
"Syarat, syaratnya apa?" Melati mulai tak yakin. Tatapan mata suaminya itu penuh dengan maksud terselubung. Apakah suaminya itu akan meminta hak nya malam ini? membayangkan itu, membuat Melati jadi tidak tenang. Jantungnya berdebar-debar, karena ketakutan.
"Cium ini!" Ardhi menggeser tubuhnya dan mencondongkan wajahnya kepada Melati, hingga lebih dekat kepada sang istri. Sontak Melati menjauh, karena gerakan cepatnya Ardhi. Jantungnya berpacu, wanita itu menarik napas panjang, dia harus rileks. Saat ini posisinya juga sudah mentok ke dinding. Dia belum siap bersentuhan fisik dengan sang suami. Rasanya begitu canggung.
"Mencium suaminya saja gak mau. Gimana Mas akan yakin untuk mengizinkan adek berjumpa dengan Ilham." Ardhi kembali menggeser tubuhnya, menjauh dari Melati yang terlihat ketakutan itu. Pandangan nya kini fokus ke asbes kamar sempit itu. Dia berpura-pura kecewa.
Melati terdiam dengan ucapan sang suami. Dia yang tidak tenang kini memilih untuk duduk bersandar di dinding kamar itu. Menatap lekat sang suami yang terlihat putus asa.
"Mas, ke-napa syaratnya harus a- ku yang mencium?" ucap nya ragu dengan suara sedikit tercekat.
Ardhi menoleh kepada Melati dengan ekspresi wajah datar. Dia pun akhirnya ikut duduk menghadap ke arah Melati.
"Kalau adek gak mau mencium Abang. Berarti Abang boleh dong cium adek." Ardhi mendekatkan wajahnya pada Melati. Sontak Melati menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dengan cepat.
Ardhi tersenyum kecut kembali menjauhkan wajahnya. Menatap sedih Melati yang ternyata belum bisa menerimanya. Padahal tadi mereka sudah ga dengan tangan. Seolah sudah menerima satu sama lain.
"Mau ketemu Abang Ilhamnya gak?" suara Ardhi sedikit keras. Melati pun akhirnya menurunkan tangannya dari wajahnya. Wanita itu menatap geram Ardhi yang seolah menekannya.
"Iya Mas." Jawabnya lemah dan menunduk.
"Buruan cium Mas, Di sini." Ardhi masih menunjuk pipinya sebelah kiri, pipi yang arahnya ke istri nya itu. Pria itu pun menutup matanya bersiap-siap untuk mendapatkan ciuman dari sang istri, yang tingkahnya gemesin itu.
Melati yang gelisah, masih memilih diam.
"Kalau Mas yang cium, nanti jadi merambat ke mana-mana. Adek mau kek gitu?" ucapnya masih menutup kedua matanya.
__ADS_1
"Gak " Melati menggeleng lemah. Dan semakin ketakutan.
"Ya ampun minta cium doang. Susahnya minta ampun." Ardhi pun pura-pura merajuk.
"Adek belum menerima ikhlas sepenuhnya hubungan ini. Adek masih selalu menjaga jarak. Padahal Mas sudah berusaha mendekatkan diri. Nasi sudah jadi bubur dek. Ambyar, lumeeerr hambar di muluut. Apa kita akan tetap membuatnya ambyar dan hambar? kenapa kita tidak buat nasi sudah jadi bubur istimewa?" Kini keduanya bersitatap. Ardhi masih berbaring dan Melati duduk.
"Nasi yang terlanjur menjadi bubur tersebut akan tetap enak dan semakin nikmat ketika kita dapat ikhlas menerimanya. Biarlah nasi menjadi bubur, tidak ada salahnya. Memang itu proses yang harus kita lalui. Mungkin dengan seperti itulah cara Sang Pemilik Kehidupan memberikan hikmah di balik setiap permasalahan.
"Nyatanya jika kita tambahkan suwir ayam, kacang kedelai, daun bawang, taburan bawang goreng, ikan asin, telur, daun bawang, dan kuah kuning akan sangat terasa istimewa. Ahh, membayangkan saja rasanya sudah membuat Mas ngileer." Ardhi tersenyum manis. Dia jadi pingin bubur ayam beneran.
"Inti dari intinya adalah, bagaimana kita bisa menerima, mengelola, dan mengemas dari setiap masalah menjadi suatu rasa syukur dan menikmatinya. Bukan berlari dan menghindar dari setiap masalah.
