
Desi masuk membawakan pesanan Ardhi dengan banyaknya tanda tanya berputar-putar di kepalanya. Dia belum menanyakan semua apa yang sebenarnya terjadi pada Boanya itu kepada Rudi, saat di telpon tadi. Karena, Rudi sibuk mengurus kantor cabang mereka. Desi yang meletakkan pesanan Bosnya, melirik Melati dengan senyum Pepsodentnya. Kini Istri Bos nya itu sudah duduk di sofa, sedangkan Ardhi duduk kursi kerjanya, sedang membuka rekaman hasil cctv.
"Hidangkan Des!" titah Ardhi pada Desi. Iya Bos, Desi pun keluar dari ruangan itu. Masih melirik-lirik Melati, yang nampak tidak rileks itu. Desi pun mengambil perlengkapan makan di pantry. Dia kemudian kembali masuk ke ruang Bosnya dengan tersenyum ramah. Mulai menyiapkan makanan untuk Melati, yaitu sup daging. Desi juga menghidangkan makanan yang dibawa oleh Melati, karena masih ada makanan yang tidak tumpah. Hanya tumis brokolinya yang keluar dari wadah, saat jatuh ke lantai.
"Kak Desi, saya bisa sendiri." Melati membantu Desi menyiapkan makan sore itu.
"Iya Nona, gak apa-apa, ini sudah tugas saya." Jawab Desi ramah. Dia harus menghargai Melati, kalau ingin selamat kerja di perusahaan itu.
"DESI, KE SINI KAMU!" Desi yang sudah selesai menghidang makanan itu di atas meja dengan bantuan Melati, dibuat terlonjak kaget dengan suara Ardhi yang kuat dan terdengar menyeramkan itu. Melati saja, sampai ikut terkejut melihat ekspresi wajah Ardhi yang tegang itu. Desi pun menghampiri Bosnya, dengan mencoba untuk tenang.
"Iya Bos." Menghampiri Ardhi dengan tidak tenang. Sepertinya akan ada bahaya yang aakn datang.
"Setengah jam sebelum pulang. Semua karyawan harus berkumpul di ruang rapat. Siapa yang tidak ikut rapat. Besok dia tidak usah masuk kerja lagi." Titah Ardhi geram, menutup laptop dengan kasar. Harga dirinya benar-benar terinjak melihat sang istri dilecehkan saat di loby.
"Satu lagi, kamu cairkan uang sekarang. Ini ceknya." Memberikan cek kepada Desi.
Kening Desi mengerut bingung. "Bos, ini sudah pukul 15.20 WIB, bank sudah tutup untuk pelayanan." Desi meletakkan kembali cek di atas mejanya Ardhi. Pria itu ingin memberikan uang yang banyak pada Melati. Dia teringat dengan ucapan sang istri yang minta uang.
Melati hanya bisa berpura-pura sibuk mengambil makanan untuk ya sekaligus menguping pembicaraan Ardhi dan Desi, yang arah pembicaraannya kurang dipahaminya.
Ardhi mengambil ponselnya yang ada di atas mejanya. Kemudian jarinya sibuk berselancar di benda pipih itu. "Periksa ponselmu sekarang., sebelum rapat di mulai. Apa yang ku perintahkan harus beres.
"Baik bos." Desi keluar dari ruangan itu dengan sesekali melirik Melati yang juga menatapnya dengan tersenyum.
Ardhi pun menghampiri sang istri. Duduk di sofa yang sama di sebelah kirinya"Mas lapar." pria itu pun mengambil satu sendok sup, bukannya memasukan ke mulutnya, malah menyodorkannya pada sang isteri.
"Ayo makan!" tersenyum dan sedikit memaksa agar Melati membuka mulutnya. Hati Melati tersentuh dengan perhatian Ardhi. Dengan mata yang berkaca-kaca, dia pun membuka mulutnya dan memakan daging sup itu. Ardhi kembali menyuapi Melati dan sesekali dia menyodorkan nasi juga.
"Adek harus banyak makan. Agar anak kita tumbuh dengan sehat." Ardhi mengelus perut datarnya Melati yang masih ditutupi gamis istrinya itu. Melati hanya diam dengan tersenyum tipis dengan ucapan dan perlakuan Ardhi. Dia masih sedikit canggung dengan sentuhan Ardhi. Tapi, dia sudah mau menerima sentuhan itu dengan ikhlas.
"Mas gak makan?" Dari tadi suaminya itu, hanya menyuapinya saja.
"Makan dong, tapi setelah adek selesai makan. Mas ingin cicipi ayam semur masakan adek yang enak itu." Menunjuk ke wadah ayam semur, dengan perasaan bahagia.
