
"Ada apa ini Ma?" Ardhi tampak masuk ke kamarnya Melati. Dia sudah ada firasat, bahwa ibunya itu akan mendatangi Melati.
"Eehh sayang, koq belum berangkat kerja?" Ibu Jerniati malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Kerja? bukannya tadi Mama melarang Ardhi pergi kerja, karena nanti siang kita ke rumahnya Anggun." Ibu Jerniati tersenyum masam, melirik Melati yang masih menundukkan wajahnya.
"Ya ampun, koq Mama jadi lupa. Ayo kita keluar, Mama ingin memberi sesuatu untukmu." Sang Ibu menarik lengan Ardhi, tapi Ardhi tidak mau beranjak dari tempatnya.
"Ada yang ingin ku bicarakan dengan Melati, Mama keluar saja dulu." Ucapan putranya itu membuat sang ibu jadi kesal. Apa yang mau dibicarakan dengan pembantu.
Ibu Jerniati yang penasaran, malah tidak mau pergi dari tempat itu.
"Loh Mama koq masih di sini? bukannya mau pergi?" Ardhi menoleh kebelakang, menatap ibunya yang nampak kesal. Ardhi tahu penyebab kekesalan ibunya itu. Dia sengaja, ingin memancing Ibunya itu dan mempertegas sikapnya. Agar Melati aman.
"Mama tunggu kamu, ayo cepatlah bicara dengannya." Ketus Ibu nya itu.
"Sudah sehat Mel?" suara Ardhi yang ramah, membuat sang ibu merengut, wajahnya masam sudah.
"Iya, sudah pak!" Melati masih menundukkan pandangannya.
"Seminggu berapa hari kamu masuk pagi kuliahnya?" Melati akhirnya mengangkat wajahnya, mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Dua hari pak,"
"Pulang jam berapa?"
"Kalau masuk pagi, pukul 12.00 WIB, sudah pulang Pak." Jawabnya ramah.
"Oohh.. Aku lagi butuh karyawan di kantor. Tepat nya sih sebagai Office Girl. Kamu tahu Office girl kan?" Ardhi mendudukkan bokongnya di kursi plastik. Ibu Jerniati masih setia menunggu Ardhi bicara dengan Melati dia lagi nguping.
"Tahu pak." Jawab nya sopan.
"Aku akan naikkan gajimu. Tapi tugasmu jadi tambah. Selain membersihkan kamarku dan memasak untukku. Kamu jadi Office Girl di kantor dan tugas tambahan di ruang laundry, kamu kembalikan kepada Yanti. Gimana, mau?" Ardhi tersenyum disaat Melati menoleh ke arahnya. Tentu saja Melati kembali menundukkan wajahnya. Dia malu, ditatap terus oleh Ardhi.
"Aaku,"
"Kamu apaan sih sayang? di sini banyak kerjaan, kenapa malah memintanya kerja di perusahaanmu. Kamu bisa rekrut karyawan baru." Ibu Jerniati tidak mau anaknya itu selalu dekat dengan Melati. Jarang ketemu saja, anakanya itu sudah kepincut, Apalagi kalau tiap hari bertemu.
"Di sini gak banyak kerjaan Ma. Saat ini aku lagi butuh tambahan karyawan di ruangan ku. Menurutku Melati orang yang cocok untuk itu. Dia pandai buat kopi. Pandai bersih-bersih. Kerjaan lagi numpuk Ma. Jadi aku butuh Office Girl." Ucap Ardhi tegas.
__ADS_1
Dia sengaja menawarkan kerjaan itu pada Melati. Agar sang Ibu jarang bertemu dengan Melati di rumah. Dia tahu ibunya itu tidak suka lada Melati. Dan entah kenapa dia jadi ingin melindungi wanita itu. Coba seandainya ibunya tidak bersikap berlebihan pada Melati. Mungkin Melati hanyalah pembantu biasa yang tidak dia kenal di rumah itu.
"Gimana Mel? kamu mau kan? kampus dan kantor kita searah, bahkan dekat. Lewat pintu samping kampus kalian, bisa jalan kaki ke kantor." Ujar Ardhi, berusaha meyakinkan Melati.
Gadis itu melirik Ibu Jerniati yang dari tadi mempelototinnya. Takut akan tatapan kejam Ibu Jerniati, Melati pun langsung memalingkan pandangannya.
"Sudah, kamu beres-beres. Kita berangkat kerja sekarang." Ardhi meninggalkan kamar itu, yang diikuti oleh ibunya.
