
Tara sedang sibuk di ruang kerjanya. Sudah lebih seminggu dia tidak masuk kerja. Mulai dari mengantar Embun ke kota Sibolga untuk bertemu Ardhi sampai perayaan panen raya di Lampung.
Doly belum telaten saat bekerja, banyak dokumen yang tidak beres. Sepertinya pria itu tidak bisa bekerja dengan baik, kalau tidak diarahkan oleh Rose.
"Bos, kemarin Pak Indera, menelpon aku," Doly menghentikan ucapannya. Dia ragu untuk melanjutkannya. Apalagi Tara nampak sibuk sekali. Tapi, dia harus mengatakannya. "Apa yang Bos katakan pada Pak Indera, mengenai diriku dan juga Lolita." Kali ini Tara pun akhirnya menoleh kepada Doly yang berdiri di hadapannya yang dihalangi oleh meja kerjanya.
"Emang Pak Indera mengatakan apa?" Tara tersenyum puas. Akhirnya rencananya berhasil juga.
"Pak Indera ingin, aku menikah dengan putrinya Lolita."
"YES....!" Tara bangkit dari duduknya, berjalan cepat ke arah Doly dan merangkul Doly yang nampak bingung itu.
"Akhirnya beliau memikirkan ucapan ku." Tara kembali memeluk Doly. Menepuk-nepuk punggung pria itu dengan semangat.
Doly hanya diam mematung, bingung harus bersikap apa kepada Bos nya itu. Dia tidak menyukai Lolita. Dia sukanya pada Rose. Buat Doly Rose adalah wanita yang unik dan apa adanya. Dia suka wanita tangguh.
Tara melepas pelukannya, menarik lengan Doly agar mengikutinya duduk di sofa. Tara nampak sangat antusias, sedangakn Doly melempem.
"Kenapa kamu tidak bersemangat begitu?" Tata menepuk bahu Doly yang masih diam termangu itu.
Dia pun menatap Tara dengan cemberut. Dia kesal pada Tara, yang memutuskan semuanya tanpa menanyakan dulu padanya. Mana main comblangin segala. Setahu Doly, saat itu Tara dekat dengan orang tua Lolita, karena Tara ingin serius dengan Lolita.
"Aku itu sudah lama kenal dengan Pak Indera. Di saat Lolita, ingin aku dekat dengannya dan mengenalkanku pada orang tuanya. Aku itu sudah terlebih dahulu berbicara pada beliau. Saat Embun mengatakan ingin menjodohkan ku dengan Lolita." Penjelasan Tara membuat Doly semakin bingung.
"Maksud Bos apa?" tanya nya bingung.
"Saat aku dekat dengan Lolita, kalau aku ke rumahnya. Ya aku itu promoin kamu lah sama Ayahnya Lolita." Tara merasa yang dilakukannya sudah tepat. Dia yakin Doly pasti suka pada Lolita. Lolita cantik dan juga baik, sangat cocok dengan Doly yang baik dan Sholeh.
__ADS_1
"Bos! kenapa tidak menanyakan dulu padaku?" Doly merasa Tara terlalu ikut campur urusan pribadinya. Dia tidak suka cara Bos itu kali ini. Ini masalah hati. Lagian, Lolita sukanya pada Tara bukan dirinya.
"Jadi, selama ini Bos mempermainkan perasaan Lolita?" Doly menampilkan ekspresi wajah penuh kekecewaan.
"Aku tidak pernah mempermainkan perasaannya. Bahkan aku tidak pernah memberikan harapan apapun. Dia ajak jalan, ya jalan saja. Aku tidak pernah melakukan hal romantis untuk nya. Saat itu, aku hanya bilang, kita berteman dulu, lebih mengenal satu sama lain." Jelas Tara dengan perasaan was-was. Jangan karena masalah ini, Doly jadi salah paham padanya.
Doly berdecak kesal. Sepertinya dia tidak bisa menutupi rasa kecewanya pada Tara. "Si Lolita jelas-jelas suka sama Bos. Masak mau dijodohkan samaku sih? itu namanya gak seru." Doly menarik napas dalam, dan menghembuskannya berat. Dia pun menyandarkan tubuhnya di sofa itu. memijat pelipisnya, kepalanya terasa sakit.
"Aku hanya mau memberi yang terbaik untukmu. Lolita itu gadis baik. Keluarganya juga terpandang." Tara jadi merasa bersalah, dia pikir Doly akan senang, ternyata tidak.
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah tolak saja. Tapi, menurutku kamu akan rugi besar menolaknya." Ancam Tara, menaik turunkan alisnya, dengan tersenyum lebar.