"Kalau mau datang, kenapa tidak kabari Mas " Masih menyuapi sang istri.
"Mau kasih surprise, gak tahunya Mas yang kasih surprise buat Adek." Raut wajah sang istri mendadak mendung.
Ardhi bingung dengan maksud ucapan istrinya itu. "Surprise apa sayang." Ardhi tersipu malau, dia merasa belum terbiasa memanggil Melati dengan sebutan Sayang.
"Adek nungguin chat dari Mas. Tapi, gak ada. Biasanya juga, chat adek kalau sudah sampai di kantor." Melati cemberut melihat ekspresi wajah suami yang meledeknya.
"Oohh nungguin chat dari Mas. Biasanya juga gak suka Mas chat."
Eehhmmm... Melati memiringkan bibirnya. Gak suka digoda oleh sang suami.
"Maaf ya sayang, hari ini Mas sibuk sekali. Jadi gak sempat chat adek. Sesampainya di kantor. Mas langsung meeting. Setelah itu, menyelesaikan kasus Ibu bersama Lidya." Ardhi memang sibuk, pagi itu dia memimpin rapat, menyusun strategi untuk menstabilkan harga sahamnya. Selesai rapat pukul 10, dia dan Lidya lanjut membahas kasus Sang ibu. Ardhi bukannya lupa dengan Melati saat itu. Dia selalu ingat dengan sang istri. Tapi, dia juga lagi fokus dikerjaan.
"Emang ngapain saja dengan Kak Lidya itu?" melirik Ardhi di sebelahnya dengan ekor matanya. Dan menunjuk kerah baju sang sukai yang ada noda merahnya.
__ADS_1
Ardhi tertawa lebar. Istrinya itu lucu juga saat cemburu. Tingkahnya gemesin, malu-malu tapi penasaran.
"Ya gak ngapa-ngapain, hanya siapkan dokumen untuk membela ibu." Masih tersenyum bahagia. Merangkul Melati dari belakang. Dia tidak menyangka secepat ini cinta dengan istrinya itu.
Melati berontak manja, saat tangan suami dari belakang merangkulnya. "Kalau gak ngapa-ngapain, kenapa ada noda lipstik di sini." Memegang kerah baju Ardhi yang warna olive dengan cemburunya.
"Mana? mana ada noda lipstik?" melepas rengkuhan tangan dari sang istri. Pura-pura sibuk mencari noda lipstik yang dimaksud Melati.
"Ini Mas." Merajuk dan menjauh sedikit dari Ardhi. Tapi, Ardhi malah mendekat.
"Emang ini lipstik?" Ardhi pura-pura bingung dengan noda lipstik di kerahnya.
"Iihhh... pura-pura deh." Menautkan kedua alis, geram dengan Ardhi.
"Iya."
"Masak sih?"
"Tau aakhh... capek." Melati memalingkan wajahnya, setelah menyambar gelas berisi air mineral dan meneguknya.
"Cemburu nih. Cemburu tanda cinta." Mentoel pipi Melati yang sudah bersemu merah.
"Cinta, secepat itu?" ucap Melati menoleh ke arah Ardhi yang kini menganggukkan kepalanya.
"Jatuh cinta itu mudah yang sulit adalah mempertahankan orang yang kita cintai. Adek pasti pernah dengar istilah cinta pada pandangan pertamakan?" Melati mengangguk dengan wajah seriusnya.
"Salah satu adek sudah jatuh cinta dengan Mas, adalah adek yang cemburu pada Mas. Saat Adek melihat Mas dengan Lidya tadi. Iya kan?"
"Eehmmmm... Ya sudah kalau gak cinta, gak apa-apa. Yang penting, nanti malam, kita lanjutkan yang tadi sempat tertunda." Menyeringai Melati yang membuat Melati bergidik bahu. Karena Ardhi menggosok-gosok wajah di pertengahan leher Melati yang ditutupi hijab itu.
Melati terdiam, teringat aktifitas intim mereka yang tanggung itu. Jujur dia juga jadi menginginkannya. Rasanya begitu mendebarkan. Membuat seluruh urat nadi bergetar hebat.
"Ini tadi pasti lipstiknya Lidya. Dia kesandung di sini." Menunjuk karpet yang mereka pijak. "Jatuhnya ke dada Mas " Melati cemberut mendengar ucapan Ardhi.
"Kalau Adek cemberut tambah cantik, jadi gak sabar nanti malam."
"Iihh... apa an sih Mas " Malu-malu tak berani menatap Ardhi.
