DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kau penyejuk hatiku (Embun)


__ADS_3

POV Tara


Aku tidak ingin kau hanya setitik embun yang menemaniku sebentar saja, setelah itu akan menguap atau jatuh ke tanah dan mati.


Terkadang, ada beberapa orang yang datang dan pergi begitu saja dari hidupmu. Layaknya embun yang muncul di pagi hari kemudian menguap ketika matahari naik. Meskipun begitu, tak masalah karena setidaknya ia sempat membawa kebahagiaan dan kesejukan, bukan?


Embun, izinkan Aku dalam waktu yang singkat ini, menjelaskan kepadamu semuanya. Bahwa kebencianmu padaku yang menggunung itu, adalah kesalahpahaman saja. Aku akan ikhlas memberikannu kepada Ardhi, jikalau Kau benar-benar memaafkanku.


Jadilah kita sebagai Pariban yang mempunyai hubungan yang baik. Penuh kasih sayang persaudaraan. Karena, Aku tidak berani untuk memilikimu, karena rasa bencimu yang sudah berkarat untukku.


Tidak berani berharap dan bermimpi lagi untuk memilikimu. Disaat Aku tahu ada pria baik yang juga sangat mencintaimu dan kamu juga begitu mencintainya.


Tepukan keras di pundakku mengagetkanku saat berdiri di pembatas balkon kamar. Ku menoleh ke kiri, ternyata Rose pelakunya. Ku meliriknya dengan heran, bingung dengan keberadaannya di rumah ini. Kenapa Dia kemari? Dia kan ku percaya mengurus perusahaan baru kami di kota Medan.


"Kenapa kamu disini?" tanya ku dengan mengangkat sedikit kepalaku. Setelah ku berbalik badan dan menopang tubuhku dengan membuat tumpuan kedua tanganku di pagar pembatas balkon.


Rose menarik napas dalam, kemudian Dia membuangnya kasar. Kedua tangannya memegang pembatas balkon.


"Proyek besar kita di kota Medan, yang menanganinya sekarang bukan Tuan Ardhi lagi. Beliau menyerahkan semuanya kepada bawahannya." Ucap Rose dengan sedikit frustasi. Menatapku yang kini berbalik, sehingga kami sama-sama bersitatap.


"Apa kita batalkan saja kerjasamanya? soalnya Aku kurang yakin dengan orang kepercayaan yang ditunjuknya." Ucap Rose, masih menatapku yang nampak terkejut.


Aku terseyum kecut, Ardhi benar-benar serius dengan perjanjian itu. Menutup akses dirinya agar jangan berurusan sedikitpun denganku. Karena setelah enam bulan, Ardhi pasti memintaku mengembalikan Embun.


"Biarkan saja, tentu Pak Ardhi sudah memikirkan konsekuensinya. Kalau kerja tidak bagus, baru kita follow-up lagi." Ucapku datar, malas rasanya membahas Ardhi. Mengingat pria itu, membuat hatiku sakit.


"Eeuumm Tara, Aku tidak sengaja membuka laptopmu. Aku penasaran dengan nama file perjanjian. Jadi Aku membukanya." Ucapan Rose terhenti, disaat Aku langsung menoleh ke arah Rose.


"Kenapa seperti itu? apa Pria yang namanya Ardhi di surat perjanjian itu adalah Pak Ardhi rekan bisnis kita?" tanya Rose lagi dengan muka tercengang. Aku mengangguk dan menghela napas dalam.


"Waaaahhh kenapa begitu kebetulan sekali. Dan anehnya kenapa kamu mau memberikan Embun kepada Dia, setelah Embun jadi istrimu? kamu masih waras kan?" tanya Rose dengan tidak percaya. Dia menempelkan punggung tangannya di keningku. Dengan cepat Aku menjauhkan tangan Rose dari keningku.


Rose menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mungkin merasa Aku bloon, atau orang gila kali ya.

__ADS_1


"Harusnya, kamu diskusikan ini dulu padaku. Sebelum mengambil keputusan. Dasar kamu memang payah. Suka sekali mencampakkan wanita dari hidupmu." Ucap Rose dengan frustasi. Aku meliriknya dengan tatapan sinis.


