DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Jejak


__ADS_3

Ardhi tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Tapi bukti ada di depan mata. Karena minum terlalu banyak, dia jadi hilang ingatan setelah mabuk. Dia mengalami blackout. Blackout ini biasanya terjadi jika seseorang mengonsumsi alkohol secara berlebihan.


Ardhi yang masih linglung itu meminta waktu kepada sang Ibu, untuk menenangkan pikirannya. Dia meminta Anggun dan sang Ibu keluar dari kamar itu. Sebelum mereka membahas semua yang terjadi. Anggun dengan tidak tahu malunya. Kembali memungut pakaiannya dan memakainya di kamar itu. Ardhi yang tidak sreg pada Anggun. Memalingkan wajahnya.


Lama Ardhi berada di kamar itu. Mencoba mengingat semua yang terjadi. Tapi, pria itu benar-benar tidak mengingatnya. Dia hanya merasa seperti bermimpi sedang melakukan itu, dengan Embun. Apa karena mabuk, dan kepikiran Embun, sehingga dia tidak sadar bahwa lawan mainnya adalah Anggun.


"Aaakkkhh sial-- kenapa aku harus ikutan minum!" pekiknya di dalam kamar mandi, di bawah guyuran shower. Ardhi benar-benar bingung dengan apa yang dialaminya.


"Cepetan Sayang, sebelum Ardhi keluar dari kamar itu." Ibu Jerniati nampak panik, memantau keadaan saat Anggun beraksi. Ternyata Anggun yang licik dan punya banyak akal itu sedang menghapus rekaman cctv disemua tempat yang menampilkan Melati.


"Iya Mom, sudah hampir selesai." Ucapnya di depan layar monitor. Dengan tersenyum puas, walau saat ini dia merasa was-was. Takut siasat mereka tidak berhasil. Tapi, wanita itu berhasil juga menghapus semua titik rekaman yang menampilkan Melati hingga ke luar gedung.


Itu sangat mudah dilakukan wanita itu, karena layar monitor itu memuat semua Chanel camera yang ada di gedung itu. Anggun hanya menyisakan rekaman cctv Melati yang keluar gedung, pada pukul 17.10 WIB. Ya Melati keluar saat itu, ingin melihat keadaan di luar.


"Sudah Mom," Anggun menepuk-nepuk kedua tangannya merasa tenang, karena bukti sudah dileyapkan.


"Syukur Mommy kepikiran ke CCTV, kalau gak tamat riwayat kita Mom." Ucap Anggun yang merasa lelah telah mengobok-obok layar monitor yang ukurannya lumayan besar itu. Yang terletak di ruang kerjanya Ardhi.


"Iya sayang, kamu memang hebat." Puji Ibu Jerniati yang merasa takjub dengan kepintaran Anggun. Anggun hanya tersenyum tipis. Dia tidak boleh nampak ceria, karena korban pelecehan biasanya, nampak murung.


Krek...


Mendengar pintu dibuka, kedua wanita itu pun bergegas duduk di sofa. Ibu Jerniati menampilkan ekspresi wajah penuh kekecewaan, karena merasa putranya itu telah melakukan perbuatan tidak terpuji. Sedangkan Anggun menampilkan ekspresi wajah sedih, dia adalah korban pelecehan.


Ardhi duduk di hadapan wanita itu dengan canggungnya. Kalau benar yang dilakukannya itu, berarti dia sama buruknya dengan ibunya.


"Maaf ya Dek Anggun. Kalau benar yang terjadi antara kita tadi. Abang tidak ada niat melecehkanmu. Memang Abang akui, Abang sedang mabuk. Bahkan, Abang tidak ingat, apa yang terjadi. Apa Abang benar melakukannya atau tidak."


"Ardhi...? jangan bilang kamu tidak mengakuinya. Lihat itu ada bercak darah di seprei. Ibu bisa malu nak!" Ibu Jerniati langsung memotong ucapan Ardhi. Dia harus tegas pada anaknya itu.

__ADS_1


Ardhi terdiam, bercak darah memang ada di seprei, tapi tidak banyak. Malahan darah banyak lengket di pentongannya.


Anggun masih berakting seperti korban yang paling menderita.


"Bukannya Ardhi tidak mengakui, kalau Ardhi melakukan itu. Tapi, Ardhi merasa tidak melakukannya dengan Anggun." Ucap Ardhi malu bercampur kesal. Dia mengusap wajahnya kasar. Anggun langsung menangis tersedu-sedu, mendengar ucapannya Ardhi.


"Apa? jadi kamu sering melakukan itu? sehingga kamu merasa melakukannya dengan orang lain." Ketus Ibu Jerniati, meraih tangan Anggun. Pura-pura memberi semangat untuk sabar.


"Ma," Ardhi menatap kesal sang ibu. Info yang di dapat asistennya Rudi, membuatnya muak kepada Ibunya itu.


"Ibu gak mau dengar alasan lainnya. Kamu harus bertanggung jawab." Hardik sang Ibu, menatap sendu, Anggun yang pura-pura sedih itu.


