
Chiiitttt....
"Aauuuwww.....
Melati berteriak sekuat-kuatnya. Inilah akhir hidupnya. Dia pasrahkan dirinya saat ini. Sepertinya akan lebih baik dia mati saja. Toh kalau dia hidup pun, tidak akan ada orang yang mau berteman dengannya. Dia sudah kotor.
"Apa ada Pak Budi..?" Tara yang terlelap di kursinya, seketika terbangun. Karena Pak Budi yang ngerem mendadak. Sehingga pria itu terdorong ke depan. Tara langsung menoleh ke arah Embun di sebelahnya. Ternyata istrinya itu juga sudah terbangun, dengan ekspresi wajah takut dan penuh tanda tanya.
"Ada wanita yang mau bunuh diri tuan." Jawab Pak Budi. Pria itu pun turun dari mobil, untuk melihat kondisi wanita yang tiba-tiba melintas di hadapan mereka.
Kemarin Pasangan suami istri Tara dan Embun beserta keluarga besarnya, sampai di kota PSP sekitar pukul sepuluh pagi yang bertolak dari Lampung. Dan sore harinya, mereka pulang ke kota Medan, lewat jalur darat.
Embun tidak mau naik pesawat pribadi. Dia ingin menikmati indahnya pemandangan Danau Toba di malam hari. Puas menikmati suasana indah nan romantis di Danau Toba. Akhirnya pasangan itu melanjutkan perjalanannya ke kota Medan. Hingga insiden kecelakaan dini hari ini pun tidak bisa dihindarkan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tara langsung memeriksa keadaan Embun yang memang baik-baik saja.
"Ya Bang, Adek tidak apa-apa. Hanya terkejut saja." Jawab wanita itu lemah. Menyambut tangan Tara yang ingin memeluknya. Tara pun memeluk Embun dengan penuh kekhawatiran. Mengecup lembut kepala istrinya yang ditutupi hijab itu.
Embun sudah pakai hijab sekarang, sejak insiden lehernya yang penuh dengan cu*pang, hasil kerjaannya Tara. Dia yang malu saat itu, memutuskan untuk pakai hijab. Jadilah sampai sekarang Embun pakai hijab.
"Tuan, wanita itu terluka. Ada luka di keningnya." Ucap sang supir kuat memeriksa Melati yang terjatuh ke aspal. Tapi, supir itu, buru-buru masuk ke mobil dan membiarkan Melati tergeletak di aspal tersebut.
"Koq ditinggal Pak!" Tara yang hendak keluar malah tidak jadi, karena melihat sang supir masuk lagi ke dalam mobil.
"Aku takut Pak. Jangan-jangan wanita itu adalah kawanan perampok. Kita harus pergi." Sang supir malah menghidupkan mesin mobil. Tara jadi jadi ikutan takut. Kalau benar wanita itu adalah kawanan perampok. Tapi, kenapa kawan yang lainnya gak mencegat mereka.
"Sepertinya tidak sayang. Kalau dia kawanan perampok. Kenapa temannya yang lain gak muncul." Ucapan Embun sama dengan pemikiran Tara.
"Adek di sini ya? Abang periksa dulu. Kasihan juga kalau dia tidak benar perampok." Tara turun penuh kewaspadaan. Kalau pun benar perampok, dia akan meladeninya.
Melihat sang majikan turun dari mobil. Sang supir pun ikut turun.
"Dia tidak kena tabrak tuan." Ujar sang supir memperhatikan Tara yang melihat Melati tergeletak di aspal. Sang supir tepat saat ngerem. Padahal jarak mobil Tara keladat Melati hanya dua centi lagi
"Syukurlah kalau begitu. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit." Titah Tara pada sang supir. Embun yang ketakutan di dalam mobil hanya memperhatikan apa yang dilakukan suami dan sang supir.
__ADS_1
Pak Budi mengangkat Melati yang pingsan. Tara bergerak cepat, membuka pintu mobil. Pak Budi langsung meletakkan Melati di kursi baris kedua. Tepatnya di sebelah Embun.
"Seorang wanita Bang?" tanya Embun heran, kenapa ada seorang wanita berkeliaran dini hari begini.
"Iya Dek, kita bawa ke rumah sakit sekarang." Tara menutup pintu mobil, di pun memutari mobil itu dan duduk di kursi sebelah supir. Mobil pun melaju menuju rumah sakit.
"Sepertinya wanita baik-baik." Ucap Embun memperhatikan Melati yang terbaring di kursi yang sudah di stel itu.
"Iya Dek." Jawab Tara menoleh ke belakang dengan tersenyum.
Saat itu juga ponsel Melati berdering. Tara dan Embun saling pandang.
"Coba adek angkat teleponnya siapa tahu keluarganya?" Tara masih menoleh ke arah belakang.
"Iya Bang." Embun pun merogoh ponsel yang tidak berhenti berdering itu dari tas ranselnya Melati. Dia pun langsung menggeser icon hijau. Setelah melihat nama Ilham yang memanggil.
