
Author POV
"Bang, ada apa? kenapa panik gitu?" tanya Mama Nur kepada suaminya Baginda. Mereka masih di kantor polisi mengurus masalah perkebunan mereka yang terbakar.
Pak Baginda bangkit dari duduknya, menatap istrinya yang bengong di kursinya.
"Kita harus pulang, ada tamu pria yang mencari Embun dan sekarang, pria itu sedang mengobrol dengan Ibu." Ucap Pak Baginda dengan tidak tenang. Dia baru saja mendapatkan telepon dari anak buahnya. Pak Baginda Kemudian berjalan meninggalkan kantor polisi, yang gerakan nya diekori Istrinya.
Sementara Tara dan Embun sedang diperjalanan menuju rumahnya Embun. Keduanya diam membisu, hanya suara musik Batak toba yang terdengar menyayat hati Embun. Karena lagu yang sedang diputar, merupakan curahan hati Embun saat ini.
Sai Horas Ma Ho Tu Si Boru Lomomi. Itulah judul lagu Batak Toba yang lagi viral saat illni. Baik di tiktok atau pun di YouTube.
Tara tidak berani bertanya, kenapa Embun masih menangis. Padahal tadi saat di bukit Simago-mago. Dia sudah setuju, untuk bicara dengan keluarga besarnya.
"Adek tidak perlu bersedih begitu. Sesampainya di rumah. Ini kita bicarakan kembali. Kebetulan hari ini Ompung Boru juga di rumah kalian." Ucap Tara datar, berusaha menenangkan Embun yang nampak tidak tenang itu. Walau hatinya sakit mengatakan itu. Karena Dia sangat mencintai Embun dan ingin memilikinya.
Embun melirik ke arah Tara, melap air matanya dengan menyambar tisu yang ada di dekat jok sebelah kanannya. Memperhatikan seksama Tara yang masih fokus menyetir.
"Terimakasih, Aku juga sangat yakin. Abang tidak menginginkan pernikahan ini. Abang itu pria mapan, perfect lah. Tentunya akan mencari pendamping yang selevel. Bukannya wanita seperti saya. Anak kuliahan dan dari keluarga biasa saja. Ditambah, kita musuhan. Mana mungkin, kita menikah." Ucap Embun serius, mencoba menduga-duga pemikiran Tara.
Dia merendahkan dirinya. Karena Dia belum jadi wanita sukses. Ditambah, kekayaan keluarga Tara sangat jauh di atas keluarga Embun. Ayah Tara yang pengusaha sukses, punya perkebunan tebu dan pabrik gula yang besar di beberapa kota besar di Indonesia, bahkan di manca negara.
Sedangkan keluarga Embun, hanya punya perkebunan salak.
Tara hanya tersenyum sinis menanggapi ocehan Embun, yang kini sudah menoleh ke arahnya.
"Ternyata otakmu masih bagus juga berfikir, cepat sinkron. Aku hanya menghargai Keluarga besar kita, makanya menerima perjodohan ini. Kalau Adek keberatan. Itu sangat bagus. Jadi, Abang ada teman menolak." Ucap Tara datar. Menarik napas dalam. Mencoba menenangkan hatinya yang sakit mengatakan itu. Dia sedang menyembunyikan perasaannya.
Dia terlalu mencintai Embun, sehingga Dia hanya akan mengikuti kemauan Embun. Embun ibarat kembang yang tidak akan dipetiknya, kalau itu akan menyakiti wanita itu. Karena Dia mengetahui fakta wanita itu masih membencinya.
__ADS_1
Raut wajah sedih Embun kini berubah sudah jadi ceriah. Ternyata Paribannya itu, bisa diajak kompromi.
"Karena Abang sudah mengabulkan permintaanmu dengan membatalkan perjodohan ini. Maka, balasannya kamu harus memaafkan Abang. Jikalau dulu, Abang ada salah." Ucap Tara melirik Embun yang nampak keberatan dengan permintaannya itu.
"Gimana? apa peristiwa itu tidak bisa kamu lupakan?" Tara memperhatikan raut wajah Embun yang kembali mendung. Sepertinya ini bukan moment yang tepat untuk membahas trauma nya Embun.
Tara pun kembali fokus menyetir, karena Embun tidak meresponnya, tinggal beberapa meter lagi. Mereka akan sampai di rumah Embun.
Tepat di depan gerbang rumahnya Embun, ponsel Tara yang berada di saku celana bergetar. Tara tidak langsung merogoh ponsel itu dari saku celananya. Karena mereka sudah di depan gerbang, mau masuk ke pekarangan rumah Embun. Hingga setelah mobil terparkir, tepat disebelah mobil asing. Tara pun merogoh ponselnya yang tidak pernah berhenti bergetar itu.
Sementara Embun memperhatikan dengan lekat mobil yang parkir disebelah mobil yang ditumpanginya sekarang.
Melihat mobil yang dikenalinya itu, membuat jantungnya berdetak cepat. Hatinya sibuk menduga-duga, sekaligus senang dan cemas. Dia pun bergegas turun dari mobilnya Tara dengan tidak sabaran nya. Sedangkan Tara mengangkat telepon yang ternyata dari Tulangnya yaitu Ayah Embun Pak Baginda.
"Walaikumsalam, iya tulang." Jawabnya dengan tidak konsentrasi. Melihat Embun yang berlari menuju teras rumah dengan ekspresi seperti dapat bongkahan emas.
"Jangan bawa Embun ke rumah. Kamu bawa dulu Dia ke rumah kalian." Terdengar suara Pak Baginda tidak tenang. Kening Tara menyergit. Karena heran dengan perintah Tulangnya itu.
