DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tegang


__ADS_3

"Ayah," gumam Embun, dengan jantung yang hampir copot dari tempatnya. Embun Refleks melepas pelukannya dari Ardhi. Melangkah mundur selangkah. Dia takut bukan main, mendengar suara amukan Ayahnya itu. Ayahnya yang diktator itu. Tidak terima putrinya dipeluk pria.


Ardhi langsung meraih jemari Embun dan menggenggamnya erat. Saat Embun hendak menjauh darinya. Sorot mata Ardhi yang tenang, membuat Embun ikut tenang. Mata Ardhi seolah berbicara, kita hadapi bersama.


"Embun, apa yang kamu lakukan---!?" Pak Baginda, masih bicara keras dan berjalan cepat untuk menghampiri putrinya, yang tangan kanannya digenggam erat oleh Ardhi. Pak Baginda, semakin panas saja melihatnya.


"Ayah." Ucap Embun pelan, menatap Ardhi kekasihnya. Ardhi tetap bersikap tenang. Tapi, jangan tanya gimana jantungnya saat ini. Jantungnya berdetak cepat dan keras, karena ketakutan.Dia tidak takut kepada Pak Baginda, yang nampak menyeramkan Tapi, Dia takut Embun benar-benar tidak bisa dimilikinya.


Dalam hati Ardhi bergumam. Pantas saja Embun dilarang pacaran. Ternyata calon mertuaku killer.


Tara yang melihat kemarahan Tulangnya itu, dibuat tercengang. Menurutnya sikap Tulangnya itu terlalu berlebihan. Sedangkan Mama Nur, sudah takut dan mengkhawatirkan keadaan putrinya Embun.


Ompung Boru yang masih Berdiri di ambang pintu, dibuat gemetar melihat kemarahan putranya. Undangan yang ada di tangannya terjatuh dan terbang dibawa angin. Karena saat ini, cuaca ekstrem. Angin kencang dan mendung. Sepertinya akan terjadi hujan badai.


"Lepaskan tangan putriku--!!" Puukkkk... Badan senapan angin mengenai tangan Ardhi dengan keras. Karena Pak Baginda memukulkannya ke tangan Ardhi yang memegang tangan Embun.


Sakit, tentu saja Ardhi merasakan sakit ditangannya kena badan senapan itu. Dia sampai merapatkan giginya. Karena menahan sakit.


"Mas Ardhi---!" Embun langsung memeluk Ardhi. Dia kasihan kepada kekasihnya itu. Karena mendapat perlakuan kasar dari Ayahnya.


"Embun---- Kamu----!" Pak Baginda hendak menampar pipi Embun, yang dirasanya putrinya itu tidak punya sopan, memeluk pria dihadapan calon suaminya. Dimana wibawanya Pak Baginda? Dia merasa gagal mendidik putrinya.


Ardhi menghempaskan tangan Pak Baginda yang mengatung di udara.


"Embun darah daging anda, tega anda menyakitinya." Ucapan Ardhi yang tegas, membuat semua orang yang menyaksikan drama itu. Dibuat terdiam, kata-kata Ardhi tepat sasaran.


"Ayo sayang---!" Ardhi menarik lengan Embun, sehingga Embun mengikuti langkah Ardhi. Ini kesempatan baginya untuk pergi. Tara juga setuju pernikahan ini dibatalkan.


Pak Baginda dibuat geram dengan tingkah Ardhi. Wajahnya merah padam. Tangan kirinya mengepal. Dia merasa ditentang.


"Berhenti," ucap Pak Baginda dengan tegas. Memutar tubuhnya menghadap Ardhi dan Embun. Tapi Ardhi dan Embun tidak mau berhenti. Mereka tetap melanjutkan langkahnya.


"Berhenti--!" Cuusss---- Lagi-lagi Pak Baginda, menembakkan senapan anginnya. Tepat disebelah Ardhi yang mengenai Bas Bunga.

