DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Status sosial


__ADS_3

Keinginan Rudi untuk makan jagung bakar terwujud juga. Pria itu kini tengah duduk di atas pondok bertingkatnya Pak Samsul. Dengan bersila, dengan wajah bahagianya. Angin sepoi-sepoi semakin menggugah seleranya untuk melahap habis, semua jagung yang dibakar oleh Pak Samsul, tentunya Rudi ikut membantunya.


Tanpa tambahan mentega, dan soas. Nyatanya jagung bakar itu sangat nikmat, gurih dan manis. Dia yang lagi merasa bahagia itu, langsung melakukan panggilan video Dengan Ardhi. Sudah tiga kali panggilan, Bos Nya itu tak kunjung mengangkat panggilannya. Dia yang lagi merasa senang itu, akhirnya melakukan siaran langsung di media sosialnya. Memamerkan kegiatannya yang sedang berada di sawah sambil membakar jagung.


Tak butuh waktu lama, siaran langsungnya banyak penonton dan banjir comentar. Rudi juga menyorot pemandangan indah di hadapannya. Hamparan padi yang sudah berbulir dan pemandangan gunung bukit yang indah di hadapan mata, sungguh membuat pikiran tenang.


Saat dirinya asyik melakukan siaran langsung. Ardhi menelponnya. Siaran langsung pun berakhir. Dengan senyum merekah dan hati penuh semangat dia menyapa Ardhi.


"Hai Bos, terima kasih sudah memberi tugas dinas luar padaku." Ucapnya dengan perasaan senang. Kening Ardhi mengerut mendengar ucapan Sang asisten.


Seketika rawit wajah bingungnya Ardhi berubah. Disaat Rudi memperlihatkan keadan sekitar.


"Kamu di mana ini?" tanya Ardhi dengan penasarannya. Memperhatikan layar ponselnya


"Di sawah mertuanya Bos." Rudi mengarahkan kamera kepada kedua orang tuanya Melati yang juga sedang menikmati jagung bakar. Orang tuanya Melati tidak tahu, bahwa mereka sedang di camera Ardhi. Mereka menikmati jagung bakar yang manis dan gurih itu.


"Itu orang tuanya Melati?" tanya Ardhi, kedua orang tuanya Melati mendengar ucapannya Ardhi. Mereka pun menoleh ke arah kamera. Sesaat Ardhi heran, wajah orang tuanya Melati tak ada mirip-miripnya dengan wanita itu.


"Pak, ini calon menantu Bapak itu. Ganteng kan?" Rudi menyodorkan ponselnya kepada ayahnya Melati. Pria itu tidak berani memegang ponsel mahal itu. Dia menolaknya dan tersenyum.


"Baikah, aku saja yang megang." Rudi pun memposisikan ponselnya di hadapan kedua orang tuanya Melati. Sehingga kedua orang tua nya Melati bisa melihat jelas wajah Ardhi yang lagi senyam-senyum itu.

__ADS_1


Ardhi merasa bahagia sekali, membayangkan dirinya akan menikah dengan Melati.


"Assalamualaikum Pak, saya Ardhi Shiraz, yang akan jadi menantu Bapak dan Ibu." Ardhi tersenyum dan melambaikan tangannya sesaat.


Wajah bahagia karena terharu jelas terlihat di wajah orang tuanya Melati.


"Apa ku bilang Pak. Memang anak kita akan menikah. Tidak mungkin ada orang salah alamat dan kasihkan uang sebanyak itu." Ujar Ibu Khadijah dengan rawut wajah sedih sekaligus bahagia. Dia merasa sangat bersyukur, putrinya itu mendapatkan jodoh yang kaya raya dan sepertinya baik. Asistennya saja baik begini.


"Iya Bu." Pak Samsul melap matanya yang berkaca-kaca. Dia tidak mau air mata itu jatuh di pipinya.


"Mungkin tiga hari lagi, saya dan Melati akan ke sana Pak."


Ayahnya Melati mengangguk dengan semangatnya. "Iya Bere, Iya Bere." Jawabannya membuat Ardhi bingung. Tapi, dia tidak mempermasalahkan apa yang diucapkan Pak Samsul yang tidak dimengerti nya itu.


