DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Menyesal membencimu


__ADS_3

Perjalanan terus berlanjut, Tara semakin yakin, bahwa mereka sedang dibuntuti. Pria itu tidak memberi tahu Istrinya. Yang penting, dia harus waspada.


"Ya Allah---- Ciptaan mu ini sungguh indah...!" Embun yang takjub dengan pemandangan yang disuguhkan di depan matanya, langsung membuka sunroof ( atap kaca mobil ). Dia berdiri, merentangkan kedua tangannya.


Menghirup udara yang segar di sore hari. Ya, kini mereka sudah sampai di Danau Toba. Pemandangan asri dan indah yang disuguhkan Danau Vulkanik itu, cukup memanjakan mata. Ditambah semilir angin sejuk, membuat hati jadi adem.


Embun yang lagi galau saja, sesaat melupakan masalahnya yang pelik dan rumit itu.


"Dek, Dek, ayo duduklah!" Tara memegang paha Embun yang dibalut celana jeans itu. Dia begitu mengkhawatirkan Embun saat ini. Dia takut, orang yang mengintai mereka berbuat hal yang jauh diluar perkiraan. Misalnya menembak Embun dari belakang.


Embun yang menikmati perjalanan kali ini, tidak mengindahkan ucapan suaminya itu. Dia masih asyik memandang indahnya bukit dan Danau Toba. Dia pun bernyanyi dan sesekali berteriak. Meluapkan kegundahan di hatinya.


"Aku mau Selfi. Sejak menikah, aku jarang berfoto." Embun yang kini sudah duduk di jok mobil, langsung meraih ponselnya dari tas selempangnya. Dia pun kembali berdiri. Mulai berselfi ria dengan atap mobil yang terbuka.


"Dek, dek, hati-hati." Tara benar-benar khawatir dengan tingkah Embun.


"Iya Pariban, sebentar." Jawab Embun dengan ceriahnya. Tara hanya bisa terpaku, menatap Embun yang berdiri di hadapannya. Karena istrinya itu menyebutnya Pariban.


Ya mereka adalah Pariban an. Tapi, kan sekarang dia adalah suaminya Embun. Harusnya Embun memanggilnya suamiku.


"Ayo kita berfoto, kita berdua gak pernah berfoto." Embun mendekat kepada Tara. Mulai mengambil foto dengan berbagai fose.


"Ini akan ku simpan sebagai kenang-kenangan. Kelak aku akan cerita pada anak-anakku


Kalau aku punya sepupu yang begitu baik." Ucap Embun tersenyum, menatap sepintas Tara, kemudian wanita itu fokus ke ponselnya. Menscrol hasil jepretannya, yang menurutnya semuanya bagus. Apalagi Tara sangat tampan di foto itu. Suaminya itu ternyata fotogenik juga.


"Aku kirim sama Abang ya foto-foto kita." Tara hanya mengangguk. Dia jadi merasa sedih, karena mereka akan berpisah. Tara menatap lamat-lamat wajah istrinya itu. Embun yang sedang sibuk dengan ponselnya, pura-pura tidak tahu, kalau Tara dari tadi memperhatikannya. Padahal dia juga sebenarnya ingin memandang wajah suaminya itu berlama-lama.


"Bos, kita tidak bisa lewat, ada longsor." Sang supir melapor. Tara yang asyik menatap Embun, tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Hingga suara pak supir menyadarkannya.


"Apa? longsor? jalan alternatif apa gak ada Pak?" tanya Tara, memperhatikan sekitar. Tenyata antrian sudah panjang.


"Gak ada tuan, terpaksa kita harus menunggu. Sampai jalan bisa dilewati." Ujar Pak Supir sopan.


Embun tersenyum, Tara heran dibuatnya. Kenapa istrinya itu nampak senang. Dia kan sudah tak sabar untuk ketemu kekasihnya. Hingga menunggu empat bulan lagi pun istrinya itu tidak sabar.


"Kenapa senyam-senyum?" tanya Tara heran, menatap Embun yang celingak-celinguk melihat sekitar.


"Aku suka Danau Toba. Aku jarang main kesini. Paling ke sini sama Ayah dan Mama. Pariban, kamu tidak sibuk kan? bagaimana kalau kita menginap semalam saja di sini. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan. Lagian menunggu sampai jalan kondusif itu sangat lama." Tawar Embun penuh semangat. Entahlah, Tara heran melihat istrinya itu.

