
Prang....
Sebuah suara gaduh seperti pecahan vas, terdengar dari arah balkon kamar pria itu. Ardhi yang lagi meluapkan kegundahannya dengan berteriak histeris dan menyakiti diri sendiripun, akhirnya terdiam.
Ada orang di ruangan itu. Ada orang yang mendengar jeritan hatinya. Ini sangat memalukan.
Ardhi mengusap wajahnya kasar, menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Dia pun bangkit dari duduknya. Dia merasa tambah tidak tenang saat ini. Meluapkan kegundahannya, terganggu sudah.
Prangg. pukkk ...pak... pung....!
"Siapa itu? siapa di sana?" suara Ardhi masih terdengar menyedihkan. Tapi, pria itu bicara dengan sangat tegas dan masih dengan amarahnya. Sehingga orang yang menjatuhkan barang-barang itu, semakin ketakutan dibalik dinding yang menjadi pemisah kamar dan balkon.
Tak ada jawaban, Ardhi semakin kesal saja. Dia belum selesai meluapkan kekesalan di hatinya. Dan kini sudah ada yang mengganggunya. Siapa yang masuk ke kamarnya?
Ardhi semakin memperlebar langkah kakinya. Dengan tidak sabarannya melangkah ke balkon.
__ADS_1
"Siapa di sana?" Desak Ardhi penuh penekanan. Dia Sangat penasaran dengan dalang yang membuat benda-benda yang ada di balkonnya berjatuhan.
"Kucing---- meong..... meong...!" Ardhi menghentikan langkahnya, sesaat berpikir. Apakah itu benar-benar suara kucing. Ardhi menggeleng, itu bukan suara kucing. Ada manusia di dalam kamarnya selain dirinya.
Meong....Meong....Meong...
Suara aneh itu semakin membuat Ardhi geram, ada yang mau bermain-main dengannya padahal dia lagi kalut saat ini. Emosinya gampang tersulut. Dia sedang tidak ingin main-main. Dia tidak sedang bercanda.
Ardhi pun mempercepat langkahnya, saat sampai di balkon dia mencari-cari sosok manusia. Bukan sosok kucing, karena dia yakin. Yang menirukan suara kucing itu adalah manusia. Bukan hewan manja itu.
Sesampainya di balkon itu, Ardhi memang tidak menemukan jenis manusia. Dia hanya melihat kucing yang bermain-main dengan gorden penghadang terpaan sinar matahari.
Ardhi yang menyukai kucing itu pun berniat meraih kucing kesayangannya itu. "Puspus.... kemarilah.!" Ardhi menjentikkan jemarinya, agar si kucing mendekat. Tapi sang kucing tidak mau mendekat. Dia terus saja bermain di bagian bawah gorden. Berusaha untuk menyingkapnya.
"Pupus...!" Akhirnya Ardhi mendekat dan berusaha meraih si Puspus. Tapi, kucing itu tidak mau digendong oleh Ardhi. Kucing itu masih saja sibuk menyingkap tirai itu.
__ADS_1
Saat itulah Ardhi melihat sepasang kaki putih. Ardhi tercengang, berati ada orang di kamarnya. Suara tadi bukan lah suara kucingnya si Puspus.
Dengan cepat dan kasar, Ardhi menyibak tirai itu.
"Aawuuuuu..!" manusia yang bersembunyi dibalik tirai teriak histeris. Menutup wajahnya dengan sepuluh jemarinya yang lentik. Wanita itu ketakutan saat ini, habislah riwayatnya. Majikannya itu pasti akan memecatnya.
"Melati...?" Ekspresi wajah Ardhi yang penuh kegundahan, sekarang bertambah menjadi kekesalan. Bisa-bisanya pembantunya itu mengerjainya. Mesti sekali dia mengaku sebagai kucing.
Melati membuka satu persatu jemarinya yang digunakan menutup wajahnya. Wanita itu saat ini begitu ketakutan.
"Tu---an, Tu--an,!" ucapnya terbata-bata, dengan ekspresi wajah ketakutan melihat tatapan tajam Ardhi padanya.
Wanita yang bernama Melati itu, sangat ketakutan saat ini. Kalau majikannya ini marah dan memecatnya bagaimana? baru dua bulan dia bekerja jadi ART di tempat Ardhi. Dia tidak mau dipecat. Dia butuh uang, untuk dikirim ke kampung.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tatapan tajam masih terlihat di manik mata majikannya itu. Melati menunduk lemah.
__ADS_1
"Aaku, aku, baru selesai membersihkan kamar tuan. Dan tadi sedang menyiram bunga yang ada di balkon tuan." Ucapnya gugup, Melati baru kali ini melihat tatapan penuh kemarahan di wajah majikannya itu.
TBC.