
"Adek sebenarnya kenapa? ayo cerita kepada Abang?" Ilham menatap Melati yang memalingkan wajahnya itu. Pria itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Abang percaya pada Adek. Bahwa tuduhan Nyonya besar itu, tidaklah benar. Adek gak usah takut dan sedih begitu. Abang akan selalu ada untuk Adek." Ilham masih saja tetap setia menatap Melati yang masih memalingkan wajahnya itu.
Melati sebenarnya malu dan takut saat ini. Makanya, wanita itu tidak berani menatap ke arah Ilham.
"Ayo Dek, bicaralah. Apa sebenarnya yang terjadi?!" pertanyaan Ilham yang bertubi-tubi, semakin membuat Melati merasa takut dan tertekan. Menceritakan peristiwa itu, tidak lah semudah itu.
Melati menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak ada masalah serius Bang. Nyonya besar tidak suka padaku. Makanya dia mengusirku." Ucap Melati, masih tetap tidak berani menatap matanya Ilham.
Ilham menarik napas pelan, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan wanita itu. Sepertinya bukan waktu yang tepat membahasnya. Dia akan menunggu Melati bercerita dengan sendirinya.
"Syukurlah kalau begitu Dek. Abang jadi legah mendengarnya." Ilham akhirnya mendudukkan bokongnya di sofa yang ada di ruangan itu. Dia merasa lelah. Dia pun menyandarkan tubuhnya di sofa warna abu tua itu.
Melati melirik Ilham yang nampak bersandar di sofa dengan menutup kedua matanya. Dia tahu Ilham lelah karenanya.
"Abang gak ke kampus?" Melati merasa sungkan pada Ilham. Jika karena dirinya, pria itu tidak pergi ke kampus.
Ilham mengubah posisi duduknya dengan menegakkan badannya. "Besok saja Abang ke kampus. Gak ada urusan penting. Abang hanya mengurus berkas-berkas untuk persiapan wisuda." Pria itu tersenyum pada Melati, saat keduanya bersitatap. Melati menarik ujung bibirnya, membalas senyumnya Ilham.
"Kalau benar Adek mau pulang kampung, seperti yang Adek bilang tadi. Abang juga setuju, Adek bisa melanjutkan kuliahnya Adek di kota PSP." Ilham menghentikan ucapannya, dia ragu untuk melanjutkannya.
Mendengar Melati ingin pulang kampung. Jadi terbersit keinginan di hatinya. Untuk pulang kampung setelah lulus kuliah. Dia akan melamar Melati, mereka akan hidup di kampung.
Melati penasaran dengan ucapan Ilham, dia pun akhirnya menatap serius Ilham. Ilham bangkit dari duduknya, kembali berjalan ke arah Melati. Pria itu menarik kursi plastik dan duduk di dekat bed nya Melati.
"Harusnya hari ini, Adek menjawab pernyataan cintanya Abang. Abang sangat berharap, Adek menerima cintanya Abang. Setelah Abang wisuda, kita pulang kampung. Kita menikah, dan berdikari di kampung." Melati langsung menutup mulutnya dengan jemarinya, setelah mendengar ucapan serius dari pria dihadapannya.
Dia sedang menahan dirinya untuk tidak menangis histeris. Dia sungguh terharu dengan ucapan Ilham. Seandainya dia masih suci, tentu dia akan menerima tawaran pria itu. Tapi, dia sudah kotor, dia merasa tidak pantas untuk Ilham.
"Adek kenapa malah jadi menangis. Maaf, kalau ucapan Abang ada salah." Ilham benar-benar bingung. Dia tidak tahan melihat Melati yang menangis tersedu-sedu itu. Ingin rasanya dia memeluk wanita di hadapannya, tapi itu tidak mungkin dilakukannya.
__ADS_1
"Adek jangan menangis dong! Abang jadi merasa bersalah. Baiklah, kalau Adek belum siap untuk Abang ajak ke jenjang serius. Lupakan saja, ucapan Abang tadi ya?!" Ilham hanya bisa menatap punggungnya Melati yang membelakanginya itu. Wanita itu merasa malu kepada Ilham.
"Baiklah, anggap saja Abang tidak mengatakan apapun. Kita tidak usah bahas mengenai perasaan dulu. Tapi, setelah Abang wisuda. Abang akan melamar Adek. Terserah Adek nantinya mau tinggal di mana. Mau kita merantau di kota ini atau pulang kampung. Abang setuju saja." Melati tetap tidak bisa menjawab semua perkataan Ilham. Dia tidak mau menolak tawaran menikah, atau menerimanya. Saat ini dia perlu keyakinan hati dan kesiapan untuk menceritakan semuanya.
