DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Dia mencintaimu


__ADS_3

Sepeninggalan Ardhi, Pak Zainuddin dan sang putri Melati berbincang-bincang di ruang keluarga. Pak Zainuddin bercerita banyak tentang Melati saat kecil. Sambil mendengarkan cerita sang ayah. Kedua mata Melati berkaca-kaca melihat-lihat album foto-fotonya bersama ayah dan ibunya itu.


Kenangan rasa senang, sedih, emosi, semua terasa campur aduk saat ini. Tapi, satu hal yang paling terasa saat ini buat Melati, melihat album foto lamanya membuatnya bersyukur karena telah menjadi seperti hari ini. Tak pernah melintas dipikirannya kalau dia bukanlah anak Pak Samsul.


Mengingat Pak Samsul dan Ibu Khadijah. Melati kembali menitikkan air mata. Orang tua asuhnya itu telah mendidiknya dengan baik, sangat baik.


"Aku gak mirip Mama." Ucapnya memperhatikan wajah sang ibu di foto lawas itu.


Pak Zainuddin, memperhatikan foto yang dipegang oleh Melati.


"Mirip Nang, hanya saja, kamu lebih mirip ke ayah dari pada mamamu. Kamu itu benar-benar perpaduan ayah dan mama yang sempurna. Cantik, baik seperti Mamamu. Pantas Ardhi tergila-gila."


Melati menoleh kepada sang ayah. Apa maksudnya ucapan ayahnya itu. Suaminya tergila-gila padanya? mana mungkin, suaminya itu tergila-gila pada Embun. Itu baru benar.


"Aakkhhh ayah ini, kok bicara seperti itu." Melati menyangkal ucapan sang ayah. Sudah jelas, suaminya itu tadi bilang mau belajar mencintai. Kenapa ayahnya malah bilang kalau Ardhi sangat mencintainya. Ada-ada saja.


"Iya, Ardhi itu cinta samamu Nang. Kalau gak cinta mana mungkin dia mau menikah denganmu. Dia bukan tipe pria yang suka mempermainkan hubungan. Kalau dia mau menikah itu tandanya dia cinta sama mu."


Melati menggeleng dan tersenyum tipis. Apa ayahnya lupa, Ardhi mau menikahinya karena insiden malam itu.


"Mas Ardhi menikahi putri ayah ini, bukan karena dia mencintai Melati ayah. Tapi, karena terpaksa. Ayah tahukan apa yang menimpa Melati." Ucapnya dengan senyuman yang terpaksa. Kalau mengingat kejadian itu, Melati masih merasa kesal dan sakit hati pada suaminya itu.

__ADS_1


"Iya, ayah tahu. Kalau dia gak cinta atau suka samamu, mana mau dia menikah denganmu Nak. Bisa saja dia menghindar, tidak mau bertanggung jawab atau melenyapkanmu. Dia kan tidak melakukan itu."


"Mas Ardhi ditekan Kak Embun dan Bang Tara ayah " Melati sudah mulai badmood. Malas dia membahas kejadian itu. Tapi, lihatlah ayahnya itu, malah getol membahasnya.


"Bukan itu alasannya. Dia gak takut akan ancaman Embun dan Tara. Memang dia mau menikah denganmu Boru." Pak Zainuddin mengusap lembut kepala putrinya itu. Melati tercengang melihat sang ayah yang tersenyum penuh kebahagiaan itu padanya.


Ya Pak Zainuddin bersyukur sekali Melati berjodoh dengan Ardhi. Dia ingin pensiun saja, dan menyerahkan semua perusahaannya pada Ardhi. Dia yakin, Ardhi bisa mengembangkan perusahaannya juga perusahaan Ardhi sendiri.


"Ayo ayah tunjukin kamar kalian. Kalian nginap disini saja. Gak akan ayah bolehin pulang." Pak Zainuddin bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Melati, dia mengekori sang ayah ke lift. Ternyata kamar mereka ada di lantai dua.


"Rumah ini Ardhi yang desain dan semua biaya nya dari dia. Katanya sih hadiah buat ayah. Ini rumah sudah tiga tahun ayah tempati." Sang ayah menunjukkan kamar Melati yang ternyata sangat luas. Luasnya sama dengan kamar Ardhi di rumah utama.