__ADS_1


Syukur Tara tidak kena pelurunya. Karena Tara juga sedang berada tepat dihadapan Ardhi dan Embun dengan sikap tubuh mematung. Tidak percaya dengan kejadian hari ini.


Relasi bisnisnya itu ternyata kekasih Embun. Sesaat kejadian di bandara terlintas dipikiran Tara. Akhirnya Dia yakin seratus persen. Ardhi adalah pria yang menggendong wanita dengan sayangnya di Bandara Kuala Namu waktu itu. Dan wanita itu, pasti Embun.


Mengingat moment itu, Tara jadi pesimis. Ardhi ternyata begitu mencintai Embun. Jelas, Tara akan kalah. Karena Ardhi dan Embun saling mencintai. Jadi, tidak ada gunanya lagi melanjutkan perjodohan ini. Toh nantinya Embun akan tersakiti.


Tubuh Embun bergetar saking takutnya, Dia memegangi lengan kiri Ardhi dengan kuat dan air mata tak henti-hentinya jatuh membasahi pipih.


Puukkk---- Pak Baginda memukul punggung Ardhi dengan senapan. Tindakan Pak Baginda, membuat Embun berteriak histeris. Begitu juga dengan Mama Nur. Sedangkan Ardhi, meringis menahan sakit. Syukur otot tubuhnya kuat, sehingga Dia masih bisa menahan sakitnya.


Dia menarik napas dalam, untuk menenangkan dirinya agar tidak terpancing dan tetap sabar.


Tara yang tidak habis pikir dengan kemarahan Pak Baginda yang berlebihan, akhirnya menangkis badan senapan saat Pak Baginda ingin memukulkannya lagi ke kepala Ardhi.


"Hentikan Tulang, jangan main kekerasan. Mari kita bicarakan baik-baik." Tara menarik paksa senapan angin dari tangan Pak Baginda. Sehingga senapan itu kini berpindah tangan. Tara kemudian meletakkan jauh dari jangkauan Pak Baginda.


"Apa kamu buta, Dia akan membawa Embun. Kamu waras gak?" teriak Pak Baginda, menatap tajam Tara, yang menurutnya bodoh, membiarkan calon istrinya dibawa pria lain.


"Kamu, kamu memang tidak waras Tara. Ma, Mama--- bawa Embun masuk ke dalam kamar." Titah Pak Baginda dengan suara keras, memberi kode dengan tangan dan kepada istrinya itu. Tapi, Mama Nur tidak bergeming dari tempatnya. Dia kini sedang mendekap Ibu mertuanya, Ompung Boru mereka yang gemetaran di ambang pintu.


Dia yang sudah tua, darahnya tidak kuat lagi melihat pertengkaran. Apalagi, Dia mengetahui fakta baru. Bahwa Embun sudah punya kekasih. Dan tidak mau menikah dengan Tara. Padahal wanita tua itu, sangat ingin kedua cucunya terikat dalam pernikahan.


Melihat istrinya tidak melaksanakan perintahnya. Akhirnya Pak Baginda turun tangan. Dia menarik paksa Embun yang sedang memeluk erat Ardhi.


"Memalukan sekali kamu jadi putriku. Ayah sudah melarang mu untuk tidak pacaran. Tapi, kamu melanggarnya. Berapa kali Ayah jelaskan kepadamu dari kamu remaja, bahwa pacaran itu dilarang dalam agama kita. Tapi, kamu tidak mendengarkan Ayah, Embun----!" ucap Pak Baginda histeris, masih menarik paksa Embun yang memegang erat Ardhi. Sehingga tangan Embun lepas dari rengkuhan Ardhi.


Pak Baginda melempar tubuh putrinya dan Mama Nur menangkapnya. Dia pun langsung memeluk putrinya itu. Embun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ibunya itu.


