DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Belajar mencintai


__ADS_3

Melihat ekspresi wajah sang istri yang tiba-tiba berubah jadi muram, membuat Ardhi tersadar. Bahwa Melati masih takut pada ibunya itu.


"Ibu struk, setengah badannya lumpuh total. Bahkan kata Rudi, ibu bicara nya gak jelas lagi." Ardhi sudah selesai mencuci piring. Menghampiri sang istri yang murung itu. Dia duduk kembali di hadapan sang istri.


"Mas tahu adek gak siap untuk bertemu dengan ibu. Tapi, gak mungkin kan Mas tinggal kan adek sendirian di sini. Seandainya tadi kita ada di rumah utama. Mas gak akan khawatir tinggalkan adek di rumah. Karena, ada Bi Kom dan yang lainnya di sana." Masih menatap Melati yang terlihat ketakutan itu. Dia tidak ingin mendapatkan masalah baru jikalau bertemu dengan Ibu Jerniati.


"Iya Mas. Jujur Adek gak berani berjumpa dengan Nyonya besar." Ucapnya sedih masih menunduk.


"Iya, Mas mengerti itu. Mas juga tidak ingin membebani perasaan adek. Mas juga takut kenapa-kenapa dengan anak kita. Mas sudah senang, dua hari ini adek sudah terlihat lebih segar dan kuat. Sudah jarang muntah. Itu karena adek sudah mulai tenang. Kalau bertemu dengan ibu buat adek kepikiran, ya gak usah bertemu dengan ibu dulu." Melati mendengarkan dengan seksama sang suami.


"Nanti Mas antar kamu ke rumah Bapak Zainuddin. Gimana mau ke rumah Pak Zainuddin?" Melati langsung mengangkat wajahnya. Dia tidak menyangka suaminya itu akan mengantarnya ke rumah ayahnya. Tadinya Melati beranggapan suaminya itu akan membawanya ke rumah utama.


"Iya Mas, ke rumah ayah saja." Tentu dia lebih memilih ke rumah ayahnya daripada ke rumah utamanya Ardhi. Dia belum siap bertemu dan berinteraksi dengan para ART di rumahnya Ardhi, yang dulu adalah teman seperjuangannya.


"Iya itu memang ide bagus. Ayah mau adakan resepsi pernikahan kita katanya. Sekalian mau kenalin Mas pada relasi bisnisnya. Kalau Mas ini adalah menantunya." Ardhi tertawa penuh ketulusan. Dia sangat bersyukur kenal dengan pak Zainuddin. Pria itu lebih dari malaikat buatnya.


Pak Zainuddin bergerak cepat. Beliau berharap, dengan acara itu. Perusahaan Ardhi bisa terselamatkan. Karena, pengaruh pak Zainuddin besar dari dunia bisnis.


"Pesta?" Melati tercengang.


"Iya Dek, Pak Zainuddin benar-benar malaikat. Beliau selalu membantu Mas. Adek tahu kan Mas seperti ini, karena beliau. Dulu Mas gembel, makan saja hanya sehari sekali. Bahkan mau dua hari gak makan. Mas melarat di kota ini. Pak Zainuddin lah yang membantu Mas, jadi sukses begini." Pengakuan itu baru kali ini didengar langsung oleh Melati dari mulutnya Ardhi.


Raut wajah sedih serta bersyukur terlihat jelas di wajah sang suami.


"Sudah mengangkat derajat Mas. Diberi bonus menikah dengan putrinya lagi. Adek harus tahu, Mas itu serius ingin jadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita."


"Berarti mau balas Budi. Baik samaku, karena merasa gak enak hati pada Ayah. Begitukan sebenarnya yang ada dipikiran Mas."

__ADS_1


Deg


Ardhi tersentak mendengar ucapan serius sang isteri. Kenapa istrinya itu, bicara seperti itu. Walaupun dia bukannya putri Pak Zainuddin. Dia kan ikhlas mau bertanggung jawab. Mendapati fakta bahwa Melati anak pak Zainuddin tentu Ardhi bersyukur sekali jadinya. Setidaknya dia bisa membalas Budi, dengan memperlakukan Melati lebih baik lagi. Sepertinya Melati meragukannya.


"Tidak Dek, bukan seperti itu. Awalnya Mas kan gak tahu, kalau adek putrinya Pak Zainuddin. Tapi, Mas tetap mau bertanggung jawab. Malah adek sendiri yang gak mau nikah sama Mas. Malah mau kawin lari dengan Ilham. Tahu gak Dek, Mas kesal banget sama adek waktu itu. Ada anak Mas di rahim adek, tapi malah milih menikah dengan pria lain." Ardhi tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Wajahnya memancarkan kekecewaan.


Melati terdiam, dia pun memalingkan pandangannya. Tak sanggup melihat kekecewaan di mata sang suami.


"Ini terakhir kita bahas ini ya? Mas serius dengan adek. Berusaha untuk belajar mencintai Adek. Walau Mas tahu, adek gak mau membuka hati buat Mas. Karena, di hatimu hanya ada nama Ilham. Tidak apa-apa, terus saja pupuk rasamu pada Ilham. Tapi, jangan larang Mas untuk melakukan tugas Mas sebagai suami." Ucap Ardhi tegas, memandangi Melati yang memalingkan wajahnya itu.


