DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Menopause


__ADS_3

"Ardhi, kamu kenapa masih di sini? bukannya kamu sudah setengah jam lalu pergi kerja?" suara Ibu Jerniati terdengar keras dan penuh kekesalan di ambang pintu kamarnya Melati. Melihat keberadaan Ardhi di kamar itu, membuat Ibu Jerniati semakin gondok pada pembantu itu. Benarkan, setiap kelakuannya pasti menarik perhatian anaknya itu.


Ardhi yang tahu bahwa ibunya sudah kesal itu, harus pandai membuat alasan. Dia tidak mau Melati jadi kena sasaran ibunya. Tapi, kali ini Ardhi tidak mendapatkan alasan yang tepat. Kenapa dia ada di kamar pembantu.


Ardhi putar balik, karena penasaran dengan pria yang dilihatnya tadi di pos satpam. Benarkah pria itu kekasihnya Melati? benarkah Melati hamil, seperti tuduhan ibunya?


"Nyonya, maaf saya mau lewat." Bi Kom yang datang membawa nampan berisi makanan. Ingin masuk ke dalam kamar. Tapi, Ini Jer jati masih berdiri di ambang pintu, dengan tatapan mata penuh kekesalan.


Ardhi yang tidak bisa menjawab pertanyaan Ibunya itu, akhirnya meninggalkan tempat itu. Tidak perlu dia banyak bicara di tempat itu.


Ibu Jerniati menatap kesal Melati dan Ilham. Kemudian wanita tua itu, mengekori anaknya.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ibu. Kenapa kamu ke kamar pembantu itu. Jangan bilang kamu mengkhawatirkannya Nak. Ibu bis gila." Ibu Jerniati menatap kesal putranya itu.


"Ma, kenapa selalu berfikiran kalau aku suka pada Melati. Seleraku bukan dia Ma." atrgas Ardhi yang membuat Mamanya sedikit lebah dengan ucapannya. Tapi, Ibu Jerniati masih ragu.


"Ya karena, kita dulu orang tak punya. Jadi kamu itu suka kasihan lihat orang susah. Makanya Mama khawatir kamu suka padanya." Akhirnya Ibu Jerniati mengatakan yang mengganjal di hatinya.


"Sudah deh Ma, pagi-pagi jangan bahas hal yang tidak penting. Ardhi berangkat dulu." Ardhi meraih tangan Ibunya, menyalin dan mencium punggung tangan wanita itu.


"Iya sayang, nanti titip salam buat Anggun ya!" Sang Ibu mengelus lengan putranya dengan sayang, yang ditutupi jas hitam itu. Dia legah, akhirnya putranya itu mengaku tidak tertarik pada Melati.


"Iya Bu. Assalamualaikum!" Ardhi berjalan ke arah mobilnya, dengan perasaan tidak tenang. Dia jadi kepikiran Melati, yang ditinggalkannya tanpa mengorek informasi tentang pria yang menjenguk pembantu itu. Entahlah, mulai tadi malam, dia jadi beneran kepikiran Melati, karena ibunya yang selalu membahas wanita itu.


Sementara di dalam kamarnya Melati. Wanita itu sedang makan bubur ayam yang dibuatkan khusus oleh Bi Kom.

__ADS_1


"Abang suapi ya? gak baik makan pakai tangan kiri." Ilham kembali membujuk Melati, agar mau disuapi pria itu. Kini benar-benar hanya mereka berdua di kamar itu. Bi Kom, pamit setelah mengantarkan makanan Melati.


"Gak usah bang, adek masih bisa." Ucapnya tersipu malu. Jangan tanya bagaimana debaran jantung Melati saat ini, tak karuan. Apalagi Ilham menatapnya terus.


"Kamu gak usah segan gitu, Sini Abang suapi." Ilham pun mengambil mangkuk yang berisi bubur nasi dengan suwiran ayam itu. Tenaga Ilham yang kuat, membuat Melati tidak bisa mempertahankan mangkuk di tangannya.


"Sini sensoknya!" Melati memberikan sendoknya pada Ilham.


Aahhhkkk.. Ilham ikutan membuka mulutnya. Dengan malu-malu Melati membuka mulutnya. Satu suapan gol masuk ke kerongkongan. Melati tersenyum manis. Baru kali ini dia disuapi pria selain Ayahnya. Aduhh rasanya tak bisa diutarakan. Melati merasa bahagia sekali. Rasa sakit disekujur tubuh hilang seketika.