__ADS_1


Padahal tadi pagi, Embun ingin cepat-cepat berangkat. Tara masih ada rapat sampai jam 12 siang. Tara menawarkan naik pesawat, tapi istrinya itu menolak. Tara heran dengan cara berfikir istrinya itu.


"Iya tuan, sebaiknya kita menginap saja. Sekarang saja sudah pukul lima sore. Dari sini ke kota Sibolga ada lima jam lagi." Pak supir memberi usul. Dia sengaja mengatakan itu, karena menghindari mobil yang membuntuti mereka.


Kalau perjalanan di lanjut, setelah tanah longsor selesai dibereskan. Maka mereka akan melakukan perjalanan sampai tengah malam. Sang supir khawatir mereka dicegat di tengah hutan.


"Abang terserah Adek saja." Jawab Tara datar. Pria ini saat ini sangat cemas, merasa bahaya sedang mengintai mereka.


Embun dengan cepat merangkul Tara, perlakuan istrinya itu membuatnya terkejut. Kenapa malah ingin berpisah, mereka jadi akur begini. Rasanya jadi tidak ingin berpisah.


"Harusnya orang yang berpariban itu kompak, seperti sekarang ini." Ujar Embun melirik Tara dalam dekapannya. Tara tentu saja heran, kenapa istrinya itu jadi ramah begini.


"Aku bodoh ya, kenapa aku dulu benci sama Abang? eehhmmm.... coba kalau kita tidak musuhan, mungkin?"


"Mungkin kita sudah punya anak." Tara memotong cepat ucapan Embun. Embun refleks melepas rengkuhannya. Dia terkejut mendengar ucapan suaminya itu.


Kalau mengingat anak. Embun akan sedih. Dia teringat kisah Ustazahnya, sewaktu menimbah ilmu di pesantren. Ustazahnya itu menikah dengan sepupunya. Dan semua anaknya lahir dengan kelainan genetik. Tiga anak Ustazahnya tidak ada yang normal, bahkan anak terakhir tidak bisa berjalan, berbicara pun tidak bisa.


Saat itulah, Embun semakin membenci Tara. Karena, setiap dia libur sekolah. Disaat pulang kampung, maka disaat ada kumpul keluarga. Sanak famili akan menggoda Embun. Dimana dia akan menikah dengan Tara, paribannya.


Setelah kuliah pun di semester 1 dan 2, mata kuliah Biologi dasar. Ada materi yang membahas Hereditas manusia. Saat itu, dosen yang membawa mata kuliah itu. Membahas efek buruk, dari menikah dengan sepupu dan Pariban. Yaitu, akan melahirkan anak dengan kelainan genetik. Walau tidak semua semua pernikahan Pariban melahirkan anak dengan kelainan genetik.


"Anak, anak?" ucap Embun lemas. Menilik wajah Tara yang berbinar-binar saat mengatakan itu. Dia tidak bisa membayangkan jikalau dulu mereka tidak musuhan dan Menikah, tentu mereka akan mempunyai keturunan yang abnormal. Oh tidak, Embun tidak mau itu.


Sepertinya keputusan yang baik adalah mereka harus berpisah. Dia tidak mau punya anak yang idiot. Embun tidak bisa membayangkan jikalau punya anak yang abnormal. Dia akan sangat kasihan kepada anaknya itu.


Lebih baik tidak punya anak, daripada mempunyai anak yang idiot. Yang nantinya akan jadi bahan bullyan. Dia akan sangat mengasihani anaknya kelak. Dia tidak sanggup menghadapi kenyataan itu.


"Adek kenapa? kenapa jadi murung begitu. Tidak usah diambil hati ucapan Abang tadi." Tara tersenyum tipis, menutupi rasa mindernya. Karena sempat percaya diri mengatakan, akan memiliki anak bersama Embun.


"Iya Pariban." Jawab Embun pendek, menatap ke luar jendela, kembali menikmati pemandangan indah dan mempesona yang disuguhkan oleh Danau Toba.


"Bos, kita ke Hotel XX atau YY?" tanya Pak supir. Hotel yang disebutkan supirnya itu adalah Hotel favoritnya Tara.


"Hotel XY pak." Jawab Tara.


ahahahaha Koq hotel yang dibilang Tara, gak ada di opsi pak supir.