Ardhi geram, Dia mengepal kedua tangannya. Ingin rasanya Dia menonjok habis pria dihadapannya yang menentangnya. Tapi, Dia masih punya akhlak. Dia masih menghormati orang tua.


"Aku akan menikahi Embun. Sejak dari awal, aku sudah mengajaknya menikah. Tapi, Dia menolak, dengan alasan. Tidak dibolehkan menikah kalau belum lulus kuliah. Aku tidak pernah kurang ajar kepadanya. Hubungan kami pun masih sewajarnya. Aku masih tahu batasan." Ucap Ardhi menatap lekat Pak Baginda. Menantang tatapan tajam pria otoriter itu.


"Pergi kamu dari rumah ini. Dia sudah punya calon suami. Seminggu lagi pernikahannya." Jawab Pak Baginda, melotot kepada Ardhi.

__ADS_1


"Dia calon menantu saya." Pak Baginda, menatap ke arah Tara, yang menampilkan wajah panik dan tegang itu. Pasalnya Ardhi adalah rekan bisnisnya.


"BUKAN KAMU, PERGI-----!" Pak Baginda kembali berteriak menunjuk ke arah pagar rumahnya.


Ardhi menatap satu persatu orang disekitarnya. Wajah-wajah lembut dan penuh kasih sayang, terlihat di wajah Mama Nur, Ompung Boru dan Embun. Tapi wajah Pak Baginda, seperti wajah setan yang menyebalkan di penilaian Ardhi.


"Saya tidak akan pergi, sebelum membawa Embun." Ucap Ardhi, melangkah mendekat kepada Mama Nur dan Embun serta Ompung Boru.


Pak Baginda langsung menghadang. "Pergi kamu, sebelum saya kerahkan anak buah saya mengusirku paksa dari rumah ini." Ucap Pak Baginda dengan mendorong dada Ardhi.


Embun sudah menangis sejadi-jadinya, Tara pun tidak tahu harus berbuat apa Tulang nya itu, bar bar sekali.


"Saya tidak akan pergi, sebelum membawa Embun bersama saya." Ketus Ardhi, tidak bergeming dari tempatnya.


"Brengsek---!" Pak Baginda, ingin menghadiahi satu tinjunya ke pipi Ardi. Tapi, Ardhi menangkisnya.


"Jangan main otot, anda tidak lebih hebat dari saya." Hardik Ardhi menatap tajam Pak Baginda.


"Tulang, tenang. Kita bicarakan baik-baik. Ayo kita masuk ke dalam. Kita bicarakan dengan hati dingin. kita cari solusi yang terbaik." Ucap Tara memegang bahu kanan Tulangnya.


"Bodoh kamu.!" Pak Baginda, menepis tangan Tara.


"Bawa Masuk Embun." Titah Pak Baginda kepada istrinya. Mendengar itu, Embun takut. Dia pun meronta dari Mamanya, Kembali me dekat kepada Ardhi. Menarik lengan Ardhi.


Ardhi yang tahu maksudnya Embun. Langsung bergerak cepat melangkah bersama Embun.


Pak Baginda geram, Dia naik pitam. Bisa-bisanya pitrinya itu, tidak menghargainya.


"Embun berhenti---!" teriak Pak Baginda. Teriakan Pak Baginda tidak digubris Embun. Malah Ompung Boru yang terjatuh pelan dan memegangi kusen pintu sebagai penopang berat tubuhnya. Mama Nur yang disebelahnya tidak memperhatikan Ompung Boru yang jatuh pingsan. Karena sedih melihat putrinya memilih pergi dengan laki-laki lan.


"Ucok, Togar, Horas, Udin---! kesini kalian---!" teriak Pak Baginda, sehingga anak buahnya yang sedang berada di gudang, tepat disamping rumah, sedang mengepak buah salak untuk dijual, berlari ke TKP (Tempat kejadian Perkara).


"Halangi Dia untuk membawah Embun. Usir Dia dari rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2