DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Semoga Normal


__ADS_3

Penjelasan panjang lebar tanpa jeda Dr. Boyke itu, semakin membuat Embun merasa tertekan dan takut. Wajahnya sampai pucat saat mendengarkannya. Tara, yang tahu keadaan istrinya sedang tidak baik-baik itu, langsung merangkul Embun dan memijat-mijat lengan atasnya. Berusaha untuk menenangkan istrinya yang terlalu paranoid itu.


"Sayang rileks, tak seburuk yang kamu bayangkan. Dengar tadi penjelasan Dokterkan?, peluangnya sangat kecil dan itu bisa kita hindari. Kita ini pernikahan sedarah garis menyamping, bukan garis lurus. Agama saja membolehkan kita menikah. Tentu itu hal baik. Tidak ada agama yang menjerumuskan." Tara berucap lembut pada Embun, wanita yang lagi bimbang itu pun akhirnya memasrahkan kepalanya bersandar di bahunya Tara.


"Baik Bapak, Ibu apa benar sudah siap untuk kita periksa alat reproduksinya?" tanya Dokter Boyke penuh ketegasan.


"Dok, pemeriksaannya seperti apa sih?" tanya Embun ragu, dan ketakutan. Dia mulai tidak ingin melakukan pemeriksaan. Dia merasa organ reproduksinya bagus. Menstruasi lancar tiap bulan, walau kadang maju dan mundur dua sampai tiga hari.


Sang Dokter tersenyum tipis. "Kalau untuk ibu nama pemeriksaan Histeroskopi yaitu untuk Pemeriksaan Rahim. Histeroskopi adalah pemeriksaan fisik pada wanita menggunakan alat bantu berupa kamera khusus untuk meneropong ke dalam rahim dan organ sekitarnya."


"Apa? di teropong?" Embun memotong penjelasan Dokter. Dia merasa ngeri serta malu dengan penjelasan Dokter itu. Sama Tara saja, dia masih malu, saat Tara meneropong miliknya. Masak orang lain akan melihat bagian yang selalu ditutup rapatnya itu.


Mendengar penjelasan Dokter, Tara juga sedikit keberatan. Mereka baru menikah, terus orang lain sudah melihat milik istrinya itu. Tara crmburu akut ternyata. Tapi, dia tidak langsung protes, seperti yang dikatakan Embun. Dia ingin mendengarkan dulu detail penjelasan Dokter.


"Semua wanita dapat melakukan histeroskopi untuk pemeriksaan umum, tetapi pemeriksaan ini diwajibkan bagi wanita yang mengalami gejala tertentu atau ingin melaksanakan program yang berhubungan dengan kehamilan atau program KB. Secara khusus, pemeriksaan histeroskopi berguna untuk:


1.Memeriksa gejala penyakit seperti: pendarahan akibat datang bulan yang berlebihan, pendarahan pada rahim tanpa sebab, pendarahan setelah siklus datang bulan, keguguran berulang dan/atau kesulitan mengandung.


2.Mendiagnosa penyakit seperti tumor dan kanker rahim


3.Melaksanakan program KB


Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa dari gejala yang telah disebutkan, maka disarankan untuk melakukan histeroskopi. Pemeriksaan dini akan mengurangi risiko bertambah buruknya kelainan yang dialami." Jelas Dokter panjang lebar.

__ADS_1


"Bagaimana apa ibu ada keluhan seperti itu? sehingga ibu takut untuk hamil, atau melahirkan anak cacat?" Tanya Dokter lagi.


Embun menggeleng pelan, "Aku gak ada keluhan Dok. Kami juga tidak ingin pakai KB." Ucap Embun pelan, melirik Tara yang nampak tenang di sebelahnya.


"Sayang, kita pulang saja, aku tidak mau di teropong." Ucap Embun polos, Tara tersenyum. Tapi, hatinya tertawa. Dia merasa Embun sangat lucu.


"Ya sudah kita pulang. Biar Abang saja nanti yang meneropong ini." Jawab Tara dengan berbisik juga. Tapi, tangannya yang sembunyi di bawah meja, langsung mencengkeram bagian intinya Embun. Sehingga wanita itu berteriak karena terkejut dengan kelakuan nakal suaminya.


"Ada apa Bu? kenapa teriak?" tanya Dokter. bingung bin heran


"Gak ada Dok, maaf Dok.!" Embun tersenyum tipis, menutupi kejengkelannya pada suami usilnya itu. Kemudian ekor mata wanita itu, melirik Tara yang ekspresi wajahnya nampak tenang. Seolah tidak melakukan sesuatu hal yang menyebalkan.


