DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Jadi rebutan


__ADS_3

"Sayang--- Mas sangat merindukanmu." Hembusan napas dan suara serak yang sangat dikenal Embun, membuat bulu romanya meremang. Belitan tangan kekar di pinggangnya pun semakin erat dirasakannya.


Jantung Embun semakin cepat saja berdetak, dia sangat terkejut. Tidak mungkin Ardhi yang memeluknya dari belakang saat ini. Tapi, suara dan bau parfum ini adalah milik kekasihnya Ardhi, pria yang sangat dicintainya.


"Mas rindu, sangat rindu." Embun semakin panik, tatkala kini pria yang diyakininya adalah Ardhi, membenamkan wajahnya di ceruk lehernya, menghirup aroma  tubuhnya dengan penuh kelembutan, yang membuat darah Embun berdesir hebat.


"Astaga, itu kan Ardhi. Ya ampun akhir nya mereka bertemu juga." Suara riang gembira Lolita yang melihat tontonan mesra di hadapannya. Membuat Tara, Doly dan Rose menoleh ke arah tatapan Lolita.


"Benar ya kalau cinta sejati, pasti bertemu di tempat yang tidak terduga. Embun pernah cerita, bahwa Mas Ardhinya sedang di Singapura, mereka LDR an. So sweet banget sih..!" Lolita bertopang insang, merasa takjub melihat keromantisan yang disuguhkan Ardhi dan Embun.


Doly dan Rose, saling sikut melihat ekspresi wajah Tara yang kini nampak marah, kesal, cemburu bergabung jadi satu. Wajah putihnya kini sudah merah padam. Tatapan matanya Tara kepada Embun dan Ardhi begitu mematikan, seperti predator yang siap memangsa.


Tentu saja Tara sakit hati melihat tontonan mesra di hadapannya, yang dipeluk itu adalah istrinya. Walau dia dalam keadaan marah. Dia berusaha mengontrol emosinya, agar tidak menimbulkan keributan di tempat itu. Selama sikap kedua manusia yang dimabuk cinta itu tidak melewati batas.


Mata Tara tidak berkedip menatap Embun yang menangis. Tangisan Embun di dalam pelukan Ardhi membuat Tara tidak berdaya. Ya istrinya itu, berulang kali memohon, agar mengizinkannya berkomunikasi dengan Ardhi.


Embun sedang menangis bahagia. Karena, bisa meluapkan rasa rindunya kepada kekasihnya itu. Itulah penilaian Tara saat ini.


"Shhiiittt... Jangan menangis lagi sayang. Mas akan membawamu sekarang. Mas tidak bisa hidup tanpamu. Baru dua bulan kita berpisah. Tapi, rasanya sudah beribu tahun. Mas sangat merindukanmu." Ardhi memeluk erat Embun. Membenamkan wajah Embun di dadanya yang bidang.

__ADS_1


Embun masih saja terus menangis. Dia sangat merindukan Ardhi. Walau Tara akhir-akhir mengusik ketenangan hatinya. Tapi, Ardhi adalah cinta sejatinya. Seandainya mereka tidak dilarang komunikasi. Mungkin kehadiran Tara dalam hidup Embun, tidak memberi efek apapun. Kosongnya perhatian dari Ardhi, yang digantikan oleh perhatian Tara. Sehingga membuat dirinya sedikit oleng kepada Tara.


Embun mengutuk dirinya yang lemah dan tidak setia kepada Mas Ardhinya. Karena, akhir-akhir ini memikirkan Tara. Padahal jelas sudah enam bulan kedepan dia akan kembali kepada Ardhi.


"I----ya, bawa aku mas. Aku tidak mau lagi melakoni ini semua." Ucap Embun terisak dalam dekapan Ardhi.


Embun saat ini sedang labil, tidak berpikir panjang, efek dari ucapannya. Yang dia inginkan saat ini adalah ketenangan bersama kekasihnya. Dia tidak memikirkan perasaan Tara atau pun keluarga besar mereka lagi. Toh Tara mengatakan sudah suka kepada Lolita. Tara juga sudah memuji-muji Lolita. Jadi, Embun beranggapan, bahwa sudah saatnya dia kembali kepada Ardhi. Semoga keluarga besar mereka nantinya mengerti akan keputusan yang diambilnya.