"Ardhi akan tanggung jawab, kami kan akan menikah. Tapi, ada hal yang ganjal menurut Ardhi Ma." Ardhi yang bingung, tetap tidak bisa tenang.


"Ibu tidak mau dengar alasan lainnya. Cepat antarkan Anggun. Kamu telah menodainya Nak!" Kali ini Ibu Jerniati Kembali beractjng menangis. Dia harus bisa mendesak anaknya itu, dan memprovokasinya, menutup cela buat Ardhi untuk membelah diri.


"Ardhi tidak bisa mengantarkan Anggun. Biar dia pulang bersama Mama. Ardhi banyak kerjaan hari ini." Ardhi yang belum tenang dan yakin dengan apa yang terjadi, ingin menyendiri. Tidak mau di atur sang ibu.


Ardhi menampilkan ekspresi wajah tidak senang, terhadap Sang Ibu. Dia tahu maksud tatapan sang anak. Kalau Ardhi sudah bersikap seperti itu, jangan dipaksa.


"Baiklah, Ibu yang akan pulang bersama Anggun. Nanti makan siang, kamu harus datang ke rumahnya. Pertanggung jawabkan pebuatanmu." Ibu Jerniati menggandeng Anggun keluar dari ruangan itu dengan tersenyum penuh kemenangan.


Sementara Ardhi yang ditinggal di ruangan itu, setres tingkat dewa. Dia berusaha mengingat-ingat kejadian saat dirinya mabuk. Mencoba mencari jawaban, benarkah dia menodai calon istrinya itu. Tapi, sedikit pun dia tidak mengingat apapun.


Yang dia ingat adalah, bercumbu dengan Embun. Tapi, Embun selalu berontak. Tapi, tidak mungkin Embun yang sedang bersamanya. Benarkah Anggun? kalau benar Anggun, kenapa dia merasa tidak yakin. Masih ada sedikit bayangan yang tertinggal di memorinya


lawan mainnya di rancang itu, seorang wanita yang berhijab. Ardhi ingat sedikit, disaat dia menarik paksa hijab wanita yang dinodainya.


"Apakah Melati? Melati yang pakai hijab dan mirip dengan Embun? tapi, bagaimana mungkin dia. Apa dia masih menunggu ku di ruangan ini selarut itu?" Ardhi bicara sendiri. Hatinya semakin tidak tenang dibuatnya. Sambil mengingat-ingat semuanya. Ardhi terus saja mengusap-usap wajahnya dengan kesalnya.

__ADS_1


Merasa tidak mendapatkan jawaban. Adhi memutuskan keluar dari ruangan itu. Ingin mencari keberadaan Melati. Harusnya ini hari kedua Melati bekerja. Waktu masuk jam kantor sudah tiba.


Sesampainya di meja kerjanya Melati. Dia tidak mendapati Melati di meja kerjanya.


"Ada Pak?" tanya Desi bingung dan penasaran, melihat Ardhi yang juga sedang linglung.


"Melati sudah datang?" tanya Ardhi dengan perasaaan tidak tenang.


"Sepertinya Melati tidak akan datang tuan. Aku menemukan ini di meja saya. Itu surat pengunduran diri dari Melati.


Desi menyodorkan amplop coklat kepada Ardhi. Ardhi yang bingung tetap menerima surat itu.


Kenapa pembantunya itu menuliskan surat pengunduran diri. Sedangkan surat lamaran saja tidak ada.


"Mana mungkin dia mengundurkan diri?" Ucap Ardhi bingung. Desi pun jadi ikutan bingung.


"Setelah Aku pergi semalam. Bagaimana kerjaan Dia. Yang kamu jelaskan, apa bisa diserapnya?" Ardhi membolak-balik amplop coklat di tangannya, sembari menunggu jawaban Desi.


"Dia mengerti dengan semua tugasnya Bos. Dia juga rajin kerjanya." Jawab Desi, merasa ada yang aneh dengan Bos nya.


"Jam Berapa dia pulang semalam?"


"Gak tahu Bos. Yang jelas, aku sudah pulang, dianya masih di sini."


"Apa saja yang dilakukannya selain bekerja?" Ardhi menatap lekat Desi.


Desi nampak berfikir. "Gak ada yang aneh sih Bos. Tapi, saat dapat waktu makan siang. Dia izin keluar ke taman. Katanya mau jumpa teman." Jelas Desi, masih penasaran dengan apa yang terjadi antara Melati dan sang Bos.


"Teman? apa temannya seorang pria?" tanya Ardhi antusias, dia bahkan memegang lengan Desi dengan kuat, sangat tidak sabar menunggu jawaban Ardhi.

__ADS_1


"Iya Bos, seorang pria. Aku sempat melihat nya dari jendela." Desi yang penasaran, akhirnya kepikiran untuk melihat Melati. Ya kebetulan taman yang di datangi Melati, bisa dilihat dari jendela kantor.


TBC


__ADS_2