"Ardhi, sayang... kenapa kamu malah pergi ke kantor. Nanti siang kita harus ke rumah Anggun." Sang ibu menahan tangan Ardhi agar berhenti.
Ardhi membalik badannya. "Iya Ma, Ardhi tahu itu. Ardhi hanya sebentar di kantor. Nanti balik lagi." Jawabnya berjalan ke kamarnya.
"Sayang, kamu kenapa baik banget kepada pembantu itu?" ucap Jerniati kesal. Ardhi menghentikan langkahnya.
"Karena ibu jahat kepadanya." Jawabnya tegas, melanjutkan langkahnya ke kamar. Sang Ibu diam mematung. Sejak Melati tinggal di rumah itu. Putranya itu banyak berubah. Jadi lebih sensitif.
Ibu Jerniati tidak puas dengan jawaban Sanga anak. Dia pun terus mengekor dibelakang Ardhi.
"Hari ini ku dengar Mama bersikap kasar padanya." Ucap Ardhi
"Ardhi....!" sang ibu tidak terima diperingati.
"Kekhawatiran Mama yang berlebihan itu, membuatku jadi benar-benar memikirkannya Ma. Jadi Ardhi mohon, bersikap biasa saja padanya. Agar Ardhi tidak kepikiran pembantu itu." Ardhi menyambar tas nya dari meja kerja. Berjalan cepat mendahului Ibunya yang masih syok dengan ucapan putranya itu.
Saat sampai di ruang tamu, Ardhi hendak membelok ke kamarnya Melati. Untuk memanggil wanita itu. Tapi, dia terlanjur melihat Melati sudah berdiri menunggunya di teras rumah.
Ardhi senang, ternyata wanita itu cepat juga gerakannya.
"Ayo!" Ardhi mengkode dengan tangannya, agar Melati mengikutinya ke dalam mobil. Ternyata ada Ilham di pos Satpam.
Melati yang hendak masuk ke dalam mengurungkan niatnya masuk. Dia ingin berbicara dengan Ilham.
"Tuan, temanku datang. Bolehkah aku menyapanya sebentar saja?" tanya Melati ragu, tidak mungkin dia mengabaikan Ilham. Padahal dia melihat kedatangan pria itu.
"Ok!" jawab Ardhi singkat. Padahal dia keberatan. Melihat Melati bersama Ilham.
"Dek, mau ke mana? bukannya hari ini kamu gak kuliah?" tanya Ilham heran, mau ke mana wanita itu bersama Majikannya.
"Iya Bang, Adel dapat kerjaan tambahan dengan tuan Ardhi." Jawabnya lembut pada pria yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Adek rupanya sudah sembuh sehingga masih mau menjalankan tugas tambahan?" tanya Ilham bingung dan khawatir.
"Sudah Bang."
Tin tin tin...
Suara klakson mobil terdengar keras, menandakan, dia harus masuk ke dalam mobil.
"Bang, adek pergi dulu ya? maaf tidak bisa menjamu Abang." Ujar Melati merasa sungkan
"Iya Dek, semoga sukses." walau pria itu kecewa, karena tidak bisa ngapelin Melati. dia tetap mengeluarkan kata-kata penuh semangat.
"Iya bang." Jawabnya tersenyum, setelah menerima kresek berisi roti selai. Ilham tahu betul makanan kesukaan Melati.
Sesampainya di gedung perkantoran yang megah dan kokoh itu. Ardhi dan Melati menaiki lift dan tujuan merek ke lantai paling atas. Melati terkagum-kagum melihat desain interior ruang kerjanya Ardhi yang bagus dan mewah itu.
"Duduk dulu Mel, saya akan menjabarkan apa saja tugasmu nanti." Ujar Ardhi.
"Iya Pak?" Jawabnya tegas.
"Tugas kamu gak susah, hanya seperti :
- Membersihkan dan merapikan meja,kursi,komputer dan perlengkapan lainnya.
-Membersihkan/vacum karpet atau lantai.
-Menyediakan minuman untuk karyawan.
-Mengirim atau mengambil dokumen antar divisi/bagian.
-Melayani permintaan fotokopi/faksimili.
-Membelikan dan menyiapkan makan siang karyawan.
-Membereskan piring,gelas,& perlengkapan makan siang karyawan.
-Mengambil & membererskan gelas minum dan perlengkapan makan karyawan.
-Membuang sampah yang ada di ruang kerja dan areal tanggung jawabnya.
__ADS_1