"Ini kamar miliknya Ardhi. Katanya kalau dia sudah menikah, dan kalau berkunjung ke rumah ini. Inilah kamarnya." Melati terkesima dengan desain interior kamar itu. Desainnya lebih ke arah feminim. Dengan cat kamarnya bernuansa pink dan lilac. Beda dengan kamar suami nya di rumah gedongnya, yang cat nya ke arah abu dan gold.


"Istirahat ya? gak usah tunggu Ardhi, kalau kamu sudah kantuk. Kamu harus banyak istirahat. Agar cucu ayah sehat dan berkembang dengan baik " Pak Zainuddin mengelus pelan lengan sang putri dan keluar dari kamar itu. Meninggalkan Melati yang masih tak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya hari ini.


Ayahnya itu begitu bangga pada Ardhi. Walau ayahnya tahu, putrinya dinodai. Pria itu tak menunjukkan kemarahan pada Ardhi.


Melati yang lagi bingung dan bimbang itu pun akhirnya mendudukkan bokongnya di sofa yang ada di sudut kamar itu. Wanita itu kepikiran dengan ucapan sang ayah. Yang mengatakan bahwa suaminya itu sangat mencintainya.


Masuk akal juga sih, kalau dipikir-pikir. Kalau suaminya itu tak ada rasa padanya. Kenapa pria itu ngotot menikahinya. Bisa saja kan dia lagi dari tanggung jawab, namanya juga orang kaya.

__ADS_1


Saat asyik memikirkan Ardhi. Ponselnya pun bergetar di dalam tas ranselnya yang diletakkan nya di atas meja rias yang warna putih itu.


Ternyata Ardhi yang melakukan panggilan video.


"Mas sudah mau pulang. Adek mau dibelikan apa?" Wajah tampan nya Ardhi terlihat bahagia di layar ponsel itu. Melati yang masih merasa kenyang, bingung mau makan apa.


"Apa ya?" Ucapnya dengan bola mata yang bergerak-gerak, memikirkan makanan yang diinginkannya saat ini


"Kebab mas." Melati memperhatikan lekat layar ponselnya. Sepertinya suaminya itu masih di rumah sakit. Ingin rasanya dia meminta Ardhi mengarahkan kamera kepada Ibu Jerniati, penasaran dengan kondisi Ibu Mertuanya itu. Tapi, dia tak berani untuk sekedar melihat wanita tua yang telah menghajarnya habis-habisan itu.


"Apalagi dek." Melati menggeleng dan langsung menunduk, dia malu melihat dirinya di kamera, apalagi Ardhi menatap wajah terus tanpa berkedip. Dia bekuk terbiasa video call dengan pria itu.


"Ok, Mas matikan ya. Assalamualaikum..!" Melati kembali menatap layar ponselnya.


"Walaikum salam..!" panggilan itu pun terputus.


Melati menatap ponselnya itu dengan tersenyum tipis. Memperhatikan lekat foto Ardhi yang cool jadi wallpapernya. Dulu suaminya itu, membuat foto nya sebagai wallpaper hape sang istri.


Benarkah, Mas Ardhi mencintaiku? kenapa ayah bisa berkata seperti itu? apa Mas Ardhi langsung cinta, saat tahu aku hamil? gak masuk akal sekali. Melati membathin, matanya menyoroti setiap sudut kamar itu. Ternyata ada foto suaminya itu di dinding kamar itu.


Melati berjalan ke arah foto sang suami yang difigurakan itu. Ardhi memakai setelan jas hitam dipadu kemeja warna peach. Dengan fose berdiri dengan tangan satu masuk saku celana. Dan tangan satu lagi bertumpu di sebuah kursi. Ekspresi wajah sang suami difoto itu terlihat semangat dan bahagia.

__ADS_1


Aaahhhkkk.... Melati menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Perasaannya campur aduk saat ini. Gak bisa dijabarkan lagi. Ada rasa lega, sedih, terharu, khawatir. Entahlah, rasanya buat gak tenang.


TBC


__ADS_2