DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Menikah itu enak


__ADS_3

Malam yang membosankan buat Ardhi. Padahal hari ini dia berharap jadi hari yang sangat spesial buatnya. Hari ini ulang tahunnya. Dia sama sekali tidak mengingat hal itu. Tapi, sang sekretaris dan asisten Rudi menyiapkan kejutan padanya, saat makan siang di kantornya.


Mendapati sikap dingin dari sang istri dihari spesial ini. Ardhi sungguh sedih. Mau bicara saja, dia tidak diizinkan sang istri. Tadi saja, setelah selesai cuci piring. Dia menghampiri sang istri ke meja makan. Saat itu juga Melati memberi ultimatum padanya. Agar malam ini dia jangan diganggu. Bahkan diajak bicara pun tidak boleh.


Istrinya itu katanya capek. Capek hati, serta


perasaan nya sakit. Melihat kelakuan sang suami yang seolah menggoda Embun, sang mantan di ambang pintu. Melati yang kembali membahas Embun, akhirnya pria itu teringat pada Embun. Wanita itu dulu yang selalu jadi orang pertama mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


Ardhi tipe pria yang gak banyak neko-neko. Tapi suka diperhatikan dan dipuja. Semua hal yang diinginkannya dulu dari seorang wanita, pasti ada pada Embun. Embun selalu bilang cinta dan sayang padanya. Seolah hanya dialah pria tertampan dan paling sempurna didunia ini. Itulah yang membuatnya tergila-gila pada Embun.


Tapi, bukan saatnya lagi mengingat-ingat mantan. Dia sekarang sudah punya istri. Istrinya itu juga baik, lemah lembut. Walau terlihat canggung disaat bersikap manja dan mesra padanya.


Ardhi menghela napas kasar. Sudah dua jam dia duduk dengan pikiran tidak tenang di kursi meja kerjanya. Sedangkan sang istri, setelah selesai makan malam memilih masuk ke kamar dan tak mau diganggu.


Sikap dingin istrinya itu membuatnya setres. Hal sepele dibuat rumit dan diperpanjang. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia bisa insomnia kalau istrinya itu tetap mengabaikan dan marah-marah padanya


Ardhi bangkit dari duduknya. Melakukan olah raga pernapasan, agar bisa rileks dan tenang disaat menghadapi sang istri. Merasa lebih rileks, Ardhi pun melangkah kakinya menuju kamar mereka. Dibukanya pintu kamar itu dengan sangat hati-hati, dengan mata penuh kewaspadaan. Takut kena bentak, disaat dia membuka pintu dengan kuat.


Sukses membuka pintu seperti seorang pencuri. Ardhi mengelus dadanya yang dari tadi tak henti-hentinya bergemuruh itu. Rasanya begitu menakutkan dan menegangkan. Dia sungguh takut sama sang istri. Dia takut, perbuatannya akan membuat istrinya itu berang. Dia gak mau istrinya marah-marah dan setres. Karena itu akan mempengaruhi perkembangan anak mereka dalam rahim istrinya itu.


Ardhi kembali menarik napas panjang. Memperhatikan pantulan dirinya yang begitu tegang di dalam cermin. Melirik sang istri yang tidur dengan posisi membelakanginya saat ini.


Ardhi yang lagi bingung itu pun akhirnya, memilih kegiatan, mengobati luka memar di sudut bibir dan dibawah matanya dengan salep. Ingin rasanya dia cepat bergabung dengan sang istri. Tapi, dia sedang memikirkan cara, agar tindakannya tepat sasaran. Artinya dia tidak dimarahi lagi.


Huuffttt....


Ardhi menarik napas panjang. Otaknya sudah Buntu, diabaikan begini rasanya sangat menyebalkan.


Dia berjalan pelan ke arah kamar mandi. Sekaligus memastikan apakah sang istri sudah benar-benar tertidur lelap. Saat berjalan ke kamar mandi, pria itu pun melirik sang istri yang ternyata sudah menutup matanya.


Dia pun masuk ke kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi. Siap-siap untuk tidur. Karena, malam ini, akan jadi malam yang sangat membosankan. Ya sudah tidur ajalah.


Ardhi yang kesal, menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang itu. Tentu saja kelakuannya menciptakan pergerakan di ranjang. Dia melirik sang isteri, yang tidak memberi respon, dari pergerakan ranjang itu.

__ADS_1


Menatap langit-langit kamar sambil bersiul-siul dengan tangan saling bertautan di atas perut. Berharap tingkahnya dicekal oleh sang istri. Tapi, nyatanya tidak juga.


"Aakkhh..... Ini sangat menyebalkan..!" ucapnya greget. Dia pun langsung memeluk istrinya itu dari belakang. Tangan langsung meraba gunung kembar. Dan hidung mengendus rambut panjangnya Melati yang wangi. Sepertinya istrinya itu baru keramas.


Sontak saja, kelakuannya membuat yang punya badan berang.


"Mas..awas..... ngap.. ngap... Jauh, jauh... Orang lagi tidur diganggu. Kan sudah saya bilang tadi. Bahwa saya ingin tidur dengan tenang." Menepis tangan sang suami, hingga pelukan itu lepas. Melati yang masih terbaring melirik kesal Ardhi. Kemudian wanita itu bangkit dan beranjak dari tempat tidur.


