DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Serasa di surga


__ADS_3

"Licin dek, mas takut kamu jatuh." Ardhi benar-benar dibuat tidak tenang dengan cara Melati yang berjalan. Wanita itu memakai gamis yang mayung, dengan alas kaki flatshoes. Ardhi takut Melati memijak ujung gamisnya dan tersandung.


"Gak akan, saya biasa berada di alam bebas. Saya ini dari kecil kerjanya ngebolang Tuan. Eehhh koq manggil tuan lagi." Melati menutup mulutnya dengan jemarinya. "Sudah biasa loh Mas." Melati membalik badan, saat mengatakan itu dengan cerianya, wanita itu tertawa kecil. Mungkin karena suasana persawahan yang adem, sejuk, indah itu, membuat perasaan Melati ikut damai dan tentram. Trauma kepada suaminya itu seolah lenyap sudah. Apalagi sang suami sudah menjelaskan semuanya.


"Iya, tapi adek pakai gamis itu." Ardhi mempercepat langkahnya menyusul Melati.


"Mas takut kamu jatuh, batangan sawahnya licin." Ya, menjelang Subuh hujan di tempat itu. Makanya batangan sawah jadi licin. Ardhi tidak memperdulikan lagi sepatu mahalnya kena lumpur. Tapi, memakai sepatu pentofel dipersawahan membuatnya juga susah untuk melangkah.


Melati tersenyum melihat Ardhi yang tergesa-gesa menyusulnya. Dengan cara berjalan yang menghindari tanah batangan sawah yang becek. Dia pun membalik badan hendak melanjutkan langkah, ke setumpuk tanaman jagung itu dan...


"Awwaaww..... Awwwuuhhh..!" Melati berteriak, karena terkejutnya, wanita yang bandel itu sedang berusaha menyeimbangkan tubuhnya di batangan sawah, agar tidak terjatuh ke sawah milik ayahnya.


Ardhi yang jaraknya sudah dekat dengan Melati, langsung meraih tubuh sang istri agar tidak terjatuh.


Ardhi menghela napas legah, dia tersenyum pada istrinya itu, Melati tidak terjatuh. Dan kini kedua tangan wanita itu berada di dada bidangnya sang suami. Sedangkan Ardhi membelitkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Menarik rapat tubuhnya Melati dalam dekapannya. Tentu saja adegan itu, membuat jantung keduanya berdetak tak karuan. Mereka pasangan suami isteri. Mereka normal, adegan sedekat ini benar-benar membuat mereka jadi salah tingkah.


Jarak wajah keduanya sangat dekat. Melati mengangkat wajahnya, sehingga pasangan suami istri beradu pandang. Mata bertemu mata, keduanya saling terdiam beberapa saat, tapi mata dan hati mereka bicara.


Dari jarak dekat itu, Ardhi akhirnya bisa menikmati indahnya bola mata sang istri. Wajahnya Melati cantik, ayu dan tegas. Ardhi terpesona, tentu saja dia terpesona. Mata lakii memang suka melihat wanita yang cantik.


Sadar wajahnya dipretelin sang suami. Melatipun dengan canggungnya berontak kecil ingin dilepas. Wanita itu memalingkan wajahnya. Tidak sanggup lagi beradu pandang dengan sang suami yang punya wajah yang tampan dan memikat itu.


Siapapun yang melihat Ardhi, pasti terpesona. Jujur, dulu sebelum Ilham mengutarakan isi hati padanya. Wanita itu sempat juga mengagumi ketampanan majikannya itu. Tapi, dia tahu diri. Dia pun men cut, rasa kagum itu. Ya semua wanita pasti akan terpesona apabila melihat wajah Ardhi yang tampan dan punya karakter unik itu. Entahlah sulit dijabarkan. Intinya wajah Ardhi seperti punya magnet. Yang bisa membuat orang tertarik dan kagum saat melihatnya.

__ADS_1


"Lepas Mas." Ucapnya lembut, masih menunduk. Berusaha rileks, karena jantung nya Melati masih berdebar-debar. Wajar Melati gugup dan merasa takut. Dia tidak pernah bersentuhan, apalagi peluk-pelukan dengan? laki-laki.


Ardhi tetap saja menatapnya, walau sudah menunduk. Dia seolah tuli, tidak mendengar ucapan sang istri. Karena terpesonanya Ardhi menatap wajah sang istri yang memerah, karena merasa malu itu.


Ardhi dan Melati sebenarnya sama-sama pernah tertarik, saat pada pandangan pertama. Tapi, keduanya tidak menyadari itu. Dulu di hatinya Melati ada Ilham. Sedangkan Di hatinya Ardhi ada namanya Embun yang bersemayam.


Spesial nya Melati buat Ardhi, terbukti dengan pria itu menugaskannya sebagai koki khusus untuknya. Juga sebagai cleaning servise di kamar nya. Tentu saja dia melakukan itu, karena ada simpatik pada wanita itu.


"Mas...!" suara lembutnya Melati yang nampak salah tingkah itu, benar-benar membuat Ardhi gemes.


Ardhi pun akhirnya melepas rengkuhan tangannya dari pinggangnya Melati. Dan dengan cepat Melati membalik badan. Karena, tergesa-gesa saat melangkah, wanita itu kembali hendak jatuh, karena terpeleset. Melihat istrinya terpleset Ardhi berusaha meraih tangan sang istri. Karena hanya itu yang menurut nya bisa dijangkau nya. Tapi, karena Ardhi pun terpleset. Ardhi refleks menarik tangan Melati dengan kuat.


