DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Nyemplung


__ADS_3

Ardhi refleks menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya. Wajah putihnya kini memerah sudah, karena malu. Dia yakin sang istri pasti mendengar ocehan gak bermutunya.


"Adek sudah lama bangun?" Ardhi cengir menghampiri sang istri yang duduk terbengong melihatnya.


"Iya Mas." Jawabnya dengan ragu.


"Benarkah?" Ardhi menggaruk kepala belakang nya yang tak gatal. Duduk di tepi ranjang menatap sang istri yang masih terbengong itu.


"Adek kenapa?" masih penasaran dengan istrinya yang terbengong itu.


"Gak apa-apa Mas. Ini rumah siapa?" tanyanya, matanya menyoroti setiap sudut kamar itu. Melati mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak mau membahas apa yang diucapkan oleh sang suami, terkait kepala bawah suaminya yang panas dan nyut nyutan.


"Rumah kita." Melati terkejut dengan ucapan sang suami. Kamar yang mereka tempati ini tergolong kecil. Mungkin luasnya sekitar 3x5 m. Itupun sudah ikut dengan kamar mandi. Sangat berbeda dengan kamarnya Ardhi di rumah utama dan di apartemennya.


"Benarkah?" Melati masih tidak percaya. Tapi, dia suka dengan desain kamar itu.


"Adek suka?" ucapnya dengan sumringah. Sangat tak sabar menunggu jawaban sang istri.


"Suka sekali Mas. Terima kasih ya?!" Melati tersenyum manis pada Ardhi yang juga nampak bahagia itu.


"Iya Dek. Ayo kita keluar. Mas tunjukin dapur kita yang sempit. Ukurannya hanya 2x1,5 m. Ardi yang sudah berdiri itu meraih tangan Melati menggereknya ke dapur mereka yang sangat mungil. Dari kamar langsung ke dapur.


"Ini kompornya, mirip dengan kompor Nantulang di kampung, ini rak piringnya." Melati tersenyum tipis melihat rak piring kecil yang ada di dekat wastafel dan kompor itu. Di rak piring itu hanya ada empat piring kaca dan dua gelas, mangkuk dua, spatula dan sendok makan dan garpu sepasang. Benar-benar mirip dapur anak kost an.


"Kulkasnya gak apa-apa ya dek yang kecil saja." Ardhi membuka kulkas itu dan tak ada isinya sama sekali.


"Nanti kita belanja sekalian makan malam di luar. Habis itu kita ke rumah sakit."


"Iya Mas." Jawab Melati dengan wajah penuh syukur. Kata rumah sakit yang diucapkan Ardhi, tidak terdengar jelas oleh wanita itu. Dia menatap lekat Ardhi yang bicara banyak menjelaskan tentang rumah yang tipe 36+ itu. Tak ada ruang makan. Hanya ada ruang utama, satu kamar tidur dan dapur.


"Ini dia taman belakang rumah kita. Indahkan?" ternyata di belakang ada taman dan kolam renang. Lagi-lagi Melati dibuat tercengang melihatnya.

__ADS_1


"Adekkan suka itu mandi di kali. Makanya Mas buatin kolam renang mungil." Ardhi menghamparkan tangannya dengan perasaan penuh kebahagiaan. Dia merasa bangga dengan dirinya. Karena, Melati terlihat bahagia dengan rumah mereka.


"Bagus sekali Mas." Ucap Melati takjub. Sungguh taman dan kolam renang itu desainnya sangat unik dan menarik. Dipinggir kolam renang itu, ditanami rumput manis.



"Gak nyangka rumah mungil ini ada kolam renangnya." Masih takjub dengan taman belakang rumah itu. "Asri banget seperti sungai di kampung."


Ardhi hanya manggut-manggut mendengar ungkapan ketercengangan sang istri. Dia bangga dengan dirinya, karena bisa mewujudkan rumah impian sang istri.


Istrinya itu memang unik. Disaat para wanita ingin rumah gedong. Dia malah ingin rumah yang sederhana. Eemmmm.... Wong desonya melekat dan mendarah daging ternyata.


