
Setelah selesai sarapan, Ardhi langsung mengirimkan pesan kepada Anggun.
Assalamualaikum Dek, selamat pagi. Kita harus bertemu hari ini. Ada banyak hal yang ingin Abang bicarakan. Jam berapa kamu ada waktu?
Baru juga dikirim, centang biru sudah terlihat. Itu tandanya wanita itu sudah membaca pesannya.
Walaikum salam, Jam dua belas siang Bang. Di restoran A.
Wanita itu sengaja menentukan waktunya saat makan siang. Karena, dia ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan pria itu. Bertemu dengan Ardhi sangatlah susah. Ini kedua kalinya mereka akan bertemu. Setelah pertemuan pertama di restoran, saat terjadi pertengkaran Tara dan Ardhi. Karena, Ardhi ingin Embun kembali padanya.
Setelah membaca pesan dari Anggun. Ardhi menyeret langkahnya ke kamar ibunya. Wanita itu tidak mau sarapan di ruang makan. Dia masih beracting sakit. Sebenarnya Ibu Jerniati tidaklah sakit. Dia hanya bersandiwara dan memohon kepada Dokter keluarga mereka, agar mengikuti permainannya.
Awalnya sang Dokter tidak mau, tapi Ibu Jerniati yang pandai bicara itu, memohon. Karena dia ingin anaknya cepat menikah. Padahal kasus Ibu Jerniati dirawat di rumah sakit hanyalah penyakit Asam lambungnya naik. Tapi, dia mengatakan pada anaknya kalau dia penyakit jantung.
Ardhi yang lagi banyak pikiran saat itu, karena baru ditinggal Embun. Tidak memeriksa lagi obat dan rekam medik Ibunya. Hingga sampai saat ini sandiwara itu masih dimainkan.
"Ma, Ardhi berangkat kerja dulu. Mama makan dan minum obat. Ardhi tidak bisa menemani Mama di rumah. Kerjaan menumpuk Ma. Nanti juga Ardhi akan bertemu dengan Anggun." Ardhi bicara penuh dengan kelembutan, merangkum tangan wanita yang melahirkannya itu dengan sayangnya.
"Iya sayang, terimakasih sayang sudah mau menikah dengan Anggun." Wajah sumringah terlihat nyata pada ibu Jerniati.
Ardhi yang tidak punya pilihan lain itu, akhirnya akan menerima Anggun sebagai istrinya. Tapi, sebelum terjadi pernikahan itu. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan wanita itu.
"Iya Ma, Ardhi berangkat dulu." Ardhi mencium punggung tangan dan puncak kepala ibunya itu. Ardhi sangat menyayangi ibunya. Karena, ibunya begitu gigih memperjuangkannya, walau hanya bisa mengecap pendidikan SMA.
Ardhi bisa kuliah, setelah bekerja dengan Pak Zainuddin dan punya perusahaan sendiri.
Ardhi sama sekali tidak menjenguk Melati. Karena, memang dia tidak ada rasa apapun pada wanita itu.
Saat mobilnya keluar gerbang. Seorang pria tampan seperti mahasiswa di hadang Pak Satpam. Dia Ilham, pria itu sedang diinterogasi, apa maksud dan tujuannya datang ke rumah itu.
__ADS_1
"Saya temannya Melati Pak. Saya ingin menjenguknya. Dia lagi sakit. " Ucapan Ilham didengar oleh Ardhi dari dalam mobil. Kini mobilnya Ardhi tepat berada di sebelah Ilham.
Ardhi menatap lekat Ilham dari dalam mobil yang ditumpanginya. Kaca mobil itu masih tertutup rapat.
"Apa ini pria yang dikatakan Mama." Ardhi membathin, memperhatikan pria itu dari ujung kepala sampai kaki. Tampan, begitulah nilai pria itu saat ini di mata Ardhi.
Mobil nya Ardhi melaju, Ilham pun melangkah ke dalam rumah, yang ditemani Pak Satpam dari pintu samping, agar lebih cepat sampai ke kamarnya Melati.
Tadi shubuh Melati mengirim pesan kepada Ilham. Dia ingin dibuatkan surat sakit dan nantinya diberikan kepada Butet. Mulai dari tengah malam sampai pagi, ponselnya si Butet gak aktif-aktif. Makanya Melati mengabari Ilham. Sangat berharap Ilham pergi ke kampusnya mencari Butet dan memberi surat sakitnya itu. Karena kampusnya Ilham dan Melati berhadap-hadapan.