"Iya, iya sayang. Sudah jangan menangis lagi ya!" Ardhi mengurai pelukannya. Melap air mata Embun yang sudah membanjiri pipi pucatnya. Setelah melap air mata Embun, Dia kembali memeluk Embun dengan erat. Rasa rindu belum terobati rasanya. Lama berpelukan, Ardhi pun merangkum wajah Embun. Dia sangat merindukan kekasihnya itu. Berpelukan saja, tidak membuat rasa rindunya terobati.


Dengan tatapan penuh cinta, rindu yang membuncah. Hasrat yang perlu disalurkan dengan kontak fisik, karena hanya kata-kata tidak bisa jadi obat. Ardhi mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Embun yang sedikit menganga, karena masih terisak.


"Brengsek....!" teriak Tara, menarik Embun dan dengan cepat mendorong tubuh Ardhi. Kini Embun sudah berpindah ke pelukan Tara. Sedangkan Ardhi, terhuyung-huyung hendak terjatuh, karena Tara mendorong nya sangat kuat.


Embun yang labil dan bingung itu, hanya bisa menangis histeris. Dia serba salah, dia tidak tahu harus mengorbankan siapa?


Haruskah mengorbankan rasa cintanya kepada Ardhi. Tapi, kasihan sekali kekasihnya itu. Dia juga sangat mencintainya. Ardhi pria baik, itu cinta pertamanya.


Atau mengorbankan keluarga besar mereka, agar dia bisa bersama dengan Ardhi. Toh, ada Lolita yang akan jadi pendamping Tara.

__ADS_1


Dada Embun semakin sesak memikirkannya. Hatinya sakit, dia jadi korban perjodohan. Embun tidak bisa membendung kesedihan di hatinya lagi. Tangisannya semakin terdengar pilu dan menyayat hati, bagi siapa yang mendengarnya. Tara semakin mempererat pelukannya. Dia sangat takut, Embun berlari ke pelukan Ardhi.


"Anda sudah melanggar perjanjian Pak Ardhi." Suara lantang dan tegas Tara, menyita perhatian pengunjung restoran. Kini semua mata tertuju kepada mereka. Termasuk Lolita yang dibuat tercengang sekaligus bertanya-tanya. Kenapa Tara marah melihat Embun dengan Ardhi. Bukannya mereka hanya saudara sepupu an.


Raut wajah Ardhi saat ini begitu mengibah.


"Ku mohon, kembalikan Embun padaku. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku sudah mencoba, tapi tidak bisa. Kejadian hari ini, adalah petunjuk agar kami kembali bersama." Ardhi melangkah lemah ke arah Tara. Menjulurkan tangannya kepada Embun.


Embun bingung, takut, panik. Dia tidak tahan melihat Ardhi yang ekspresi wajah nya yang memelas itu. Embun pun tersadar, tak seharusnya dia menaruh hati kepada Tara. Coba dia tidak ada rasa kepada Tara. Mungkin dia tidak akan merasa tertekan dan sulit mengambil keputusan seperti saat ini.


"Ayo Dek!" Ardhi masih menjulurkan tangannya. Embun berontak dari dekapan Tara. Karena ingin pindah kepelukan Ardhi. Tapi, Tara menahannya. Menatap tajam Embun.


"Tara, Pak Ardhi ayo kita ke tempat lain saja. Kita bicarakan baik-baik. Malu dilihatin orang." Ucap Rose pelan. Dia langsung turun tangan, mencoba jadi penengah. Karena, melihat kedua kubuh saling mempertahankan hak miliknya.


"Apa hebatnya Embun pagi ini. Sampai dua pria hebat memperebutkannya?" Rose membathin, menatap Embun yang masih menangis tersedu-sedu, dalam dekapan Tara.


Rose kemudian ikut merangkul Embun. Mencoba memberi sugesti, agar wanita itu tenang. Sedangkan Doly berdiri di sebelah Ardhi. Bersiap-siap jadi satpam, jika terjadi baku hantam. Antara dua pria yang dimabuk oleh wanita. Halahhhh.... urusan hati memang ribet.


Kedua kubu lama terdiam. Berusaha untuk menenangkan diri masing-masing. Tapi, tatapan mata keduanya siap memangsa.

__ADS_1


Lolita yang masih duduk di tempatnya. Hanya bisa mengelus dada dan menarik napas dalam. Belum mengerti sepenuhnya dengan apa yang terjadi. Bahkan kini dia ditinggal pergi. Karena kedua kubu yang bersitegang sudah digiring oleh Rose dan Doly ke ruang privat.


TBC.


__ADS_2