DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Menguping


__ADS_3

"Ooohh Iya tuan, saya bisa melaksanakan semua tugas itu."Jawabnya ramah, masih tidak berani menatap Ardhi. Bagi Melati tugas yang disebutkan Ardhi sangatlah gampang. Hanya bersih-bersih dan buatkan kopi.


Ardhi tersenyum lebar, dia suka karakter Melati yang penurut dan rajin itu.


"Bagus kalau begitu. Tapi, semua tugas yang ku katakan tadi hanya berlaku di ruangan ku saja." Ardhi mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya.


Melati tersentak mendengar ucapan majikannya itu. Hanya membersihkan ruangannya saja, tentu pekerjaan dia sangat lah gampang.


"Iya Tuan, Terimakasih banyak." Ucap Melati canggung.


"Kamu mau ke mana?" Melati menghentikan langkahnya. Dia ingin keluar dari ruangan itu. Dia mau langsung bekerja. Membuatkan kopi untuk Ardhi.


"Mau membuatkan kopi untuk tuan." Jawabnya sopan, masih menunduk.


"Ooh iya, silahkan!" Ardhi tidak menyangka, Melati orangnya cepat mengerti akan tugasnya.


Saat Melati ingin keluar dari ruangan itu, dia berpapasan dengan Rudi, sang Asistennya Ardhi.


Melati menunduk, memberi hormat pada Rudi.


"Melati, kamu Melati kan?" tanya Rudi memperhatikan Melati lekat. Dia heran kenapa pembantu ada di kantor ini.


"Iya tuan." Jawabnya sopan, masih menundukkan kepalanya.


"Dia akan bekerja di sini." Rudi mengalihkan pandangannya kepada Ardhi yang kini berjalan ke arahnya.


"Buatkan juga kopi untuk Rudi ya Mel." Ardhi merangkul Rudi sang asisten, mereka duduk di sofa warna hitam yang ada di ruangan itu. Sedangkan Melati pergi mencari ruangan pantry.


"Kamu Melati kan?" Suara seorang wanita mengangetkan Melati saat mondar-mandir mencari ruangan pantry.

__ADS_1


"Iya kak." Melati memperhatikan wanita yang berjalan ke arahnya. Wanita yang penampilannya sedikit sexy tapi masih nampak formal itu, benar-benar menarik perhatian siapapun yang melihatnya.


"Sini aku jelasin lagi kerjaanmu." Melati mengikuti wanita yang memakai rok di atas lutut, baju kaos yang ditutupi blazer itu.


"Ini meja kerjamu. Bos Ardhi ingin kamu membantu pekerjaanku. Karena pekerjaan di perusahaan ini lagi banyak. Jadi, aku butuh teman untuk menghandle kerjaan." Melati hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan wanita cantik di hadapannya.


"Tugasmu gak banyak, hanya bersih-bersih, buatkan kopi, memfotokopi berkas. Ya semacam itulah." Kini Melati kembali mengikuti langkah sang sekretaris ke sebuah ruangan. Ternyata mereka menuju ruang pantry.


"Di sini kamu bisa buatkan minuman untuk Bos dan aku juga. Bos itu suka kopi susu, sejenis capuccino, dia gak suka kopi pahit. Lah kalau aku suka kopi yang pahit. Ini wadah minuman untuk bos. Dia punya minuman khusus gitu." Sang sekretaris kini berdiri di hadapan Melati, memperhatikan penampilan Melati yang biasa saja. Saat ini Melati kebetulan pakai gamis yang formal warna sofpink, dengan hijab menutupi dada.


Merasa diperhatikan dari atas sampai bawah, Melati pun akhirnya menoleh ke wanita cangik di hadapannya. Dia melihat name tag sekretaris itu, 'Desi'


"Iya kak Desi, terimakasih atas arahannya." Ucap Melati sopan.


"Baiklah, buatkan minuman untuk Bos dan aku juga."


"Iya Kak." Si Desi sang sekretaris melenggang pergi ke meja kerjanya.


atau teh yang enak itu, harus menggunakan air yang mendidih.


Melati baru tahu, kalau si bos suka cappucino. Kalau di rumah, memang dia tidak pernah dimintain dibuatkan kopi atau teh. Biasanya ART yang lain yang melakukannya.


