DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Masih belum terbiasa


__ADS_3

Melati duduk dengan tidak tenangnya di atas ranjang mereka. Dia jadi merasa kasihan sekaligus merasa bersalah kepada Ardhi. Dari hasil dia menguping pembicaraan Ardhi dan sang ayah sewaktu di teras rumah. Dia bisa memahami posisi Ardhi yang serba salah. Harus menjaga perasaan ini dan istrinya.


Suaminya itu memang pria yang begitu bertanggung jawab kepada keluarganya. Dia masih saja bisa mengendalikan dirinya, agar tidak bersikap kasar pada sang ibu. Padahal dia tahu, ibunya itu salah. Melati juga yakin, suaminya itu tidak mungkin mau menduakannya. Terlihat dari perjuangan Ardhi untuk bertemu dengannya. Karena dihalangi oleh sang ayah.


Melati yang banyak melamun memikirkan rumah tangganya itu. Tidak menyadari kalau sang suami sudah berdiri di hadapannya. Dengan telanjang dada, handuk berwarna ungu melilit di pinggang kokohnya.


"Dek, Dek!" Melati terlonjak kaget saat Ardhi menyentuh bahunya. Saking kagetnya, tangannya melayang menyentuh area sensitif suaminya yang ada di balik handuk warna ungu itu.


"Oh iya Mas. Maaf adek gak sengaja tadi." Ucapnya dengan wajah merah merona. Kenapa pula tangannya bisa melayang ke benda tanpa tulang yang ternyata sedang tegak itu.


"Adek melamunkan apa?" ekspresi wajah Ardhi masih datar. Dia sama sekali gak memperdulikan tangan Melati yang melayang ke arah selan#gkangannya. Melati saja yang pikirannya jadi mesum, saat tak sengaja menyentuh milik sensitif sang suami yang ditutupi oleh handuk warna ungu itu.


"Gak Mas, hanya kepikiran dengan luka-luka mas." Ucapnya memperhatikan wajah Ardhi yang sudut mata bengkak, begitu juga dengan sudut bibirnya.


"Tidak ada yang serius. Tapi coba adek periksa punggung mas." Ardhi langsung duduk di atas ranjang membelakangi Melati. Menyodorkan salep kebelakang dengan tangannya. Melati meraih salep itu.


"Kalau ada yang memar dan bengkak, adek oleskan salepnya ya?!" titah Ardhi lembut, masih dengan ekspresi dingin. Biasanya juga Ardhi ceria dan ramai kepadanya.

__ADS_1


"Iya Mas." Melati mulai memeriksa punggung lebar sang suami yang bersih itu. Ternyata ada luka memar di bawah tulang belikat. Melati pun merabanya pelan. Tapi sang suami malah meringis. Berarti suaminya itu, merasa kesakitan dibagian itu.


"Coba adek oleskan salepnya dibagian yang tadi adek sentuh." Ucap Ardhi dengan memberi kode gerakan tangannya ke daerah yang tak bisa dijangkau tangannya itu.


"Iya Mas " Melati memperhatikan lagi punggung sang suami. Ternyata bukan di situ saja yang memar. Di bagian pinggang juga ada. Wanita itu jadi sedih, dia pun akhirnya menitikkan air matanya. Dan langsung mengecup luka-luka sang suami yang ada di punggung itu.


Sontak, kelakuan Melati membuat Ardhi terkaget-kaget. Hingga dia terlonjak di tempat duduknya.


Selama mereka menikah, baru kali ini, sang istri menciumnya dengan kemauan sendiri. Biasanya juga harus diminta cium.


Darah Ardhi berdesir, menelusup dalam ke relung hatinya. Pria itu sangat tersentuh dengan sikap Melati, yang terlihat begitu menyayanginya. Dia jadi bersyukur, dengan kejadian hari ini. Karena dengan kejadian ini. Dia yakin bahwa sang istri benar-benar mencintainya dan takut kehilangannya.


"Ayah tidak salah Dek. Ini semua salahnya Mas. Seandainya mas tidak menodaimu. Mungkin, adek tidak akan dapat perlakuan kasar dari ibu. Yang Ayah lakukan ini benar. Ayah ingin mas merasakan sakit, seperti yang adek rasakan saat malam kelam itu." Ardhi akhirnya membalik badannya. Menatap sang istri dengan sendu. Mata keduanya berkaca-kaca. Sedikit pun Ardhi tidak ada rasa sakit hati pada ayah mertuanya itu.


