
Sebulan telah berlalu. Melati tetap menutup rapat mulutnya tentang kejadian pem*rkosaan yang dialaminya. Dia menjalani hari-harinya seperti biasanya. Bekerja sebagai ART di rumahnya Embun dan kuliah.
Dia selalu mencoba untuk melupakan kejadian buruk itu, tapi nyatanya dia tidak bisa. Setiap malam, dia selalu menangis, jika kejadian menyakitkan itu melintas lagi dipikirannya.
Pria bejat yang merenggut kesuciannya itu juga tak ada kabarnya. Jadi, benar apa yang dikatakan Nyonya besar. Bahwa Ardhi tidak ingin bertanggung jawab.
Anggun juga sudah mendapatkan hukuman atas kejahatannya. Yaitu penjara selama tiga bulan. Anggun mendapat hukuman ringan, karena Melati yang diserang, tidak cidera. Luka di wajah Melati adalah luka saat dirinya jatuh di aspal, saat mobilnya Tara nyaris menabraknya.
Melati membaringkan tubuh lelahnya setelah habis nyentrika di ruang laundry. Dia meregangkan otot-ototnya dengan berbalik ke kanan dan ke kiri, sehingga menimbulkan bunyi retakan.
Mata indahnya kini kembali berkabut. Dia tidak bisa membendung kesedihan di hatinya, disaat rasa kesal dan menyalahkan takdir kembali bergelut di pikirannya. Terkadang dia down, hingga pikiran negatif memenuhi kepala nya.
Sore tadi, Ilham kembali mengungkapkan keseriusannya. Pria itu wisuda hari ini. Tapi, Melati tidak mau menghadiri acara wisudanya Ilham. Dia malu pada kedua orang tuanya Ilham. Jadinya Ilham mendatangi Melati ke rumahnya Embun.
Pria itu kembali mengajak Melati untuk menikah. Dia menawarkan pilihan, setelah ujian semester mereka akan pulang ke kampung dan menikah di sana.
__ADS_1
Melati tidak bisa memberi jawaban, jadi dia meminta Ilham menunggu sampai selesai ujian semester. Maka Melati akan memberi jawaban. Ilham setuju, sembari menunggu ujian semesternya Melati selesai. Dia mencoba mencari pekerjaan di kota besar itu. Siapa tahu, Melati, setelah menikah ingin tinggal di kota Medan. Bukan tinggal di kampung.
Melati menyeka air matanya, dengan selimutnya. Tanpa disadarinya kini matanya tertuju pada kalender yang menggantung di dinding kamar tepat di hadapannya.
Dug
Dug
Dug
Jantungnya berdetak cepat, karena dia sedang merasa ketakutan yang luar biasa. Dia tidak mau dugaannya itu terjadi. Dia tidak mau hamil
Melati semakin ketakutan saja. Kini keningnya sudah mengeluarkan bintik-bintik air. Wanita itu kepanasan, padahal saat ini cuaca sedang dingin. Karena baru selesai hujan.
"Aku tidak mungkin hamil. Aku tidak mau mau hamil." Melati beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan mondar-mandir di kamarnya, sembari memegangi perutnya yang masih datar itu.
__ADS_1
Dia sangat ketakutan saat ini. Tindakan apa yang akan diambilnya, kalau dia benar-benar hamil.
"Tidak..!" ucapnya histeris, melorotkan tubuhnya di dinding setelah memperhatikan detail tanggal terakhir dia menstruasi. Melati menggeleng penuh kekhawatiran. Menutup telinganya dengan tangannya. Dia seolah mendengar orang-orang menghakiminya. Memberi sanksi soal atas dirinya yang hamil diluar nikah.
"Aku tidak mungkin hamil. Tanda-tanda orang hamil tidak ku rasakan. Aku tidak muntah-muntah. Aku tidak pusing, bahkan aku sekarang sangat kuat makan." Melati berbicara sendiri dengan putus asanya.
"Tidak mungkin aku hamil!" dia Kembali mengulangi kata-kata itu. Dia telat datang bulan, pasti karena setres. Dulu saat batu pertama kali kuliah, dia juga sempat tidak menstruasi sampai dua bulan. Karena, saat itu dia lagi setres dengan rutinitas kuliah sambil bekerja sebagai ART.
Kali ini juga pasti seperti itu. Masalah yang datang beruntun, membuatnya setres, sehingga hormon esterogennya tidak stabil.
Melati yang tidak tenang itu, akhirnya mencari informasi dari google. Dia ingin memastikan, apakah dia hamil. Saat dia mulai mensearching. Ternyata paket datanya habis. Dia pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencari info atau penjelasan tentang kehamilan dan masa subur.
Sebenarnya di rumahnya Embun ada WiFi. Tapi, dia tidak tahu sandinya. Selama ini dia memakai paket data saat mengakses internet dan sosial medianya. Sisa pulsa di kartunya masih ada sepuluh ribu. Tapi, kalau dia menggunakan itu, maka pulsanya akan kesedot habis semua.
Melati sudah mengganti nomor ponselnya, sejak keluar dari rumah sakit. Dia sengaja mengganti nomor ponselnya. Karena takut diteror Ibu Jerniati.
__ADS_1
TBC
Kantuk say, maaf Dikit. Tetap dukung dengan memberi like coment dan vote