Melati merasa tersudut dengan ucapan Ardhi. Iya, dia memang masih kepikiran Ilham. Tapi, bukan berarti dia mau memupuk perasaannya pada Ilham.


"Kita siap-siap, nanti kemalaman." Ardhi masuk ke kamar meninggalkan Melati yang sedih dengan mata berkaca-kaca itu.


"Kenapa masih bengong disitu? gak mau ganti baju?" Melati melirik Ardhi masih dengan perasaan yang tak menentu. Ucapan Ardhi merusak moodnya.


Melati pun berlalu ke kamar tanpa menjawab ucapan sang suami. Menutup pintu kamar dengan pelan dan mengganti pakaiannya.


Sedangkan Melati memilih pura-pura tertidur.


Sesampainya di rumah Pak Zainuddin. Ardhi membangunkan Melati. Ternyata wanita yang pura-pura tidur itu. Tidur beneran.


Di beranda rumah megahnya Pak Zainuddin yang tingkat tiga itu. Beliau sudah menyambut sang putri dengan bahagianya. Dia tidak menyangka, secepat ini Ardhi membawa putrinya itu ke rumah.


"Boruku.. " Pak Zainuddin langsung merangkul Melati dengan mata berkaca-kaca, setelah putrinya itu menyalimnya. Begitu juga dengan Melati merasa terharu bisa berkunjung ke rumah ayahnya. Ardhi mengekor Ayah mertua dan istrinya itu, setelah melihat pertemuan yang mengharukan untuk kedua kalinya.


Melati masih dalam rangkulan sang ayah. Memasuki rumah gedong itu. Tangannya dengan cepat melap kedua matanya yang sembab. Melati yang tidak pernah ke rumah itu, tentu saja kedua matanya menyoroti setiap sudut rumah itu. Dia takjub dengan rumah Pak Zainuddin yang mewah. Di rumah itu juga ada lift, seperti rumah utamanya Ardhi.

__ADS_1


Mewahnya rumah Pak Zainuddin hampir sama dengan Mewahnya rumah Ardhi. Sama-sama berlantai tiga.


"Sudah makan kalian Boru?" Tanya Pak Zainuddin pada Ardhi dan Melati. Kini mereka sudah duduk di sofa ruang tamu Pak Zainuddin.


"Sudah ayah." Jawab Melati tersenyum kecil. Matanya sesekali kembali curi pandang memperhatikan ruang tamu Pak Zainuddin. Ada figura besar di dinding ruang tamu itu. Di figura itu, ada foto Pak Zainuddin, istinya dan seorang anak perempuan. Siapa lagi anak itu kalau bukan dirinya. Melati cepat-cepat menepis perasaan sedih. Dia tidak boleh larut memikirkan dirinya yang hilang sampai belasan tahun. Yang penting sekarang dia sudah berkumpul dengan keluarga kandung nya.


"Tidur di sini kan Ardhi?" Pak Zainuddin berharap sekali putri dan menantunya bermalam di rumah itu.


"Untuk malam ini sepertinya tidak Pak. Besok kami datang lagi. Gak ada bawa persiapan." Ardhi menatap sang istri yang duduk di hadapannya. Tepat di sebelah pak Zainuddin. Dengan tersenyum manis.


"Gak boleh pulang, nanti Ayah suruh si Haris mengambil barang-barang kalian ke rumah." Haris adalah asisten nya Pak Zainuddin.


"Ehhmmm.... Kalau Ayah mertua sudah memaksa. Kita bisa apa?" Ucap Ardhi berseloroh. Tapi, sayang, selorohannya tidak membuat Melati tertawa.


"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Pak Zainuddin dengan penasarannya. Melihat Adhi dan Melati seperti menjaga jarak.


"Iya Pak, baik-baik saja. Melati lagi kurang fit. Makanya saya bawa ke sini. Saya mau titip Melati sebentar pak."


"Emang kamu mau ke mana malam-malam begini?" Pak Zainuddin begitu penasaran.


"Ke rumah sakit, jeguk Ibu." Jawab Ardhi sedih serta merasa malu. Pak Zainuddin juga tahu kasus sang Ibu. Video mantap-mantap Ibu Jerniati banyak beredar. Itulah penyebab Ibu Jerniati terserang jantung hingga setruk. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Anggun.


"Loh, kenapa Melati tidak ikut?" Pak Zainuddin merasa tidak pantas, kalau Melati tidak menjenguk ibu mertuanya sendiri. Saat Pak Zainuddin mengatakan itu. Melati langsung pucat, dia belum siap bertemu dengan Ibu Jerniati. Pak Zainuddin pasti memaksanya untuk melihat Ibu Mertuanya itu. Melati tahu betul adat dan kebiasaan suku Batak. Yang harus menghargai, menghormati, menyayangi ibu mertua.


"Gak bagus Boru, kalau kamu gak jenguk Bou mu." Kan benar yang dikhawatirkan Melati, ayahnya pasti ingin dia menjenguk ibu jerniati.


"Iya Pak, tunggu Melati sehat betul. Ini sudah malam, nanti Melati masuk angin. Besok-besok kan bisa." Tegas Ardhi. Melati langsung melirik sang suami. Dia senang Ardhi membelanya.

__ADS_1


Pak Zainuddin tidak tahu, kelakuan Ibu Jerniati pada putrinya. Jangan sampai deh dia tahu. Bisa-bisa Pak Zainuddin bisa kesetanan.


TBC


__ADS_2