Doly menggaruk kepalanya yang terasa sakit itu. "Cinta tidak bisa dipaksa Bos. Dia itu sukanya sama Bos. Bagaimana nanti biduk rumah tanggaku, menikah dengan wanita yang tidak menyukaiku." Keluh Doly, kembali berdecak kesal.
"Cinta bisa tumbuh dengan seringnya bersama. Contohnya Aku dan Embun. Gak lihat kamu sekarang si Embun bucin akut samaku." Ucap Tara bangga, menepuk dadanya dengan penuh semangat dan percaya diri.
"Bucin? siapa yang bucin akut itu?" Embun yang ternyata mendengar ucapan Tara dan Doly, langsung nyamperin kedua pria itu. Tentu saja, Tara terlonjak kaget. Dia pun dengan cepat bangkit dari duduknya. Embun yang pulang dari kampusnya, langsung nyamperin Tara ke kantor.
Tara cengir, dia merentangkan kedua tangannya. Berjalan dengan senyum mengembang menyambut sang istri. Sebenarnya yang bucin akut adalah dirinya sendiri.
"Sini Abang peluk!" Tara akhirnya menarik lengan Embun, sehingga wanita itu dengan cepat berada dalam pelukannya. Tadinya Embun tidak mau dipeluk sang suami. Dia memberi jarak pada pria itu.
"Gitu aja ngambek. Abang yang bucin sama Adek. Bucin akut, gak bisa berpaling darimu. Hanya dirimu yang paling cantik di dunia ini di mata Abang." Tara semakin mengeratkan pelukannya, disaat Embun berontak ingin lepas. Embun malu pada Doly. Apalagi kini Tara sudah menghadiahi wajahnya dengan kecupan Tara yang bertubi-tubi.
"Lihat tempat dong, kalau mau bermesraan. Ada yang jomblo di sini!" ketus Doly memilih pergi dari tempat itu, dengan menggelengkan kepalanya.
"Makanya jangan jual mahal, kalau kamu pengen juga..!" teriak Tara, disaat Doly sudah menutup pintu.
__ADS_1
Tara tertawa penuh kebanggaan. Dia yakin Doly akan tertarik untuk menjalin hubungan dengan Lolita.
"Apa yang lucu?" tanya Embun, heran melihat suaminya.
Kini Embun sudah duduk di pangkuan sang suami. Melingkarkan kedua tangannya di lehernya Tara. Wanita itu menatap Tara penuh dengan cinta. Tara benar-benar tulus, selalu mengalah untuknya.
"Lucu saja lihat si Doly. Aku baru tahu, kalau dia beneran suka sama si Rose." Tara menjepit hidung Embun yang mancung dengan jempol dan telunjuknya. Embun tidak suka dengan kelakuannya Tara, wanita itu pun dengan cepat melepas tangan Tara dari hidungnya.
Embun ingin beranjak dari pangkuannya Tara. Tapi, suaminya itu menahan Embun dengan melingkarkan kedua tangan di pinggang istrinya itu. Embun kembali berontak. Kalau dia mendengar nama Rose. Embun langsung badmood. Dia tidak suka wanita itu, karena wanita itu pernah menghajarnya.
"Selera si Doly memang parah. Masak wanita seperti itu disukainya." Masih berusaha lepas dari belitan tangannya Tara.
"Iya, makanya Abang tertawa." Tara tersenyum penuh maksud. Dia bahkan sudah memasrahkan kepalanya di dada lembut dan kenyalnya Embun.
Embun melototkan matanya. Dia tahu maksud dari tatapan sang suami.
"Jangan minta yang aneh-aneh deh. Ayo kita ke rumah sakit. Aku tiba-tiba kepikiran gadis itu." Embun berusaha melepas tangan Tara dari pinggangnya. Ini usaha ke empat kalinya.
"Penasaran pada Si Melati, atau pada mantan?" Tara melepas tangannya dari pinggang nya Embun. Dia menampilkan ekspresi wajah cemburu.
"Apa hubungannya dengan Mas Ardhi?" tanya Embun bingung.
"Ya adalah, si Melati kan pembantunya Mas Ardhimu itu."
"Terus?" Embun sudah mulai marah. Dia tidak suka, Tara mengungkit-ungkit masa lalu nya.
"Emmuuuaahhh....Eemmmuaahh... gemes lihat adek cemberut begitu." Tara masih merangkum wajahnya Embun, setelah pria itu mencium pipi kanan dan kiri Embun dengan ekspres.
__ADS_1
"Pandai sekali buat orang kesal." Embun melepas tangan Tara dari wajahnya. Keduanya pun keluar dari ruangan itu. Mereka akan ke rumah sakit, menjemput Melati. Walau si Ilham, belum memberi kabar.
TBc