DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Ros disingkirkan


__ADS_3

"Bapak Sutan Batara Guru Siregar." Suara perawat yang keras tidak lagi didengar oleh Tara di ruang tunggu.Pikirannya dipenuhi oleh Embun, yang ternyata masih tidak menyukainya. Ditambah dengan kejadian hari ini, semakin membuatnya sedih. Belasan tahun, memendam rindu. Berharap Dia akan diterima oleh Embun.


Jelas Dia berharap, sebulan yang lalu Tulangnya, Ayah Embun memintanya untuk menikahi Embun. Dari cerita yang ditangkapnya. Embun katanya setuju untuk menikah.


Walau Tara ragu dengan ucapan tulangnya itu. Karena Embun membencinya. Bahkan Embun dulu sampai bersumpah akan mati saja, bila harus melihat wajahnya.


"Bapak Sutan Batara Guru Siregar..." Suara perawat tidak juga didengar Tara untuk kedua kalinya. Syukur Ompungnya yang mulai rada kurang pendengaran itu mendengar teriakan perawat.


"Pahoppuku Tara, giliran mu sekarang. Ayo kita masuk." Ucap Ompung Boru, Tara pun menggandeng tangan Ompungnya masuk ke ruangan Dokter untuk diperiksa.


Tara sebenarnya sangat malu untuk memeriksanya. Dia merasa baik- baik saja. Memang tadi saat Embun menendangnya sakitnya luar biasa. Hingga setengah jam pun berlalu Dia masih merasakan sakit. Tapi, sekarang sudah tidak sakit lagi.


Tapi, kalau Dia tidak mengikuti keinginan Ompungnya. Maka nanti ceritanya bisa panjang. Akhirnya Dia pun mengalah.


"Apa keluhannya Dek?" ucap Dokter paruh baya berjenis kelamin laki-laki itu.


Tara diam, Dia saat ini tidak ada keluhan lagi. Tara menoleh ke arah Ompungnya yang duduk disebelahnya.


"Cucu saya, anunya kena tendang Dok." Ucap Nenek Tara dengan ekspresi wajah meringis kesakitan. Dia menoleh ke arah cucunya dengan sedihnya.


Dokter tersenyum mendengar ucapan Neneknya Tara.


"Baiklah kita periksa dulu ya Dek. Mari silahkan berbaring di bed ini." Ucap Dokter, Dia berjalan menuju Bed yang ada dibelakang Tara.


Dengan ragu dan malasnya, Tara naik ke atas bed. Sedangkan Ompungnya menguping pembicaraan Dokter dengan cucunya itu.

__ADS_1


"Coba dibuka dulu, biar saya periksa." Ucap Dokter ramah.


Tara menggerakkan tangannya meminta Dokter mendekat ke wajahnya. Dokter pun mengikuti keinginan Tara. Kemudian Tara berbisik di telinga Dokter.


"Dok, saya baik-baik saja. Tidak yang serius. Nenek saya yang terlalu berlebihan." Bisikan Tara itu tidak langsung di iya kan Dokter.


"Kita harus tetap periksa. Semoga tidak pecah telornya." Ucap Dokter bercanda, yang membuat Ompungnya Tara yang sedang duduk di kursi ditutupi gorden pembatas itu teriak.


"Apa..... pecah...? Aduuhhh pahoppu ku. Kasihan sekali dirimu. Kenapa kamu hancurkan masa depanmu sendiri Embun...!" Nenek nya Tara berteriak histeris di kursi tempatnya diam.


Seorang perawat dengan cepat menenangkannya. " Tenang Nek, masih diperiksa. Sepertinya cucu Nenek baik-baik saja. Buktinya Dia masih bisa berjalan." Ucap perawat dengan ramah dan tenangnya. Mencoba memberi pengertian kepada Neneknya Tara.


"Kita periksa aja Dek." Tara pun membuka kancing dan Resleting celana jeans. Serta menurunkan celananya. Dia pun mengeluarkan burungnya. Dokter itu pun memeriksanya dengan detail.


Tara turun dari bed setelah merapikan pakaiannya. Dia kembali duduk di sebelah Neneknya.


"Bagaimana Dok keadaan cucu saya?" Ompung Tara begitu khawatirnya dengan kondisi Tara. Walau Dia mendengar ucapan Dokter saat cucunya diperiksa. Tapi Ia ingin penjelasan langsung.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Nek." Dokter nampak menulis histori pemeriksaan Tara.