"Eehmmm gak percaya?" Melati menggeleng.
"Terus kenapa saat baru keluar dari lift. Kak Lidya, menyentuh bibir Mas. Kalian seperti habis berciuman di lift." Menampilkan muka masam.
"Oohh itu, ada pasta di sudut bibir Mas. Tadi tu, Lidya keluar beli makanan. Kami makan spaghetti. Rencananya habis makan, jenguk ibu di rumah sakit, sekalian lengkapi berkas pembelaan untuk ibu dari data yang didapat di rumah sakit." Jelas Ardhi lembut penuh, yang membuat Melati mendengarkannya dengan terharu sekaligus sedih. Kalau disingung tentang Ibu Jerniati, suasana hatinya jadi buruk. Dia sebenarnya ingin sekali melihat kondisi ibu mertuanya itu. Tapi, dia belum yakin sanggup untuk bertemu Ibu Jerniati.
"Oh ya Mas. Apa Ini sudah tahu, kalau kita sudah menikah?" memperhatikan tangan Ardhi yang menggenggam tangannya dengan penuh kasih sayang itu.
"Sudah, Anggun sangat terobsesi dengan Mas. Disaat dia tahu Mas menikah dengan Adek. Dia pun buat kekacauan dengan menyebar video tak senonohnya Ibu dan video mas dengannya juga." Jelas Ardhi melap air mata Melati yang jatuh membasahi pipi putihnya.
"Koq malah nangis?"
__ADS_1
"Kapan Nyonya besar akan menerima Melati dan tidak membenci Melati lagi Mas."
"Ibu pasti akan menerima adek. Apalagi jikalau ibu nanti tahu siapa adek. Aduuhh... Mas gak tahu deh, gimana reaksi Ibu nanti, jika tahu adek itu putrinya siapa? bisa-bisa kena serangan jantung doubel nanti ibu."
"Mas koq bicara seperti itu sih?" Melati tidak suka Ardhi bicara seperti itu.
"Emang nyatanya ibu seperti itu. Dia suka uang, Mas gak akan tutupi fakta itu."
Tok
Tok
Tok
"Pak Ini saya Desi."
"Masuk .!" Desi masuk dan meletakkan tiga paper bag di atas meja.
"Pak, semua karyawan sudah berkumpul di ruang rapat." Bicara dengan sopannya.
"Baiklah, kaku boleh keluar." Sang sekretaris pun keluar, masih sesekali melirik Melati. Dia semakin penasaran dengan Melati.
"Adek mandi ya, ini baju ganti adek." Menyodorkan tiga paper bag berisi pakaian, sepatu dan tas untuk Melati.
"Mandi?" Ardhi mengangguk. Melati ragu untuk mandi.
"Mau Mas temeni?"
"Gak usah Mas."
"Adek mandi, Mas tunggu di sini. Mas akan kenalkan adek pada karyawan Mas."
"Mas suruh adek mandi, karena Mas malu dengan Adek kan?" Melati cemberut dan menarik diri.
Kening Ardhi mengerut, mendengar ucapan sang istri. Siapa juga yang malu. Ardhi tidak malu dengan apa yang dipakai istrinya itu. Hanya saja, penampilan Melati sudah sedikit lusuh, Karena gamisnya juga sudah kusut. Akibat aksi panas mereka.
"Gak sayangku? koq jadi bawel ya? perasaan kemarin pendiam."
Melati terdiam, namanya juga perempuan, kalau sudah cerewet itu tandanya cinta dan sayang. Tapi, kalau sudah diam dan tak mau tahu, itu tandanya game over.
"Gamis adek sudah kusut. Mas gak pernah malu, bagaimana pun keadaan adek. Mas hanya jalankan tugas, seperti kata adek tadi. Memberikan adek sandang pangan dan papan, atau istilahnya nafkah lahir. Biar nanti malam, adek kasih Mas nafkah batin." Raut wajah seriusnya Ardhi membuat Melati prihatin. Sepertinya di otak suaminya itu hanya nafkah batin.
"Iya Mas." Melati bangkit dari duduknya. Ardhi pun melakukan hal yang sama. Dia pun dengan cepat menggendong sang isteri membawanya berlari kecil ke dalam kamar mandi.
"Mas, jangan lari. Adek takut jatuh." Melati berpegangan kuat pada leher sang suami, dimana kedua tangannya sudah membelit, leher kokoh itu.
"Adek itu ringan, paling juga 45 kg." Mas dulu biasa, angkat karung semen."
TBC
__ADS_1
Author seneng sekali kalau diberi like, comen dan vote🙂