
Ilham sungguh terkejut melihat penampakan di dalam kamar mandi itu. Darahnya mendidih, tidak tahan melihat keadaan Melati yang berjongkok di kolong wastafel membentengi dirinya dengan kedua tangannya. Sepertinya dia sedang menghindar dari serangan Ibu Jerniati. Dan di sebelahnya Melati ada Ibu Jerniati yang berdiri dengan rawut wajah takut, tapi wanita tua itu seolah tidak gentar.
"Melati..? kau, wanita tua!" Saat Ilham masuk ke dalam kamar mandi dengan geramnya. Ibu Jerniati berlari cepat, melarikan diri. Ilham bingung, antara mau menolong Melati untuk berdiri, atau mengejar Ibu Jerniati. Pria itu terdiam sejenak dan akhirnya.
"Bang Ilham... Bantu aku!" Melati berteriak, ketika melihat Ilham akhirnya berlari ingin mengejar Ibu Jerniati. Melati tidak mau memperpanjang masalah, toh dia tidak kenapa-kenapa.
Ilham tidak menggubris teriakan Melati, dia harus mengejar Ibu Jerniati dan memberi ultimatum pada wanita tua itu.
"Bang Ilham... bang Ilham..!" Melati berteriak sambil berlari dengan memegangi kepalanya yang sempoyongan. Ilham menoleh ke belakang. Saat itu juga Melati ambruk. Terduduk lemah di koridor gedung itu.
Ilham semakin panik dan mengkhawatirkan Melati. Dia berlari ke arah wanita itu. Membantunya untuk berdiri. Tapi, Melati tidak punya tenaga untuk berdiri. Tubuhnya bergetar hebat, wajah cantiknya sudah pucat pasi. Bintik-bintik air sudah bermunculan di keningnya. Tangan wanita itu terasa dingin.
Ilham kembali mencoba membantu Melati untuk berdiri. Tapi, tetap Melati tidak ada tenaga. Akhirnya Ilham membopong Melati. Pria itu membawa Melati kembali ke ruang kelas, mendudukkan Melati di kursi. Hanya itu usaha yang terbersit dipikirannya.
Melati masih bisa duduk di bangku itu, walau nampak lemah. "Adek minum dulu." Ilham meraih botol air mineral dari tas ranselnya. Dia memberikannya pada Melati. Dengan tangan bergetar Melati meraih botol minuman itu.
Melati tidak ingin minum, tapi dia tetap meneguknya. Melati merasa tubuhnya sakit semua. Tidak bertenaga, kepala bagian atas terasa sakit, terumata disaat menunduk.
Aku kenapa? kenapa tiba-tiba lemah begini? apa karena mendengar ancaman nyonya besar? Melati membathin, duduk lemah dalam keadaan menunduk. Dia tidak mau membalas tatapan Ilham. Dia takut pria itu nantinya banyak bertanya.
Ilham terus saja memperhatikan Melati yang menunduk. Tidak saatnya mengintrogasi wanita lemah di hadapannya. Tunggu si Melati tenang. Dia tidak akan membiarkan Melati membungkam mulutnya.
Sepuluh menit pun berlalu, kedua manusia itu hanya terdiam di ruangan itu. Ilham tidak tinggal diam, dia sedang memesan taksi. Tidak mungkin dia membawa pulang Melati naik motor. Melati masih lemah.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?" Akhirnya Ilham berinisiatif mengajak Melati pulang. Tidak mungkin mereka berlama-lama di tempat itu.
"Iya bang, ayo!" Melati mencoba bangkit, dengan bantuan Ilham, dia pun bisa berdiri. Ilham memapahnya ke parkiran. Lagi-lagi Ilham tidak bertanya apapun.
"Koq kota naik taxi? terus motor Abang gimana?" Mekati menoleh kepada Ilham. Kini sebuah taxi sudah terparkir di hadapan mereka.
"Adek masih lemah, Abang takut, nanti adek jatuh dari motor. Kalau adek tadi mau pegang genting Abang ya tidak masalah, kita naik motor. Sekalian dipeluk lebih baik." Ilham tersenyum tipis, dia menggoda Melati. Melati mencebikkan bibirnya kepada Ilham.
