DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kasak kusuk


__ADS_3

Ardhi benar-benar pusing memikirkan semuanya. Umpatan kemarahan Ibunya Melati masih terngiang-ngiang di telinganya. Fakta baru mengenai Melati juga membuatnya syok. Ternyata Pak Samsul bukan ayah kandungnya Melati.


Huuufffttt....


Ardhi menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia melakukan itu berulang kali, seolah dirinya sedang melakukan pemanasan Yoga.


Hawa sejuk dan pemandangan asri di taman Hotel Tor Sibohi Sipirok. Cukup membuatnya merasa rileks dan tentram. Malam ini dia harus menikah dengan Melati. Tak ada gunanya ditunda-tunda. Siapapun Melati, dia harus menikahi wanita itu. Ada anaknya di rahimnya.


Dia harus cepat-cepat menghalalkan wanita itu. Agar lebih leluasa memberi perhatian pada wanita yang akan menjadi ibu untuk anak-anaknya.


Lama Ardhi di taman itu menikmati nuansa alam dan budaya yang ditawarkan Hotel tersebut. Pemandangan yang ditawarkan tempat ini sangat menawan. Kepercayaan diri Ardhi pun kembali lagi, setelah pikiran nya sedikit tenang.


Pria itu akhirnya kembali ke kamar Hotel. Dia penasaran juga dengan keadaan Mati setelah ditinggalkannya lebih dari satu jam.


Sesampainya di kamar itu. Tenyata Melati tertidur dengan tangannya masih di infus. Melati melirik Ibu Khadijah dengan tersenyum tulus. Wanita tua itu, sedang duduk di sofa memberesi kebayanya Melati yang telah dilepas dari tubuhnya. Kebaya yang dikenakan saat ijab kabul.


Ardhi masih tersenyum, memilih duduk di sofa tepat di hadapan Ibu Khadijah. Wanita tua itu, masih menunjukkan ekspresi wajah kecewa.


"Ibu, saya minta maaf. Karena kelakuan ku yang tak bermoral itu, Putri kalian jadi korban." Mendengar ucapan Ardhi. Ibu Khadijah menatap ke arah pria itu dengan terkejutnya. Dia tidak menyangka, pria itu meminta maaf padanya.


Rasa kesal Ibu Khadijah pada pria itu berkurang sudah, karena Ardhi berani meminta maaf. Tadi juga setelah Melati tertidur. Embun menceritakan kejadian sebenarnya. Walau begitu, Ibu Khadijah tentu saja masih kesal pada Ardhi. Ibu mana yang tidak sedih, anaknya di nodai.


"Saya juga salah, karena saat melamar Melati. Saya tidak hadir, itu semua bukan karena disengaja. Karena, memang begitulah duku keadaannya saat itu.


"Percaya sama saya Bu. Saya serius dengan pernikahan ini. Saya akan bertanggung jawab penuh pada Melati. Untuk itu maafkan saya Bi. Ikhlaskan lah semuanya." Ardhi langsung meraih tangan Ibu Khadijah. Menjabatnya dan menciumnya. Sontak perlakuan Ardhi membuat Ibu Khadijah terkejut, dia tidak menyangka, orang kaya dihadapannya mau menjabat tangan kasar dan hitamnya.

__ADS_1


Seketika tangis Ibu Khadijah pecah. Menarik Ardhi dalam pelukannya. Dia merasa sedih serta terharu, terhadap kejadian yang menimpa putrinya. Dia juga bersyukur pada Allah, Ardhi mau bertanggung jawab penuh.


"Olo, olo Bere... Marsiamaafan Hita da. Nakkin Nantulang Mon sempat emosi tuho." Ardhi mengangguk dalam dekapan Ibu Khadijah. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita itu. Tapi, dia yakin. Permintaan maafnya sudah diterima. (Iya, iya Bere, Saling memaafkan kita. Tadi juga saya sempat emosi padamu.)


***


Kabar burung tentang Melati yang gagal menikah di Hotel paling bagus di kota itu pun tersebar. Berita kehamilannya juga jadi trand topik hangat di kampung itu, bahkan ke kampung sebelah. Bisik-bisik, kasak-kusuk antar tetangga, di warung misop, kedai sampai santer terdengar.


Ilham yang kebetulan ke warung membeli sebungkus rokok, tak sengaja mendengar ibu-ibu sedang bergosip di sebuah warung sembako.


"Si Melati, Boru ni si Samsul. Hamil, tekdum dibaen majikannya." Ibu muda yang juga ternyata teman sekolah Melati dan Ilham. Terlihat semangat menggunjing aibnya Melati. Dia bahkan menonjolkan perutnya untuk mempraktekkan Melati hamil.


"Si Melatikan pembantu di kota Medan." Timpal Ibu satunya lagi. Dia ingin memastikan berita itu.