"Oohhh.... sedang suap-suapan?" Suara keras Ibu Jerniati mengangetkan keduanya. Sontak mereka menoleh ke arah pintu. Melati langsung gemetar, dia ketakutan.


"Iya Bu, Melati kesusahan untuk makan. Tangan kanannya di infus." Jawab Ilham, melirik Ibu Jerniati dengan tersenyum tipis. Walau dia merasa wanita itu tidak baik, tapi, dia tidak mau bersikap tidak baik juga.


"Di sini itu bukan tempat untuk mesra-mesraan. Ini rumah bersih, bukan tempat mesum" ketua Ibu Jerniati, berdiri berkacak pinggang dengan angkuhnya di hadapan Ilham dan Melati.


"Siapa yang bermesraan? kami tidak bermesraan. Saya hanya membantu Melati untuk makan." Jelas Ilham dengan ekspresi wajah masam. Sepertinya wanita ini, tak pantas dihormati.


"Iiihh kamu ya, pandai sekali merayu." Menoyor kepala Melati. Ilham terkejut dengan kelakuan Ibu Jerniati. Sedangkan Melati hanya menunduk lemah dengan mata yang sudah berkabut.


"Nyonya, kenapa menoyor kepala Melati? dia lagi sakit." Protes Ilham keras, menatap tajam Ibu Jerniati.


"Apa, apa? gak suka, aku bersikap seperti itu, pada pacarmu yang gatal ini. Ingatkan baik-baik pacar gatelmu ini. Jangan godain anakku. Nanti kamu yang hamilin. Minta pertanggung jawaban ke anakku lagi." Ujar Ibu Jerniati geram, menantang tatapan tajam Ilham.


Ilham menggelengkan kepalanya, tidak menyangka, wanita tua dihadapannya adalah Mak lampir kombinasi iblis. Benar-benar keturunan Dajjal. Anak dan ibu kebalikannya.

__ADS_1


"Harusnya anda bicara sesuai dengan umur anda. Sudah tua, tapi lidah seperti tidak di sekolah kan." Ilham malah menantang Ibu Jerniati.


"Keluar kamu dari rumah saya. Dasar tamu gak ada akhlak." Seru Ibu Jerniati, menggerakkan tangannya ke arah pintu.


Ilham tersenyum sinis, dia baru tahu, ada orang kaya yang sombongnya kelewatan.


"Anda tuan rumah tak ada akhlak. Sama tamu gak ada dipannya." Tantang Ilham.


"Berani ngatain saya gak ada akhlak. Keluar...!" Kali ini Ibu Jerniati berteriak. "Sebelum aku panggilkan Satpam, Keluar...!" Teriak wanita itu. Melati semakin ketakutan. Kali ini habislah riwayatnya. Dia pasti akan dipecat.


Melati menatap Ilham dengan sendu, memberi isyarat dengan menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Berharap pria itu keluar dari kamar itu.


"Permisi Bu, saya doa kan semoga anda diberi hidayah oleh Allah. Saya melihat noda-noda maksiat banyak betaburan di wajah tua anda." Ucapan Ilham membuat Ibu Jerniati speachles. Yang dikatakan pria itu benar. Tapi, kenapa pria itu tahu. Wajahnya kan masih glowing, walalu terlihat sudah ada keriput halus.


"KELUAR....!" teriaknya.


Ilham menatap sedih Melati yang menunduk. Dia kasihan kepada wanita itu. Jadi terlintas dibenaknya untuk menikahinya secepatnya. Sepertinya kalau Melati sudah sehat, dia akan mengajak Melati untuk menikah.


"Cepat sembuh ya Dek! Abang pamit, assalamualaikum!" Ilham membalik badan, setelah Melati menjawab salamnya.


"Awas, jangan ku dengar kabar, anda memarahi atau menganiaya Melati. Aku bisa laporkan anda kepada pihak berwajib." Ilham kembali membalik badan. Memberi ultimatum pada wanita tua itu.


"Berani juga pacarmu itu ya?" Ibu Jerniati, menatap sinis Melati yang terdiam menunduk. Wanita itu pun pergi dengan membanting pintu dengan sekuat tenaga.


Air mata yang sedari tadi ditahan, akhirnya tumpah juga. Melati menangis tersedu-sedu. Merasa bersalah pada Ilham. Tak seharusnya dia merepotkan pria itu, dengan mengabarinya sedang sakit.

__ADS_1


"Itu Mak lampir kelebihan dosa. Mukanya aja Mupeng! apa wanita tua itu belum menopause? koq brutal sekali." Ilham menggerutu melewati taman samping rumah itu dengan kesalnya.


TBC


__ADS_2