
"Mel, pulang dari kampus ke mall yuk?" ajak Butet, mereka akan memasuki kelas. Ini mata kuliah terakhir hari ini. Jam tiga sore selesai.
Butet, sudah membiasakan berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar sekarang. Itu semua dilakukannya. Karena tidak mau diejek oleh Ilham lagi.
"Aku banyak kerjaan sekarang Tet, jadi gak bisa bagi waktu lagi. Nanti deh, kalau kerjaanku lempang. Baru kita pergi. Kita ajak Abang Ilham
Moga dia mau." Melati akan tersenyum bahagia, apabila bibirnya menyebut nama pria itu.
"Kalau gitu, pulang nanti kita singgah sebentar di kampus ya?" kini mereka berdua sudah duduk di kursi masing-masing.
Ilham kampusnya berhadapan dengan kampusnya Melati. Hanya di batasi oleh jalan besar. Dulu, Melati sangat ingin kuliah di kampusnya Ilham. Tapi, takdir berkata lain. Dia akhirnya kuliah di kampus yang berbeda dengan Ilham.
Walau begitu mereka sering berjumpa, bahkan sering janji bareng, berjumpa di perpustakaan daerah.
Hari ini Melati tidak semangat dalam mengikuti materi yang disajikan Dosen. Dia teringat kejadian di taman tadi pagi. Kebencian Nyonya besar, semakin menjadi saja padanya.
Terkadang Melati heran sendiri, kenapa wanita itu begitu membencinya. Padahal dia sama sekali tidak ada niat mengganggu atau tertarik untuk merayu anaknya Tuan Ardhi.
Posisi Melati saat ini benar-benar tidak aman. Sempat dia dipecat, dia mau makan apa di kota itu. Cari pekerjaan yang gajinya lumayan seperti pekerjaannya sekarang, sangatlah susah didapatkan. Tanpa terasa perkuliahan pun selesai.
"Sebelum pulang, makan mie ayam tuk Mel?" ajak Butet, memegangi perutnya yang keroncongan.
Permintaan Butet kali ini sangat sulit untuk diiyakan oleh Melati. Dia takut pekerjaannya gak beres di rumah, dan akhirnya dia kena pecat nantinya.
"Aduhh Butet, maaf ya. Kali ini aku tidak bisa temani kamu. Aku masih banyak pekerjaan." Keluhnya dengan muka kusut. Dia belum membersihkan kamarnya Ardhi. Kamar majikannya itu harus bersih, sebelum yang punya kamar pulang. Ardhi biasanya pulang kerja pukul 17.00-18.00 WIB. Jadi saat ini, dia hanya punya waktu satu jam untuk membersihkan kamar itu. Karena, sampai di rumah, sepulang dari kampus waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB.
"Olo Ma, Sibuk kali kau jadi orang." Ketus Butet, merasa kesal, karena gak punya temen makan mie ayam. (olo ma\=Iyalah).
Saat itu juga, Ilham nampak keluar dari gerbang kampus dengan motor bebeknya warna hitam. Butet dan Melati sedang menunggu angkutan umum.
"Bang Ilham... Woi bang Ilham..!" teriakan Butet, membuat orang menoleh kepadanya. Dasar si Butet, susah juga untuk merubah kebiasaan.
Ilham pun menghampiri kedua wanita itu dengan menebar senyuman yang manis.
"Bang Ilham, Keta mangan mie ayam." Butet yang suka cari perhatian pada Ilham, malah tidak mau menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan pria itu. Dia ingin pria itu menasehatinya lagi. Ya namanya juga mau cari topik pembicaraan. Meta mangan mie ayam\= Ayok, makan mie ayam).
"Boleh, Abang kebetulan lapar banget ini." Ilham tampak antusias menanggapi ajakannya si Butet. Ilham mengira, si Melati ikut makan mie ayam juga.
"Ayok!" Si Butet langsung duduk ngangkang di motor nya Ilham. Yang punya motor terlonjak kaget.
"Kenapa loe naik, terus si Melati mau loe kemanain? Kadang-kadang otak loe gak jalan ya Tet. Turun kamu, kalian jalan saja. Kan itu dekat gerobak penjual mie ayamnya." Ujar Ilham, menepuk pelan, kaki si Butet, agar turun dari motornya.
"Si Melati gak ikut Abang. Dia harus pulangnya?? cepat." Jelas Butet. Walau sudah pakai bahasa Indonesia, tapi logatnya masih kentara.
__ADS_1
Ilham menatap Melati. Matanya tak berkedip menatap Melati yang nampak sedih itu. Pria itu jadi kepikiran, apa wanita itu punya masalah.
"Gak ikut dek?" Melati menggelengkan kepalanya.
"Kalau Melati gak ikut, ya gak jadi kita makan mie ayamnya. Turun kamu Tet!" seru Ilham, memaksa Melati agar beranjak dari motornya.