"Olo, babu, pembantu. Arakku si Melati gait karejona menggoda majikan nai. Mana ada kucing yang menolak ikan asin." (iya, pembantu, mungkin si Melati genit, kerajaan nya ya menggoda majikannya.)


Kuping Ilham panas mendengar ghibah para ibu-ibu kepo itu. Dia yang tidak tahan mendengar berita buruk mengenai Melati itu. Memilih pergi dari tempat itu. Dia lagi kesal kalau mengingat Melati. Wanita itu lari dalam perjalanan, dan sekarang gagal menikah dengan Ardhi di Hotel. Gara-gara Melati melarikan diri. Dia jadi terjebak dengan Si Butet.


Ilham frustasi, pria itu tidak pernah merokok sebelumnya. Tapi, sore ini dia mencoba untuk merokok. Dia pun tidak mau tahu lagi mengenai wanita itu. Berapa kali dia meyakinkan Melati. Bahwa dia serius dengan wanita itu. Tapi, lihatlah wanita itu malah melarikan diri. Sehingga Banyak menimbulkan masalah. Kalau dia tahu, Melati tidak mau dengannya. Dia tidak akan membolehkan si Butet, ikut ke kampung mereka.


Sore ini, Rudi kembali mendatangi rumah Pak KUA. Dia memohon, agar pernikahan Ardhi dan Melati secepatnya dilaksanakan. Mengingat Melati sudah hamil. Kalau ditunggu-tunggu lagi, itu tidak baik. Pak KUA Pun setuju. Jadi pukul delapan malam, acara ijab kabul akan digelar kembali, tempatnya masih di Aula Hotel.


Mendapat laporan dari Rudi, bahwa pernikahannya akan diadakan malam ini. Ardhi pun mendatangi Pak Zainuddin ke kamarnya. Dia ingin berterimakasih pada pria itu, karena masih mau menjadi saksi dalam pernikahannya.


Ardhi benar-benar tidak memberi tahu sang Ibu, kalau dia menikah dengan Melati. Itu dilakukannya, karena dia tahu ibunya dari awal tidak menyukai Melati.

__ADS_1


Saat Ardhi hendak masuk ke kamar nya Pak Zainuddin. Ternyata pria itu keluar dari kamarnya.


"Bapak," ucapnya tersenyum. Pak Zainudin langsung merangkulnya, mengajak Ardhi ke taman. Ada banyak hal yang ingin. ditanyakan pada anak angkatnya itu. Mengenai Calok istrinya Melati.


"Eehhmmm... Kenapa kamu tidak cerita pada Bapak, masalah yang sedang kamu hadapi." Pak Rudi langsung ke topik pembicaraan ya g membuatnya memang begitu penasaran.


"Aku malu Pak. Begitu banyak aib dalam hidupku." Ucapnya tersenyum getir, memalingkan pandangannya, dari tatapan penasarannya pak Zainuddin.


"Kenapa harus malu, aku sudah kamu anggap sebagai ayahmu kan?" Pak Zainuddin, berusaha menatap Ardhi yang tidak berani menatapnya. Ardhi benar-benar malu dengan kelakuan nya, juga dengan kelakuan sang ibu. Rasanya begitu memalukan jikalau menceritakannya.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau bercerita. Bapak yakin padamu. Kamu pasti akan bertanggung jawab penuh pada dia kan?"


"Iya Bapak." Ucapnya, kali ini Ardhi pun memberanikan menatap Pak Zainuddin.


"Saat Bapak melihat wajah calon menantu tadi pagi. Darah bapak rasanya tumpah, karena terkejut nya. Wajahnya sangat mirip dengan almarhum istri bapak." Pak Zainuddin menghela napas. Rasa keterkejutannya saat ini masih dirasakannya di rongga dadanya. Melihat Melati, pria itu merasa sedih. Karena akan teringat pada Istri dan putrinya yang menghilang.


"Seandainya putri Bapak, masih hidup. Pasti cantiknya seperti calon istrimu itu. Eehhh.. siapa namanya tadi?" Pak Zainuddin belum tahu namanya si Melati.


"Namanya Melati Bapak."


"A...PA.... Melati?" kedua bola mata rabun nya Pak Zainuddin membulat, disaat Ardhi mengatakan namanya Melati kepada pria itu.


"Namanya sama dengan putri bapak yang menghilang. Wajahnya juga sangat mirip dengan Almarhumah istrinya bapak. Apa mungkin calon istri mu itu, putrinya bapak yang menghilang Ardhi?"


TBC

__ADS_1


Mohon dukungannya readers,. Kalau banyak like, coment losii dan Vote. Author akan semangat menamatkan novel ini di akhir tahun.


Vote dongšŸ¤—ā¤ļø


__ADS_2