakan soup yang masih panas itu dengan lahapnya. Melati sangat suka makan sensasi panas, serta pedas dari kuah sup, ditambah minum air putih yang hangat. (Mak, aku saja gak usah disuapi)
Kalau pikiran tenang dan senang, semuanya terasa enak. Sup daging satu mangkuk habis juga di makannya. Anehnya dia tidak mau muntah. Padahal selama seminggu ini, dia selalu mau muntah disaat selesai makan.
Setelah selesai makan dan minum obat. Bercerita sekitar lima belas menit. Melati malah meminta tidur beralaskan paha sang ibu. Dia kangen dengan sentuhan ibunya.
"Inda disangka umak inang, sudena terungkap, disaat ate-ateon hatcit dope. Sangat hatcit inang, indah raho marcarito, Anggo ho dilecehkon majikanmi. Umak, jadi mengutuk diri, harana Inda bisa melindungi ho. Hatcit ni ate-ate on inang, langsung berubah jadi sonang. Ho tong madung pasuo dohot keluarga kandungmu." Ibu Khadijah mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. Dia kecewa pada Ardhi, karena menodai Melati. Ibu Khadijah juga kecewa pada Melati, karena menyembunyikan fakta yang mengerikan itu. (Ibu tidak menyangka, semuanya terungkap disaat hati ini masih sakit. Sangat sakit putriku, karena kamu tidak mau bercerita, kalau kamu dilecehkan oleh majikanmu. Umak merasa jadi seorang ibu yang gagal melindungi putri sendiri. Sakitnya hati ini, langsung berubah, kamu sekarang sudah bertemu dengan keluarga kandung mu.)
Melati hanya diam mendengarkan ungkapan hati sang ibu. Saat ini matanya sudah berkaca-kaca. Semua kenangan-kenangan di kampung terputar di kepalanya. Walau dalam keadaan miskin, mereka begitu bahagia. Sekarang dia akan memulai hidup baru dengan status sosial yang berbeda. Ternyata dia putri dari seorang pria yang kaya raya.
Akankah jadi orang kaya, akan seindah saat tinggal di kampung? sepertinya tidak, ada sang Ibu Mertua yang tidak menyukainya. Semua wanita pasti ingin punya Mertua yang menerimanya dengan tulus penuh dengan kasih sayang. Tapi, itu sepertinya tidak akan didapatkan oleh Melati. Air mata yang sedari tadi ditahannya agar tidak keluar. Ternyata harus tercurah juga, membasahi pipinya.
"Inang, bahat-bahat ho mardoa, agar rumah tanggamu pade on tu ginjang ni Ari. Mardoaho, aso suamimu hollong tuho inang. Umak khawatir tuho inang. Harana ibu mertuamu, Inda suka maligin ho. ( Putriku, banyak-banyak lah berdoa, agar rumah tanggamu harmonis selama nya. Berdoa kamu, agar suami sayang dan mencintaimu. Ibu khawatir, karena ibu mertuamu tidak menyukaimu.)
Melati langsung mendudukkan tubuhnya, dia sungguh terkejut dengan ucapan Ibu Khadijah. Dari mana ibunya itu tahu, kalau Ibu jerniati membencinya.
__ADS_1
TBC