Melati sudah selesai membuatkan tiga jenis meminum yang disimpan di atas nampan. Dia berjalan ke arah meja Desi. Karena meja Desi yang paling dekat dengannya saat ini.


"Ini kak." Melati melatakkan kopi di atas meja nya Desi. Dengan tersenyum manis.


"Terimakasih, setelah selesai dari ruangan bos. Kamu kesini lagi ya?!" ucap Desi memperhatikan kopi buatan Melati yang nampak sedap dari penampilannya.


"Iya kak," Melati pun masuk ke ruangan Ardhi setelah mengetuk pintu. Dia melihat sang majikan dan asisten sedang duduk di sofa. Dia pun meletakkan minuman itu di atas meja yang ada di hadapan kedua pria itu.

__ADS_1


"Silahkan diminum tuan-tuan!" ucap Melati ramah. Berbalik badan, hendak keluar dari ruangan itu. Mencari sapu dan serokan. Dia akan bersih-bersih.


"Melati, tunggu!" suara Ardhi menghentikan langkahnya.


"Iya tuan," Melati mendekati Ardhi


"Tugas kamu membersihkan ruangan itu." Ardhi menunjuk ruangan yang tak jauh dari meja kerjanya.


"Baik tuan, aku ambil sapu dulu." Ucapnya sopan. Ardhi hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Melati keluar dari ruangan mencari sapu.


Kini Melati sedang membersihkan sebuah ruangan. Ruangan yang terdapat di ruang kerjanya Ardhi. Ruangan itu seperti kamar. Karena ada tempat tidur, lemari dan kamar mandi di dalamnya. Bahkan kursi malas ada di kamar itu yang dekat ke jendela.


"Eemmmm..... Enak juga ya di kamar ini. Ranjangnya empuk lagi. Entah kapan, aku bisa tidur di atas ranjang seempuk ini." Ucapnya lirih, dia masih terus membersihkan barang-barang di kamar itu. Melap headbord tempat tidur itu dan membersihkan lemari.


Saat Melati membuka lemari pakaian itu, dia mendapati sebuah bingkai foto. Yaitu bingkai yang berisikan foto Ardhi dengan Embun.


"Kenapa sih wanita ini meninggal Tuan Ardhi. Tuan Ardhi kan orangnya baik. Kasihan sekali nasibmu tuan Ardhi." Melati berbicara sendiri, sembari memperhatikan foto Ardhi dan Embun yang nampak mesra dengan fose Ardhi merangkul Embun dari samping.


Dengan berdecak pelan dia kembali menyimpan foto itu dan melanjutkan kegiatannya, membersihkan kamar itu beserta kamar mandi. Sebenarnya kamar itu sudah nampak bersih. Tapi, karena dia diminta membersihkannya ya dia kerjakan juga.


"Bos, kata Nyonya pernikahannya dilaksanakan di rumahnya Nona Anggun." Melati yang mendengar asisten Rudi membahas pernikahan Ardhi, dia pun menguping di balik pintu kamar itu.


"Tadi sih Nyonya inginnya dilaksanakan di Mesjid. Atau di rumah orang tuanya Non Anggun. Tapi, Non Anggun ingin dilaksanakan di rumahnya." Ya, Anggun sudah punya sendiri di kota Medan. Mereka juga ada rumah di Surabaya.


"Kamu atur aja lah semuanya Rud. Aku tinggal datang saja di Hari H. Kamu tahu sendiri, kerjaan banyak. Alhamdulillah kita banyak dapat proyek." Ardhi menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Membahas pernikahan membuatnya jadi badmood.


"Iya Bos, oh ya terkait kerja sama dengan perusahaan BATARA group, gimana bos? bukannya kemarin Bos sempat menghentikan proyeknya. Kalau itu kita lakukan kita bisa rugi besar. Kita pasti kena gugat." Lagi-lagi Melati menguping.


Ardhi yang setres ingin mengalihkan kerjasamanya dengan perusahaan Tara. Terkait pembangunan kantor perusahaan nya Tara. Ardhi yang tidak bisa melupakan Embun. Ingin menghentikan proyek itu. Dia tidak mau berurusan dengan Embun dan segala te"tek bengeknya.

__ADS_1


Tapi, Tara yang baik hati itu tidak mau memutus hubungan kerja. Karena, dia merasa terlalu jahat sebagai rekan bisnis. Dia tahu, saat ini Ardhi sedang tidak profesional.


__ADS_2