"Ayo buka aja bajunya, mandi di sini saja kalau adek beneran suka. Adek kan belum mandi sore tu." Ardhi dengan raut wajah polosnya mempersilahkan Melati dengan gerakan tangannya untuk nyemplung ke kolam renang mungil itu, Kolam renangnya hanya berukuran 3x6m.


"Mas apaan sih? gak mau ah, malu tahu."


"Koq malu?"


"Mau di mandiin?" Melati menggeleng.


"Kalau gak mau dimandiin. Kenapa melapor?"


"Ya agar Mas keluar, jangan di sini."


"Loh koq di suruh keluar?" Ardhi pura-pura bingung. Padahal dia tahu sang istri sedang malu.


Melati yang tak mau berdebat itu pun, akhirnya masuk ke kamar mandi dengan perasaan mendongkol. Sedangkan Ardhi tertawa lebar, dan membaringkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang mereka.


Berinteraksi dengan Melati, membuat pria itu terhibur. Tentu saja, karena Melati yang masih polos itu membuatnya gemes.


Ardhi yang lagi pengen bermesraan dengan sang istri itu, malah membayangkan apa saja yang dilakukan sang istri di kamar mandi. Merasa otaknya sudah kotor. Dia pun menjotos kepalanya sendiri dengan kuat. Dia ingin pikiran mesum itu, pergi dari otaknya. Karena kalau tidak, dia bisa tersiksa.

__ADS_1


Melati senyam-senyum di dalam bathtub. Entah kenapa dia jadi merasa lucu, saat mengingat kelakuan sang suami barusan. Ternyata suaminya itu sedang melawan hawa nafsunya. Ucapan suaminya yang nyeleneh tadi, menggelitik hatinya. Dia jadi penasaran pada adik kecilnya suaminya itu.


Puas berendam dan membersihkan seluruh tubuhnya. Melati pun menyudahi acara mandinya. Dia pun akhirnya celingak celinguk di dalam kamar mandi itu. Karena, tidak menemukan bathrop atau handuk di gantungan.


"Astaga, di sini gak ada handuk." Ucapnya dengan frustasinya. Merasa malu dengan penampakan tubuhnya yang polos di dalam pantulan cermin.


"Sial banget sih, gara-gara salah tingkah sama suami sendiri. Koq jadi bloon sih." Akhirnya Melati kembali memakai gamisnya yang dipakainya dari tadi pagi. Masih wangi sih, tapi gak nyaman lagi untuk dikenakan. Dia kesal dengan dirinya yang lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


Tok tok tok..


"Dek, ini handuk. Di dalam gak ada handuk itu " Ardhi yang baru teringat kalau handuk tak ada di kamarnya. Berinisiatif untuk memberikan handuk pada sang istri. Itu dilakukannya, karena dia merasa Melati terlalu lama di dalam kamar mandi. Dia yakin, istrinya yang pemalu itu segan minta handuk padanya.


Melati menarik napas kasar di dal kamar mandi. Dia tak butuh handuk lagi. Karena dia sudah memakai kembali gamisnya. Walau tidak memakai dalaman.


"Dek, buka pintunya. Ini handuk untukmu." Masih berteriak dibalik pintu.


Klik ..


Ardhi hampir terjatuh, karena kaget disaat Melati membuka pintu secara tiba-tiba. Keduanya bersitatap, karena sama-sama terkejut.


"Aduhhh hampir saja mas jatuh ke dalam pelukan adek." Melati langsung memutus kontak dengan sang suami, karena ucapan Ardhi yang garing itu.


"Eemmmm... Nasib gak bisa meluk istri sendiri." Ucapnya, menghela napas kasar. Berjalan ke arah ranjang dan mendudukkan bokongnya di ranjang itu


"Sabar, sabar. Sabar itu disayang Allah " Ucap Melati lembut dan berlalu ke kamar mandi untuk berganti pakaian setelah mengambil baju ganti dari lemari.


Sontak ucapan sang istri seperti angin seger buat Ardhi. Tentu saja ucapan istrinya itu adalah lampu hijau untuknya, gak harus mantap-mantap. Bercumbu saja dulu, begitulah keinginan Ardhi saat ini. Dia benar-benar ingin dibelai dan bermanja-manja. Dasar keinginan yang aneh.


TBC.


like vote say

__ADS_1


__ADS_2