
Halangi Dia untuk membawa Embun. Usir Dia dari rumah ini." Teriak Pak Baginda dengan geram, tubuhnya sampai gemetar mengatakan itu. Dia kesal bukan main, Ardhi berani sekali membawa putrinya.
Pak Baginda tidak sadar, sikapnya yang tidak tenang itulah yang membuat keadaan jadi tegang. Coba Dia tidak marah-marah. Mungkin Embun tidak akan ketakutan. Dia pasti tidak ingin pergi dengan Ardhi.
"Apa lagi yang kalian tunggu, cepat seret Embu. kesini---!" Duar---Duar--- suara petir yang kuat berkolaborasi dengan suara teriakan Pak Baginda. Yang membuat Embun juga histeris, Dia berteriak karena takut dengan suara petir yang kuat itu. Ardhi langsung mendekap Embun.
Melihat Embun didekap Ardhi, sambil berjalan menuju mobilnya. Pak Baginda semakin kesal kepada anak buahnya yang nampak bengong dan tidak bertindak.
"Kalian kenapa bengong, bawa Embun kesini!" Pak Baginda menunjuk anak buahnya dengan penuh kekesalan.
Anak buahnya pun berlari menghampiri Embun dan Ardhi, kemudian menarik tangan Embun agar lepas dari Ardhi. Saat itu juga, Tara melihat Ompung Boru mereka yang pingsan.
Dia pun mendekati Ompungnya, saat itu juga Mama Nur, melihat Ibu mertuanya yang pingsan itu, sedang dirangkul Tara.
"Biar Nantulang yang urus Ompung, tolong kamu selamatkan Embun." Ucap Mama Nur dengan berderai air mata.
Saat ini, Embun sedang berteriak histeris dan mencoba melerai anak buah Ayahnya yang mengeroyok Ardhi. Walau Ardhi sudah dibantu supirnya. Tetap Ardhi tidak bisa mengalahkan anak buah Pak Baginda. Karena si Ucok melemparkan pasir ke mata Ardhi. Sehingga pria itu hilang penglihatan dan konsentrasi.
Tara berlari ingin menyelamatkan Ardhi. Tapi Pak Baginda menghalangi langkahnya.
"Bodoh kamu Tara, apa kamu ingin menolong sainganmu?" cercah Pak Baginda, mendorong dada Tara agar mundur masuk ke dalam rumah.
Tara geram bukan main, Dia tidak sangka kejadian hari ini, begitu menyeramkan. Kenapa Tulangnya itu, bisa bersikap brutal seperti itu. Ini bukan zaman penjajahan, ini zaman modern dan ada hak azasi manusia.
"Tulang, tulang, jangan seperti ini. Tindakan tulang ini salah. Embun bisa sakit hati kepada Tulang." Ucap Tara, sambil memperhatikan Embun yang berusaha membantu Ardhi agar tidak kena serangan anak buah Ayahnya.
"Aku yang sakit hati kepadanya. Dari dulu sudah ku peringatkan, agar jangan pacaran. Tapi, Dia tidak mendengarkannya. Bahkan Dia berani berpelukan dengan pria itu di hadapanku. Buat malu saja, jangan-jangan Dia sudah sering kontak fisik dengan pria itu. Tulang tidak terima." Ucap Pak Baginda penuh amarah. Dia kesal kepada Embun dan Ardhi.
Tara tidak terlalu fokus mendengarkan Tulangnya yang berbicara itu. Dia fokus melihat kejadian dimana, Embun yang berusaha menahan anak buah Ayahnya, agar tidak menghajar Ardhi yang wajahnya sudah babak belur. Dengan tubuh gemetaran sambil menangis. Bahkan supir Ardhi sudah tersungkur.
__ADS_1
Kilat pun muncul yang disertai suara petir yang keras.
Duar---Duar---Duar--- Hujan turun dengan derasnya. Seketika, Embun jatuh pingsan. Melihat Embun pingsan, anak buah Ayahnya berhenti menghajar Ardhi. Saat itu juga Ardhi langsung mendekati Embun.
"Awas Tulang--!" Tara dengan keras mendorong tubuh Tulangnya dari hadapannya. Sehingga Tulangnya itu terjatuh, dengan pendaratan bokongnya tepat di lantai. Dia meringis, ternyata pinggangnya sedikit keseleo, karena Tara mendorong nya sangat keras.
"Dek, sayang--- bangun--!" Ardhi menepuk pipi Embun pelan untuk membangunkannya. Tapi, Embun tidak sadar juga. Walau Ardhi sudah babak belur dan kehabisan tenaga melawan anak buah Pak Baginda. Dia masih berusaha untuk menyelamatkan Embun.
Saat itu juga, Tara mendekati pasangan kekasih itu. Yang disusul dengan Pak Baginda yang berjalan sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Mungkin tekilir,, semoga saja Tulangnya patah.
"Embun," ucap Tara, dengan ekspresi wajah sedih. Tidak berani meraih Embun dari dekapan Ardhi.
"Apa lagi, usir Dia dari rumah ini." Lagi-lagi Pak Baginda memerintah anak buahnya.
Tara kesal bukan main dengan kejadian ini. "STOOP---- Tulang, please---- Hentikan, kita bicarakan baik-baik." Teriak Tara, menatap Tulangnya dengan penuh kekesalan.