Butet yang merasa dirinya tak inginkan Ilham bersamanya. Akhirnya turun dengan tetap kepercayaan diri yang tinggi.
"Ayo naik Mel, aku antarin kamu pulang." Ajak Ilham, memberi kode dengan matanya, agar Melati naik ke motornya.
"Ya, aku pulang sendiri deh " gerutu Butet sedih.
"Kamu kan biasa pulang sendiri. Lagian kamu dan Melati, beda arah kost an nya. Kalau Melati memang searah dengan kost an Abang. Ayok Dek, cepetan naik. Kamu mau cepat sampai kan? Sebentar lagi jam pulang kantor. Jalanan pasti macet kalau naik angkot." Mendengar ucapan Ilham, Melati jadi terpengaruh. Tadinya dia tidak ingin pulang bareng sama Ilham. Secara Ilham kan bukan muhrimnya. Gak baik sering-sering boncengan dengan pria yang bukan muhrim. Pikir Melati.
"Ayo Dek!" Melati menoleh ke arah Butet, yang seolah membolehkan Melati pulang bareng Ilham.
"Sampai bertemu besok Tet." Melati pun menaiki motor Ilham dengan duduk menyamping. Senyum mengembang terlukis sudah di wajah tampan pria itu. Sedangkan Melati yang dalam boncengan, merasa sungkan dan enggan. Karena, dia tidak terbiasa diboncengin cowok.
Butet hanya terdiam mematung menyaksikan kepergian Ilham dan Melati. Terkadang Butet merasa sedih. Dia kasihan pada dirinya sendiri, karena kebanyakan orang selalu menganggap remeh dirinya. Tidak pernah dia merasa di spesialkan. Dia juga tidak pernah merasa dicintai.
Padahal dia tidaklah jelek. Dia cantik banget, seperti artis Korea. Dengan kulit putih, mata sedikit sipit. Tubuh tinggi proporsional Tapi, sayang rambutnya kriting.
Dia menyukai Ilham, pada pandangan pertama, disaat Melati mengenalkan mereka. Tapi, Melati kan menyukai pria itu. Lagian dia dan Ilham beda keyakinan. Cukuplah rasa kagumnya, pada pria itu dipendamnya saja. Tidak mungkin, dia merusak hubungan baiknya dengan Melati. Apalagi, hanya Melatilah teman yang mengerti akan dirinya. Menerima setiap tingkah konyolnya.
"Terimakasih Ya Bang." Ucap Melati setelah wanita itu turun dari motor pria itu. Kini mereka sudah sampai di depan gerbang rumah gedong itu.
"Iya, sama-sama. Besok Abang jemput lagi, kita pergi kuliahnya bareng." Ucap Ilham tersenyum manis. Seketika Melati menundukkan wajahnya, ketika melihat senyum pria itu. Entah kenapa Melati jadi tersipu malu, karena melihat senyum manisnya Ilham.
"Gak usah Bang." Masih menunduk, saat menjawab ajakan Ilham untuk pergi kuliah bareng.
"Kenapa?" tanya Ilham sedih.
"Adek gak bisa pastikan waktunya. Takutnya Abang harus cepat-cepat." Tolak Melati halus. Mana mungkin dia setiap hari boncengan dengan pria yang bukan muhrimnya.
Tin tin tin..
Suara klakson yang berasal dari rumahnya Ardhi, membuat keduanya terlonjak kaget. Mereka sama-sama menoleh ke asal suara. Ternyata mobilnya nyonya besar keluar dari pagar tinggi itu. Ilham yang berada sedikit di tengah gerbang, akhirnya menepikan motornya. Begitu juga dengan Melati, bergerak ke tepi, hingga kini dia dan Ilham berdiri bersebelahan.
Melati menundukkan kepalanya, disaat mobil itu melaju dihadapannya. Sedangkan Ilham menatap heran, Ibunya Ardhi yang menatap tajam ke arah Melati. Ibunya Ardhi ternyata membuka kaca jendela mobil.
"Dasar wanita kampung gatel, lihatlah kelakuannya. Masih sore sudah berdua-duaan dengan pria. Dipikirnya aku akan memberi celah padanya untuk menggoda anakku." Ibu Ardhi membatin, masih terus menatap Melati, hingga kepala wanita itu miring 75 derajat.
Sementara di tempat yang berbeda dan masih diwaktu yang sama. Ardhi sedang bertemu dengan pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah angkatnya. Pria itu adalah, pria yang ditolong Ardhi saat kecelakaan. Pria yang memberi modal kepada Ardhi, sehingga bisa membuka usaha sendiri. Dan sekarang jadi perusahaan raksasa.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu seperti itu? ada masalah serius?" Ucap Pria yang bernama Zainuddin.
Ardhi menatap Pak Zainuddin dan tersenyum tipis. Kemudian pria itu menghela napas dalam, dan menghembuskannya pelan.
