DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
SAh


__ADS_3

"Cut cut cut... !" Teriak pak KUA. Pak Zainuddin belum selesai mengucapkan ijab, dan Ardhi Langsung menjawabnya. Akhirnya ijab kabul salah lagi.


Ardhi benar-benar malu saat ini, karena para tamu ada yang tertawa, melihat Ardhi yang sudah dua kali salah dalam menjawab ijabnya Pak Zainuddin. Dia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia jadi bloon malam ini? Apakah karena jiwanya yang belum tenang, karena terus dihantui rasa bersalah pada Melati? Sepertinyq iya, coba sekali saja Melati tersenyum padanya, seperti senyum manis wanita itu, saat menjadi ART di rumahnya


Mungkin dia tidak setegang ini.


"Nak Ardhi ini ijab kabul yang terakhir kali ya? kalau masih salah, sebaiknya pertimbangkan lagi lah Nak Melati. Benar Nak Melati mau menua dengan Pak Ardhi yang kelihatan cerdas, tapi nyatanya mengucapkan itu salah terus." Sungguh, ucapan Pak KUA, benar-benar menyinggung perasaan Ardhi. Pak KUA dari tadi pagi selalu menyindirnya. Seolah dirinya adalah manusia paling kotor di dunia ini.


Ardhi kembali menghela napas panjang, dia harus rileks. Mengucapkan kalimat seperti itu sangat lah muda buatnya. Dia banyak dapat proyek besar, karena dirinya yang pandai saat presentasi.


"Ayo semangat!" Pak Zainuddin mengangkat tangannya tersenyum manis pada Ardhi. Lagi-lagi Ardhi menarik napas panjang.


"Kita mulai lagi, ok Pak Zainuddin, Nak Ardhi?" kedua pria itu pun mengangguk, sebagai tanda persetujuan mereka berdua telah siap.


"Bismillahirrahmanirrahim.."


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Ardhi Shiraz bin Harun Mustafa dengan putri saya Melati Assifa dengan maskawinnya berupa mahar 300 juta uang, beserta kalung emas seberat 10 gram dibayar Tunai.”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Melati Assifa binti Zainuddin dengan mas kawinnya berupa mahar 300 juta yang, beserta kalung emas seberat 10 gram dibayar tunai." Ucap Ardhi tegas penuh kewibawaan.


"Gimana saksi?"


"SAH...!"


"YES...!" teriak Rudi dengan semangat nya. Auto, tatapan orang kini beralih pada Rudi sang asisten, yang senang karena BOS nya itu, akhirnya lolos juga ujian lisan IJab Kabul.


Sedangkan Ardhi tidak mengambil pusing tingkah sang asisten yang konyol itu. Dia fokus menikmati rasa legahnya. Jantung yang berdebar kencang kini meredah sudah.


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." Ucap Pak KUA.


"Aminnnn Ya Robbalamin..!" ucap orang-orang di ruangan itu.


"Ayah Nak Melati, salim tangan suaminya. Kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri. Bersentuhan jadi halal dan mendapatkan pahala. Ayo Salim tangan nak Ardhi." Titah Pak KUA, dengan menggerakkan tangan memberi kode. Bahwa tangan Ardhi sudah lama mengatung di udara


Melati yang masih canggung dan gugup itu, akhirnya meraih tangan Ardhi. Mencium tangan itu dan dengan cepat melepaskannya. Kemudian wanita itu menoleh kepada sang Ibu Khadijah yang tersenyum padanya.

__ADS_1


"Ayo Nak Ardhi pegang ubun-ubun istrinya. Panjatkan Doa." Ardhi dengan tangan bergetar meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun nya Melati. Mengucapkan Doa keselamatan untuk istrinya itu.


"Sekalian dicium keningnya." Titah Pak KUA, sontak Ardhi dibuat semakin jantungan. Dia tidak berani melakukannya. Dia takut, Melati menolak perlakuan itu.


"Ayo Bos, aku mau dokumentasi kan " Rudi sudah siap dengan kameranya.


Mengetahui Ardhi akan mencium keningnya. Melati benar-benar merasa sangat gugup. Tapi, dia berusaha untuk tenang. Tidak menolak pria itu mencium keningnya.


"Bos, coba diulang lagi. Tadi saya video in. Sekarang mau di foto."


Ardhi tersenyum pada Melati, dan Cup.


Satu kecupan mendarat lagi di keningnya Melati. Ardhi berterima kasih juga pada sang asisten Rudi. Setidaknya dia bisa dua kali mencium keningnya Melati. Entah kenapa ada rasa senang, disaat dirinya mencium keningnya Melati.


"Sudah, sudah, nanti saja di kamar mesra-mesraannya." Ketus Pak KUA. Pak KUA kesal juga lihat tingkah sang asisten.


"Sekarang kalian tanda tangan buku nikah dan dokument lainnya." Pak KUA menyodorkan buku nikah warna merah dan hijau serta dokumen yang harus ditandatangani Ardhi dan Melati. Karena ballpoint hanya satu, jadili mereka bergantian untuk menandatangani buku nikah dan berkas itu.