Mobil yang berputar balik itupun kini sudah sampai di hotel yang dimaksudkan Tara. Jelas saja, saat Tara turun dari mobil. Dia melirik mobil yang mengintai mereka dari tadi. Juga parkir tak jauh dari tempat mereka parkir saat ini.

__ADS_1


"Tuan, apa kita perlu panggilan bodyguard untuk menyusul kesini." Bisik sang supir pada Tara yang kini berdiri di dekatnya. Setelah Tara keluar dari mobil.


"Tidak usah pak. Turunkan barang-barang kita." Titah Tara, mendekati Embun yang sudah turun dari mobil. Kemudian pria itu, merangkul pinggang Embun dengan posesif. Anehnya Embun sangat senang dengan perlakuan Tara. Biasanya juga dia jaim.


"Maaf Bu, kamar yang kosong tinggal dua. Itu pun tinggal kamar yang biasa saja. Dengan fasilitas satu bed di dalamnya." Ucap receptionis ramah. Saat Embun memesan kamar untuk mereka.


Embun tadinya memesan tiga kamar, satu untuknya, sagu untuk Tara dan pak supir. Embun melirik suaminya, yang kini berdiri di sebelahnya.


"Kita ke Hotel lain saja." Ucap Tara, melihat ekspresi wajah Embun yang kecewa karena tidak kebagian kamar Hotel.


"Pak, saat ini di Danau Toba ini sedang ada acara Festival Danau Toba. Jadi, biasanya penginapan pada penuh. Saranku, bapak dan ibu ambil kamar ini saja." Ucapan receptionis ramah, melirik Tara dengan tatapan menggoda. Mana mau dia kehilangan tamu.


"Ya sudah kami ambil itu. Sekalian matanya dikondisikan. Jangan berlama-lama menatap suami saya. Nanti matanya ku cungkil baru tahurasa." Ketus Embun yang membuat cewek cantik dihadapannya melongok heran.


Suami istri, tapi koq mesan kamar terpisah. Mana ini wanita seperti Mak Lampir. Sang receptionis membathin.


"Baik Bu. Kirain tadi si bapak, belum ada yang punya. Habis si bapak ganteng sih " Jawab receptionis tak tahu malu itu, dengan terseyum tipis.


Eeemmmmm... Gumam Embun merengut. Tara tersenyum melihat tingkah Embun, yang mencemburuinya.


"Pariban, kita ke tempat yang tadi yuk?!" ajak Embun, setelah mereka masuk ke dalam kamar hotel. Tadi di jalan, dekat Hotel yang mereka inap. Ada keramaian, ternyata sedang ada acara festival Danau Toba itu.


Yaitu acara pawai boneka kayu Sigale-gale. Biasanya boneka kayu Sigale-gale, hanya bisa filihat di pulau Samosir menari. Tapi, saat ini, karena ada festival Danau Toba. maka. karnaval Sigale-gale sedang ditampilkan, yang melibatkan berbagai elemen simbolis empat puak suku Batak. Penampilan gundala-gundala di barisan kerap dijadikan sebagai objek foto.


Setelah keluar dari Hotel, Embun dengan semangat berlari mengikuti pawai ke jalan yang dilintasi oleh peserta pawai dan Boneka kayu Sigale-gale dari belakang. Dia begitu ceriah. Begitu juga dengan Tara. yang juga ikut dalam pawai tersebut.


"Aku suka senang sekali, bahagia." Ucap Embun, merasa bebas, lepas, seperti burung yang keluar dari dalam sangkar emas. Wanita itu ikut semangat, mengucapkan yel yel saat berjalan. Tara juga melakukan hal yang sama.


Saat ini kedua manusia itu, seolah lupa tujuan mereka. Kini mereka merasa sedang bulan madu saja, Honeymoon.


Kenapa telat, mereka membuat moment indah seperti ini. Kenapa Embun, menghabiskan waktunya untuk membenci paribannya itu. Padahal, kebersamaan itu indah.


"Aku bahagia sekali. Begitu bahagia--!" teriak Embun sambil berputar-putar. Ikut terhanyut dalam alunan Gondang musik tarian Sigale-gale.


Saat itu juga, sepasang tangan kokoh. Telah menarik tubuh Embun dari keramaian. Tara yang masih menikmati acara. Tidak tahu, jikalu istrinya sudah diculik orang.


Hingga suara melengking Embun, didengar suaminya itu. Dia pun menatap sekitarnya, mencari keberadaan Embun yang tidak dilihatnya.


Embun diculik.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2