
"Ayo Dok, cepat periksa keadaan Ibu." Ardhi tidak menanggapi ucapan sang Dokter yang mengatakan baru keluar dari kamar Melati. Karena, wanita itu tidaklah spesial buatnya, seperti tuduhan Ibunya. Tentu saja Ibunya lebih utama dari segalanya.
Dokter mulai memeriksa tekanan darah wanita tua itu. Kemudian memeriksa urat nadinya dan tak lupa memeriksa dada dan perut dengan menggunakan stetoskop. Ardhi memperhatikan lekat sang ibu yang masih menutup mata. Ardhi sangat mengkhawatirkan wanita itu. Hanya itu hartanya yang paling berharga saat ini.
"Tekanan darahnya normal, ibunya pak Ardhi hanya perlu istirahat dan usahakan ibu jangan banyak pikiran, jangan setres lah pokoknya pak." Ujar Dokter, penuh keyakinan. Ardhi kurang percaya dengan ucapan sang Dokter. Betulkah ibunya itu baik-baik saja.
"Kalau baik-baik saja. Kenapa ibu pingsan Dok?" pria itu semakin bingung saja, kekhawatirannya kepada ibunya itu semakin menjadi.
Ardhi mendudukkan tubuhnya di sebelah kanan ibunya itu. Menempelkan punggung tangannya di kening wanita tua itu. Ardhi perlu memeriksa suhu tubuh ibunya. Tidak panas, suhunya seperti suhu orang sehat.
"Tenang saja Pak, sebentar lagi Ibu Jerni akan sadar." Sang Dokter menyimpan stetoskopnya ke dalam tas nya.
"Yang paling dikhawatirkan itu pembantu bapak. Dia itu sudah dehidrasi. Tadi saya sudah beri obat paling bagus, agar mencretnya berhenti dan ususnya kembali sehat." Dokter pun bersiap-siap untuk pamit.
Ardhi hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Dokter itu. Dia tidak mau ikut campur lagi dengan urusan Melati yang sakit. Dia sudah percayakan semuanya kepada Bi Kom.
Setelah Dokter pulang, Ardhi pun berusaha menyadarkan ibunya itu, dengan mengajaknya bicara, sembari menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu.
Benar saja usahanya berhasil, ibunya Ardhi yang bernama Jerniati itupun sadar. Jemarinya berusaha meraih tangan Ardhi yang tergeletak di tepi ranjang.
Merasa tangannya disentuh, Ardhi menoleh. Ternyata ibunya itu yang menggenggamnya.
"Ibu mohon sayang, menikahlah dengan Anggun." Tatapan memelas ibunya itu, membuat Ardhi tak berdaya. Apakah menikah dengan Anggun adalah keputusan yang tepat dan baik untuk dirinya.
Ardhi mengangkat tangannya yang bertautan dengan tangan ibunya itu. Dia mencium tangan yang sudah sedikit keriput itu.
"Ardhi harus bicara dengan Anggun dulu ya Bu. Setelah itu, baru Ardhi bisa memutuskan semuanya." Ucapan Ardhi membuat wanita itu senang. Itu artinya sudah ada lampu hijau. Tinggal lanjut terus pantang mundur. Keinginan ibunya itu harus terwujud.
__ADS_1
Merasa terharu, karena bahagia. Ibunya Ardhi meraih anaknya itu kepelukannya. Mencium pipi kanan anaknya itu. "Ibu sudah yakin, kamu pasti mau menerima pernikahan ini." Ardhi hanya mengangguk pelan mendengar ucapan ibunya itu. Dia kan belum menerimanya. Tapi, lihatlah cara ibunya berbicara. Wanita itu langsung mendoktrin anaknya itu.
***
Ibu Jerniati sudah kembali ke kamarnya. Dia bersorak riang di kamar itu. Dengan perasaan yang kelewat bahagia. Dia pun menelpon sang calon menantu.
"Sayang, ini Mommy." Suara Ibu Jerniati terdengar keras, karena semangat 45. Saking bahagianya, wanita tua itu, bahkan tidak mengucapkan salamnya saat memulai percakapan di telepon.
"Ya Mom, ada kabar baik apa Mom?" suara Anggun di sebrang terdengar begitu penasarannya.
"Ide mu sangat brilian. Ardhi setuju, untuk menikah denganmu dua minggu lagi." Ibu Jerniati mengepal tangan penuh semangat saat bicara di telepon dengan calon menantunya itu.
