DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Salah dan salah


__ADS_3

Acara yang paling mendebarkan untuk Ardhi dan Melati akan dilaksanakan, yaitu acara ijab kabul. Sudah pukul 20.00 Wib, tapi Pak KUA belum juga hadir di tempat itu. Mungkin Pak KUA sedang diperjalanan. Saat-saat menunggu kehadiran Pak KUA di ruangan itu. Sesekali Ardhi menoleh kebelakang, mencuri-curi pandang pada Melati yang berada di belakangnya.


Sejak mengetahui bahwa Melati adalah putri kandung Pak Zainuddin, pria itu bertekad ingin melakukan yang terbaik untuk Melati. Dia akan membahagiakan wanita itu, sebagai bentuk balas budinya kepada Pak Zainuddin. Memang belum ada rasa cinta. Tapi, rasa nyaman yang dirasakan nya saat bersama wanita itu, sudah cukup sebagai alasan untuk menua bersama wanita itu. Semoga rasa nyaman itu berubah jadi rasa cinta dan kasih sayang. Ya, yang kita cari di dunia adalah kenyamanan.


Melati yang merasa dirinya kotor itu, hanya menunduk. Dia malu menatap orang di ruangan itu. Apalagi ternyata orang yang menyaksikan pernikahannya jumlahnya bertambah banyak dibanding pagi tadi.


Kebaya yang dikenakan Melati tentu saja mewah. Kebaya warna putih BW bahan brokat bertabur Swaroski itu, cukup menarik perhatian orang-orang untuk memandang ke arah Melati. Melati bisa merasakan orang-orang di ruangan itu memandanginya. Saat ini yang bisa dilakukan Melati hanyalah menunduk. Menutupi wajahnya dengan selendang yang tersampir di kepalanya. Wanita itu merasa malu,serta takut. Dia merasa tatapan orang-orang di ruangan itu seolah menelanjanginya.


Wanita itu juga tahu, Ardhi selalu mencuri-curi pandang padanya. Tapi, dia sedikit pun tidak mau menatap ke arah Ardhi yang ada dihadapannya. Dia masih kesal pada pria itu. Apalagi kalau kejadian malam menyakitkan itu, melintas lagi dipikirannya. Rasa sakit saat diperawani dengan paksa, masih membekas di hati dan pikirannya. Mungkin seumur hidup, dia akan selalu ketakutan apabila pria itu mendekati nya.


"Alhamdulillah Pak KUA akhirnya datang juga." Pak Zainuddin langsung bangkit dari duduknya, Menyambut Pak KUA dengan ramahnya. Pak Zainuddin merasa bahagia sekali. Di umurnya yang ke 50 tahun, akhirnya bisa menikahkan putrinya.


Rasa bahagia dan syukurnya tak bisa diungkapkannya lagi dengan kata-kata. Pak Zainuddin senyam senyum, dia benar-benar bahagia. Apalagi menantunya adalah Ardhi. Pria yang menurutnya baik.


"Iya Pak, terima kasih. Saya minta maaf, karena telat, ada tamu penting datang ke rumah. " Jelas Pak KUA dengan tersenyum tipis.


"Baiklah kita mulai saja acaranya." Pak KUA menatap ke arah Ardhi, dengan tatapan datar. Dia kurang sreg pada Ardhi. Karena info yang didapatnya, Ardhi yang menodai Melati.


Pak KUA membuka acara dengan muqaddimah yang panjang menggunakan bahasa Arab. Ardhi yang respect kepada Pak KUA itu, karena cara berbicara yang enak didengar, memperhatikan lekat pak KUA dengan tersenyum penuh ketulusan.


"Nikah itu adalah peristiwa sakral yang bukan saja kita yang hadir menyaksikan tetapi juga disaksikan oleh Allah SWT bersama para malaikatnya di Arsy. Oleh karena itu perlu dijaga dan jangan main-main dengan pernikahan ini. Sekali menikah pertahankan sampai maut yang memisahkan kalian berdua. Walau pernikahan ini dirasa memaksa, karena sesuatu hal. Saya harap, kalian bisa mempertanggungjawabkan janji suci itu."


Deg


Jantung Ardhi berdetak kuat. Disaat ucapan seseorang menyinggung perbuatan tak bermoralnya. Dia akan merasa bersalah, dan merasa jadi manusia paling jahat pada Melati.


“Teruskan kebahagiaan hari ini untuk selamanya bukan hanya hari ini, karenanya kalian berdua harus memiliki komitmen yang kuat untuk selalu memelihara, merawat dan mempertahankan mahligai rumah tangganya dengan baik sehingga kelak dapat mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Keluarga yang didalamnya penuh kedamaian dan ketenangan.

__ADS_1


"Nak Ardhi, gauli istrimu dengan lembut. Jaga perasaannya. Kebanyakan para suami jika sudah memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal, dia merasa sudah hebat karena memberikan itu, tidak ada yang lain lagi. Dia melupakan bahwa wanita (istri) itu bukan hanya membutuhkan makan, minum, pakaian, dan lain-lain kebutuhan material, tetapi juga membutuhkan perkataan yang baik, wajah yang ceria, senyum yang manis, sentuhan yang lembut, ciuman yang mesra, pergaulan yang penuh kasih sayang, dan belaian yang lembut yang menyenangkan hati dan menghilangkan kegundahan." Pak KUA mengucapkan nya dengan tegas.


Dug..


Ucapan Pak KUA kali ini membuat Melati semakin ketakutan. Dia belum siap untuk disentuh oleh Ardhi. Walau katanya dilakukan dengan lembut. Rasa sakit yang teramat masih membekas di hati wanita itu.