"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.


"Ya, kamu suka sekali mengabaikan wanita. Misalnya Aku yang tidak pernah kamu respon dan sekarang istri sendiri di sedekahin ke pacarnya. Itu namanya gila. Kamu normal gak sih?" Cercah Rose dengan penuh kekecewaan, mungkin Rose menganggapku punya kelainan.


Wajar Rose menilaiku seperti itu. Karena semua gadis yang mendekatiku pasti mundur sendiri, karena sikapku yang dingin.


"Apa kamu tidak ingin berkeluarga? punya teman berbagi dalam segala hal?" tanya Rose.


"Kenapa kamu selalu mengulang pertanyaan itu Ros? sepertinya kita sudah pernah membahasnya." Jawabku, mulai bosan dengan topik ini. Aku harus bisa tenang. Karena hari ini adalah prosesi sakral yang harus ku lalui.


"Ya aneh saja. Bukannya Embun adalah wanita yang kamu cintai sejak dahulu kala." Kali ini Rose menertawakanku. Ingin sekali ku timpuk kepalanya.


"Aneh saja, kamu mau jadi Duda." Tanyanya dengan penasarannya. Dia menahan tanganku yang hendak meninggalkannya.


Aku pun berbalik badan. "Aku harus melakukan itu. Agar tidak terjadi keributan. Pak Ardhi dan Embun ngotot harus bersama. Pak Ardhi akan membawa Embun, bagaimana pun caranya


"Mau di taruh di mana wajahku yang tampan ini. Pas saat hari pernikahan pengantin wanitanya lari di bawa kabur. Apa Aku sejelek itu, sehingga pengantin wanita tidak sudih menikah denganku?" ucapku dengan kesalnya. Siapa sih yang mau melakukan perjanjian konyol itu. Tapi, hanya itu solusi yang ada di waktu yang mepet ini.


"Kan Aku bisa jadi pengantin penggantinya!" tegas Ros dengan mimik wajah meledek. Sungguh Dia menyebalkan sekali. Menertawakan penderitaanku.


"Aakhhh terserah kamu deh mau ngomong apa. Yang jelas, tutup mulut mu. Yang tahu perjanjian ini hanya kita berempat. Sempat ketahuan Keluarga besar, Aku tidak enggan mencampakkan mu dari pekerjaan dan tidak mau lagi jadi sahabatmu." Ucapku kembali mendekat kepadanya. Meletakkan jari telunjukku di bibirnya terkatup.


"Apa kamu tidak berpikir panjang, efek dari perjanjian itu kedepannya. Jikalau kamu menyerahkan Embun kepada kekasihnya. Tentu Keluarganya akan membencimu." Ucapan Rose membuatku jadi gundah. Benar kata Dia. Tapi, Aku tidak mau memikirkan kesana dulu. Yang penting sekarang aman.


"Aku sedang tidak ingin membahas ini Rose. Jangan buat Aku semakin kacau dan tidak tenang. Jam sepuluh Aku akan melakukan ijab kabul. Perlu energi ekstra dan konsentrasi tinggi untuk melakukan itu. Sekarang saja, jantungku sudah dag dig dug seeer....!" Ucapku dengan berdecak kesal, meninggalkan Rose di balkon. Menuju ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Aku menatap wajahku yang tidak percaya diri di cermin wastafel.


Aku benar-benar tidak berharga di mata Embun. Aku bagai kotoran saja, yang dianggapnya menjijikkan dan seperti najis. Rasanya dada ini begitu sesak, setiap melihat tatapannya yang penuh kebencian itu. Bagaimana Aku akan menjalani hidup bersamanya selama enam bulan ini?


Masih ku ingat, tiga hari lalu saat kami harus ke kantor Urusan Agama. Guna mendapat arahan dan tausiah dari Pak KUA. Sedikit pun tidak ada senyum di bibirnya. Bahkan Dia tidak pernah menatapku. Semua pertanyaan petugas KUA memang dijawabnya dengan benar. Dia sudah mengetahui niat mandi Wajib dan tata cara melaksanakannya dengan baik. Sepertinya Dia sudah mempelajarinya untuk persiapan dirinya jikalau menikah dengan Ardhi.

