DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Memberi penjelasan


__ADS_3

Ardhi mentoel dagu Melati, dia benar-benar menggoda Melati saat ini. Tapi, sebelum tangan Melati menepis tangannya. Dia keburu menjauhkan tangan itu.


"Tegang banget sih dek. Takut mas minta nafkah batin?"


Melati yang polos langsung mengangguk. Saat ini memang dia sangat takut disentuh suaminya itu.


Ardhi tersenyum tipis. "Mas gak akan lakukan itu, kalau adek gak ridho. Tadi Mas hanya bercanda, soal minta nafkah batin. Jangan dipikirkan ya? yang penting sekarang itu adalah anak kita. Kapan ya, Mas boleh mengelus nya?" Wajah ceriah penuh kebahagiaan menghiasi wajah tampan penuh harap Ardhi saat ini.


Dia sangat senang, Melati hamil. Dia memang dari dulu pingin punya anak. Makanya saat jadian dengan Embun. Dia ingin langsung menikah. Tapi, Embun waktu itu menolak untuk menikah, karena dia masih kuliah. Ditambah orang tuanya gak mengizinkan dia menikah kalau belum sarjana.


"Apakah anak ini alasannya Tuan, mau menikahiku?" tanya Melati lembut, menatap manik matanya Ardhi.


" Napa manggil Tuan lagi. Tadi sudah manggil pakai Mas." Protes Ardhi, merasa risih dengan sebutan Melati padanya. Melati tersenyum kecut, dia sudah terbiasa memanggil Ardhi dengan sebutan itu.


"Itu salah satunya. Tapi, yang membuat ku sangat bersyukur adalah. Karena kamulah wanita yang bersama mas di malam sial itu. Mas sungguh tidak sadar akan kejadian pada malam itu. Saat Mas tersadar, ada Anggun bersama Mas. Dia dan Ibu bercerita bahwa Mas menodainya.


"Mas awalnya tidak percaya. Tapi, bukti menunjukkan iya. Ada foto dan video Mas sedang bersamanya. Tapi video kita waktu itu gak ada. Aku yakin dihapus oleh Anggun.


"Saat Embun mengatakan bahwa kamulah wanita yang bersama Mas malam itu. Mas sangat legah. Setidaknya Mas tidak terjerumus lagi dengan menikahi Anggun."


Jelas Ardhi panjang lebar. Melati dengan serius memperhatikan suaminya itu saat bercerita.


"Tapi, katanya Mas sering melakukannya dengan Non Anggun. Bahkan Non Anggun hamil anak tuan." Melati ingin mempertanyakan video yang ditunjukkan oleh Ilham.


Hhuuuuhhhfff... Ardhi kembali menarik napas panjang.

__ADS_1


"Hamil anakku bagaimana? Mas saja gak pernah ciuman, masak hamilin anak orang." Jawabnya dengan menggembungkan pipinya. Kalau Ardhi bertingkah seperti itu. Tak nampak seperti pemimpin perusahaan yang tegas. Suaminya itu terlihat sederhana, seperti pemuda kampung yang masih polos gitu.


Melati menaikkan satu alisnya dengan mata membola. Wanita itu sangat terkejut mendengar ucapan Ardhi.


"Gak pernah ciuman?" tanya Melati dengan rawut wajah tak percaya. Ardhi mengangguk lemah dan tersenyum tipis. Dia yakin Melati tidak akan percaya dengan ucapannya.


"Adek gak percaya?"


"Iya."


"Mungkin pernah ciuman. Tapi, Mas gak tahu gimana rasanya waktu itu." Ucap Ardhi tersenyum penuh arti.


"Maksudnya?" Melati dibuat bingung dengan pernyataan sang suami. Pernah ciuman, tapi gak tahu rasanya. Emangnya dia mati rasa. Pikir Melati.


"Aahhhh sudahlah gak usah dibahas lagi. Bahas ciuman, padahal adek gak mau dicium. Apa asyiknya bahas gituan, gak ada praktek nya." Ardhi kembali menggoda Melati. Tentu saja ucapannya itu, membuat Melati jadi terdiam. Dan kembali memalingkan wajahnya. Ucapan suaminya itu membuat jantung nya berdebar-debar. Entahlah, Melati tidak tahu apa yang terjadi. Dia takutkah, atau salah tingkah.