"Apa? ya sudahlah. Tulang tutup dulu. Assalamualaikum...!" suara Pak Baginda terdengar frustasi. Tara pun menggeleng kan kepalanya. Karena tingkah tulangnya yang aneh.
Saat berjalan ke dalam rumah, kedua manik Tara pun langsung bergerak cepat melihat pemandangan tak biasa dihadapannya.
Dia melihat Embun dan mendengar dengan jelas. Suara Embun yang memanggil nama seseorang dan saat itu juga, Embun berhambur kepelukan seorang pria yang berdiri di dekat kursi tamu, di teras rumah itu.
"Mas Ardhi----!" Hati Tara terasa begitu sakit, mendegar suara isakan Embun dalam dekapan pria, yang diyakini Tara adalah kekasih Embun.
Tara terbengong, diam mematung menyaksikan adegan penuh penghayatan yang dilakoni Embun, saat mendekap Mas Ardhinya. Rasanya kini Tara seperti terhempas ke dalam jurang yang dibawahnya ada ombak besar siap menggulungnya, membawanya tenggelam. Ya tenggelam bersama impian yang akan sirnah didepan mata.
Jujur hatinya sakit melihat tontonan dihadapannya. Tapi, Dia harus bisa bersikap tenang. Karena Dia juga sudah mengatakan kepada Embun. Kalau Dia tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi jelas sudah, Embu. tidak akan memikirkan perasaan nya sekarang.
__ADS_1
Betapa hancur hatinya Tara, melihat Embun meluapkan kerinduannya kepada kekasihnya itu. Namun ia mencoba tuk tegar menghadapinya.
"Mas Ardhi, Aku sangat yakin. Kamu pasti datang. A--ku, A--ku,!" Embun masih menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ardhi yang berusaha menenangkan Embun. Dia mengusap-usap lembut punggung Embun.
Saat itu juga perhatian Ardhi tertarik, melihat langkah kaki mendekat kearah mereka. Ardhi pun mendongak, sehingga Dia bersitatap dengan Tara, yang menampilkan ekspresi wajah kalah berperang sebelum bertempur. Nampak prustasi sekali.
Tara pun sedikit terkejut melihat pria yang memeluk Embun. Pria itu, mirip sekali dengan relasi bisnisnya yang melakukan zoom meeting dengannya tadi siang. Apalagi mata Tara, melirik topi yang tergeletak di atas meja. Topi itu sama persis dengan topi yang dikenakan, rekan bisnisnya yang bernama Ardhi juga.
Ardhi yang melihat sosok Tara dihapannya cukup terkejut. Tapi, Dia tidak terlalu memperdulikannya. Saat ini yang membuatnya penasaran adalah keadaan Embun kekasihnya.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi. Mas kan sudah disini." Ardhi masih berusaha menenangkan Embun yang memeluknya erat. Embun menumpahkan segala kesedihan yang dirasakannya dalam satu Minggu ini. Sikap Ayahnya yang menurutnya terlalu berlebihan. Membuat nya ingin berontak.
"Iya Mas," Embun masih menangis tersedu-sedu. "Bawa Aku dari sini. Ayo kita pergi sekarang dari sini." Ucap Embun masih terisak. Dia tidak peduli lagi dengan orang disekelilingnya yang memperhatikan nya. Yaitu Tara dan Ompung Boru mereka yang mematung di ambang pintu. Tangannya memegang sebuah undangan dengan gemetar. Melihat tontonan yang disuguhkan Paoppunya(cucu nya) itu.
Tadi saat Ardhi bertamu ke rumah Embun. Ardhi yang supel dan sopan itu, langsung akrab dengan Ompungnya Embun. Sehingga percakapan basa -basi keduanya terhenti. Disaat Ompungnya Embun, ingin menunjukkan sebuah undangan kepada Ardhi. Walau saat itu Ompung tidak mengatakan bahwa undangan itu adalah undangan pernikahan Embun.
Kedua manik rabunya Ompung Embun kini sudah berkaca-kaca. Menduga hal negatif, akan tingkah cucunya yang berpelukan dihadapannya dan Tara.
"Iya, kita akan pergi." Ardhi masih mengelus-elus punggung Embun. Dia pun mengurai pelukannya. Menatap Embun dengan penuh cinta. Melap air mata Embun dengan jemarinya.
Melihat perlakuan Ardhi kepada Embun. Tara hanya bisa menangis dalam hati. Dia kalah, game over. Kekasihnya Embun yaitu Ardhi, begitu mencintainya. Tara pun semakin pesimis.
"Iya Mas. Bawa Aku dari neraka ini." Embun kembali memeluk erat Ardhi. Dia sungguh seperti orang kesurupan. Tidak mempedulikan orang sekelilingnya. Yang terpenting buatnya saat ini, menumpahkan segala kerinduan dan kesedihan kepada kekasihnya yang baik hati dan pengertian itu.
Sungguh adegan yang diperankan Embun sudah membuat tiga manusia emosi. Dan kadar emosi ketiga manusia itu berbeda-beda.
Ketiga manusia itu adalah Tara, Ompung Boru dan Pak Baginda yang dari tadi sudah sampai di halaman rumah. Menatap Embun dan Ardhi penuh amarah. Tentunya emosi yang paling tinggi adalah Pak Baginda. Dia tidak terima putrinya dipeluk dihadapannya.
Door.... Suara senapan angin terdengar kuat di atmosfer yang tertutup awan hitam pekat. Sepertinya akan turun hujan badai petir.
__ADS_1
"EMBUN----!" Pak Baginda berteriak penuh dengan emosi, berjalan cepat ke arah Embun. Tangannya memegang senapan angin.