"Dok, Kami tidak jadi melakukan pemeriksaan. Kami sebenarnya sehat dong. Tidak ada memiliki riwayat penyakit menurun. Terimakasih Dok, atas penjelasannya." Embun berbicara begitu sopan dan terdengar tegas. Sang Dokter pun mengerti apa yang ditakutkan oleh Embun.


"Bapak, gimana, mau diperiksa Sper--manya?" Dokter menatap Tara dengan tersenyum mesum dan cengengesan. Tara tahu, dokter yang gemulai dan lucu itu, ingin mengajaknya bercanda.


"Benar Pak, saya ingatkan ya pak. Harus banyak puding. Agar Sper-ma yang keluar saat ejakulasi tetap bagus. Buat pengantin baru itu sih hal wajar. Bahkan saya dulu seminggu berkurung di kamar beserta istri saya. Ya kerjaan kami melakukan itu terus dan menerus. Habis enak sih, apalagi disaat hendak mencapai ke puncak. Seumpama ada orang lewat dan menawarkan emas batangan. Saya tolak Pak." Jelas Dokter panjang lebar, disertai curhat. Yang menurut Embun seperti tidak masuk akal.


Seminggu berkurung di kamar? oh no... Embun membathin. Sedangkan Tara hanya tertawa kecil mendengar cerita sang Dokter.


"Iya Dok." Tara tersenyum. Kalau soal itu aku juga tahu, istriku ini yang terlalu ketakutan.


"Tidak usah khawatir Bu. Jikalau ibu nanti sudah mengandung. Saya sarankan ibu tetap menjaga pola hidup sehat, jangan setres saat hamil." Ucap Dokter, sambil menulis sesuatu di atas kertas putih. Seperti nya itu resep obat gitu.

__ADS_1


"Iya Dok." Jawab wanita itu pelan.


"Jangankan yang nikah sepupu atau pariban. Yang nikah jauh hubungan darah, beda suku, ras saja, bisa melahirkan anak cacat. Jadi, hilangkan kekhawatiran ibu itu. Yang ibu takut kan bukan satu faktor yang fatal. Masih banyak faktor penyebab anak lahir cacat." Jelas Dokter, memberikan resep obat kepada Embun.


"Iya Dok, Terimakasih. Kalau begitu kami pamit saja." Ucap Embun ramah. Setelah mendengarkan penjelasan secara detail itu, Embun sudah sedikit legah. Tara pun menyelesaikan biaya administrasi.


Sepanjang perjalanan pasangan suami istri lebih banyak diam. Keduanya sedang memikirkan ucapan sang Dokter.


"Tuan, sudah sampai." Sang supir akhirnya membuka suara. Karena melihat sang majikan tak ada tanda-tanda mau turun dari mobil.


"Ooh, sudah sampai Pak." Ucap Tara, menatap Embun yang juga baru menyadari, kalau mereka sedang berada di cafe.


"Kita koq ke sini bang?" tanya Embun heran, disaat Tara menggandeng tangan Embun menuju lesehan cafe itu.


"Di sini pemandangannya indah, hawa sejuk. Kita santai disini sebentar ya sayang." Embun memilih duduk di sebelah Tara, memasrahkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Besok kita akan konsultasi ke ahli Genetika." Ucap Tara lembut, melirik Embun dengan ekor matanya yang duduk pasrah di sebelahnya. Pandangan Embun lurus kedepan, mencoba menikmati indahnya pemandangan yang ada dihadapannya.


Embun menggeleng lemah. "Tidak usah lagi Bang. Setelah ku pikir-pikir, aku yang terlalu berlebihan menanggapi masalah ini. Semoga kita nantinya mendapatkan anak-anak yang normal, sehat."


Grappp...


Tara langsung merangkum wajah istrinya itu. Mencium lembut penuh penghayatan kening wanita itu. Embun sangat terkejut mendapat serangan mendadak itu. Dia jadi terharu melihat Tara yang nampak begitu bahagia saat ini. Wajah tampan itu bersinar dengan mata yang berbinar-binar menatap istri yang sangat dicintainya, yang kini sudah ikhlas dengan takdir yang akan mereka terima kelak.

__ADS_1


"Amin sayang Amin... Semoga Ya Allah, keturunan kami nantinya adalah keturunan yang sehat jasmani dan rohaninya." Pasangan suami istri itu pun kini saling berpelukan. Tara mendekap erat istrinya yang sudah menangis tersedu-sedu itu.


TBC


__ADS_2