__ADS_1


Eehhmmm--- lagi-lagi diriku pesimis.


Kalau Dia bukan saudaraku. Mungkin sifatnya itu tidak akan membuat hatiku sakit. Tapi, Dia saudaraku, sepupuku. Paribanku. Dibenci saudara sendiri, rasanya sangat menyakitkan. Aku harus berpura-pura tegar, berpura-pura tersenyum, mengeluarkan sifat humoris dadakan untuk menutupi rasa sakit di hatiku yang tidak diinginkan ini.


Ketukan keras di pintu kamar mandi, menyadarkanku dari keterpurukanku.


"Tara, mandinya cepat Nak. Kita mau makan bersama dengan keluarga besar dan tokoh adat. Sebentar lagi, utusan dari keluarga kita akan mengantarmu ke rumah Embun." Ucap Mama dengan nada sedih. Dia yang mengetahui bahwa Embun tidak sudih menikah denganku. Tentu membuatnya terpukul juga. Padahal Embun adalah wanita yang diidam-idamkan Mama untuk jadi parumaennya (Menantunya).


"Iya Ma." Jawabku keras, dengan segera mempercepat acara mandiku


❤️❤️❤️


Pukul sembilan pagi, kami sudah sampai di pekarangan rumah Embun. Utusan dari anggota keluarga ku pun dengan gerak cepat mengambil posisinya masing-masing untuk duduk di tempat yang disediakan.


Ternyata Pak KUA sudah hadir dan duduk dengan gagahnya dengan bersila. Pak KUA yang nampak masih muda itu, tersenyum padaku saat Aku berjabat tangan dengannya.


"Rileks saja Dek, baca Doa, biar lancar saat ijab kabul." Ucapnya, kemudian melepas jabatan tangan kami. Aku pun membalas senyuman Pak KUA tak kalah hangatnya.


Aku yakin Pak KUA mengatakan itu, karena Dia tahu Aku nervouse dan tegang saat ini. Itu jelas terlihat dari ekspresi wajahku dan tanganku yang tiba-tiba dingin.


Bagaimana Aku tidak tegang. Aku akan menikah, tinggal satu jam lagi. Melakukan ijab kabul. Pernikahan yang penuh dengan kepalsuan. Apakah ini salah?


Entah kenapa semakin dekat waktunya, Aku merasa tindakan ku ini adalah salah. Bisa-bisanya Aku bermain-main dengan janji suci kepada Allah. Harusnya Aku ngotot membatalkan pernikahan ini, biarlah terjadi perang dunia. Daripada dosa yang ku dapat.


Astaghfirullah..... Ya Allah, beri Aku ketenangan hati. Haruskah Aku membatalkannya hari ini? kenapa Aku jadi ragu untuk meneruskan pernikahan palsu ini.


Saya masih ingat tausiah Pak KUA tiga hari yang lalu


'Pernikahan bukan sekadar janji setia yang diikrarkan di hadapan wali, saksi, atau para tamu undangan tatkala ijab qabul diucapkan. Akan tetapi, ia merupakan janji cinta di hadapan Allah Rabbul ‘Izzah.


'Pernikahan bukanlah tebar pesona sebagaimana banyak orang memandang pernikahan perlu dirayakan dengan meriah lagi mewah. Namun, sejatinya janji setia itu mengandung tujuan sangat mulia yang menetapi syariat-Nya, menjalankan sunnah nabi-Nya, serta mengemban visi, misi, dan orientasi cinta yang agung. Ia adalah manifestasi penghambaan kepada Rabbnya, sebuah ibadah untuk meraih kebahagiaan hakiki lahir batin, dunia akhirat. Apabila salah melangkah maka konsekuensinya tak hanya sengsara di dunia, namun di akhirat ia merugi.' Nasehat Pak KUA terus saja terngiang-ngiang di pikiranku. Aku jadi takut, karena salah ambil keputusan.


Haruskah Aku membatalkannya, sebelum semuanya terlambat. Ya setidaknya Embun bisa kembali kepada Ardhi dan kami tidak berdosa karena mempermainkan peristiwa yang sakral ini. Yaitu pernikahan palsu.

__ADS_1


__ADS_2