"Ya ampyun, sudah mau pingsan masih bisa meledek ya?" Ilham menggelengkan kepalanya, berpura-pura kecewa atas sikap Melati. Akhirnya wanita itu tersenyum tipis. Dia merasa beruntung, bisa kenal dan dekat dengan Ilham.
Apakah dia akan tetap baik seperti ini, jikalau tahu yang sebenarnya? Senyum tipis itu pun akhirnya lenyap, disaat Melati mengingat seperti apa dirinya saat ini.
"Ayo masuk, jangan bengong." Ilham memberi kode dengan wajahnya, agar masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka itu.
Dengan pergerakan lemah, Melati masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Ilham. Pria itu memilih duduk di bangku sebelah supir. Setelah dia mengantarkan Melati pulang. Dia akan mengambil motornya
"Koq kita ke kilinik Bang?" tanya Melati gugup, dia saat ini sedang tidak tenang. Dia tidak mau diperiksa. Dia takut, kalau saat diperiksa ketahuan hamil gimana?
"Adek harus diperiksa. Adek pucat sekali." Ilham turun dari tadi, membuka pintu untuk Melati. Wanita itu tidak mau diperiksa, akhirnya dia memilih diam di tempat.
"Ayi dek, turun." Ilham menatap lekat Melati. Wanita itu menundukkan kepalanya. Dia belum siap menerima kenyataannya kalau dia ternyata belum hamil.
"Aku gak sakit, aku gak mau berobat. Aku mau pulang. Istirahat di rumah sebentar, aku akan baikan." Melati tetap getol, tidak mau turun. Padahal dia merasa saat ini kepalanya semakin sakit, begitu juga dengan sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Ilham pun tidak mau memaksa. Dia kembali masuk ke dalam taxi. Dia pun mengatakan tujuan berikutnya kepada Pak supir dengan suara pelan. Melati tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Taxi pun kembali bergerak, me tempat tujuan yang di maksud Ilham.
Lagi-lagi Melati terheran. Saat ini mereka sedang berhenti di area parkir sebuah restoran mewah, yang punya tempat privasi.
Melati memperhatikan Ilham yang membuka pintu mobil untuknya.
"Ayo, kita makan dulu, Abang lapar." Ilham memberi kode dengan pergerakan wajahnya, agar Melati cepat turun.
Awalnya wanita itu ragu, tapi akhirnya dia mau juga turun. Setelah membayar argo Tadi. Mereka memasuki sebuah ruangan private.
"Kenapa makannya di tempat seperti ini?" tanya Melati, saat Ilham membukakan pintu tempat yang dipesannya.
"Nanti adek juga tahu sendiri. Ayo masuk!" Ilham membuka pintu selebar-lebarnya. Melati pun masuk dengan sedikit keraguan.
"Adek mau pesan apa?" Ilham pun akhirnya menyodorkan daftar menu kepada Melati. Karena dilihatnya Melati diam saja.
"Terserah Abang, jangan makanan yang aneh-aneh." Ucapnya lemah, menyoroti ruangan itu dengan takjub. Sungguh interior yang sangat indah. Maklumlah dia wanita kampung, makan di restoran mahal belum pernah.
"Kenapa kita makan di sini?" Tanya Melati, dia akhirnya meraih daftar menu yang tertinggal di mejanya. Dia ingin mengejek harga makanan yang ada di restoran itu. Ternyata harganya masih bisa dijangkau, walau restorannya nampak mewah.
"Karena Abang ingin berbicara serius dengan adek." Ilham menatap lekat Melati yang tiba-tiba menunduk. Dia tahu, ada yang disembunyikan wanita itu. Dia harus menanyakan kebenaran yang didengar tadi saat di kamar mandi.
"Mau membicarakan apa bang? bukannya sudah jelas, kita akan bahas lagi semuanya, setelah Adek selesai ujian semester." Melati mengira, Ilham akan menanyakan tentang kesiapannya untuk menikah saat libur semester di kampung.
__ADS_1
"Ada yang lebih serius dari hal itu. Abang mendengar semua percakapan kalian di kamar mandi tadi."
Duar....