"Masak sih Dokter, tapi Dia itu kesakitan lama sekali. Sehingga Dia tidak bisa melerai perkelahian. Karena anunya itu sakit parah."


"Nenek tahu dari mana, Aku kesakitan dan tidak bisa melerai perkelahian." Tara heran, dengan Neneknya. Seolah Neneknya tahu semua. Rasa sakit yang dirasakannya saat Embun menendang Anunya.


"Ya, Ompung tahulah."

__ADS_1


"Nek, Alat kelamin laki-laki memiliki banyak saraf pada permukaannya. Ini membuat mereka lebih sensitif daripada bagian tubuh lain yang kurang peka, seperti punggung. Selain itu, otak mencurahkan banyak ruang untuk memproses apa yang dirasakan alat kelamin, Makanya Dek Tara ini, merasakan sakit yang luar biasa. Saat Anunya kena serangan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, kalau masih ada terasa nyeri. Ini obatnya bisa ditebus di apotik." Dokter menyerahkan kertas putih berisi resep dokter, yang tulisannya tidak bisa dibaca oleh Tara atau pun Neneknya.


Pemeriksaanpun selesai, Tara dan Neneknya kembali masuk ke ruangan Embun. Saat masuk ke ruangan Embun. Semua anggota keluarga di ruangan itu nampak mendiskusikan sesuatu. Sedangkan Embun tertidur, mungkin karena efek obat.


"Ada apa ini? kenapa nampak serius?" tanya Ompung Boru, Dia ikut duduk di sofa yang kosong sebelah Mama Mira. Sedangkan Tara berjalan menuju tempat Embun berbaring. Dia duduk di kursi yang ada disisi bed, sambil memandangi wajah Embun yang sedikit pucat.


"Membahas hasil Martahi tadi Ma. Keputusannya kan pernikahan dua Minggu lagi. Apa tangan Embun akan sembuh dalam dua Minggu ini?" Ucap Pak Baginda dengan sedihnya. Dia begitu kasihan melihat putrinya itu.


"Walau Embun belum sembuh total, keputusan yang sudah diambil tadi siang, tidak bisa diubah lagi. Jadi harus tetap berlanjut." Jawab Ompung Boru.


"Aku sudah tidak sabar melihat mereka menikah. Aku bisa mati, jika pernikahan mereka gagal." Ucap Ompung Boru dengan sendunya. Dia menatap ke arah Tara yang duduk di sebelah Embun. Sedangkan Embun yang ternyata sudah bangun, saat merasakan ada orang duduk disebelahnya. Dibuat terlonjak kaget dengan perkataan Ompungnya itu. Tapi Embun masih terus berakting tidur.


"Berarti pernikahan akan tetap berjalan seperti keputusan tadi siang. Sekarang yang jadi masalahnya. Aku sangat tidak suka dengan wanita yang menghajar Embun dan Aku ingin Dia diproses hukum." Ucap Pak Baginda, yang membuat Tara terkejut, bagaimana pun, Dia tidak mungkin tega melihat sekretaris nya akan dipenjara. Walau sebenarnya Dia sangat kecewa kepada sekretaris nya itu.


Semua orang di ruangan itu saling pandang. Mereka juga sangat kasihan kepada Embun.


"Aku setuju apabila Dia terbukti bersalah, maka Dia diproses hukum. Tapi, Aku takut nanti, berita ini tersebar luas kalau sampai melibatkan aparat hukum. Apa tidak sebaiknya kita selesaikan secara kekeluargaan." Ucap Mama Mira.


"Kekeluargaan macam mana maksudmu Dek Mira? kamu ingin menanyakan kekeluarga sekretaris Tara itu." Paka Baginda terpancing emosi nya.


"Maksudku, kelakuan mereka kita maafkan saja. Toh dari cerita Ros dan Embun. Mereka berdua juga salah. Embun yang pertama menyerang Ros dan Tara." Mama Mira masih ingin masalah ini ditiadakan saja.


Lama berdebat mencari solusi terbaik. Akhirnya Ros dimaafkan. Tapi, dengan ketentuan. Ros berhenti jadi sekretaris Tara. Keputusan itu Ompung Boru yang buat. Setelah dicernanya. Dia merasa Ros akan menjadi biang rusuh di pernikahan Tara. Untuk itu Ros harus disingkirkan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2