"Aaappa--- Ardhi setuju Mom? YaeSs--- Yess--? APa ku bilang Mom. Mommy itu harus berakting sakit parah, agar anak Mommy yang tampan itu, menurut sama Mommy." Ucap Anggun, penuh kemenangan.
"Iya sayang, kamu memang calon menantu paling mantap!" jawab wanita tak tahu malu itu.
"Eemmmm... itu dia, sebenarnya Ardhi harus bicara dulu denganmu." Kali ini Ibu Jerniati, nampak lemas.
"Oooh.. begitu? sebenarnya Abang Ardhi sudah setuju, atau belum sih MoM?" kali ini Anggun merasa tidak tenang, sepertinya calon mertuanya itu hanya bercanda.
"Sebenarnya Ardhi belum setuju menikah denganmu." Suaranya sudah menciut.
"Aappa? koq gitu, bukannya tadi dia bilang setuju?" Anggun kecewa pada calon ibu mertuanya itu. Entah mana yang jelas.
"Belum disetujuinya, katanya dia ketemu dulu samamu besok."
"Mommy, mommy, kenapa sih ngerjain Anggun. Kirain sudah diiyakan Abang itu." Anggun lemas.
__ADS_1
"Akan disetujuinya, tenang saja. Tapi, ingat janjimu ya sayang. Kalau kalian sudah menikah nanti, kamu harus sering ajak ibu happy-happy seperti waktu itu. Ajib ajib... !" ucap wanita itu penuh semangat.
"Pasti dong Mom. Nanti juga Anggun akan kenalin Mommy sama teman papa. Teman papa itu Hot banget dech Mom." Anggun tersenyum puas, akhirnya dia punya teman orang tua yang mendukung gaya hidup bebasnya.
"Teman papamu? jangan, jangan deh. Mommy malu sama papamu nanti." Ibu Jerniati, tidak mau ayahnya Anggun tahu sifat buruknya.
"Tenang saja Mom. Teman papa itu, bisa jaga rahasia. Tidak mungkin dia ceritain boroknya sendiri." Jawaban Anggun cukup meyakinkan.
"Ok baiklah, kalau bisa cariin mommy yang serius, yang mau menikah gitu. Mommy kadang merasa jenuh juga hidup seperti ini." Keluh Ibu Jerniati yang tak ada akhlak itu.
Anggun ingin tertawa keras dalam sambungan telepon itu. Ingin menertawakan calon mertuanya itu. Tapi, dia takut ibu Jerniati tersinggung. Akhirnya dia tertawa dalam hati saja. Mencari yang serius dan baik, tentunya itu sangat susah. Apalagi untuk wanita yang sudah berumur 50 tahun ke atas.
"Iya Mom, nanti Anggun cariin."
"Besok, kalau Ardhi ketemuan samamu. Kamu harus bersikap baik, sopan, lemah gemulai gitu. Buat dia simpatik ya sayang."
"Iya dong Mom, itu pasti." Jawab Anggun penuh kepercayaan diri.
"Baiklah, Mommy tutup." Panggilan telepon pun terputus. Wanita yang puber keseratus itupun meletakkan ponselnya di atas meja rias. Kemudian wanita itu mendudukkan bokongnya di kursi meja hiasnya. Kedua matanya yang nampak masih indah itu, bergerak ke arah cermin, memperhatikan wajahnya dengan detail.
"Sudah seminggu aku tidak ke salon. Gara-gara acting sakit. Ini wajah sudah menampakkan garis-garis halus penuaan dini." Ucapnya sedih, memegang wajah putihnya dengan lembut.
"Kalau Anggun dan Ardhi Sudah menikah. Aku akan meminta Ardhi membuatkan ruangan khusus untuk salon di sini. Agar aku bisa setiap hari perawatan. Kalau tiap hari perawatan, tentunya aku akan nampak semakin cantik dan mudah. Siapa tahu, masih dapat berondong." Ucapnya cekikikan, mengkhayal yang tidak mungkin terwujud. Apa ada berondong yang masih mau dengannya?
Jerniati, Ibunya Ardhi. Dulunya adalah wanita yang baik dan pekerja keras. Apalagi setelah ditinggal mati suaminya. Dialah yang menjadi tulang punggung keluarga.
Sejak usaha Ardhi sukses, sang Ibu pun berubah drastis. Setelah bertemu dengan wanita yang bernama Anggun putri Wijaya.
__ADS_1