DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Setres


__ADS_3

Setelah sarapan di restoran Hotel. Ardhi, Melati beserta keluarga besarnya pulang ke rumahnya Pak Samsul. Tentu saja Pak Zainuddin masih ikut rombongan. Dia sangat penasaran, bagaimana kondisi rumah Pak Samsul. Di rumah itulah putrinya dibesarkan dan didik dengan baik oleh Pak Samsul dan Ibu Khadijah.


Ada tiga mobil yang berangkat ke rumah Pak Samsul. Mobil pertama Yang didalamnya hanya Ada Ardhi, Melati dan sang supir. Mobil kedua rombongan Rudi beserta adik-adiknya Melati. Serta mobil ketiga Pak Zainuddin, yang di dalamnya juga ada Pak Samsul dan Ibu Khadijah.


Mewahnya mobil yang ditumpangi oleh Melati, nyatanya tak bisa membuat nya tidak mual. Dia yang tidak terbiasa naik mobil yang ber AC lah penyebab pagi ini. Melati mulai nampak gelisah di dalam mobil itu. Memegangi perut dan juga berusaha menyumpal mulutnya dengan tangannya. Pandangan selalu keluar jendela. Dia tidak mau menoleh ke arah Ardhi. Ardhi kasi sedih melihat sikap Melati. Wanita itu seolah ingin melarikan diri saja.


"Adek kenapa?" Ardhi memperhatikan Melati dengan khawatirnya. Melati tidak menjawab pertanyaan suaminya itu. Dia tidak bisa bicara banyak lagi, karena dia sudah sangat ingin muntah.


Tapi, tidak mungkin dia diam saja. Dia harus mengatakan keluhannya.


"Pak," Ucap Melati. Ardhi bingung dengan tingkah Melati. Dia ingin muntah, tapi, kenapa malah menatap ke arah sang supir. Kenapa tidak meminta bantuan padanya. Pak supir tidak menyahuti Melati, karena tidak merasa dipanggil wanita itu.


"Pak, Pak Tejo." Akhirnya supir itu pun menyahut, setelah Melati menyentuh sedikit bahu sang supir. Pak Tejo dan Melati cukup akrab. Karena, mereka sama-sama orang suruhan Ardhi. Saat Melati jadi pembantu di rumah suaminya itu.


"Eehh... Iya Mel, aapa?" Pak Tejo biasa memanggil Melati dengan sebutan nama, jadi kebawa. Ardhi langsung melotot pada Pak tejo. Pak Tejo tahu kesalahannya dan langsung terdiam.


"Kiri Pak, minggir pak?" seru Melati dengan susah payah menahan muntahnya yang memberontak ingin keluar dari sistem pencernaannya itu.


Minggir? koq minggir? emang kita sudah sampai, tapi disini tidak ada rumah. Kiri kanan badan jalan, persawahan semua. Pak Tejo membatin, dan akhirnya menepikan mobil.


Melati mencoba membuka pintu. Tapi, dia tidak bisa membukanya.


"Buka Pak!" ucap Melati dengan frustasinya. "Buka pintunya!" Melati benar-benar panik.


Pak Tejo semakin bingung. Dia memang mengunci mobil itu. Tapi, mobilnya Ardhi ini, walau di kunci otomatis dari bagian pintu supir. Para penumpang masih bisa membukanya secara manual. Hanya orang dari luar yang tidak bisa membuka pintu itu. Itulah hebatnya mobilnya Ardhi, mobil sedan keluaran Eropa itu

__ADS_1


"Adek mau ke mana?" Ardhi panik, dia berpikiran Melati ingin melarikan diri.


"Buka pintunya!" ucapnya dengan mata membulat.


"Itu bisa dibuka Mel, ini mobil bukan seperti mobil yang sering kamu tumpangi, kalau kamu ku ajak belanja ke pasar. Yang apabila ku kunci, tidak bisa kamu buka, sebelum aku menekan central lock." Jelas Pak Tejo.


Melati pun akhirnya kembali membuka pintu itu, benar saja bisa dibuka. Ternyata, dia tidak bisa membuka pintu. Karena wanita itu sedang panik. Dia sudah kebelet ingin muntah.


"Mau ke mana dek?" Ardhi menahan lengan Melati. Dan Blusshh...


Huuuuekkkk..... Huueeekkk.... Hueek.....!