"Mas, tidak ada niat untuk menikah dengan wanita lain. Mas serius dengan adek. Mas bukan tipe pria yang bisa hidup dengan banyak wanita. Itu pasti sangat memusingkan sekali. Adek harus percaya sama Mas. Ayah salah paham. Ayah mengira, mas ingin menikahi Lidya." Membelai wajahnya Melati dengan lembut. Melati tersipu malu, dengan kelakuan sang suami yang membelai wajahnya dan menatapnya penuh dengan kobaran api cinta yang membara.


"Iya Mas, adek juga sempat percaya dengan ucapan ayah. Karena, saat mas di dalam kamar nyonya besar. Adek tak sengaja mendengar percakapan mas dan Nyonya besar. Tapi, tapi sekarang. Adek yakin, sangat yakin bahwa Mas tidak akan menduakan adek." Menangis tersedu-tersedu dan langsung membenamkan wajahnya di dada bidangnya Ardhi. Sikap keduanya yang penuh dengan penghayatan itu. Sukses membuat mereka baper sendiri.

__ADS_1


Sudut bibirnya Ardhi yang terluka itu,. melengkung sempurna. Menciptakan senyum yang begitu manis. Pria itu merasa legah, ternyata istrinya itu tipe wanita yang sabar dan bijak dalam mengambil sikap. Benar-benar dewasa.


Ardhi membelai kepala sang istri yang tidak memakai hijab itu. Mencium puncak kepala sang istri dengan penuh rasa cinta. Rasa sakit di wajahnya seolah tidak dipedulikannya. Rasa sakit itu seolah hilang, karena obat penuh cinta dan kasih sayang dari sang isteri.


"Terima kasih sudah mau memahami Mas. Asal adek tahu, saat ini mas baru merasa legah. Tadi mas suntuk dan kalut sekali. Mas takut, adek akan menjauh dari mas. Mas jadi merasa tidak percaya diri. Mas yakin, jikalau ayah masih marah pada mas. Menghancurkan bisnis mas. Mas yakin, adek pasti akan tetap disisi mas kan?" Melati mengangguk dalam dekapan sang suami.


"Besok, mas akan jumpai ayah. Kalau dengan membuat mas kembali jadi gembel, Ayah bahagia, mas akan menyerahkan semua aset mas pada ayah. Adek masih mau kan menemani mas lagi dari nol." Melati mengurai pelukan Ardhi, mendongak dengan mata yang berkaca-kaca, menatap sang suami dan mengangguk lemah. Dia sudah terbiasa hidup susah sedari kecil. Jadi dia tidak akan takut, jika memulai semuanya dari nol bersama sang suami.


Ardhi merangkum wajah sang istri dengan perasaan terharu. Kembali mencium kening sang isteri. Tanpa permisi cairan bening yang dari tadi mendesak keluar itu, tak terbendung lagi. Ardhi menitikkan air mata. Rasanya begitu mengharukan dan membahagiakan. Karena ada istri yang mau mengerti akan dirinya yang sempat goyah dan hilang kepercayaan diri.


"Anak ayah, kamu sungguh hebat dan kuat. Lihatlah, kamu masih baik-baik saja. Ayah sudah tidak sabar untuk melihatmu sayang." Ardhi yang sudah menunduk dan menciumi gemes perut sang istri yang masih datar.


Melati senang, sekaligus merasa malu akan tingkah konyol sang suami. Kandungannya baru menginjak tiga bulan. Sudah diajak bicara. Lagian Melati belum terbiasa bersikap romantis dan menerima sikap romantis sang suami. Jadi terkadang dia merasa gimana gitu, jika Ardhi bersikap manja, romantis dan konyol padanya.


Ya begitulah tradisi atau kebiasaan di kampungnya Melati. Pasangan suami istri. Tidak boleh memperlihatkan keromantisan dan sikap manja kepada pasangannya di Semarang tempat. Kalau mau bersikap manja dan romantis ya harus di kamar saja.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2