Akhirnya dia akan punya kebanggaan tersendiri, saat mengucapkan ijab nanti. Walau acaranya sederhana. Ya, acara pernikahan Ardhi dan Melati nantinya hanya akan di hadiri segelintir orang yang penting di acara itu. Karena, situasi keadaan yang membuat sedemikian rupa.


***


Melati berbohong pada Ardhi. Dia mengatakan ada ujian pukul 11 siang. Padahal dia ada jadwal ujian pukul 14.00 wib. Dia mengatakan itu, karena tidak ingin berlama-lama dengan pria itu.


Setelah Ardhi mengantarkan Melati ke kampus. Wanita itu pun memilih pergi ke perpus. Berusaha untuk menenangkan diri sejenak di ruang baca, sambil menunggu Ilham yang telah di kabarinya, saat diperjalanan ke perpustakaan.

__ADS_1


"Abang sudah belikan tiket kita pulang." Ilham menyodorkan dua tiket ke hadapan Melati dengan tersenyum.


Melati memperhatikan tiket angkutan itu dengan lekat, kemudian wanita itu meraihnya. Membacanya dengan detail. Jadwal keberangkatan pukul 18.00 WIb. Melati tersenyum kepada Ilham.


"Maaf kalau tindakan Abang terkesan tergesa-gesa. Tapi, harus seperti ini langkah yang harus kita ambil dek." Ilham menatap serius Melati yang masih tersenyum padanya. Saat ini Melati pasrah saja, dengan apa rencana pria dihadapannya. Ada pria yang mau menjadi ayah dari anak yang dikandungnya saja, dia sudah sangat berterima kasih sekali. Apalagi pria ini baik.


"Abang sudah beritahu ibu. Abang bilang, Abang akan bawa Boru." Senyuman Ilham semakin terlihat mengembang. Lagi-lagi Melati hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan pria itu. "Setelah sampai di rumah. Nanti pihak dari keluarganya Abang mengabari keluarga Adek." Untuk kali ini, Melati terkejut dengan rencananya Ilham. Itu artinya mereka sedang kawin lari.


"Kenapa harus kawin lari bang? prosesnya yang wajar saja. Kita pulang bersama. Aku turun di rumah. Abang turun di rumah Abang. Terus keluarga dari pihaknya Abang datang ke rumah. Melamar Melati." Jelas Melati tegas, dia kurang suka diajak kawin lari.


Melati dan Ilham tinggal dalam satu kecamatan, desa desa yang berbeda.


"Kalau tidak seperti itu. Prosesnya akan lama dek. Abang hanya mengkhawatirkan nyawa yang ada di tubuhmu sekarang. Mumpung baru hitungan Minggu." Ilham memperhatikan sekeliling, takut ucapannya didengarkan orang lain. Walau dia mengucapkannya dengan nada yang sangat pelan.


Melati tersentak mendengar ucapan Ilham. Ya benar sekali yang dikatakan pria itu. Kalau menunggu sesuai aturan yang ada di desa. Bisa sebulan prosesnya, itupun kalau orang tuanya Melati mengizinkan putrinya menikah. Kalau tidak bagaimana? tapi, kalau dia kawin lari, mana mungkin lagi dibatalkan.


"Iya bang. Adek sekarang pasrah saja. Adek yakin, Abang tulus padaku." Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tak ada keraguan di hatinya, disaat Ilham menawarkan diri jadi suaminya. Walau pria itu tak pernah muncul di mimpi nya saat dia minta petunjuk kepada sang Khaliq.


Beda dengan Ardhi. Membayangkan Ardhi jadi suaminya. Membuat wanita itu ketakutan. Ada Ibu Jerniati yang akan selalu memusuhinya. Ditambah Nona Anggun, wanita berkelas dan anak pengusaha itu juga akan terus menerornya. Menjadi bagian hidupnya Ardhi, tidaklah keputusan yang tepat. Tidak selalu, wanita yang dinodai, harus menikah dengan pria yang menodainya.


Perbedaannya dengan Ardhi sangat jelas, seperti langit dan bumi. Dia babu, Ardhi sang majikan. Status sosial mereka sangat berbeda. Beda tadi ceritanya, kalau mereka saling mencintai. Walau status sosial berbeda. Tapi, karena ada cinta dihubungan itu. Maka, mereka akan punya kekuatan untuk menyingkirkan krikil - krikil tajam yang menghambat perjalanan biduk rumah tangga mereka.

__ADS_1


TBC


Minta vote ya?!🤭


__ADS_2