"Dan untukmu Melati, sebenarnya Udak sudah menganggapmu sebagai putri Udak sendiri. Udak tidak menyangka kamu menikah secepat ini. Masih Udak ingat, bagaimana kamu berbaktinya kepada Pak Samsul dan Ibu Khadijah, setelah pulang sekolah. Kamu langsung ke sawah. Pulang dari sawah pukul lima sore, kamu di rumah harus memasak lagi. Malamnya kamu mengajari anak-anak di kampung kita mengaji di rumah kalian." Pak KUA masih tetanggaan dengan Pak Samsul. Sawah mereka juga bersebelahan. Pak KUA sedih mengetahui fakta Melati adalah korban pemerkosaan. Walau pria yang menodainya mau bertanggung jawab. Tapi, kejadian yang menimpa Melati, sangat disesalinya. Wanita sebaik itu, harus mendapatkan perlakuan keji.


Melati terbawa suasana dengan ucapan Pak KUA. Wanita itu pun akhirnya menitikkan air mata. Dia tidak kuasa menahan emosi kesedihannya. Mengingat semua perjalanan hidupnya. Suara isakan Melati, tentu bisa didengar oleh Ardhi. Dia semakin merasa bersalah pada wanita itu.


"Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan. Layani ia dengan kehangatanmu. Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu. Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu. Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu. Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu. Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu.


"Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Mar’atush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia, adalah wanita yang sholihah, istri yang Sholehah).


Lagi-lagi tangis Melati pecah. Betapa berat tanggung jawab yang harus diembannya. Harus jadi istri Sholehah pada pria yang menodainya dengan paksa. Harus jadi istri yang baik, pada pria yang tidak dicintainya. Bagaimana caranya melakukan nasehat Pak KUA yang juga ustadz itu. Saling mencintai saja, kadang ego masih bermain. Apalagi ini, tak ada rasa cinta sama sekali. Malah ras benci dan ketakutan yang dirasakan wanita itu.


"Baiklah Pak Zainuddin sekarang kita sudah bisa mulai " Pak KUA tidak jadi wali hakim lagi.


"Iya Pak Ustadz." Pak Zainuddin nampak begitu senang dan bahagia. Mata rabunnya berkaca-kaca, tapi rawit wajah bahagia itu jelas terlihat di wajah Pak Zainuddin yang masih tampan, walau sudah berumur 50 tahun. Pak Zainuddin ternyata tipe pria, makin tua makin mempesona.


Ardhi mulai memposisikan dirinya di hadapan Pak Zainuddin, yang dibatasi oleh meja yang dihias dengan indahnya berwarna putih. Walau acaranya sederhana. Pihak Hotel sudah mendesain ruangan itu layaknya sedang berlangsung sebuah pesta besar.


Ardhi Duduk dengan tidak tenangnya. Dia benar-benar nervouse. Dia melirik dengan ekor matanya Melati dituntun oleh Ibu Kjadijah untuk duduk di sebelahnya. Dia tersenyum pada calon istrinya itu. Tapi, Melati menampilkan ekspresi datar, tidak tertarik untuk membalas senyum manisnya Ardhi.


Ardhi menghela napas dan menghembuskannya pelan. Dia bisa memahami sikap Melati yang belum welcome padanya. Dalam hati pria itu selalu berdoa, agar dia bisa dalam ijab kabul ini.


"Baiklah, tidak usah latihan lagi ya Pak Zainuddin, Nak Ardhi. Kita langsung saja. Semoga hanya sekali ucap." Tegas Pak KUA. Ardhi dan Pak Zainuddin tersenyum mananggapi ucapan Pak KUA.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim... " Pak Zainuddin mengulurkan tangannya yang langsung disambut Ardhi dengan antusias.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Ardhi Shiraz bin Harun Mustafa dengan putri saya Melati Assifa dengan maskawinnya berupa mahar 300 juta uang, beserta kalung emas seberat 10 gram dibayar Tunai.”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Melati Assegaf.." Ardhi terdiam dan langsung menunduk, dia lupa nama lengkapnya Melati.


Sedangkan Melati dibuat sedih, karena Ardhi tidak hapal namanya. Wajar pria itu tidak tahu apa-apa tentangnya. Karena dia memang seorang pembantu. Dia juga dinikahi pria itu, karena terpaksa. Melati memalingkan wajahnya dengan rawut wajah sedih, saat Arshi meliriknya.


"Tidak usah tegang begitu Nak Ardhi. Coba rileks, tarik napas dulu." Ardhi pun melakukan instuksi Pak KUA, kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.


"Coba dibaca lagi, teksnya. Ada Teksnya kan?" Ardhi tidak memegang teks ijab kabulnya. Sebenarnya dia sudah hapal, tapi karena gugup, ditambah Melati cemberut terus pada nya. Dia jadi tidak konsentrasi.


Rudi langsung tanggap, memberikan contekan kalimat ijab kabul. Dengan malunya, Ardhi meraih kertas itu. Membaca sekilas teks itu.


"Baiklah kita mulai lagi." Ucap Pak KUA.


Pak Zainuddin dan Ardhi pun kembali bersalaman.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Ardhi Shiraz bin Harun Mustafa dengan putri saya Melati Assifa dengan maskawinnya berupa mahar."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Melati Assifa."


"Cut cut cut... "Teriak pak KUA. Pak Zainuddin belum selesai mengucapkan ijab, dan Ardhi Langsung menjawabnya. Akhirnya ijab kabul salah lagi.


TBC


Mohon dukungan like, coment positifnya utk Ardhi. Dan vote ya say.❤️🤗 Kasihan Ardhi coi. Gak lancar ijab kabul.

__ADS_1


__ADS_2