"Mas sekarang lagi menikmati proses itu. Bersyukur punya istri yang baik seperti adek. Sangat bersyukur ada anak kita di rahim adek." Ardhi menatap ke arah perutnya Melati. Ingin sekali pria itu mengelus dan mencium perut yang masih datar itu. Mengekspresikan rasa syukur nya kai ada anaknya di rahim sang istri.
Melihat Ardhi menatap ke arah perut nya. Auto Melati memegangi perutnya.
Capek nunggu-nunggunya, mending tidur sajalah.
Ardhi mengelus-elus pipinya dan kemudian mengusap kasar wajahnya. Dia pun hendak berbalik badan dan tidur dan
Cup
Satu kecupan mendarat di pipinya dengan cepat. Ardhi terlonjak kaget dan merasa senang sekali. Dia pun menatap sang istri yang salah tingkah, malu-malu menunduk dan menutupi wajahnya.
Entahlah rasanya begitu menyenangkan. Ardhi merasa sangat bahagia seperti sedang mengambang di langit ketujuh. Pria itu masih menatap Melati dengan tidak percaya. Wanita itu mau juga menciumnya. Tapi, ciuman itu ikhlas, atau memang karena ingin berjumpa dengan Ilham. Ardhi perlu memastikan itu. Kalau alasannya karena Ilham. Tentu dia akan kecewa sekali.
__ADS_1
"Adek segitunya ingin jumpa dengan Ilham. sampai nurut saja perintah Mas. Padahal adek gak suka kan cium Mas?"
Melati tersentak kaget mendengar ucapan sang suami. Wajah nya yang masih memerah karena malu itu, kini sudah menegang. Kenapa dia disudutkan begini? yang bahas Ilham duluan kan suaminya itu, bukan dia.
"Maksud Mas apa sih sebenarnya? tadi Mas yang ceramah panjang lebar. Nasi yang sudah jadi bubur dibuat saja jadi nasi bubur yang istimewa. Adek sudah mau menuruti apa maunya Mas. Walau Adek harus berperang batin agar bisa melakukan itu. Aku ini bukan wanita gatal, yang masih ingin menjumpai laki-laki asing. Padahal aku sudah punya suami. Aku hanya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Melati akhirnya tak kuasa menahan kesedihan di hatinya. Air mata itu akhirnya jatuh juga.
"Aku tak biasa berciuman. Aku tak pernah berciuman. Aku tak pernah mencium laki-laki. Mas meminta ku melakukan itu. Tentu itu sulit bagiku, walau kita sudah sah sebagai pasangan suami isteri." Air matanya Melati semakin deras saja keluar dari mata indahnya. Wanita itu menangis sesenggukan. Dadanya terasa sesak, kenapa suaminya itu mencurigainya.
Ardhi tak menyangka, Melati menanggapi candaannya dengan serius. Dia jadi merasa bersalah pada Melati. Istrinya itu jadi sedih.
Ardhi pun mendekati Melati, memegang tangan Melati yang dari tadi sibuk melap air matanya.
"Maaf ya, kalau ucapan Mas buat adek tersinggung." Tangannya Ardhi melap air matanya Melati dengan lembut. Tentu perlakuan sang suami membuat Melati deg deg an. Apalagi kini tangan kokoh itu, sudah merangkum wajah imutnya.
"Menurut Mas, tak ada gunanya lagi. Adek berjumpa dengan Ilham. Nanti pasti sakit hati yang akan didapati. Lupakan dia, jangan merasa bersalah padanya." Melati tidak setuju dengan ucapan sang suami. Diapun melepaskan tangan Ardhi dari wajahnya. Dari cara Ardhi bicara, sepertinya suaminya itu tidak ingin dia berjumpa dengan Ilham.
"Kalau tidak ingin adek berjumpa dengan Abang Ilham. Kenapa sih buat syarat-syarat segala." Ketus Melati, memalingkan wajahnya.
"Siapa bilang gak izinin adek untuk bertemu Ilham?"
"Mas."
"Bukannya tidak kasih izin atau tidak mau nemenin. Tapi, untuk apalagi coba bertemu. Apapun penjelasan adek nanti. Ilham tidak akan terima itu. Percaya deh sama Mas."
"Tahu ahhkk... Kantuk." Melati langsung membaringkan tubuhnya, membelakangi Ardhi. Menutupi tubuhnya sampai lehernya dengan selimut.
__ADS_1
"Sama Mas juga kantuk. Udah jam satu ternyata." Ardhi memilih untuk berbaring menghadap Melati yang memunggunginya. Memandangi istrinya itu dengan senyam-senyum.
TBC