"Assalamualaikum... Dek, maaf Abang menelpon malam-malam begini." Suara di seberang sana terdengar penuh ke khawatiran.
Embun melihat Tara, berbicara dengan gerakan bibir, yang mengatakan yang menelepon bukan keluarganya. Sepertinya pacarnya.
Embun pun yang tiba-tiba lemot itu, menjawab ucapan Ilham.
"Ini dengan siapa ya?" Tak ada jawaban dari Ilham. Mungkin Ilham yang di sebrang sana lagi bingung plus heran, karena yang menjawab telpon nya beda dari suara Melati.
"Adek ini sedang mengalami kecelakaan. Kami sedang membawanya ke rumah sakit." Embun langsung mengatakan sebenarnya. Karena Ilham tadi bengong.
"Apa, kecelakaan? di rumah sakit mana?" suara Ilham benar-benar penuh ke khawatiran. Tara juga ikut mendengar pembicaraan Embun dan Ilham. Karena, istrinya itu menghidupkan speaker.
"Kita bawa dia ke rumah sakit mana Bang?" ucap Embun pelan, dengan gerakan bibir yang kuat. Tara pun menyebutkan rumah sakit tujuan mereka. Masih dengan gerakan bibir.
"Ke Rumah Sakit Haji Medan." Jawab Embun tegas. Ya lokasi saat ini mereka berada dekat dengan Rumah sakit itu. Jadi, mereka membawa Melati ke tempat itu.
"Iya Bu, terima kasih. Tolong selamatkan dia." Ilham yang panik tidak tahu lagi harus bicara apa.
Embun tersenyum kecut dikatakan ibu-ibu. Sedangkan Tara tersenyum simpul pada istrinya itu. Merasa lucu dengan ekspresi wajah Embun yang tidak terima dikatai Ibu-ibu.
__ADS_1
"Sepertinya lukanya tidak parah deh bang!" ujar Embun memperhatikan raut wajahnya Melati. Hanya ada luka di kening. Dan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
"Mungkin mulutnya terbentur ke aspal begjtu juga dengan keningnya." Embun masih saja memperhatikan wajah Melati dalam cahaya lampu mobil yang tidaklah terang.
"Biar dokter saja yang memeriksa dan buat kesimpulan." Tara kembali ke posisi semula Duduk dengan pandangan lurus ke badan jalan.
Setelah sampai di rumah sakit. Melati langsung dibawa ke ruang IGD. Semua administrasi Tara yang mengurus. Sedangkan Embun menemani Melati yang masih pingsan.
"Adiknya ya kak?" tanya perawat pada Embun. Embun diam, takut salah jawab. Karena dia takut mereka dilaporkan ke kantor polisi karena menabrak seseorang.
"Kenapa bisa terluka? ibu ditabrak mobil Ibu ya?" pertanyaan perawat benar-benar membuat Embun tersudut.
"Iya Sus, adik ini tiba-tiba melintas di depan kami. Tapi, dia tidak kena tabrak. Dia hanya terjatuh di aspal." Ucap Tara tegas. Perawat hanya diam setelah mendengar penjelasan Tara.
Dokter pun datang memeriksa. "Bagaimana tekanan darahnya?" tanya sang dokter kepada perawat.
"Lemah dok, 80/60mmhg. Denyut nadinya juga lambat." Ujar sang perawat, saat dia mencecar Embun dengan berbagai pertanyaan, perawat itu memeriksa keadaan Melati.
"Kita rawat inap ya Pak Bu." Tawar sang Dokter.
"Iya dok, gimana bagusnya. Sekalian dia di Rontgen juga Dok. Siapa tahu tukangnya ada yang patah atau retak." Ujar Tara, merangkul Embun yang berdiri di sebelahnya.
Sang perawat melirik mereka dengan tersenyum tipis. Merasa tidak suka dengan keromantisan Tara dan Embun.
"Iya Pak. Kita rawat ibu ini. Dia akan di Rontgen setelah sadar. Ayo sus antar ke ruang rawat. Dia juga harus di infus. Cepat sadarkan dia." Suster dengan cepat melaksanakan perintah Dokter. Tara dan Embun mendampingi Melati.
"Adek nya Bu?" Tanya perawat satunya lagi. Kinu Perawat itu sedang mencari pembuluh darah Melati. Mereka akan memasangkan infus.
Embun dan Tara saling pandang, merasa heran dengan pertanyaan sang suster.
"Gak Sus. Kami tidak kenal adik ini. Kami menemukannya di jalan." Jawab Embun apa adanya.
Saat itu juga, ponselnya Melati kembali berdering. Ponsel itu ada di dalam BB tas ranselnya Melati. Tas itu sedang di sandang oleh Tara. Tara merogoh tas ranselnya Melati dan mengangkat panggilan itu. Yang menelpon adalah Ilham. Menanyakan di mana lokasi Melati saat ini. Tara pun menjelaskan semuanya.
TBC
__ADS_1