Jelas pria itu sekarang sangat mengkhawatirkan ibunya. Sejahat apapun wanita tua itu. Itulah Ibunya, kenyataan itu tak bisa dipungkiri. Tak ada namanya bekas ibu, mantan ibu. Dia tidak mungkin membenci Ibunya dan menjauhi wanita yang melahirkannya itu. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah membiarkan sang ibu melakukan apa maunya. Nanti kalau kena batunya, pasti sadar juga.


"Jadi foto dan video itu?" melirik Ardhi dengan ekor matanya, masih dengan debaran jantung yang berdebar- debar. Dia takut, Ardhi tersinggung dengan pertanyaannya yang berulang-ulang itu.


"Entahlah, Mas gak tahu menahu tentang itu. Mungkin Anggun menjebak Mas." Jelas Ardhi dengan kesalnya. Bisa-bisanya dia diperdaya oleh Anggun dengan dukungan dari sang Ibu.


"Tapi, Anggun hamil juga."


"Aahhh sudahlah, kita tidak usah bahas Anggun. Mas sudah memutuskan hubungan tunangan dengannya. Dan tidak mau berurusan lagi dengannya. Dia hamil, yang jelas Mas tidak pernah melakukan itu dengannya." Ardhi bicara dengan seriusnya. Menatap lekat manik matanya Embun. Tatapan mata pria itu memancarkan kebenaran. Melati pun akhirnya menunduk, menghindari tatapan matanya Ardhi. Tak perlu lagi dia memusingkan mantan tunangan suaminya itu. Lihat saja nanti, benarkah suaminya itu memutuskan hubungannya dengan Anggun. Biar waktu yang menjawab.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu kini memilih untuk diam. Keduanya kini telah merasa lega, karena sudah mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hati. Menikmati indahnya pesona alam persawahan. Angin yang sejuk menerpa wajah hingga terasa tentram. Pikiran yang tadinya kalut, resah dan gelisah. Kini plong sudah.


"Di sini enak ya dek?" Ardhi memecah keheningan di pondok itu.


"I-- ya Ma, Mas." Ardhi memutar lehernya dengan tersenyum manis. Dia senang sekaligus merasa gemes, melihat ekspresi wajah Melati yang tersipu malu. Sepertinya istrinya itu, malu karena mengatakan Mas padanya. Wajar Melati merasa Malu. Karena, dia tidak terbiasa dengan panggilan itu.


"Itu jagung, kalau dipetik, berdosa gak ya?" pertanyaan bodoh, tapi Ardhi sudah kehabisan topik untuk dibahas. Jelas saja berdosa. Ardhi membatin, menjawab pertanyaannya sendiri.


"Gak berdosa." Jawab Melati cepat. Menatap ke arah tanaman jagung.


"Hahaaaahhh.... Gak berdosa? namanya mencuri ya berdosa lah dek."


"Sudah tahu, koq nanya sih?" ketus Melati, kenapa satu hari ini suaminya itu nampak bodoh sih? ucapannya garing banget.


"Tadi kata adek gak berdosa?" Ardhi semakin bingung.


"Iya gak berdosa. Karena, ini jagung milik kita. Ini tuh sawah tempat ayah cari rezeki. Sawah orang, tapi ayah yang bertani disini. Terus nanti hasilnya bagi hasil dengan pemilik sawah." Jelas Melati, beranjak dari duduknya. Dia ingin memetik jagung itu.


Dari tadi sejak turun dari mobil Ardhi. Matanya Melati langsung tertuju pada sawahnya mereka. Dia syor melihat tanaman jagung milik ayahnya yang bagus itu. Makanya dia meninggalkan Ardhi, dan berjalan ke sawah mereka. Dia juga ingin menenangkan diri di pondok.


"Adek mau ke mana?" Ardhi mengekor langkah Melati.


"Mau petik jagung." Jawab Melati, terus melangkah ke arah tanaman jagung yang sudah bisa dipanen itu.


"Mas saja yang petik, adek kembali ke pondok ya?" pinta Ardhi.

__ADS_1


"Adek pingin petik sendiri. " Terus melangkah dan tidak memperdulikan kekhawatiran sang suami.


"Licin dek, mas takut kamu jatuh."


__ADS_2