
Tara menunggu Embun dengan duduk tidak tenang di sofa. Istrinya itu lagi di kamar mandi. Kebelet pipis katanya. Tapi sudah sepuluh menit berlalu. Istrinya itu tak kunjung keluar. Tara jadi khawatir.
"Dek, kenapa lama sekali?" Tara mengetuk pintu kamar mandi mereka. Tara tidak mau nyelenong masuk. Dia tidak mau, kena marah oleh istrinya itu.
"Sebentar Bang." Ucap Embun dengan perasaan tidak tenang. Dia jadi malu kepada suaminya itu. Apalagi tingkah konyolnya Tara tadi membuat jantungnya hampir copot.
"Aduh kenapa jadi tegang begini. Koq aku jadi takut." Ucap Embun sembari memegangi dadanya yang bergemuruh. Membayangkan mereka akan melakukan itu. Membuat Embun bergidik geli.
Dia sudah siap menjadi istri yang seutuhnya untuk Tara. Jikalau Tara menginginkan haknya malam ini. Dia tidak akan menolak. Karena, jujur dia juga menginginkannya. Tapi, dia jadi takut. Embun sering mendengar, melakukan malam pertama itu sangat menyakitkan. Apalagi bagi pasangan yang dijodohkan.
Embun menarik napas dalam dan menghembuskan pelan. Mengusap-usap dadanya yang masih terus saja berdebar itu.
Dia kembali memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Embun jadi merasa tidak percaya diri. Sangat takut, bentuk tubuhnya tidak menarik untuk Tara.
Huuftt... lagi-lagi Embun menghela napas dalam. Dia kembali mengendus ketiaknya serta serta lehernya. Dia harus wangi, sehingga Tara bisa nyaman dalam dekapannya.
"Aduhhh koq aku jadi tidak percaya diri begini." Embun kembali membersihkan are*a kewa#nitaannya. Dia tidak mau membuat Tara kecewa. Karena yang dia dengar, pria sangat suka berlama-lama di bagian inti itu.
Embun kembali merinding, membayangkan Tara mencumbunya.
"Astaga, dasar otak mesum!" Embun menjitak kepalanya sendiri. Dia mulai membuka pintu dengan mengendap-endap keluar dari kamar mandi. Dia sangat malu kepada Tara.
Embun yang hanya memakai kimono, melihat kamar itu kosong. Dengan cepat Embun masuk ke ruang ganti. Memakai piyama yang sopan bahan katun. Piyama yang lengan panjang, celana panjang. Ingin sih, dia memakai baju haram Yang ada di lemari itu. Tapi, dia belum percaya diri. Dia takut Tara meledeknya.
Saat sedang mengancing piyama, terdengar suara Tara yang memanggil dirinya. Tara beranggapan istrinya itu masih di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Aaku disini Bang." Ucapnya dengan lembut, dia pun keluar dari ruang ganti.
Tara tersenyum melihat istrinya yang sudah berganti pakaian itu. "Abang sudah ambilkan makanan. Kita makan di kamar saja. Adek lapar kan?"
"Iya." Jawab Embun dengan malu-malu. Tara meraih tangan kanan istrinya itu, menuntunnya duduk di kursi.
"Adek wangi banget, Abang jadi tak sabar nih!" goda Tara mengedipkan mata sebelah kirinya, setelah istrinya itu menyuapkan makanan untuknya. Embun terbatuk-batuk, hampir tersedak. Karena suaminya terus saja menggodanya.
Saat Embun menyuapi Tara, suaminya itu terus saja menatap Embun dengan terkesima. Sikap Tara itu, membuat Embun tersipu malu. Aduhhh,,, Embun merasa grogi. Tatapan suaminya ituloh, sangat mematikan. Sayu, dalam dan memabukkan.
Acara makan suap-suapan pun selesai sudah. Embun berdiri, menyisihkan dan memberesi meja makan. Tara kembali menatap lekat Embun. Yang membuat istrinya itu kembali tersipu malu.
Grapp...
Tangan kiri Tara langsung meraih pinggang Embun. Sehingga wanita itu terduduk kaget di pangkuan Tara.