"Bos, Non Melati. Ayo pegang buku nikahnya, tunjukkan ke arah camera. Saya akan membidiknya." Ardhi langsung memegang buku nikahnya, mau tak mau Melati pun melakukan hal yang sama.


Acara akad nikah itu pun selesai setelah Ardhi dan Melati sungkeman kepada orang tua mereka. Sebenarnya saat ini, Melati merasa legah. Akhirnya dia menikah juga. Dia juga bersyukur, tak melihat keberadaan ibu Jernjati di ruangan itu


Setelah selesai acara ijab kabul. Acara selanjutnya adalah acara Jedah makan-makan Semua tamu di hotel itu gratis makan malam. Ardhi nampak bergabung dengan kaum Bapak-bapak. Sedangkan Melati dengan Kaum Ibu-ibu. Termasuk ada Embun di dalam itu.


Tara sudah selesai menyantap makan malamnya. Pria itu memilih pindah tempat duduk, dengan membawa satu piring kecil potongan buah nenas dan pepaya. Melihat suaminya mengasingkan diri. Embun yang juga sudah selesai makan menghampiri suaminya itu.


"Boleh gabung?" ucap Embun dengan suara yang diubahnya seperti banci. Tara yang sedang sibuk dengan ponselnya. Langsung memberi kode penolakan dengan tangannya.


Embun cemberut, masak dirinya ditolak. Apa karena dia mengubah suaranya. Lagian, kenapa suaminya itu tidak mengenali gerak geriknya. Serius amat dengan ponselnya.


"Iihhh nyebelin deh, istri sendiri gak dikenalinya." Embun langsung mendudukkan bokongnya di kursi tepat di hadapan Tara yang dihalangi oleh meja.


Tara pun menoleh kepada Embun dengan tersenyum lebar. Kalau istrinya itu cemberut begitu, jadi menggemaskan.


"Kirain tadi makhluk jadi-jadian. Ehmmm gak tahunya istriku tercinta." Ucap Tara masih tersenyum manis pada Embun. Mencubit gemes pipinya Embun yang sekarang jadi tembem. Sebenarnya Tara tahu, bahwa yang menghampiri nya adalah Embun. Pria itu hanya ikut alur mainnya Embun saja. Ehh, gak tahunya istrinya itu malah sewot padanya.

__ADS_1


"Jangan cubit-cubit Napa? senang betul sekarang cubit aku." Embun tambah cemberut, bibirnya kini terkadang moyong dan ditekuk.


"Mukanya jangan gitu dong? gak tahan ni pingin nyomot itu bibir."


"Nyomot?" tanya Embun heran. Tara mengangguk dengan senyum lebarnya. Kemudian pria itu menatap ke arah Melati yang berjalan cepat dengan menutup mulutnya dengan tangannya. Yang kemudian ada Ardhi yang mengekor di belakang Melati.


Embun mengikuti ke mana arah matanya Tara menatap. "Melati mau muntah kali." Ucap Embun sedih. Dia kasihan pada Melati yang lemah, saat hamil anaknya Ardhi.


"Pak Ardhi lucu juga ya?" Tara tidak menanggapi ucapan Embun. Dia malah mengganti topik pembicaraan. Dia akan menggosipin Ardhi. Ardhi yang selalu salah saat ucap kabul, cukup membuat orang sedikit terhibur.


"Apanya yang lucu. Memalukan iya." Ketus Embun. Suaminya itu suka sekali membahas kelemahan Ardhi. Ya namanya juga pernah jadi saingan.


"Iya memalukan, syukur Adek gak nikah dengannya. Bisa-bisa dia disuruh mandi dulu. Baru lancar ijab kabulnya." Tara tertawa lebar.


"Apaan sih? Abang seperti nya masih dendam dengan Mas Ardhi."


"Dendam? gak lah, kalau dendam, mana mau Abang diminta jadi saksi pernikahannya." Jawab Tara, meraih tangan Embun yang tergeletak di atas meja.


"Masuk kamar yuk sayang. Di sini dingin banget." Embun melotot penuh pada Tara. Dia tahu maksud suaminya itu. Pasti minta main kuda-kudaan.


"Iihh.... acara belum selesai juga. Abang gak bksan ya tiap hari maunya itu terus?" tanya Embun bingung.


"Tiap hari? emang kita tiap hari gituan?" Tanya Tara tidak percaya.


"Ya iyalah?" Jawab Embun senyam senyum.


"Emang adek gak pernah datang bulan?" Embun terhenyak dengan pertanyaan sang suami. Dia baru ingat, kalau sudah dua bulan tidak halangan.


"Iya Bang, adek belum datang bulan, sejak kita malam pertama." Ucap Embun dengan terkejut nya. Otaknya sedang berpikir.


"Kalau telat sampai dua bulan, itu tandanya apa dek?" tanya Tara dengan rawut wajah tak kalah terkejutnya. Keasyikan memadu kasih, sampai lupa daratan mereka.


"Adik hamil, Abang yakin itu." Tara merangkum tangan istrinya dan mencium gemes. Disaat Embun masih menduga-duga. Tentang dirinya ya g sudah dua bulan telat datang bulan.


TBC.

__ADS_1


Banyak like, coment positif dan vote. Pasti grazy up.🙂


__ADS_2