Toh belum tentu Ilham akan menerimanya, kalau pria itu tahu, dia tidak perawan lagi.
"Abang keluar sebentar. Adel istirahat ya! jangan pikirkan yang Abang katakan tadi, jikalau ucapan Abang itu membuat hati Adel terusik." Ilham bangkit dari duduknya, masih menatap ke arah Melati yang masih memunggunginya. Pria itu pun meninggalkan Melati sendirian di kamar itu.
Setelah kepergian Ilham, Melati kembali histeris. Dia mengusap-usap dadanya yabg terasa sesak dengan tangan kirinya. Kenapa dia harus mengalami nasib buruk seperti ini? kenapa sang majikan menodainya. Hancur sudah masa depannya.
Dert....dert....dert...
Ponsel Melati bergetar di atas nakas, dekat bed nya. Satu pesan kembali masuk ke ponselnya Melati. Dia tidak berani membuka pesan itu. Sehingga dia membiarkannya saja. Dia tahu, siapa yang mengiriminya pesan, siapa lagi kalau bukan Ibu Jerniati.
***
Ardhi yang lagi setres itu, memilih menenangkan diri. Dia pergi ke vilanya yang ada di daerah Berastagi. Dia mengendarai sendiri mobilnya, baru menempuh setengah perjalanan. Dia sudah merasa lelah. Padahal agar sampai ke tempat tujuan, masih dibutuhkan waktu sekitar 90 menit lagi. Dia pun akhirnya memarkirkan mobilnya di sebuah tempat wisata pemandian.
"Assalamualaikum Bos!" suara Rudi terdengar tenang.
"Di mana kamu?" ucap Ardhi, membuka kaca mobilnya, memandang indahnya aliran sungai di hadapannya.
"Di kantor Bos. Ini saya lagi di ruangannya Bos. Ikut memeriksa ranjang yang dibeli, untuk di tempatkan di kamarnya Bos."
Ardhi langsung memerintahkan sekretarisnya. Membeli ranjang baru, dia tidak mau menggunakan ranjang sialan itu. Apalagi ranjang itu sebagai saksi, pergulatannya dengan Anggun. Dia benci wanita itu. Dia tidak bisa membayangkan gimana hidupnya kelak, apabila benar menikah dengan wanita itu.
"Oohh... teringatnya, apa kamu sudah jadi mendaftarkan tanggal pernikahan ke KUA?"
"Belum Bos, rencana hari ini." Jawab Rudi, sembari meladeni Desi yang bicara.
"Simpan saja." Ucap Rudi pada Desi, sehingga Ardhi mendengar apa yang dibicarakan karyawannya itu.
__ADS_1
"Apa yang mau disimpan?" Ardhi penasaran dengan apa yang dikatakan Rudi, yang lari dari topik pembicaraan.
"Ini Bos, si Desi menemukan anting di lantai kamarnya Bos."
"Anting?" tanya Ardhi lagi memastikan.
"Iya Bos." Rudi sebenarnya penasaran. kenapa Bos nya itu mengganti ranjang di kamar kantornya. Tapi, dia tidak mau banyak bertanya. Nanti juga, pasti Bosnya itu, akan bercerita sendiri.
Pasti anting si Anggun. Ardhi membatin.
"Sebelum ada perintah dari saya, kamu tidak usah mendaftarkan tanggal pernikahan ke kantor Urusan agama."
"Oh Iya Bos." Rudi, tentu oke oke saja, lebih baik gak usah didaftar sekalian. Biar kerjaan dia sedikit.
"Oh ya, satu lagi. Kamu carikan no ponsel si Melati untukku secepatnya." Ardhi langsung memutuskan panggilan. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Turun dari mobil mewahnya. Bersandar di mobil mewah berwarna hitam itu, sembari menikmati indahnya pemandangan alam di hadapannya.
Ardhi masih meragukan dirinya yang melakukan hal terlarang itu dengan Anggun. Hati kecilnya mengatakan, dia melakukannya dengan Melati, walau dipikirannya hanyalah Embun saat itu. Tapi, kalau dia melakukannya dengan Melati. Kenapa Melati tidak menuntutnya?
Aaarrgghhhh....
Ardhi berteriak histeris di dalam mobilnya. Memukul kemudi dengan berulang kali, dengan penuh emosi.
Dia belum bisa move on dari Embun
Ibunya memakasa dia menikahi wanita yang tidak dicintainya dalam waktu dekat. Belum lagi masalah pemerko*saan.
Arrggghhhh....Aaaaarggghh...
Pria itu kembali mukul keras kemudi, melampiaskan emosi yang bercokol di hatinya.
TBC.
__ADS_1