"Tidak baik begitu bang. Setelah makan piringnya harus diberesi." Jawab Embun lembut, mulai menahan tangan kiri Tara yang mengusap-usap perutnya. Embun sudah mulai terangsang.
Embun berusaha bangkit dari pangkuan suaminya itu. Tara melepaskannya, sembari memperhatikan Embun memberesi meja. Setelah beres, Embun langsung berlari ke kamar mandi.
Tara yang heran, langsung mengikuti nya.
"Adek kenapa?" tanya Tara bingung, melihat tingkah Embun yang aneh.
Kini Embun sedang menggosok giginya. "Tidak apa-apa bang. Biar mulutnya gak bau ikan. Ya gosok gigi dulu." Ucap Embun tersenyum tipis. Embun benar-benar tidak percaya diri. Dia takut Tara kurang senang dengan aroma mulutnya. Padahal mulut wanita itu tidaklah bau. Saat bangun tidur pun mulutnya tidak bau sama sekali.
__ADS_1
"Mulut Adek wangi koq." Tara langsung meraih dagunya Embun, kemudian mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Embun yang dapat serangan mendadak itu malah terdiam. Tidak membalas atau menolak ciuman itu.
"Abang ingin kita melakukannya. Adek mau kan?" bisik Tara lembut di daun telinga istrinya itu. Kini Tara sudah memeluk istrinya itu. Embun mengangguk lemah.
Keduanya melonggarkan pelukannya, saling pandang dengan tatapan penuh cinta dan mendamba.
"Tapi, tangan Abang masih sakit." Embun tidak mau aktivitas mereka nantinya, menghambat proses penyembuhan tangan suaminya itu.
"Iya sih Dek. Tapi, gak sakit lagi. Sudah kering. Asalkan jangan kena sentuh saja." Jawab Tara penuh penekanan. Dia tidak mau gara-gara tangannya. Penyatuan mereka tidak jadi. Dia sudah sangat menginginknnya. Dia ingin membuat Embun jadi miliknya. Dia takut juga Ardhi datang mengganggu.
"Iya bang " jawab Embun pendek dan tersipu malu.
Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan di atas ranjang, dengan perasaan campur aduk. Rasa takut, was-was serta khawatir. Tapi, yang paling grogi saat ini adalah Embun. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya dengan malu-malu.
Tara pun mulai mendekatkan wajahnya kepada Embun. Menjawir dagu istrinya yang menunduk itu. Kini keduanya saling pandang.
"Abang sangat bahagia malam ini. Apalagi mendapati Adek, tidak menolak untuk kita melakukannya." Ucap Tara lembut penuh dengan tatapan cinta yang membara. Embun hanya terdiam, bingung harus menjawab apa.
Pria itupun mulai mencicipi setiap inchi wajah cantik istrinya itu. Tentu perlakuan suaminya itu membuat Embun panas dingin.
Embun baru tahu, begini toh rasanya berciuman. Membuat tubuhnya merasa geli enak. Apalagi disaat Bibir kenyal keduanya saling melahap, menciptakan decapan-decapan erotis.
Tara tahu betul apa yang diinginkan Istrinya itu. Embun sangat menyukai Tara yang memegang wajahnya saat mereka berciuman. Disaat lidah suaminya itu mulai tergelincir ke dalam mulutnya Embun. Walau suaminya itu memegang wajahnya dengan satu tangan.
Sungguh perlakuan Tara disaat ciuman mulai memanas, membuat Embun semakin dimabuk kepayang. Pria itu menarik sejumput rambut Embun. Meremas tubuh wanita itu dengan lembut, dan yang lebih menggelitik Embun adalah. Sensasi remasan dibagian bawah gunung kembarnya.
__ADS_1
Embun benar-benar tidak menyangka, perlakuan lembut suaminya saat mencumbunya, benar-benar menyulut birahinya. Sehingga dia tidak tahan untuk tidak mengekspresikan. Sehingga tanpa sadar, kini Embun mencengkram tangan Tara yang terluka itu.
Sontak Tara terkejut, karena kesakitan. Embun tak kalah lebih terkejut lagi. Tara meringis kesakitan. Dan Embun berteriak, merasa bersalah dengan kelakuannya. Dia yang tidak tahu lagi untuk melampiaskan birahinya, malah salah sasaran.