DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tetap akan jadi rahasia


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, Ardhi bak hilag di telan bumi. Semua nomor ponselnya gak ada yang aktif. Begitu juga dengan sosial medianya. Ibu Jerniati benar-benar sudah setres dan putus asa. Anggun tidak bisa ditebus. Dia harus dihukum sesuai kejahatan yang dilakukannya.


Bahkan keluarga Anggun, tidak bisa membebaskan sang putri. Mereka akan menggaet pengacara terkenal. Anggun tidak boleh di penjara.


Walau sudah seminggu berlalu, raut wajah sedih penuh keputusasaan masih jelas terlihat di wajah cantiknya Melati. Seminggu ini, Embun berusaha mendekatkan diri pada wanita malang itu. Berusaha memahami kegundahan hatinya. Tapi, kebenaran yang selalu ingin didapatkan Embun dari Melati, tidak pernah didapatkannya. Embun yakin, ada sesuatu hal yang disembunyikan Melati.


"Gak usah ikut beres-beres di dapur. Kamu masih sakit. Masih perlu istirahat." Embun menarik lengannya Melati, dia mengajak Melati ke taman belakang rumah. Melati jadi merasa sungkan. Dia ingin jadi pembantu di rumah itu. Tapi, Embun tidak pernah membolehkannya bekerja.


Keduanya duduk di kursi besi panjang. Dengan pemandangan indah, kolam ikan di hadapan mereka.

__ADS_1


"Adek Ilham begitu perhatian samamu Mel. Tiap hari dia datang menjengukmu." Embun menatap intens Melati yang tidak mau menatap Embun. Embun tahu, Melati sedang menyembunyikan sesuatu.


"Iya kak, Bang Ilham baik. Kami satu kampung." Jawabnya lemah, memandangi ikan koi yang berenang di kolam. Kedua mata Melati sudah berkabut, kejadian di malam terlarang itu, masih terus melintas dipikirannya.


"Jujur sama kakak, apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Embun masih saja, menatap Melati yang memalingkan wajah itu. Saat ini Melati sudah menyeka air mata yang membasahi pipi putihnya. Dia pun akhirnya menoleh kepada Embun. Sangat tidak pantas rasanya, tidak menatap mata lawan kita bicara.


"Gak ada kak." Melati sudah berjanji pada dirinya, tidak akan menceritakan aib yang menimpanya. Lagian, untuk apa diceritakan, toh pria yang menodainya akan segera menikah. Dia akan bertambah malu, apabila aibnya diceritakannya dan sang pria tidak mau bertanggung jawab.


"Syukurlah, aku merasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu hal yang besar. Tapi, ternyata itu hanya dugaanku saja." Embun melempar kan makanan ikan ke kolam. Keduanya kembali terdiam, menikmati pemandangan indah di hadapan mereka.

__ADS_1


Ingin rasanya Embun menanyakan tentang Ardhi. Tapi, dia takut Melati salah paham. Sehingga dia mengurungkan niatnya.


"Kakak mantan kekasihnya tuan Ardhi kan?" ternyata apa yang dipikirkan Embun, dipikirkan Melati juga. Ikatan bathin mereka ternyata kuat.


"Iya," Embun tersenyum kecut kepada Melati. "Kenapa kamu menanyakan itu?" Embun penasaran juga. Jujur, bagaimana pun cintanya kini pada Tara. Ardhi lah cinta pertamanya. Melupakan cinta pertama sangatlah sulit. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk melupakannya. Lagian selama ini Ardhi begitu baik padanya.


"Tidak ada kak, aku pernah lihat foto kak di rumah tuan Ardhi." Sebenarnya Melati malas dan benci membahas Ardhi. Tapi, mereka tidak punya topik pembicaraan lagi.


"Kakak bersyukur, tidak jadi menikah dengan Tuan Ardhi." Embun membulat kan kedua matanya mendengar ucapan Melati. Dia tahu maksud ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Iya, Aku tidak menyangka bahwa Ibunya Mas Ardhi, punya kelakuan buruk seperti itu." Embun menarik napas berst, Kejadian di ruang rawat inap, kembali melintas di pikirannya. Embun syok melihat Ibu Jerniati. Dia tidak menyangka wanita tua itu barbar juga.


TBc


__ADS_2