"Aaawww... Teriak Melati yang terkejut itu.


Mata keduanya membola, saat bibirnya Melati mendarat di bibirnya Ardhi. Rasanya sangat sakit, karena tekanan bibir bertemu dengan bibir dengan tekanan yang kuat.


Melati yang gugup, berusaha bangkit dari atas tubuh sang suami, yang sudah terbaring kaget di sawah di atas tumpukan padi. Tangannya Melati yang sempat bertumpu di sawah, ternyata sudah kena lumpur. Maklum tadi malam hujan deras menjelang subuh. Wajar kalau sawah Jadinya becek,. Tangan berlumpur itu, kini menekan dadanya Ardhi agar bisa bangkit. Tapi, karena tangan wanita itu berlumpur dan dia sedang diserang salah tingkah. Akhirnya tangan Melati yang bertumpu di dada bidangnya Ardhi itu pun kembali tergelincir. Melati kembali terjatuh ke tubuh sang suami. Dan lagi-lagi bibir keduanya bertumbukan. Tapi, tumbukan kedua bibir itu kini tidak terasa sakit lagi, seperti tumbukan pertama. Mungkin karena tekanannya kecil. Dengan cepat Melati menarik bibirnya dan langsung memayun. Dia kesal, dengan kejadian hari ini.


Ardhi yang merasa lucu dengan kejadian pagi ini. Pria itu lasrah saja terbaring di atas tumpukan tanaman padi. Dia menikmati semua perlakuan Melati yang selalu berusaha untuk bangkit. Dia tidak peduli lagi, dengan kepalanya yang sudah berlumpur. Maklumlah saat ini, rambut Ardhi masih pendek, nampak cepak gitu. Karena, pria itu sempat memplontos rambutnya.


"Iihhh... nyebelin, malah tertawa." Ketus Melati dengan wajah kesalnya. Memukul dada bidangnya Ardhi setelah wanita itu sukses juga bangkit dan ikut mendudukkan bokongnya di sawah yang becek itu.


Ardhi menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan. Kedua sudut bibirnya melengkung, menciptakan senyuman yang indah. Peristiwa pagi ini sangat berkesan. Kejadian romantis yang tak direncanakan. Kini bibir yang tersenyum tipis itu terbuka sudah. Menampilkan deretan gigi putih dan rapinya Ardhi. Dia tersenyum lebar penuh kesenangan melirik Melati yang duduk sejajar dengan perutnya.

__ADS_1


Istrinya itu langsung memalingkan wajahnya, disaat Ardhi menoleh kepadanya. Ardhi pun kembali nenatap langit biru nan indah ditemani cuaca yang sangat bersahabat untuk kulit. Sejuk, asri Benar-benar alam kali ini seperti terasa seperti di surga. Benar-benar sejuk. Pria itu merentangkan kedua tangannya.


Padi yang dijaring Pak Samsul dan Ibu Khadijah rusak sudah. "Kita beli persawahan ini. Terus kita bangun rumah panggung di sini ya dek. Jadi nanti rumah kita dikelilingi oleh padi. Aduhh indahnya." Ardhi menoleh ke arah Melati, yang duduk dengan menatap sang suami saat berbicara. Dia sangat tertarik dengan ide suaminya itu. Dia yang terbiasa tinggal di desa, merasa sangat nyaman dengan keadaan pedesaan.


Hampir dua tahun dia tinggal di kota. Dia bisa membandingkan kelebihan dan kekurangan tinggal di dua tempat berbeda itu. Tentu saja, Melati lebih tertarik untuk tinggal di desa. Di kota memang asyik, tapi di desa lebih menarik.


"Mau gak dek?" Ardhi kini sudah mendudukkan bokongnya di sawah becek itu. Melati menggangguk dengan tersenyum. Ardhi bangkit dengan semangat nya. Mengulurkan tangan untuk membantu istrinya bangkit.


Dengan malu-malu, Melati menjulurkan tangannya, Ardhi pun meraih tangan itu dan membantu Melati untuk berdiri.


Keduanya pun kini sudah berdiri di tengah sawah. Memperhatikan penampilan keduanya yang sebagian bajunya sudah berlumpur. Saling memperhatikan penampilan masing-masing yang amburadul dan keduanya pun tertawa lepas.


"Motor deh?!" Ardhi menepuk-nepuk pelan bahu Melati yang hijab lebarnya kena lumpur.


"Apa kata orang dek, kalau kita pulang dalam keadaan seperti ini?" Ardhi menggaruk kepalanya yang gatal. Ada serangga jenis agas yang sudah mengerubunj kepalanya. Bahkan wajah Ardhi sudah ada yang bentol-bntol digigit serangga.


"Kita bersih-bersih dulu ya Mas. Di sana ada sungai " Ardhi mengikuti arah gerakan tangan Melati. Mendengar kata sungai, pria itu semangat empat lima. Sudah bisa dibayangkannya, gimana sejuknya air di sungai itu.


"Iya, ayok! sudah lama Mas gak mandi di sungai. Terakhir saat tracking barsama Embun ke Sibolangit." Ucap Ardhi apa adanya. Saat itu juga, Melati melepas tangannya dari genggaman Ardhi.


Wanita itu menunduk, membuka sepatunya. Berjalan mendahului Ardhi dengan lebih hati-hati. Dia tidak mau terjatuh lagi. Makanya dia membuka sepatunya. Ardhi pun melakukan hal yang sama, membuka sepatunya.


TBC.

__ADS_1


Semangat menjelang end nya cerita. kasih like, coment positif dan vote yakkk!🤗


__ADS_2