Tok tok tok...
Ilham mengetuk pintu kamarnya Melati, setelah Pak Satpam mengantarkannya ke depan kamar wanita itu.
"Assalamualaikum Mel, ini Abang Ilham." Suara Ilham mengejutkan Melati. Dia jadi merasa nervouse. Jantungnya berdebar-debar sudah. Pria itu ternyata datang. Padahal Melati tidak memintanya datang untuk menjenguknya. Mana ini masih pukul tujuh pagi.
Masih dalam keadaan lemas, Melati menurunkan cairan infusnya dari tiang penyangga, memegang cairan itu. Dia pun melangkah ke arah pintu kamarnya.
Dengan tangan yang memegang cairan infus itu jugalah, Melati membuka pintu untuk Ilham.
Saat pintu terbuka, tampaklah pria yang dicintainya, tersenyum manis padanya. Melati membalas senyuman itu dengan tersipu malu.
"Sini Abang pegangin infusnya." Ilham langsung meraih cairan itu dari tangannya Melati. Melati merasa sungkan, untuk mengajak Ilham masuk ke dalam. Tak mungkin mereka berduaan di kamar itu. Makanya dia memilih menghampiri Ilham.
Sungguh, Melati tidak menyangka, Ilham akan menjenguknya. Padahal dia hanya meminta tolong dibuatkan surat sakit.
Saat Melati menunduk, dia melihat sepatu pentofel hitam mengkilat di hadapannya. Seketika Melati mengangkat wajahnya.
"Tuan," Ucapnya sopan dan terkejut, kembali menundukkan pandangan. Sedangkan Ilham sedari tadi sudah menatap lekat Ardhi yang berdiri di sebelahnya dengan gaya cool nya. Tentu saja penampilan mereka sangat kontras.
__ADS_1
Ardhi yang rapi dengan stelan jas hitam, sedangkan Ilham hanya mengenakan kemeja lengan pendek warna biru motif kotak kecil dipadu warna sofpink dengan celana keper warna hitam. Outfit mahasiswa teladan pada umumnya.
"Pagi Pak!" Akhirnya Ilham menyapa Ardhi dengan sopan.
"Pagi," Kedua pria itu saling bersitatap, berusaha memberikan kesan yang baik. Kemudian Ardhi beralih menatap Melati.
"Sudah bagaimana keadaanmu Mel?" Ardhi memperhatikan wanita itu dengan lekat. Wajah pucat masih jelas terlihat.
"Sudah sedikit baikan pak. Tidak muntah lagi." Jawabnya sopan.
"Masih mencret?" Melati merasa malu dengan pertanyaan majikannya itu. Dia melirik Ilham yang masih memegang cairan infusnya.
"Iya Tuan," Jawabnya pelan.
"Kalau belum sehat, kenapa malah berdiri di sini. Kamu berbaringlah." Ucap Ardhi, mencoba meraih cairan infus dari tangan nya Ilham. Tapi, Ilham tidak memberikannya. Pria itu mengikuti langkah Melati, kini ketiga manusia itu sudah berada di dalam kamarnya Melati.
Saat hendak berbaring, Ilham membantu Melati dengan memegang tangan wanita itu, setelah cairan infus di gantungkan lagi.
"Saya sudah perintahkan Bi Kom, mengurusmu. Kenapa tidak ada orang yang menjagamu? disini kan banyak pelayanan." Melati hanya diam, tidak berani menjawab. Takut salah bicara. Sedangkan Ilham melirik-lirik Ardhi di sebelahnya yang duduk di kursi plastik. Ilham sedang menilai Ardhi sang majikan.
Ilham yakin, majikannya Melati itu pasti ada rasa pada wanita itu. Masak seorang majikan mengurusi seorang pelayan.
"Nanti saya akan perintahkan orang menemanimu di sini." Kini Ardhi melirik Ilham. Ardhi merasa Ilham menatapnya terus. Benar saja, disaat Ardhi melirik Ilham. Pria itu memalingkan wajahnya.
"Iya Tuan, Terimakasih." Tidak mungkin Melati diam terus. Kalau diam saja, dia seolah terlihat tidak menghargai majikannya bicara.
"Ardhi, kamu kenapa masih di sini? bukannya kamu sudah setengah jam lalu pergi kerja?" suara Ibu Jerniati terdengar keras dan penuh kekesalan di ambang pintu kamar.
TBC
__ADS_1