"Bapak ajak kamu ketemu mau cerita hal yang mengganjal di hati Bapak. Tapi, sepertinya saat ini kamu yang perlu cerita. Ayo ceritalah, mumpung bapak ada waktu mendengarkan masalahmu, sampai dapat waktu magrib." Pak Zainuddin yang tadinya berdiri di dekat jendela. Kini mendudukkan bokongnya di sofa, tepat di hadapan Ardhi.
Ardhi kembali menarik napas panjang.
Hhuuuufffttt.....
"Ibu menjodohkan ku Pak." Ucapnya malas, sangat berat rasanya menceritakan kegundahan hatinya. Baru juga ditinggal kawin kekasih dan sekarang dipaksa Menikah dengan wanita yang tidak dicintainya. Ini situasi yang menyebabkan sekali.
Pak Zainuddin tersenyum tipis. Merasa masalah Ardhi bukanlah hal berat.
"Kamu harusnya bersyukur, masih dicariin jodoh sama Ibumu. Berarti jodoh yang diberikannya itu, tentulah wanita yang baik." Ardhi menggeleng lemah. Baik dari mana? wanita itu saja seperti mafia. Berani menculik Embun dan hendak membunuhnya. Wanita itu sangatlah berbahaya, seperti nya lebih berbahaya dari iblis.
"Entahlah Pak." Ujar Ardhi, dia tidak mungkin menceritakan sifat buruk calon istrinya itu.
Ardhi kembali menarik napas dalam, sepertinya pasokan udara di dalam paru-paru pria itu sudah habis. Sedikit-sedikit, menghela napas.
"Bapak sepertinya mau menceritakan sesuatu? tadi Bapak bilang ingin membahas sesuatu saat menelpon." Ardhi kini mengubah posisi duduknya dengan menyilangkan kakinya.
"Iya Nak, entah mata bapak ini yang salah, atau terlalu merindukan mendiang istri. Bapak seolah melihat istri Bapak berkeliaran di kampus X." Ujar Pak Zainuddin, mengingat seminggu yang lalu melihat seorang gadis di Halaman Mesjid, yang sangat mirip dengan istrinya yang sudah meninggal.
Pak Zainuddin dapat proyek pembangunan gedung di kampus X. Seminggu yang lalu dia survei ke lapangan. Disaat sholat Dzuhur belia pergi ke Mesjid.
"Bapak hanya berhalusinasi, karena terlalu merindukan sang isteri " Ardhi mendekati pria itu, memijat-mijat bahu dan pundak pria paruh baya itu. Pak Zainuddin menikmati pijatan Ardhi.
"Iya Nak, sesaat Bapak berfikir. Mungkinkah dia putri bapak yang hilang?" Putri Bapak itu memang sangat mirip dengan ibunya." Pak Zainuddin menatap foto mereka yang bertengger di dinding ruangan itu.
"Bisa jadi Pak." Ardhi berjalan ke arah meja kerjanya pak Ali, mengambil bingkai yang berisikan foto pak Zainuddin dan istrinya.
"Aku saja Pak, kalau lihat foto Bapak sama Ibu, jadi teringat Embun Pak. Wajah mereka mirip banget, terus wajahnya ibu, Alam istrinya bapak, mirip juga dengan salah satu ART di rumah." Ucap Ardhi sedih, kalau dia menyebut nama Embun. Hatinya terasa ngilu, dan perih. Dia tidak menyangka, wanita itu akan mencampakkannya.
"Bisa jadi seperti itu. Katanya kan kita punya tujuh kembaran di dunia ini." Pak Zainuddinmeraih bingkai foto yang disodorkan oleh Ardhi. Menatap sedih foto dirinya dan Istrinya itu.
"Bapak jangan sedih lagi, semua usaha untuk menemukan putri Bapak dulu kan sudah dilakukan. Jadi, bapak jangan menyesali semua yang terjadi. Kita harus bisa ikhlas dan sabar menerima ketetapannya Pak." Ardhi melanjutkan kegiatannya untuk memijat-mijat bahunya Pak Zainuddin. Itu sudah menjadi kebiasaannya, disaat dia bertemu dengan Ayah angkatnya itu.
"Iya Nak, syukur ada kamu, yang selalu ada waktu untuk tempat bertukar pikiran. Bapak salut samamu. Karena, tidak larut dengan masalah asmara." Puji Pak Zainuddin, Ardhi hanya tersenyum getir di belakang tubuh pria gemuk itu.
Orang tidak tahu, betapa hancurnya pria itu. Dia menyembunyikan lukanya, menyimpan rasa sakit itu sendiri. Kini mantan kekasihnya itu pasti sudah bahagia dengan suaminya.
Hati Ardhi sakit, mengingat Embun, mengingat kejadian di restoran, disaat Embun lebih memilih Tara, dari pada dirinya. Mengingat Embun menangis, memohon untuk melepaskannya. Kejadian itu sangatlah menyakitkan. Ardhi mendongak, dan mengerjap-ngerjap kedua matanya. Menahan air mata yang mendesak untuk keluar.
__ADS_1