Menyanggul rambutnya yang panjang, dengan tatapan sinis pada Ardhi. Pria itu hanya bisa tercengang melihat sikap kasarnya sang istri.


Puukkkk....


Suara pintu yang ditutup dengan keras, membuat Ardhi terlonjak kaget.


"Astaghfirullah.... Aku salah apa? kenapa berkepanjangan begini?" ucapnya mulai terpancing. Tapi dengan cepat Ardhi berusaha menenangkan dirinya. Dia tidak boleh membalas sang istri dengan sikap kasar juga. Api harus dilawan dengan air. Siapa tahu istrinya itu seperti itu. Bawaan ibu hamil.


"Sabar.,.... Sabar..... Kata orang menikah itu enak. Tapi, kalau seperti ini. Namanya buat cepat mati." Ucapnya dengan menggerutu, beranjak dari atas ranjang. Dia akan menyusul sang istri keluar.


"Sabar....sabar...!" ucapnya lagi dengan sedih. Membuka pintu dengan malasnya dengan pandangan menunduk.


Ardhi tersentak kaget. Dia mengelus dadanya yang masih bergemuruh. Dengan bola mata hitam yang melotot dan mulut menganga.


Apa-apaan ini. Istrinya itu memprank nya. Dasar.... Energinya sudah habis terkuras, karena memikirkan sang istri yang bersikap dingin dan kasar. Eehh... Ternyata hanya acting. Kenapa dia tidak kepikiran kesitu. Mana mungkin Melati berubah jadi sosok wanita yang menyebalkan.


Masih menatap dengan tidak percaya sang istri, yang kini tersenyum lebar, sambil bernyanyi dengan semangatnya.


"Happy birthday to you, Happy birthday suamiku. Happy birthday, happy birthday... Happy birthday suamiku..! Ye... ye..."


Ardhi masih syok dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Istrinya itu terlihat begitu bahagianya. Memegang tumpeng yang di tengahnya ada lilin angka 30. Pasti istrinya itu senang, Karena sukses mengerjainya lebih dari enam jam.


"Mas... Ayo tiup lilinnya!" Menyodorkan tumpeng mini kehadapan Ardhi yang masih terkejut bathin itu.


Melihat tak ada reaksi dari sang suami. Melati pun akhirnya berjalan ke arah meja makan. Menyimpan tumpeng itu di atas meja. Kemudian menghampiri lagi sang suami. Yang kini nampak sedih.

__ADS_1


"Ya Allah Mas, maaf in adek ya!" meraih tangan kanan sang suami dan menciumnya. Ekspresi Ardhi terlihat tegang dan sangat sedih. Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca. Melati jadi merasa bersalah. Ternyata ide jahilnya, malah bikin riwuh.


"Mas,..!" menggoyang lengan sang suami yang mematung itu.


"Aduhhh.... koq jadi begini sih? biasanya orang akan senang diberi surprise. Mas kenapa terlihat marah gitu." Memeluk sang suami yang diam seperti manekin. Tapi, tetap saja Ardhi terdiam. Bahkan pria itu tidak membalas pelukan sang istri.


"Mas ...." Melati yang merasa bersalah, akhirnya menangis di dada bidangnya sang suami. "Ja- jangan marah dong?!" masih menangis, dan memeluk Ardhi.


"Mas....!" mendongak dengan linangan air mata. Kali ini Ardhi membalas tatapan sang istri yang merasa bersalah itu.


"Lain kali jangan seperti anak kecil. Apa adek gak tahu, gimana tersiksanya bathin mas selama adek abaikan. Rasanya sangat menyiksa dan sangat meresahkan."


"Iya mas, maaf!" bicara masih mendongak menatap sang suami, dengan senyum manis yang merekah.


"Berani berbuat salah, harus siap dengan hukumannya."


"Iya mas, siap dihukum. Paling juga hukuman enak. Iya kan?" Melati tersenyum penuh maksud.


"Iya kalau mas mainnya slow. kalau keras gimana? mau coba?"


"Sudah, sudah, nanti saja kita bahas itu sayang. Kita tiup lilin dan potong tumpeng dulu." Mencoba melepas pelukan yang dari tadi menempel erat. Tapi, Ardhi malah kembali memeluk sang isteri.


"Cium!" titah Ardhi.


"Cium?" menatap wajah sang suami yang memerah, dengan menahan tawa. Kalau suaminya itu minta cium. Gayanya cool sekali.


"Koq minta-minta sih, kalau pengen cium ya cium saja mas."


"CIUM..!"


"Iya, iya!, mana bibirnya, mas kan tinggi, ini bibirku gak nyampai ke bibir nya mas." menjinjit, agar bibir bisa bertemu.


"Dasar payah, punya istri kurang gizi." Ardhi langsung mengangkat bokong sang istri dan menempatkannya di perutnya. Auto, Melati melingkar kakinya di pinggang sang suami. Jadilah si Melati di gendong depan. Dengan tangan melingkar di leher sang suami.

__ADS_1


Melati tersenyum bahagia, disaat itu juga. Ardhi langsung mel**umat bibir merah kenyal itu. Menikmati panasnya ciuman, sembari melangkah ke arah meja makan. Tempat tumpeng diletakkan.


TBC


__ADS_2