Melati akhirnya muntah di dalam mobil mewah itu. Muntahnya berceceran di lantai, bahkan muntahnya Melati mengenai sepatu mengkilapnya Ardhi.


"Ya Allah... Kasihan sekali kamu Dek!" Ucap Ardhi spontan dengan wajah penuh kasihan. Memberi botol air pada Melati.


"Aku seperti ini karena kamu. Dekat denganmu buat aku setres." Ucap Melati dengan nada bicara penuh kebencian. Melati kesal dengan ucapan Ardhi yang kasihan padanya. Wanita itu menepis botol minuman yang disediakan Ardhi.


Ardhi menatap ke arah spion. Pak Tejo pun turun dari mobil itu. Menjauh, kea rah persawahan. Ardhi tidak mau, jikalau Pak Tejo, melihat keributan di mobil itu.


Ardhi tidak menanggapi ucapan Melati yang sedang emosi itu. Wajar istrinya itu marah padanya. Karena ulahnya Melati jadi hamil. Padahal wanita itu pasti belum mau hamil.


"Kumur-kumur dulu." Masih menyodorkan botol air mineral.


Melati menyambar botol minum itu. Bergegas turun dari mobil. Dia perlu menghirup udara yang segar. Udara AC membuat kepala nya pening. Apalagi mobilnya Ardhi, AC nya pakai parfum.

__ADS_1


Tin tin....


Rudi mengklakson, pria itu penasaran kenapa mobil Bos nya itu berhenti di tengah jalan. Rumah Melati masih ada sekitar dua kilo meter lagi.


Rudi akhirnya memberhentikan mobilnya di belakang mobilnya Ardhi. "Kenapa Bos?" Rudi turun dari mobilnya. Sedangkan kedua adiknya Melati, menatap dari kaca jendela mobil. Mereka penasaran dengan kakaknya yang berdiri di dekat sawah mereka.


"Kalian duluan saja. Lagi cari angin, di sini, sejuk." Titah Ardhi mengusir sang asisten dari tempat itu dengan gerakan tangannya. Sang asisten tak langsung mengindahkan ucapan bos nya itu. Dia merasa ada yang tak beres dengan bosnya itu.


"Apa lagi, kenapa bengong disitu? mau ku pecat kamu. Akhir-akhir ini kerjaanmu gak ada yang beres." Ardhi menggertak Rudi, pria itu bahkan mendekati Rudi, ingin menendang sang asisten yang tak mau pergi dari tempat itu.


Melihat sang Bos akan menyerangnya. Rudi pun lari terbirit-birit. Masuk ke mobil. "Kalau Ayah dan ibu nanyain. Bilang kami lagi bertamasya di rekreasi persawahan." Teriak Ardhi, kemudian menoleh kepada Pak Tejo, yang berdiri tak jauh dari mobilnya Rudi.


"Sana ikut sama si sontoloyo itu." Ketus Ardhi pada Tejo, yang usianya sebaya dengan Ardhi. Akhirnya pak Tejo pun berlari mengejar mobil yang dikendarai oleh Rudi, mobil itu masih melaju dengan lambat.


Ardhi menatap mobil yang dikendarai Rudi dengan perasaan tak karuan. Istrinya lagi ngambek. Marah-marah padanya. Ternyata mantan pembantunya itu, punya prinsip yang tak mudah digoyahkan.


Ardhi gitu loh, kaya, tampan. Banyak wanita yang berharap dinodainya. Lah Melati, tidak menganggapnya sama sekali. Kan Korslet itu namanya. Emangsih, si Melati anak orang kaya ternyata. Apa karena itu, wanita itu jadi tinggi hati saat ini?


Ardhi berbalik badan, setelah berperan bathin, membahas sendiri kepribadian Melati yang menurutnya punya prinsip yang kuat itu. Saat berbalik badan, dia tidak melihat Melati di tempat itu. Dengan paniknya dia mencari keberadaan Melati. Tapi, Melati tak ada di tempat itu.


Ardhi semakin ketakutan serta panik. Karena, Melati tiba-tiba menghilang.


"Melati..?" teriak Ardhi, berharap ada sahutan sang istri. Tapi, tetap tak ada sahutan.


"Melati...!" teriaknya lagi, mondar-mandir di pinggir jalan, berharap menemukan Melati.

__ADS_1


TBC.


Like, coment dan vote ya say.😍🙏


__ADS_2