Tulangnya begitu terkejut dengan teriakan Tara, tapi Dia tidak mengambil pusing ucapan Tara. Dia menatap tajam Ardhi yang memeluk Embun dengan posesif.
Ardhi mematung, melototkan matanya lekat-lekat kepada Pak Baginda.
"Anda harus membayar semua ini. Aku punya niat baik datang kesini. Tapi, sikap anda tidak mencerminkan seorang Ayah dan manusia. Anda Gila!" ucap Ardhi masih melotot kepada Pak Baginda.
"Hajar Dia--!" teriak Pak Baginda, tidak terima dirinya ditantang.
"Stop Tulang," ucap Tara menatap tajam Tulangnya. Kemudian Tara mengalihkan pandangannya kepada Ardhi. "Pak Ardhi, lebih baik anda pulang dulu. Nanti saya hubungi Bapak Kembali. Percaya kepada saya, kita bicarakan lagi nanti, kita cari solusi terbaik." Ucap Tara pelan penuh nada kesopanan, yang membuat hati Ardhi melunak. Menatap Tara rekan bisnisnya dengan termangu.
Perlahan dekapan Ardhi kepada Embun melonggar. Tara pun meraih Embun dalam dekapannya. Ardhi bangkit, dibantu supirnya yang sudah kembali bertenaga.
"Urusan kita belum selesai, anda salah sasaran.!"ucap Ardhi tegas, menunjuk wajah Pak Baginda dengan penuh amarah. Dia pun berjalan ke arah mobilnya dengan langkah pelan.
__ADS_1
"Kita langsung ke kantor Polisi Pak.!" titah Ardhi kepada supirnya. Menatap lurus kedepan, tanpa melihat Embun yang digendong Tara masuk ke dalam rumah.
Tara membaringkan Embun di atas ranjangnya dengan tubuh basah kuyup. Begitu juga dengan Tara dan Pak Baginda basah kuyup.
"Kalian berganti pakaian dulu. Ayah, pinjamkan bajumu untuk Tara." Ucap Mama Nur dengan berderai air mata. Menatap putrinya dengan sedihnya.
"Sepertinya penyakitnya kambuh lagi. Ini gara-gara Ayah." Ucap Mama Nur dengan keras, sehingga Pak Baginda dan Tara menghentikan langkahnya untuk keluar kamar. Tapi, kemudian kedua pria itu melanjutkan langkahnya.
***
Malam harinya, tepat pukul delapan malam. Kamar Embun sudah ramai dengan sanak keluarga yang berkumpul. Kejadian yang terjadi sore hari itu pun diketahui oleh keluarga besar. Termasuk Ayah dan Mama Mira, orang tua Tara.
"Dek, kenapa Embun belum sadar juga. Sudah empat jam Dia pingsan." Ucap Mama Mira, Ibunya Tara penuh kekhawatiran.
"Iya Kak, saya juga khawatir. Kata Dokter sebelum jam sembilan malam Dia pasti sadar." Ucap Mama Nur dengan menitikkan air mata. Mama Nur yang duduk disisi ranjang, kembali mengusap-usap puncak kepala Embun. Sedangkan Mama Mira, memijat-mijat kaki Embun yang ditutupi selimut.
"Apakah traumanya Embun belum sembuh?" tanya Mama Mira dengan perasaan sedih.
Mama Nur menetap eda-nya itu. "Dokter sudah mengatakan traumanya Embun sudah sembuh sepuluh tahun lalu. Dan Dia pun tidak pernah pingsan lagi saat lihat kilat, dengar petir dan hujan." Jawab Mama Nur.
"Mungkin karena kejadian menegangkan tadi, sehingga penyakit Ombrophobia nya kambuh lagi." Mama Mira, menatap wajah Embun yang tidur, tapi nampak ketakutan dan tidak tenang.
Ombrophobia atau biasa dikenal dengan pluviophobia adalah rasa takut akan hujan yang meliputi gangguan kecemasan. Rasa takut tidak hanya datang saat hujan mulai turun. Bahkan, ketika gejala hujan turun mulai muncul seperti awan gelap, kilat petir, dan angin besar, seseorang yang mengidap ombrophobia bakal langsung mengalami ketakutan yang kalau bagi orang biasa dianggap berlebihan.
Mama Nur, mengingat penjelasan Dokter, mengenai traumanya Embun. Wanita pun menangis mencium kening putrinya.
Mama Mira sedih melihatnya. Dia akhirnya bangkit menghampiri suami, anak dan Abangnya Pak Baginda. Yang duduk di balkon. Ketiga pria itu sedang membicarakan hal serius tentang kelanjutan pernikahan Tara dan Embun. Saat ini Tara belum mengatakan, ingin mundur dari perjodohan ini. Dia ingin suasana hati Pak Baginda tenang dulu.
"Kalian membicarakan apa?" tanya Mama Mira kepada ketiga pria itu.
__ADS_1
Saat itu juga ART mengetuk pintu, "Tuan, Nyonya ada Pak Polisi di depan. Menanyakan tentang Tuan." Ucap ART dengan suara bergetar, karena merasa takut. Pasalnya Polisi yang datang membawa mobil tahanan.